
Terlihat dari kejauhan keluarga mereka yang menjemput melambaikan tangan ke arah mereka. Ada Oma, Yasin, Bunda dan Alif. Mereka sangat bahagia menanti kedatangan anggota keluarga mereka.
"Aa ... sayang-sayangku ...." Oma merentangkan kedua tangannya menyambut mereka berdua. Oma memeluk cucu dan cicitnya. Oma bahagia melepas rindu.
"Apa kabar Ray, Me? Apa kabar cucu Oma?" tanya Bunda setelah Oma mengurai pelukannya.
"Baik Bunda," jawab mereka bersamaan.
"Uhhh.. Cucu Oma sudah besar, berisi lagi," kata Oma mengecupi pipi cucunya. Bunda Mutia begitu merindukan cucu pertamanya itu.
"Mari kita pulang," ajak Oma.
"Kamu menginap saja di rumah kami Mut, mumpung Alif juga lagi liburan," ajak Oma.
"Baik Bu, tapi kayaknya kami menyusul nanti saja. Kami mau mengambil baju ganti dulu," kata Bunda.
"Baiklah, ya sudah ayo Me, Ray ikut mobil Oma saja. Kita langsung pulang ke Bandung," ajak Oma.
Akhirnya Medina dan Ray pulang ke Bandung. Medina tak masalah harus tinggal di mana, yang terpenting ia mengikuti suaminya.
***
Seminggu setelah kepulangan mereka, Oma mengadakan pesta pernikahan untuk Ray dan Medina. Mereka sempat menolak. Tapi apalah daya, perkataan Oma tak bisa ia bantah. Bersamaan dengan pesta pernikahan, juga diadakan acara syukuran 3 bulanan baby Adam.
Pesta berlangsung sangat meriah, semua keluarga dan sahabat datang. Banyak yang datang memberi selamat dan doa restu. Kebahagiaan yang dirasakan oleh Medina dan Ray semakin sempurna. Semua anggota keluarga dan teman yang datang sangat gemas dengan baby Adam yang lucu.
Tak disangka Aurel juga datang bersama dengan Reno. Perutnya sudah sangat besar, kelihatannya sudah waktunya Aurel melahirkan. Tinggal menunggu hari H saja. Aurel hanya datang memberi ucapan selamat dan untuk meminta maaf pada Ray, kemudian langsung pergi. Mungkin rasa malunya lebih besar dibandingkan rasa sakit hati. Sebab, seharusnya dialah yang menempati posisi Medina. Jika saja ia tak pernah mengkhianati kekasihnya, namun apalah arti jika. Karena semuanya sudah terlanjur.
Ray dengan besar hati memaafkan Aurel. Kebahagiaannya sekarang sudah melenyapkan semua rasa sakit hati karena dulu sudah difitnah. Toh, dirinya dan Medina sudah bersatu. Mengenai pengkhianatan yang dilakukan Aurel, Ray tak mempermasalahkan bahkan tak pernah sakit hati.
Kini hati mereka sudah lega, tak ada lagi perasaan yang mengganjal. Kebahagiaan keluarga kecilnya lengkap sudah.
Setelah pesta berakhir, oma mengumpulkan keluarga inti. Oma meminta pada Ray dan Medina untuk menetap di Bandung, di kediamannya. Oma tak ingin lagi sendirian di rumah yang besar itu. Oma juga menyerahkan kerajaan bisnisnya ke tangan Ray. Ray menerima, walau sempat protes. Ray sempat mengatakan kalau omanya masih sanggup dan mendapatkan hadiah jeweran di telinganya karena keras kepala. Mengenai tinggal di mana, Medina mengikuti keputusan Ray. Dan Ray menyetujui jika bunda tak keberatan Medina tinggal di Bandung. Bunda sendiri tak mempermasalahkan. Bunda bilang sudah kewajiban seorang istri mengikuti kemanapun suaminya pergi.
__ADS_1
Akhirnya mereka tinggal di rumah oma Lidya. Menjaga dan menemani wanita tua itu agar tak lagi kesepian.
***
Lima tahun kemudian.
"Jangan kemana-mana ya sayang, Mama mau siapkan makan siang sebentar. Papa sebentar lagi pulang," pesan seorang ibu kepada anaknya yang tengah bermain bola di depan rumah.
"Iya Ma," jawab sang putra yang tampan dan imut itu tanpa menoleh ibunya. Anak itu masih asyik memantulkan bola ke lantai paving. Terkadang ia melempar bola itu ke sembarang arah.
"Ingat, jangan keluar dari gerbang ya, Nak. main di situ saja," nasehat ibunya lagi khawatir karena anaknya yang terlalu aktif.
"Iya Mama.. Ah, Mama cerewet. Ganggu konsentrasi Adam," jawab anak lelaki itu sebal. Medina menatap putranya yang manyun dengan tertawa.
Medina meninggalkan putranya seorang diri di halaman rumah. Dan segera masuk ke rumah untuk menyiapkan makan siang untuk Ray, suaminya yang tengah bekerja. Ray tak pernah makan di luar. Selalu pulang makan bersama dengan keluarga di jam istirahat. Kecuali, sedang ada pekerjaan di luar kota.
Adam bermain sendiri. Ia memantulkan bola dengan asyik. Setelah bosan ia melemparkan bola ke atas dan berusaha menangkapnya. Ketika ia tak dapat menangkap dan bola jatuh di wajahnya, anak tampan itu malah tertawa geli. Begitu ia lakukan Berkali-kali sampai ia merasa bosan.
Sesekali ia menatap pintu rumah. Berharap ibunya segera selesai memasak dan keluar dari rumah menemaninya bermain. Namun, Berkali-kali ia menunggu sampai bosan. Ibunya tak kunjung datang. Hingga bocah itu mulai menendang-nendang bola miliknya dengan bibir mengerucut.
Bola menggelinding di jalan. Adam berlari mengejar bola miliknya sampai ke arah perempatan jalan. Akhirnya bola miliknya dapat ia kejar. Secepat kilat Adam mengambil bola, namun malang ketika ia ingin menepi ada sebuah mobil yang melaju dua meter di depannya.
"Aaaa ...." Adam berteriak ketakutan. Bocah itu meringkuk memeluk bolanya. Bunyi rem mobil berdecit memenuhi pendengarannya. Beruntung mobil berhenti tepat waktu. Hanya berjarak beberapa senti di depan Adam.
"Mama ... huhuhu ...."teriak Adam ketakutan dan sangat shock. Bocah itu menangis tersedu-sedu memangil ibunya.
Dari dalam mobil dua orang lelaki dan perempuan berusia paruh baya. Kedua orang itu menghampiri Adam dengan wajah memucat. Takut-takut bocah yang hampir tertabrak itu terluka.
"Ya Allah, Nak ... kamu nggak papa?" tanya perempuan itu dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Adam masih dalam posisi yang sama dan masih menangis memanggil mamanya.
"Bagaimana ini, Pa?" tanya wanita itu pada suaminya.
__ADS_1
"Apa kita bawa ke rumah sakit saja ya, Ma?" kata lelaki itu juga cemas.
"Kelihatannya nggak papa Pa, kita antar pulang saja ya? Takut orang tuanya bingung mencarinya," kata wanita itu.
"Nak, rumah kamu di mana? Mari Oma antar pulang," bujuk wanita itu pada Adam yang masih memeluk lututnya dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam.
Kedua orang itu saling berpandangan bingung apa yang harus dilakukan, karena bocah itu diam saja.
"Rumah kamu di mana? Pasti Mama kamu sedang sedih mencari kamu, Nak," bujuk wanita itu lagi. Dengan gemetar jari telunjuk Adam menunjuk pagar besi yang ada di ujung jalan.
"Oh dekat, mari Oma gendong. Oma antar kamu pulang." Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Adam.
Adam menatap wanita tua itu ragu. Namun ketika melihat wanita itu tersenyum, Adam memberanikan mengulurkan tangannya.
"Pa, bawakan bolanya!" perintah wanita itu pada suaminya. Suaminya segera membawakan bola Adam dan mengikuti istrinya yang menggendong Adam pulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin di season ke 2 ini akan sering ada konflik dan sad story. Yah semoga kalian nggak kecewa ya.
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, kasih vote banyak-banyak.
Terimakasih