Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Aku Ingin Mengakhiri Segalanya


__ADS_3

Adam duduk memainkan piano untuk Haura sebuah lagu mengalun indah dan merdu. Menyita perhatian Haura yang mendengarnya. Adam memainkan jemarinya dengan penuh perasaan.


Haura menuruni tangga dengan berkaca-kaca, mendengar alunan piano yang mengalun lembut dan merdu. Hatinya sangat tersentuh, belum pernah ia diperlakukan semanis ini oleh lelaki mana pun. Dan kini suaminya benar-benar menyiapkan segalanya untuknya. Wanita itu benar-benar bahagia dan menyukainya. Mungkin tak butuh waktu lama, ia akan benar-benar mencintai suaminya sepenuhnya.


Haura terlihat cantik memakai gaun panjang berwarna maroon tanpa lengan yang diberikan Adam. Bagian depan gaun sedikit terbuka, menampilkan kesan elegan dan seksi. Rambut panjangnya tergerai sempurna. Dengan riasan seadanya, wanita itu terlihat cantik dan anggun. Namun karena malu, wanita itu berjalan dengan tak nyaman. Maklumlah, ia tak pernah memakai baju yang terbuka.


Adam mengetahui kehadiran istrinya. Akan tetapi belum memandang Haura, ia masih fokus dengan permainan pianonya. Haura sudah berdiri di samping Adam, lelaki itu belum juga mengakhiri lagunya. Haura semakin berkaca-kaca mendengarkan Adam menyanyikan lagu itu untuknya. Terdengar sangat tulus dan memukau.


Adam tiba-tiba berlutut di hadapan Haura dan menyerahkan sebuket bunga mawar merah untuk istrinya.


"Ra, mungkin ini terdengar basi. Karena Mas sering melakukan kesalahan padamu. Tapi Mas dengan sepenuh hati ingin meminta maaf padamu. Dan ... terima kasih sudah menemani Mas selama setahun lebih ini. Maukah kau memaafkanku? Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Maukah kamu menua bersamaku?" Adam menatap Haura dengan tatapan teduhnya.


"Iya Mas, Rara mau." Haura menerima bunga mawar itu dan menghirup aromanya. Kedua mata Haura kini basah oleh air mata. Haura terharu, bahagia dan bersyukur. Rasanya kebahagiaan wanita itu tak terukur. Setelah kesabarannya setahun lebih suka akhirnya hari ini datang juga.


"Hei, kenapa menangis? Ini hari bahagia. Tidak boleh ada air mata." Kedua tangan Adam mengusap wajah istrinya yang penuh air mata. Kemudian Adam menarik Haura ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali. Juga kening dan kedua mata wanita itu tak luput dari kecupan sayangnya.


"Ra, malam ini kamu terlihat sangat cantik," puji Adam.


"Ta-tapi Rara malu Mas. Lihatlah baju ini tak berlengan. Dada Haura juga jadi terlihat."


"Kenapa malu sayang? Hanya Mas seorang yang melihatnya." Adam menatap Haura dengan intens. Haura menjadi berdebar tidak karuan.


"Sudahlah ini malam kita. Tidak ada yang boleh bersedih. Kita nikmati saja. Ayo kita makan sayang." Adam menggandeng tangan Haura dan membawanya ke ruang makan. Di sana sudah terhidang dua piring steak buatan Adam dan juga dua gelas jus anggur pengganti minuman beralkohol.


Adam menarikkan kursi untuk Haura dan mempersilakan wanita itu duduk layaknya muda mudi yang tengah berkencan. Sungguh manis sikap pria itu.


"Terima kasih Mas." Wanita itu tersenyum bahagia.


Adam juga segera duduk di hadapan Haura.


"Em, maaf Mas hanya bisa masak ini. Dan soal rasa, semoga enak ya," ucap lelaki itu ragu.


"Tidak apa-apa Mas. Rara suka apa pun yang Mas Adam berikan."

__ADS_1


"Sini, biar Mas potongkan!" Adam mengambil piring Haura dan memotongkan daging untuk istrinya.


"Selamat makan, sayang."


"Iya Mas. Selamat makan." Keduanya menikmati makanan dengan bahagia.


"Enak Mas. Walaupun sedikit kematangan."


"Benarkah? Maaf ya? Mas baru kali ini memasak. Lain kali Mas akan masak dengan lebih baik." Adam mengusap tengkuknya.


"Tidak Mas. Lain kali Rara yang akan selalu memasak untuk Mas Adam," jawab Haura tersenyum.


"Benarkah Ra? Janji?"


"Iya Mas. Rara akan mendampingi Mas Adam dalam suka maupun duka. Sampai kita menua kita akan membesarkan anak kita bersama-sama."


Adam menarik tangan kanan Haura dan mengecupnya lembut. Namun mampu mengalirkan getaran dahsyat ke hati Haura. Hingga wajah Haura memerah tersipu malu. Namun, hal yang tidak disangka dilakukan lelaki itu. Membuat Haura seketika terkejut dan wajahnya memucat. Dengan satu sentakan Adam ingin menarik lepas cincin kawin yang Haura pakai.


"Mas, apa yang Mas lakukan? Jangan Mas!" ucap wanita itu menahan tangis. Ia menahan cincin yang Adam tarik dengan sekuat tenaga. Hatinya begitu teriris. Apa artinya sikap manis Adam tadi? Apa tujuannya untuk menipunya dan mengambil cincin pernikahan mereka. Apa Adam ingin mengakhiri segalanya. Sungguh jahat suaminya.


"Aku bilang lepas Ra." Perintah Adam dengan nada dingin. Dengan sekali sentak, adam melepas paksa cincin itu. Seakan jantung Haura ikut terlepas bersamanya. Adam menghancurkan hati wanita itu lagi. Untuk ke sekian kalinya.


"Malam ini aku ingin mengakhiri segalanya Ra."


Ctarrr


Seperti petir yang menyambar di tengah panas terik. Tak ada angin tak ada hujan, lelaki itu begitu kejam mengatakan hal itu. Tak cukupkah ia menyakiti Haura? Tanpa terasa air mata wanita itu mengalir dengan deras. Hati Haura remuk redam hanya karena sebuah kalimat yang Adam ucapkan. Haura terjatuh lagi dan lagi. Baru saja lelaki itu membawanya terbang ke awan dengan sikapnya yang manis, dan kini ia menghempaskan Haura ke palung yang paling dalam. Menjadikan hati wanita itu hancur berkeping. Sebenarnya apa mau suami brengseknya itu.


Kejam Mas, kamu kejam.


"Apa maumu Mas? Apa tak cukup Mas Adam menyakiti hati Haura?" Wanita itu terisak, tak sanggup menahan rasa yang menyesakkan dalam dadanya.


Adam mendekat ke arah Haura dan bersimpuh di hadapan istrinya.

__ADS_1


Tangan kanan Adam mengusap air mata Haura. "Maaf Ra, bukan maksud Mas ingin menyakiti hati kamu. Mas hanya ingin mengakhiri semuanya Ra." Wanita itu semakin tersedu, merasa dipermainkan.


"Mas Adam jahat."


Ctak


Sebuah kotak cincin berwarna navy terbuka. Menampilkan sebuah cincin berlian yang mungil namun cantik di hadapan Haura.


"Aku ingin mengakhiri pernikahan kita yang penuh kepalsuan ini Ra. Pernikahan yang hanya karena terpaksa. Dan mulai hari ini kita memulai rumah tangga kita yang sesungguhnya. Aku ingin menjadi suami yang terbaik untukmu. Mari saling mencintai, tanpa paksaan siapa pun." Haura menganga tak percaya dengan apa yang suaminya katakan.


"Dan ini adalah cincin pilihan Mas sendiri. Cincin yang Mas beli dari hasil keringat Mas. Cincin yang Mas beli dengan cinta untukmu Hauraku. Aku ingin menggantikan cincin yang papa belikan untuk memaksaku menikahimu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memakaikan cincin untuk wanita yang aku cintai." Bersamaan dengan itu Adam menyelipkan cincin yang ia beli ke jari manis Haura menggantikan cincin yang tadi Adam lepaskan.


"Alhamdulillah muat ternyata." Adam menatap wajah Haura yang masih bersimbah air mata.


"Maaf sayang." Adam meraih Haura ke dalam pelukannya dan mendekap wanita itu erat-erat. Haura pun sama, ia memeluk Adam erat-erat. Seolah tak ingin dipisahkan. Ia menumpahkan segala tangis di peluk lelaki itu. Malam itu Haura menyadari bahwa ia sepenuhnya telah jatuh cinta pada suaminya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author minta THR like dan komentar dari kalian ya... harus kasih likenya

__ADS_1


Author maksa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Biar lebih syahdu lagu 'Ombak Rindu'nya diputer... di ponsel masingยฒ wkwkkwkwk


__ADS_2