
"Pekerjaan kamu bagaimana? Lancar?" tanya Ray basa-basi.
"Baik Pa. Proyek di daerah D kemarin sempat terhambat karena banjir. Sekarang sudah berjalan seperti rencana."
"Baguslah. Papa dengar kamu mulai terjun ke bisnis kosmetik?"
"Iya Pa. Respon konsumen positif. Produk laris manis di pasaran. Adam rasa perusahaan Adam akan untung banyak tahun ini."
"Bagus Nak. Papa bangga padamu."
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Medina keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap.
"Eh, ada Adam. Kenapa Nak?" tanya Medina seraya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Adam cuma mau melihat keadaan Papa, Ma. Tadi waktu Papa pulang, Adam tak tahu."
"Kamu sudah makan sayang?" tanya Medina lembut. Ia merasa harus memberikan perhatian lagi pada putranya walau pria iti sudah dewasa.
"Sudah Ma. Tadi makan pizza yang Papa belikan sama Mikha."
"Mikha sudah tak marah?" tanya Medina pura-pura tak tahu.
"Enggak Ma. Adam sudah minta maaf dan Mikha mau memaafkan Adam."
"Bagus."
"Kamu sering-seringlah pulang. Papa dan Mama rindu. Akhir-akhir ini kamu jarang pulang. Kamu tinggal di mana sayang?"
"Eh, eh.. Di rumah teman Adam," jawab Adam gugup. Sebenarnya Medina dan Ray sudah tahu Adam tinggal bersama Isabella.
"Kalau bisa kamu selalu pulang. Jangan sering-sering tidur di rumah teman kamu."
"I-iya Ma."
"Sayang, mari kita bicarakan hal penting ini sekarang. Mumpung Adam ada di rumah." Kini giliran Ray yang berbicara.
"Ah, iya Mas."
"Dam, Papa langsung saja, tak usah basa-basi. Papa akan menjodohkan kamu dengan anak sahabat Papa."
Deg, betul dugaan Adam. Inilah firasat tak enak yang tadi ia rasakan.
"Maksud Papa Keira? Adam kan sudah bilang Adam tak mau menikah dengan orang yang tumbuh besar bersama Adam Pa. Adam terlanjur menyayangi Keira seperti menyayangi Mikha. Tak akan bisa tumbuh perasaan yang lebih dari itu," protes Adam sebelum mengetahui faktanya.
__ADS_1
"Tenang saja. Papa bukan mau menjodohkan kamu dengan Keira. Tapi dengan Haura," kata Ray santai. Ia tahu menghadapi Adam tidak boleh dengan emosi. Ia harus memaksa secara halus.
"Jadi anak siapa lagi yang ingin Papa jadikan menantu?" tanya Adam hilang kesabaran.
"Haura. Namanya Haura. Dia anak orang yang sudah menyelamatkan Papa. Dia gadis baik, sopan dan berbakti. Dia pantas mendampingi kamu. Papa yakin dia akan menjadi istri yang baik buat kamu."
"Jadi hanya karena balas budi Papa mau mengorbankan hidup anak Papa? Jadi Papa mau menukarkan hidup adam yang berharga demi orang asing yang hanya sekali menolong Papa?" tanya Adam semakin emosi.
"Menolong sekali kamu bilang? Kamu tak akan tahu apa yang terjadi dengan Papa, jika Pak ibrahim tak menyelamatkan Papa. Mungkin Papa sudah tak bisa lagi berkumpul bersama kalian. Itu yang kamu bilang hanya menolong?" kata Ray marah.
"Kan Papa bisa memberikan uang sebagai tanda terima kasih atau bagaimana. Tak perlulah menikahi gadis kampung itu," tolak Adam marah.
"Jaga mulutmu Adam. Mereka bukan orang yang mata duitan. Papa melakukan ini karena ingin mempererat tali silaturahmi."
"Tapi tak perlu dengan cara menikah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi."
"Tidak! Apa pun yang terjadi, Papa mau kamu menikah dengan Haura. Papa besok akan pergi mengunjungi mereka. Papa akan bicara dengan Bang Ibrahim untuk menjodohkan kalian."
"Adam tak mau Pa. Jangan paksa Adam. Adam sudah memiliki kekasih yang Adam cintai."
"Tinggalkan wanita itu, kamu dan dia tak akan pernah bisa bersatu," kata Ray dingin.
"Dia Isabella, wanita yang Adam cinta Pa. Adam tak akan bisa hidup tanpa Isabella. Sampai kapan pun Adam tak akan meninggalkan dia."
"Sayang, Papa benar. Wanita itu tak baik untukmu Nak. Tinggalkan dia. Ada banyak wanita yang lebih baik dari Isabella. Mama takut kamu terperangkap oleh jebakan Isabella." Medina ikut berbicara.
"Cukup, Papa tak mau dibantah!" Ray harus mengambil tindakan tegas. Semua demi kebaikan putranya.
"Apa karena Isabella seorang kristiani? Kalau masalahnya itu, Adam akan minta dia untuk pindah ke agama kita," kata Adam kekeh.
"Kamu yakin dia mau? Kamu sanggup bertanggung jawab untuk membimbing seorang mualaf? Bagaimana jika kamu gagal dan dia kembali ke keyakinannya?" tanya Ray meluapkan semua isi hatinya.
"Kalau Adam gagal, biar kami menjalani agama kami masing-masing."
"Tidak! Papa tidak akan biarkan itu terjadi. Pernikahan bukan permainan yang seenaknya saja kamu mainkan," kata Ray semakin memanas.
"Pokoknya Papa nggak mau tahu. Papa ingin kamu menikah dengan Haura." Adam yang emosi berniat meninggalkan kamar orang tuanya. Namun langkah Adam terhenti saat Ray mengucapkan kalimat yang membuat hatinya sakit.
"Kamu menikah dengan Haura atau Papa akan mengambil semua fasilitas yang kamu miliki. Semua, tanpa terkecuali. Biar Mikha yang menjadi pewaris satu-satunya."
"Papa tega hanya demi wanita asing itu memperlakukan Adam seperti ini? Sampai mau mencoret dari ahli waris? Adam kecewa Pa ...." Adam berlari keluar dari kamar Ray dan Medina.
"Sabar Mas ...." Medina mengusap lengan Ray yang masih terbakar emosi.
"Maafkan aku Medina. Aku tak bermaksud membedakan Adam dengan Mikha. Aku hanya mengancamnya saja. Karena Adam benar-benar harus diberi pelajaran. Semua demi kebaikan dirinya juga."
__ADS_1
"Iya Mas. Me tahu."
"Jangan pernah berpikir Mas tak menyayangi Adam. Mas sangat menyayanginya Me," kata Ray berkaca-kaca. Rasanya sulit sekali untuk mendidik Adam sedari kecil.
"Semoga ini keputusan yang terbaik ya Mas," kata Medina bersandar di bahu suaminya.
***
Empat hari kemudian, Mirza menghadap kepada Ray. Mirza sudah menyelesaikan semua tugas yang Ray berikan. Ia menemui Ray di kantor karena kebetulan Ray masih berada di kantor dan Mirza juga ada di perusahaan.
"Ini Tuan. Info yang saya dapatkan. Tingkat keakuratan dari informasi yang saya berikan 99 persen benar." Mirza menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat.
"Dino. Seorang fotografer."
"Oh ... jadi lelaki ini tertarik dengan Isabella, dan cemburu pada Adam."
"Mungkin sejenis terobsesi Tuan. Ketika saya mendatangi studionya di sebuah ruangan khusus terdapat ratusan foto Isabella. Orang seperti itu berbahaya Tuan, nekat melakukan apapun jika sampai ada yang mendekati wanita pujaan hatinya. Jadi itu sebabnya ia merusak rem Tuan Adam."
"Terimakasih ya Mirza, saya puas dengan hasil kerja kamu. Bonus akan aku transfer ke rekeningmu."
"Tidak perlu Tuan, itu sudah menjadi tugas saya," tolak Mirza. Mirza menyadari besar jasa keluarga Ray untuk keluarga Mirza.
"Tidak Za. Itu hak kamu. Terimalah, simpan baik-baik. Jangan suka menghamburkan untuk hal yang tak penting. Dengan ketekunan kamu yang seperti ini, saya yakin di masa depan kamu akan sukses."
"Baiklah saya terima Tuan, terimakasih."
Mirza meninggalkan ruangan itu dengan bahagia. Bukan karena uang yang akan ia terima, tetapi karena Ray puas dengan hasil kerjanya.
.
.
.
.
.
.
.
Mampir ke karyaku yang baru ya?
Minah I Love You
__ADS_1
Dua Polisi Tampan
terimakasih