
Apartemen Aurel
"Aduhhh, sakit sekali ... Aduh ...." Aurel yang baru bangun tidur memegang perutnya yang sangat sakit.
"Ada apa sayang?" tanya Reno yang baru keluar dari kamar mandi sangat khawatir.
"Ada sedikit flek dan perutku rasanya sakit sekali." wajah Aurel memucat dengan peluh membasahi dahi dan seluruh tubuhnya yang menahan kesakitan.
"Semua gara-gara kamu! Tak bisa menahan diri. Kamu melakukannya dengan sangat kasar. Lihatlah keadaanku sekarang!" Aurel marah-marah tak jelas.
"Dasar lelaki! Tak bisa menahan diri."
"Tapi bukankah tadi malam kamu sendiri yang meminta aku menyetubuhimu dengan kasar? Kamu juga yang mengundangku untuk datang memberimu kenikmatan dengan mengunjungi anak kita?"
"Shhh ... sudah diam! Aku malas mendengarkan omong kosong mu itu." Mulut Aurel berdesis menahan nyeri yang sedang ia rasakan.
"Ayo kita ke rumah sakit sayang," ajak Reno lembut.
"No.. Aku nggak mau ke rumah sakit," tolak Aurel kasar. Ia menepis tangan Reno yang memegang pundaknya. Reno hanya menghela nafas mencoba bersabar.
"Tapi lihatlah! Kamu sangat kesakitan sayang," bujuk Reno kembali.
"Aku bilang nggak mau ya nggak mau. Aku nggak mau ada satu orang pun yang tahu kalau aku sedang hamil. Kalau kamu memaksa lebih baik aku gugurkan bayi ini," ancam Aurel.
"Tidak sayang, jangan lakukan itu! Aku cuma nggak tega melihat kamu kesakitan seperti ini. Aku akan menuruti apa mau kamu, tapi kamu harus berjanji untuk mempertahankan anak kita, hm?"
"As you wish, but it is not free. You must do something for me." Aurel tersenyum licik.
***
"Jadi kamu sudah mengikuti perempuan itu sampai ke apartemennya?" tanya Nyonya Lidya.
__ADS_1
"Ya, benar, Nyonya," jawab laki-laki muda berkulit sawo matang yang kini duduk di hadapannya.
"Apa saja yang sudah kamu dapatkan setelah dua minggu mengikutinya?" tanya Nyonya Lidya lagi.
"Saya memergoki seorang laki-laki keluar masuk apartemen milik Nona Aurel dengan bebas, Nyonya. Kadang laki-laki itu datang pada malam hari dan baru keluar dari apartemen di pagi bahkan siang hari." Yasin yang tak lain orang suruhan Nyonya Lidya untuk mengawasi Aurel menjelaskan dengan gamblang.
"Bagus, teruskan pekerjaan kamu. Ikuti dia jangan sampai dia merencanakan sesuatu. Tapi ingat, jangan pernah lakukan apapun. Yang harus kamu lakukan hanyalah mengikuti dia dan melaporkan padaku segera, kau boleh pergi," kata Nyonya Lidya. Yasin segera undur diri dari hadapan majikan yang sangat ia hormati.
Yasin tak akan pernah menolak semua perintah Nyonya Lidya. Karena baginya majikannya adalah orang yang sangat berjasa untuknya dan ibunya. Nyonya Lidya adalah orang yang menolong ia dan ibunya, Bik Sumi lepas dari cengkeraman ayah Yasin yang seorang pemabuk dan penjudi. Karena ayah Yasin sering menyiksa ibunya juga dirinya sewaktu kecil. Wanita berkarisma itu satu-satunya orang yang berani membelanya. Hal yang bahkan tidak dilakukan oleh sanak saudara yang mengacuhkan penderitaan mereka.
Berkat Nyonya Lidyalah ia menjadi orang yang sukses dan bahkan menjadi tangan kanan kepercayaannya. Beliau juga yang sudah menyekolahkan Yasin sampai tamat perguruan tinggi. Nyonya Lidya juga mendidik Yasin dengan keras, agar dapat menjadi laki-laki yang tangguh dan bertanggungjawab. Jadi Bi Sumi dan Yasin merasa mereka tak akan pernah dapat membalas budi pada orang yang sudah menolong mereka. Terutama Yasin yang sangat yakin jika tanpa campur tangan Nyonya Lidya, dia tak akan menjadi Yasin yang seperti sekarang ini. Mereka hanya bisa membalas budi dengan mengabdikan diri seumur hidup untuk keluarga itu.
"Jangan harap aku akan terpedaya olehmu wanita ular, silakan saja kamu buat sesuka hatimu. Silakan jalankan semua rencana licikmu, tapi di akhir permainan ini hanya akulah pemenangnya," gumam Nyonya Lidya setelah Yasin pergi. Kemudian ujung bibirnya terangkat membentuk seringaian yang menyeramkan, setelah memikirkan sesuatu entah itu apa.
***
"Alif, minta tolong fotokan," pinta Ray kepada Alif.
"Bunda mari berfoto bersama kami," ajak Ray.
"Alah ... kalian sajalah. Bunda bisa lain kali," jawab bunda tersenyum. Bunda tersenyum bahagia melihat kebersamaan Ray dan Medina.
Ray dan Medina berdiri berdampingan di teras rumah. Pose mereka berdua nampak begitu kaku dan canggung. Mereka berdua berdiri tanpa bersentuhan. Seakan-akan ada cairan lem diantara mereka, yang membuat keduanya takut berdekatan dan tak bisa lepas dari satu sama lain.
"Woi ... kenapa kalian seperti itu?" tanya Alif spontan.
"Alif ... yang sopan kalau berbicara dengan kakak dan kakak ipar. Bunda tak pernah mengajari seperti itu, Lif." Bunda memelototkan mata tak suka ucapan Alif.
"Hehe iya Bun, maaf, habis Alif geram melihat Kak Me dan Mas Ray berpose seperti patung. Mana ada suami istri berpose seperti orang yang berada di kantor kecamatan mau buat KTP? Tidak ada mesra-mesranya, bahkan senyum pun tidak. Kalau posenya begitu, lebih baik Alif ambil gambar tiang saja Bun," kata Alif.
"Sudah lah Lif, cepatlah ambil!" Medina memutar bola mata malas seakan tak suka berfoto bersama dengan Ray.
__ADS_1
"Kakak ipar, peluklah kak Me! Baru terlihat manis bukan seperti patung kaku seperti itu," perintah Alif.
Ray ragu-ragu merengkuh Medina ke dalam pelukannya. Medina tak dapat menolak karena ada Bunda yang masih memperhatikan tingkah lakunya. Andai Bunda tak ada mana mau dia dipeluk Ray. Laki-laki yang dari semalam coba ia lupakan. Dan kini Ray memeluknya lagi membuat pertahanan Medina melemah. Ia menjadi semakin jatuh cinta pada laki-laki yang ingin ia jauhi itu. Padahal ia sudah berjanji akan mengabaikan dan bersikap dingin, agar Ray tak lagi mendekat. Medina menyadari bahwa ia akan menjadi perusak hubungan orang, jika tidak melepaskan Ray. Ray sudah punya tunangan dan jika ia tak menjaga jarak, artinya dengan sengaja ia menyakiti perasaan wanita lain.
"Nah, begitu kan bagus," kata Alif setelah selesai mengambil beberapa gambar. Kemudian menyerahkan ponsel ke tangan Ray kembali.
"Em ... Bunda kami pamit ya," ucap Medina.
"Hati-hati ya Me, jaga kesehatan. Jaga cucu Bunda ya? Makan makanan yang sehat. Hindari pantangan-pantangan orang hamil, jangan karena Bunda tak ada kamu bisa sesuka hati. Nasehat Bunda semua demi kebaikan kamu," kata Bunda berkaca-kaca memeluk putrinya. Medina mengangguk-angguk mendengar nasehat Bunda yang penuh makna. Bunda sebenarnya tak rela melepas anak dan menantunya pergi. Jika bisa, ia akan meminta agar mereka tinggal saja di rumahnya. Namun Bunda menyerahkan semua keputusan ditangan Ray, menantunya. Bunda sadar bahwa Medina kini milik Ray sepenuhnya. Bukan lagi putri kecilnya.
"Bunda, Ray dan Medina pamit ya?" Ray mencium punggung tangan Bunda, setelah Bunda melepaskan pelukan pada Medina.
"Hati-hati ya Ray? Jaga anak dan cucu bunda dengan baik ya, Nak? Jadilah suami yang baik untuk anak Bunda. Kalian jangan lupa sering-sering main ke sini kalau ada waktu," pinta bunda dengan nada sedih. Bunda tak rela anak dan menantunya akan meninggalkannya.
"Baik Bunda," jawab Ray.
"Lif, bantu Mas Ray angkat koper-koper masuk bagasi ya?" perintah Bunda.
"Siap bunda!" Alif bergegas mengangkat koper Medina dan Ray, kemudian memasukkan ke dalam bagasi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam sayang dariku untuk para pembaca setia. Yang sudah kasih like dan komen, terimakasih ya.. 😘😘😘