
"Ehm, ya sudah kita kembali ke bawah yuk. Ini kan acara kamu Mikha. Mama papa dan yang lainnya pasti kini sedang mencarimu."
Akhirnya mereka kembali ke bawah dan acara pesta pun dimulai.
Dengan langkah tergesa Haura dan Mikha turun ke bawah. Semua orang sudah menantikan kehadiran tokoh utama di acara tersebut.
Di bawah, terlihat pembawa acara memulai kata membuka acara itu. Ray dan Medina yang tadinya mencari Mikha, bernafas lega melihat putrinya turun dengan menantunya. Dengan seulas senyum, Mikha mendekat ke arah orang-orang yang berkumpul di dekat kue ulang tahun.
Acara pun dimulai, para tamu menyanyikan lagu ulang tahun untuk Mikha. Mikha sangat bahagia bisa merayakan ulang tahunnya lagi bersama kedua orangtuanya. Dan yang terpenting ia memiliki keluarga lengkap dan bahagia seperti ini. Ada mama, papa dan kakak yang sangat menyayanginya. Walau belakangan, ia sering bersinggung pendapat dengan Adam. Mikha tetap menyayangi dan menjadi kesayangan Adam.
Pun dengan Medina Dan Ray begitu bahagia. Bayi yang dulu mereka dapatkan dengan menunggu bertahun lamanya, kini sudah beranjak dewasa. Bayi yang dulu ditimang-timang, digantikan popoknya, kini menjadi gadis cantik yang baik hati dan mandiri. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kenangan demi kenangan menghiasi kehidupan rumah tangga Ray dan Medina. Adam dan Mikha menjadi berkah paling indah di hidup mereka.
Selesai menyanyikan lagu, Mikha berdoa dengan khidmat. Mendoakan kebahagiaan untuk mama dan papanya.
Acara potong kue pun dimulai, Mikha memberikan potongan pertama kepada kedua orang tuanya. Ia juga menyuapkan potongan kue kepada mama dan papanya. Ray dan Medina memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. Semua orang bertepuk tangan menyaksikan kemesraan Mikha dan orang tuanya.
Potongan kue yang kedua, Mikha berikan kepada Keira. Wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya. Wanita yang sedari kecil begitu rapat dengannya.
Adam maklum, jika Mikha belum sepenuhnya memaafkannya. Dan lebih memilih Keira. Karena Adam tahu adiknya sangat menyayangi Keira.
Acara pun berlanjut dengan makan-makan dan hiburan dari grup band sekolah Mikha yang sengaja diundang untuk mengisi acara.
Haura merasa lelah berdiri, akhirnya memilih duduk di meja setelah mengambil makanan dan minuman. Ia meletakkan slingbag miliknya di meja tempat ia duduk.
Ia mengedarkan pandangan, mencari-cari Adam. Terlihat Adam masih sibuk berbicara dengan Om Arif, ayah Keira. Haura tak ingin mencampuri urusan Adam. Ia memilih duduk seorang diri. Karena sudah pasti Medina dan Ray juga sama sibuknya menyambut tamu.
"Hei, lihat tuh kakak ipar Mikha. Yang sering membuat Mikha kita sedih." ucap Vallerie salah seorang sahabat Mikha yang hadir di pesta itu.
"Iya, aku sudah tahu Val. Kenapa memangnya?" tanya Kanaya, sahabat Mikha juga.
"Ck, kamu ini nggak peka. Ya kita harus kerjain dia lah. Demi Mikha," ucap Vallerie tak sabar mengerjai Haura.
"Aku rasa Mikha tak akan menyukainya. Dia bukan orang yang pendendam."
"Sudah, jangan banyak bicara. Ikut saja." Vallerie mengambil segelas sirup merah dan menghampiri Haura. Setelah di depan Haura, Vallerie pura-pura terjatuh dan menyiram air sirup ke dada Haura. Dada Haura menjadi basah dan kotor.
"Ya ampunn ... maaf ya kak," ucap Vallerie pura-pura merasa bersalah.
"Aduh, ng-nggak apa-apa." Haura mengulas senyumnya, mencoba bersabar.
"Gimana kalau aku ganti rugi baju kakak?" tawar Vallerie lagi.
"Nggak usah. Ini masih bisa dibersihkan kok."
__ADS_1
"Aduh, maaf ya kak."
"Iya nggak papa. Ya sudah kakak bersihkan di toilet dulu." Haura berdiri dan menuju toilet.
Vallerie dan Kanaya tersenyum. Merasa misi pertamanya berhasil.
"Kita jalankan misi selanjutnya." Kedua wanita itu mengikuti Haura. Setelah memastikan Haura masuk ke toilet, Vallerie dan Kanaya bergegas mengambil pengepel dan menahan pintu agar tak bisa dibuka dari dalam.
Keduanya segera meninggalkan tempat itu dengan kemenangan penuh. "Yess. " Keduanya ber-tos ria dan tertawa terbahak-bahak. Kemudian kembali ke pesta seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Sementara itu Haura yang sudah selesai membersihkan diri kini tengah panik karena pintu tak dapat dibuka. Ia berteriak meminta pertolongan. Sayang, tak seorang pun yang mendengar suaranya.
Haura meraba tubuhnya, mencari ponsel. Baru ia menyadari jika ia meletakkan ponsel di meja tempat ia duduk tadi. Haura menjadi lemas, tak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa pasrah menunggu ada seseorang yang masuk ke toilet.
"Dimana sih wanita itu?" Adam menoleh ke sana kemari mencari keberadaan istrinya. Acara sudah hampir berakhir, namun istrinya tak kunjung muncul.
"Ck, hanya bisa menyusahkan saja kerjaanya. Awas saja kalau ketemu nanti," gumam Adam seorang diri.
"Ma, Mama lihat Haura?" tanya Adam setelah menghampiri mamanya.
"Enggak sayang, Mama kira sama kamu."
"Huh, kemana sih wanita kampungan itu." Adam bergumam pelan, sedikit khawatir pada istrinya.
"Iya sayang. Cari dulu istrimu. Atau perlu Mama bantu?"
"Nggak usah. Mama di sini saja. Banyak tamu yang harus Mama sambut. Nggak enak kan kalau Mama tinggalkan."
"Ya sudah cari sana," perintah Medina sedikit lega mengetahui Adam memperhatikan Haura.
Adam berkeliling rumah mama dan papanya mencari Haura. Namun, belum juga ketemu. Adam jadi risau.
"Awas saja kamu. Buat aku kesal saja."
"Oh, apa mungkin dia di toilet ya?" Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Adam pergi ke toilet, di pintu toilet tertulis kalimat 'Sedang Dalam perbaikan' dan terdapat pengepel lantai yang menahan pintu. Adam mengerutkan kening, ia merasa tadi tak ada masalah dengan toiletnya.
"Ra," panggil Adam datar. Haura merasa lega mendengar suara Adam, akhirnya suaminya datang.
"Iya Mas. Rara di sini Mas. Tolong Rara Mas," ucap wanita itu bangkit dari duduknya dan memukuli pintu toilet.
Adam seger mengambil pengepel yang menahan pintu. Dan pintu terbuka.
__ADS_1
Brakkkk
"Kamu ini ... "
"Mas Adam ... " teriak Haura menghambur memeluk tubuh kekar suaminya. Haura menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia memeluk Adam erat-erat seolah takut dipisahkan. Ia menangis karena ketakutan dan lega. Adam yang semula ingin mengomel menjadi tak tega. Ia membiarkan wanita itu tetap memeluknya.
Dengan ragu, tangan Adam terulur ingin mengelus puncak kepala istrinya. Tak lama ia mendekap wanita yang gemetaran itu kedalam pelukannya yang hangat. Ia merasakan perasaan yang aneh. Hangat, damai dan nyaman. Baru kali ini ia memeluk istrinya sendiri seumur pernikahan mereka.
"Rara takut Mas ...," isak Haura.
"Sudah jangan menangis lagi. Mas kan sudah ada disini," ucap Adam menenangkan istrinya dengan suara yang begitu lembut. Baru kali ini ia bersikap selembut dan setulus itu pada Haura, istri sahnya. Bukan akting seperti yang biasa ia lakukan.
"Kenapa kamu bisa dikunci di dalam? Siapa yang melakukannya?" tanya Adam setelah Haura tenang.
"Rara nggak tahu Mas. Tadi baju Rara kotor kena minuman dan ingin membersihkannya. Tapi waktu Rara mau keluar sudah terkunci. "
"Ya sudah lupakan. Kita pulang saja ya? Aku capek," ucap Adam merasa bosan dan lelah.
"Ya sudah kita pamit sama mama dulu Mas."
"Basuh dulu mukamu yang jelek itu. Kamu mau mama mengira aku habis menganiaya kamu? Lihat! Penampilan kamu saja berantakan begitu." Ucapan Adam sudah kembali seperti semula dingin dan sedikit kasar.
"Iya Mas." Haura tersenyum. Ia tahu, dibalik kata-kata Adam yang ketus ada setitik perhatian untuknya. Haura bahagia dengan perlakuan Adam tadi dan berharap Adam akan segera menerimanya sebagai istri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mau curhat lagi...
Semalam ketikanku untuk episode ini hilang. seribu kata lebih hilang.. mau nangis rasanya. Aku jadi harus mengulang ketikan. Dan hasilnya kurang memuaskan. Kurang totalitas😭😭😭
__ADS_1
Yahh semoga tidak kecewa yah.. kesan romantisnya jadi ilang.