Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Benarkah Kamu Bahagia?


__ADS_3

Fajar telah tiba, menggantikan malam yang gelap dengan pagi yang bercahaya. Terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Suasana kampung di tepi pantai itu masih sepi dan tenang. Hanya beberapa orang yang sudah memulai aktivitasnya. Dan ada juga beberapa nelayan yang pulang dari melaut.


Haura sudah bangun dan menyiapkan makanan sarapan untuk keluarganya. Semua orang di rumah itu sudah bangun kecuali Adam. Setelah salat subuh, Adam tidur lagi karena lelah. Haura sengaja belum membangunkan suaminya, karena ia tahu Adam sangat kelelahan. Semalaman penuh lelaki itu tak bisa tidur. Karena panas dan nyamuk yang mengganggunya. Haura sedikit iba, pasti laki-laki itu sangat tidak nyaman tidur di kamarnya yang kecil dan panas.


"Mana suamimu, Ra?" tanya Ibrahim seraya menyesap kopi miliknya.


"Masih tidur, Yah. Semalaman Mas Adam nggak bisa tidur," jawab Haura tertawa kecil.


"Oh, ya sudah biarkan saja."


"Maaf ya Yah. Mas Adam hanya tak terbiasa tinggal di sini."


"Iya Ra. Nggak apa-apa. Tempat ini memang sangat berbeda jauh dengan rumah kalian. Ayah maklum. Menantu ayah mau datang pun ayah sudah sangat bersyukur," ucap Ibrahim.


"Bagaimana Ra, kamu bahagia kan dengan pernikahan kamu?" tanya Ibrahim. Haura tersipu malu. Wanita itu sadar jika ia mulai merasakan kebahagiaan, hidup berbahagia dengan Adam. Bukan seperti awal pernikahan,hanya karena terpaksa. Entah sejak kapan ia mulai mencintai Adam.


"Iya Yah," jawab Haura bahagia.


"Ayah berharap kalian selalu bahagia. Ayah harap, kamu menjadi istri yang baik untuk suamimu. Jadilah istri yang berbakti ya, Nak. Jangan sekali pun membantah perkataan atau perintahnya," nasehat Ibrahim.


Haura terhenyak karena kata-kata ayahnya. Perasaan bersalah kini mengusik hatinya, ia sempat menolak melayani Adam. Hanya karena pikiran buruknya yang menganggap Adam juga melakukan dengan Isabella. Sehingga ia tak mau disentuh. Haura berjanji, akan mengubah diri. Ia akan berusaha menjadi istri yang salihah.


Haura membayangkan kehidupan mereka yang selanjutnya akan dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Ba-baik Ayah. InsyaAllah Rara akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Adam."


"Bagus Nak."


"Alhamdulillah, Rara sudah bisa menerima Adam. Semoga mereka berdua selalu di limpahi kebahagiaan." batin Ibrahim.


***


"Sayang, Mas pulang dulu ya?" pamit Adam yang kini sudah rapi.


"Iya Mas, hati-hati di jalan."


"Ayah, Adam titip Haura di sini ya? Maaf Adam harus meninggalkannya di sini. Karena Rara bilang masih rindu dengan Ayah dan masih ingin di sini. Sedangkan pekerjaan Adam di kantor sangat banyak, tak bisa berlama-lama."


"Iya Nak. Tak usah dipikirkan. Atau kalau kamu mau ajak dia pulang, ajak saja. Lain kali kalian kan bisa ke sini lagi."


"Tak apa, Yah. Biar Rara di sini dulu, biar dia menikmati kebersamaan bersama kalian dulu. Kalau bersama Adam kan Rara bisa setiap hari. Ya sudah, Adam pamit. Takut kemalaman sampai di Bandung." Adam melirik arloji di tangannya dan segera mencium tangan mertuanya.

__ADS_1


Haura mendekat dan mencium tangan Adam. Adam merengkuh Rara ke dalam pelukannya sebentar dan mengecup kening istrinya. Melupakan keberadaan mertua dan adik-adik iparnya. Ibrahim tersenyum, Hana dan Fauzan saling menyikut melihat adegan itu. Mereka berdua ikut berbahagia untuk kakak sulungnya. Sedangkan Haura yang diperlakukan seperti itu, wajahnya memerah karena malu.


Kemudian, Hana dan Fauzan ikut menyalami kakak iparnya. Adam segera meninggalkan kampung itu untuk kembali ke kotanya demi pekerjaan. Meninggalkan istri tercintanya di kampung halamannya.


***


"Kakak, ayolah kita main di pantai," rengek Hana dan Fauzan pada Haura.


"Masih panas Hana, Uzan. Cuaca terik sekali."


"Ayolah Kak, bukannya Kakak di sini setiap hari. Kakak kan akan segera kembali ke Bandung."


"Kalian kan bisa pergi berdua. Kenapa harus memaksa kakak?" ucap Ibrahim yang sedang duduk di teras rumah mereka memperhatikan tingkah kedua anaknya.


Hana dan Fauzan merindukan kebersamaan mereka. Sudah lama tak bermain dengan kakaknya. Jawaban Ibrahim membuat keduanya murung dan kecewa. Haura yang menyadari kekecewaan adik-adiknya menjadi tak tega.


"Ya sudah, Kakak bersiap dulu. Kita main di pantai." Haura masuk ke rumah dan mengambil kerudungnya. Tak lama ia keluar dan menuju pantai bersama kedua adiknya.


Dengan bahagia mereka berkejaran di pantai. Keadaan pantai cukup ramai, karena banyak wisatawan yang datang. Lama-kelamaan Haura merasa capek, dan memilih duduk di dekat adiknya bermain. Membiarkan kedua adiknya menikmati keindahan laut sore itu.


Sepuluh menit kemudian, datanglah seorang lelaki mendekati Haura.


"Assalamualaikum Ra," sapa Alvian.


Lelaki itu duduk di samping Haura. Haura segera beringsut menjauh, takut menjadi fitnah.


"Kapan kamu pulang?" tanya Alvian berbasa-basi.


"Eh, sudah tiga hari Rara di sini. Vian, kenapa ada di sini?" tanya Haura.


"Ayah kurang sehat. Jadi aku minta cuti."


"Ya Allah, Paman Zul sakit apa?"


"Biasalah Ra. Penyakit orang tua." Alvian menatap laut dan menerawang jauh.


"Ra, benarkah kamu bahagia?" tanya Alvian ingin memastikan.


"Hem," jawab Haura singkat.


"Bohong! Kamu tidak bahagia kan, Ra? Aku tahu kamu tidak bahagia." Alvian tiba-tiba menarik tangan Haura dan menggenggamnya erat-erat.

__ADS_1


"Vian, jangan lakukan ini! Aku istri orang Vian. Lepaskan!" Haura berusaha melepaskan tangan Alvian, namun gagal. Ia kalah dari tenaga laki-laki itu.


"Jangan bohong, Ra. Kamu selama ini menderita kan? Tuan Adam tidak menyayangimu kan? Aku tahu suamimu ada hubungan dengan model terkenal Isabella."


"Vian, lepaskan!" bentak Haura emosi.


"Vian, ini di kampung bukan di kota. Apa kata orang jika melihat aku yang sudah bersuami dan kamu bersama."


"Ra, kamu belum menjawab pertanyaanku. Benarkan, Ra? Kamu tak bahagia? Tinggalkan suamimu Ra. Dan kembali padaku. Aku akan menerima kamu apa adanya." Alvian mengemis cinta pada Haura.


"Vian! Itu bukan urusanmu. Dan selamanya aku tak akan bisa bersamamu. Aku tak akan pernah berpisah dari Mas Adam." Dengan sekuat tenaga Haura melepaskan tangan Alvian.


Lelaki itu kecewa, dan sakit hati lagi. Wanita pujaan hatinya telah berubah, bukan seperti Haura yang ia kenal. Dengan lemas, Alvian menatap Haura yang terlihat membencinya.


"Hana, Uzan," teriak Haura memanggil kedua adiknya, mengabaikan Alvian yang masih menatapnya pilu.


"Mari pulang!" ajak Haura setelah keduanya menoleh. Mereka berdua berlari ke arah kakaknya.


"Kakak harus masak untuk makan malam. Kita pulang ya? Besok lagi mainnya," bujuk Haura. Sekilas, ia menatap Alvian dengan pandangan tak suka.


Ketiganya pergi dari tempat itu meninggalkan Alvian yang masih mematung menatap pilu kepergian Haura.


Sementara itu di bagian lain pantai itu, ada sepasang kekasih yang tengah menikmati keindahan laut. Ketika sang kekasihnya meminta untuk diambil gambar. Tanpa sengaja lelaki itu melihat seseorang yang dikenalnya tengah bersama. Yaitu Haura dan Alvian. Segera ia mengambil ponsel dan menangkap gambar Haura dan Alvian yang sedang berpegangan tangan. Cukup banyak lelaki itu mengambil gambar, yang entah akan digunakan untuk apa.


.


.


.


.


.


.


.


.


I'm back.

__ADS_1


Tapi maaf belum bisa janji update banyak dan rutin. Semoga kalian suka ya.


__ADS_2