
Suara debur ombak memecah keheningan di kawasan tepi pantai itu. Ditambah dengan gemerisik suara daun kelapa yang melambai tertiup oleh angin, menambah rasa syahdu.
Terlihat dari kejauhan beberapa perahu kecil nelayan yang tengah melaut. Mereka berjuang melawan ganasnya ombak demi mencari rejeki untuk keluarga, dari hasil menangkap ikan.
Langit berwarna biru, sebiru hati gadis yang kini tengah menunggu kedatangan sang kekasih hati. Dia duduk bersimpuh di sebuah pondok kecil di tepi pantai. Gadis berambut panjang itu terlihat sederhana namun manis. Dengan pakaiannya yang seadanya tak mengurangi kecantikan dan pesonanya. Tangan gadis itu memegang sebuah buku novel untuk menghilangkan kebosanan karena menunggu. Dan membaca novel adalah hobi gadis itu. Disampingnya tergeletak sebuah kotak makanan yang entah berisi apa.
Senyum manis tak henti tersungging di bibir gadis itu. Sesekali ia menarik kerudung segitiga yang hanya mampu menutupi sebagian rambutnya karena tertiup angin. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan berhenti ke arah jalan utama menuju tempat itu. Ia mencari-cari bayangan lelaki yang tak juga datang. Ia melirik ke arah jam tangan usang yang melekat ditangan kirinya. Pukul 15.25 menit. Lelaki itu sudah terlambat datang selama dua puluh lima menit.
Dengan gelisah ia menunggu, namun kini senyum di wajahnya sirna. Orang yang ditunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya. Gadis itu sedikit kecewa, kekasihnya mungkin melupakan janji mereka untuk bertemu sore itu. Atau mungkin lelaki yang ia cintai sedang sibuk, sehingga tak dapat datang.
Dengan lunglai gadis itu turun dari pondok kecil tempat mereka biasa bertemu. Ia memutuskan untuk berhenti menunggu dan memilih untuk pulang. Ia sudah akan melangkah pulang, sebelum ia mendengar deru suara motor yang mendekat. Orang yang ia nantikan terlihat datang dari arah jalan utama dengan motor kesayangannya. Dari kejauhan lelaki tampan itu tersenyum ke arahnya. Gadis itu melambaikan tangannya ke arah kekasihnya yang baru datang. Raut wajah kecewa berganti dengan kebahagiaan. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang, dan duduk kembali di pondok kecil itu.
"Assalamualaikum Haura, maaf aku terlambat," ucap lelaki tampan itu turun dari motor dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Lelaki itu segera duduk di samping Haura.
"Waalaikumsalam, iya nggak papa kok Vian, aku juga belum lama datang," Haura berbohong, agar Alvian, kekasihnya tidak merasa bersalah.
"Haura apa kabar?l" tanya Alvian.
"Baik, Alvian sendiri apa kabar?" tanya Haura dengan dada yang berdebar. Sudah enam bulan lebih mereka tak berjumpa, karena Alvian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi di kota. Dan hanya akan pulang enam bulan sekali.
"Seperti yang kamu lihat, sehat bugar tanpa kurang suatu apa." Keduanya tertawa.
"Emmm ... Vian ini buat kamu." Haura menyodorkan sebuah kotak makan ke arah kekasihnya dengan malu-malu.
"Waahh ... apa ini?" tanya Alvian dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Buka saja," ucap Haura malu-malu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Wah, kue risoles. Boleh aku coba?" tanya Alvian tersenyum. Haura menganggukan kepala.
"Emm ... enak sekali," puji Alvian.
"Ini buatan kamu?" tanya Alvian. Haura mengangguk lagi.
"Enak ...."
"Terimakasih ya?" Lelaki itu memberikan senyuman terbaiknya.
Lama mereka duduk dalam keheningan. Lelaki itu asyik menyantap kue risoles yang ia bawakan.
"Vian, kamu ingat dengan pohon itu?" tanya Haura memecah kesunyian di antara mereka.
"Dulu, kita sering main kejar-kejaran. Naik turun pohon. Menggelantung seperti kera, pokoknya seru banget kan? Terus kita mainkan peran sebagai pengantin." Haura mengenang masa lalu mereka semasa kecil. Mereka tertawa mengingat tingkah polah mereka yang konyol. Masa kecil yang penuh kebahagiaan tanpa harus memikirkan masalah hidup seperti yang dialami oleh orang dewasa.
"Sayang sekali kan? Pohon itu kini sudah tua dan mati. Daun-daunnya berguguran dan seluruh rantingnya kering," ucap Haura sedikit sedih.
"Begitu cepat waktu berlalu. Tahu-tahu kita sudah dewasa," ucap Haura lagi.
"Benar, dan sekarang, tak terasa Hauraku sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik dan imut," puji Alvian seraya menyelipkan rambut Haura yang tertiup angin ke belakang telinganya. Jantung Haura seakan ingin meloncat keluar karena perlakuan manis Alvian. Segera Haura pura- pura membetulkan jilbabnya yang merosot ke belakang untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila.
"Kapan Vian akan kembali ke Bandung?" tanya Haura sedikit sedih. Sebenarnya Haura tak rela harus berpisah lagi dengan Alvian. Sudah tiga tahun mereka berpacaran dan menjalani LDR. Hanya enam bulan sekali bisa bertemu. Itu pun kalau Alvian tidak sedang banyak tugas dari kampus.
__ADS_1
"Em, mungkin besok. Karena aku besok lusa sudah mulai kelas," jawab lelaki tampan itu lagi.
"Oh, pasti sibuk ya sudah mau skripsi?" tanya Haura asal. Ia yang hanya berpendidikan SMK tak mengerti harus bertanya apa soal kuliah kekasihnya. Kadang Haura minder jika Alvian menceritakan tentang kegiatannya selama kuliah, karena ia tak mengerti apa pun.
" Iya ...," jawab Vian singkat. Vian tak tahu harus menjawab apa dan membicarakan apa lagi. Alvian yakin Haura tak akan paham jika ia ajak untuk membicarakan soal kuliah.
"Vian, kalau kamu sudah wisuda. Bisakah ... bisakah kalau ... kalau kita ... kalau kita segera ...," kata Haura terbata-bata dengan gugup, jantungnya berdegup kencang karena malu.
"Menikah," tebak Alvian cepat. Seakan ia tahu apa isi hati kekasih hatinya.
"Iya ...." jawab Haura.
"Maaf Rara, sepertinya aku belum berpikir ke arah situ. Aku harus mencari kerja dulu. Aku harus menata masa depanku yang cerah, jadi jangan dulu bahas soal pernikahan. Okay?" kata Alvian dengan nada bicara meninggi. Ada rasa tak suka dengan hal yang dibicarakan oleh Haura. Wajah Haura yang tadinya berseri-seri menghilang digantikan oleh kekecewaan. Raut wajahnya pias mendengar penolakan dari kekasihnya. Ia mengira setelah hubungan mereka yang sudah sekian lama terjalin, Alvian akan segera meminangnya. Nyatanya hanya ia yang berharap, lain dengan Alvian kekasihnya.
"Kamu jangan berharap dulu soal pernikahan. Karena itu tidak akan pernah terjadi dalam waktu dekat ini," tambah Alvian dengan tegas. Ia seakan tak memperhatikan bagaimana perasaan kekasihnya.
"Ya Allah! Aku lupa, tadi mama suruh aku beli tepung di warung," kata Alvian tiba-tiba. Ia segera turun dari pondok dan memakai sandalnya kembali.
"Tunggu sebentar ya Rara," kata Alvian berlari menuju motor miliknya.
"Tunggu ya? Jangan kemana-mana," perintah lelaki itu meninggalkan Haura sendiri di tempat itu.
Haura menunggu kekasihnya dengan sabar. Beberapa waktu berlalu, kekasihnya tak kunjung datang. Ia masih setia menunggu sampai ketika ponsel butut miliknya keluaran tahun dua ribuan berdering kuat. Ada sebuah pesan sms terlihat di layar telepon.
Maaf Haura, aku tak akan datang. Baru saja aku mendapat kabar dari kampus kalau aku harus datang besok. Jadi aku harus kembali ke Bandung hari ini juga. Selamat tinggal Haura.
__ADS_1
Sebuah pesan singkat itu membuat hati Haura luluh lantak. Ia sudah menunggu selama satu jam lebih, dan kekasihnya hanya mengirimi ia sebuah pesan singkat mengabarkan bahwa ia tak akan datang. Kenapa tak sedari tadi saja ia mengatakannya? Kenapa harus membuat ia menunggu terlalu lama? Tak terasa air mata membasahi pipinya yang mulus. Hatinya begitu terluka.