Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kepergian Rika


__ADS_3

"Tan, bagaimana keadaan anda?" tanya Medina yang kini tengah menjenguk mantan mertuanya.


Saat ini Medina tengah berada di kamar Rika. Dua hari setelah kedatangan Ilham ke rumah, akhirnya Medina dan Ray membawa Adam ke rumah Rika. Terlihat wajah wanita tua itu pucat dan sayu. Rika terlihat lebih kurus dari dua tahun lalu, terakhir kali bertemu. Wanita itu terbaring lemah di ranjangnya.


Melihat keadaan Rika yang seperti itu, Medina menjadi iba. Ternyata apa yang Ilham katakan bukan bualan semata, Rika benar-benar sakit.


"Ini sudah mendingan kok Me. Terima kasih sudah mau datang," kata Rika tersenyum kecil. Sesekali wanita tua itu terbatuk-batuk.


"Om kemana Tan?" tanya Medina.


"Om kerja Me. Beginilah hidup Tante, setiap hari berteman sepi. Apalagi setelah Gibran tak ada," kata Rika sedih. Medina merasa kasihan pada Rika. Di usianya yang sudah tua, harus kesepian tanpa anak atau cucunya yang menemani. Pasti Rika sangat menderita menjalani kehidupannya selama ini.


"Adam, sini mendekat sayang. Oma Rika rindu dengan Adam," kata Medina membujuk Adam yang bersembunyi di belakang Medina. Entah malu atau takut bocah itu enggan mendekat. Karena sudah dua tahun Adam tak berjumpa dengan Rika.


"Adam, Oma Rika juga Omanya Adam. Adam kasih salam ya sayang. Oma Rika sedang sakit. Adam nggak kasihan lihat Oma? " giliran Ray yang membujuk putranya.


Dengan langkah malu-malu bocah tampan itu mendekat dan menjabat tangan Rika.


"Cucu Oma sudah besar rupanya. Tampannya cucu oma," puji Rika membelai pipi cucunya. Terlihat air mata haru menetes dari mata tua wanita itu.


"Oma boleh peluk?" tanya Rika yang kini sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


Adam menoleh ke arah kedua orang tuanya meminta persetujuan Ray dan Medina mengangguk dan tersenyum. Ada rasa trenyuh dan sedikit menyesal karena tanpa sengaja ia memisahkan Adam dengan omanya.


Adam semakin mendekat, dan wanita tua itu memeluk Adam erat-erat. Rika benar-benar merindukan cucunya.


"Nyonya, sudah waktunya makan," kata Marni asisten rumah tangga Rika membuyarkan keharuan Rika.


"Kamu nggak lihat? Saat ini saya hanya mau bersama cucu saya. Bawa pergi makanan itu," kata Rika kesal.


"Tapi Nyonya ...."ucapan Marni terhenti ketika Medina mengambil nampan berisi makanan dari tangannya.


"Bi, Biar saya saja. Silakan lanjutkan pekerjaan Bibi," ucap Medina lembut.


"Baik Nyonya, saya permisi dulu."

__ADS_1


Medina menarik kursi di meja rias dan mendekat ke arah Rika.


"Ma ... makan dulu," kata Medina lembut. Rika mematung mendengar ibu dari cucunya memanggilnya dengan sebutan mama. Panggilan yang ia inginkan dari dulu. Yang tak pernah ia dapatkan sedari tujuh tahun yang lalu.


Rika menangis, begitu terharu.


"Ma, jangan menangis. Ayo makan dulu, sedikit saja," bujuk Medina.


Ada perasaan hangat di hati Rika. Bertahun-tahun ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Kini wanita yang berstatus sebagai mantan menantunya begitu memperhatikannya. Rika menerima suapan Medina dengan bahagia. Ia makan sambil menangis haru. Hingga berkali-kali Medina menyeka air mata Rika dengan tissue. Walau tak banyak yang dimakan, Medina bersyukur akhirnya Rika mau makan.


"Ma, maafkan Me yang tak pernah datang menjenguk. Me yakin, setelah kepergian Gibran Mama pasti sangat sedih dan kesepian. Maafkan Me yang tak peka ya, Ma?" kata Medina setelah selesai menyuapi Rika. Medina menyesali sikapnya selama ini yang begitu ketakutan jika mereka mengambil Adam.


"Tidak Me, bukan salah kamu, Nak. Kamu tak ada kewajiban untuk berbuat baik pada Mama."


"Ma ... anggap kami anak mama juga. Anggap Ray pengganti Gibran. Jika ada masalah atau Mama butuh sesuatu, Mama Rika boleh katakan pada kami," kata Ray ikut bicara.


"Terimakasih, Nak. Terimakasih," ucap Rika terharu.


"InsyaAllah kami akan sering datang," kata Medina lembut.


***


Seminggu setelah kedatangan mereka ke rumah Ilham, Medina mendengar kabar buruk dari Rika. Rika telah berpulang ke Rahmatullah menyusul putranya, Gibran.


Medina dan Ray datang ke pemakaman Rika. Medina sedikit terpukul, pasalnya ia belum sempat menepati janjinya pada Rika untuk menjenguknya kembali. Dan Allah terlebih dulu memanggilnya.


Ilham yang tengah larut dalam kesedihannya tak sedikit!pun menyambut Medina dan Ray. Bahkan lelaki tua itu entah menyadari kedatangan Ray dan Medina atau tidak.


Ilham menyesal, dulu dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia tak bangkrut. Hingga akhirnya Gibran yang kurang kasih sayangnya meninggal dunia. Dan kini Rika juga meninggalkannya dalam kesepian, tanpa seorang pun yang menemani. Tinggalah dia seorang diri. Membuat Ilham memikirkan bagaimana kehidupannya nanti jika ia sudah tak mampu berdiri lagi. Ilham menjadi takut akan menderita karena kesepian seperti istrinya.


***


Cuaca begitu panas, matahari bersinar terik di atas kepala. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Anak-anak yang baru saja selesai belajar menghambur keluar dari gerbang sekolah. Mereka bercanda dan tertawa bahagia. Ada yang pulang dengan berjalan kaki, karena sekolah mereka dekat. Ada yang sudah dijemput oleh orang tuanya.


Adam masih menunggu di gerbang sekolah. Ia mengerucutkan bibir sebal karena mamanya tak juga datang. Lima belas menit sudah ia menunggu, Adam mulai bosan. Bocah kecil itu sudah lapar dan juga kehausan. Ia kesal, tak biasanya mamanya selama itu.

__ADS_1


Suasana sekolah dasar itu kini sudah cukup lengang. Hanya ada beberapa anak murid yang masih menunggu jemputan seperti dirinya. Dan juga pak satpam yang menjaga gerbang sekolah. Berkali-kali Adam melihat ke arah kiri dimana biasanya mamanya datang. Namun hampa, tak juga dilihatnya mobil milik mamanya.


Adam menunggu dengan bosan, hingga sebuah mobil sedan berhenti di dekat Adam. Bocah itu menatap heran pada mobil berwarna silver tersebut. Dalam hati bertanya-tanya mobil siapa gerangan. Tak lama, ada seorang lelaki tua yang keluar dari mobil tersebut.


"Adam, yuk pulang dengan Opa," bujuk Ilham. Adam berdiri mematung. Bocah itu ragu. Entah akan ikut dengan Opa Ilham atau tidak. Bocah lelaki itu berfikir, bagaimana jika ibunya mencarinya.


"Maaf ya Pak. Anda siapanya Adam?" tanya Pak Satpam yang sudah mengenali Adam dan juga orang tuanya dengan curiga. Pak Satpam curiga karena baru sekali ini melihat Ilham menjemput Adam.


"Saya opanya Adam, ibunya sedang ada urusan tidak bisa datang menjemput Adam," kata Ilham.


"Adam, benar Bapak ini Opa kamu?" tanya Pak Satpam memastikan. Adam menganggukkan kepala.


"Ah, maafkan saya ya Pak. Karena saya belum pernah melihat anda sebelum ini," kata Pak Satpam tak enak hati.


"Tidak apa-apa Pak. Ya sudah, kami pulang dulu ya Pak?" pamit Ilham menuntun Adam masuk ke dalam mobilnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


klik like favorite, dan dukung dengan memberikan vote ya..


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2