
"Me, sudah siap?" tanya Ray yang sudah siap sedari tadi. Ia terlihat sangat tampan menggunakan sweater abu-abu khas layaknya lelaki di drama Korea. Dipadu padankan dengan jeans sobek-sobek berwarna navy dan sepatu kets melengkapi penampilan kasualnya.
"Sudah Mas, sebentar tinggal ikat rambut," jawab Medina menoleh ke arah Ray.
"Tampannya," puji Medina dalam hati.
"Kenapa menatap Mas sampai sebegitunya? Mas tampan ya?" kata Ray percaya diri.
"Narsistik."
"Tapi bener lho ... Oma saja bilang aku tampan." Ray membela diri.
Medina tak menjawab lagi karena sibuk mengikat rambutnya menggunakan karet ikat rambut. Ia hanya tersenyum dan mencoba menyembunyikan wajahnya yang hampir saja memerah.
"Mas, kamu ingat tidak ini hari apa?" tanya Medina.
"Hari sabtu, jadi kita akan berkencan layaknya muda-mudi yang sedang kasmaran," jawab Ray sekenanya.
"Ishh ... Mas Ray, bukan itu maksud Me. Maksud Me, hari ini adalah hari terakhir kita bersama. Dan besok kita akan berpisah menuju lhaluan masing-masing," kata Medina.
"Hemm, iya, nggak usah diingetin mas inget kok Me," jawab Ray tak suka.
"Tapi yang benar, kita masih ada sehari lagi untuk bersama. Karena Mas nggak mau tahu. Pokoknya kita akan bersama-sama ke Bandung. Mas antar kamu sampai rumah sahabat kamu, baru setelah itu kita berpisah. Mas akan pergi ke tempat yang seharusnya berada," ucap Ray tak mau dibantah.
"Okay lah. Me ikut kata Mas Ray." Medina yang sudah siap kini menghampiri Ray.
"Okay my wife, Hari ini kita pergi jalan-jalan. Untuk hari ini kita lupakan sejenak kehidupan kita masing-masing. Yang ada hanya hari pasangan Ray Medina. Ehm, karena ini kencan kita yang terakhir, Me mau minta apa dari mas? Mas kabulin satu permintaan," tanya Ray serius.
"Kalau Me katakan apa mau Me, Mas Ray pasti akan menyesal," jawab Me santai.
"Apa tuh?" tanya Ray penasaran.
"Aku ingin Mas di sisiku selamanya," batin Medina.
"Ehmm, bukan apa-apa. Kalau Me katakan, Mas Ray benar-benar akan menyesal seumur hidup. Jadi Me memilih untuk tak mengatakannya," jawab Medina menghindar.
"Me, Mas Ray tak pernah sekali pun menyesal sudah melalui hari-hari bersama Me. Setiap hari yang Mas lalui bersama Me selalu barharga. Dan seumur hidup Mas tak akan pernah menyesal dan melupakan kenangan kita. Selamanya kamu akan menjadi orang yang berharga untuk Mas," kata Ray menggenggam jemari Medina erat.
"Iya mas, Me sangat berterimakasih pada Mas Ray. Terimakasih sudah masuk ke dalam hidup Me yang penuh kerumitan. Terimakasih sudah ada di samping Me ketika Me terpuruk. Me tak minta apa pun dari Mas, terimakasih untuk segalanya." Medina memeluk Ray dengan tulus.
"Shhh.. nggak usah dibahas lagi. Ayok lah kita berangkat, keburu sore nanti kita tak puas berkeliling Mall," Medina mengangguk.
__ADS_1
Mereka berdua segera berpamitan pada bunda. Bunda yang melihat anak dan menantunya begitu rukun merasa sangat bahagia dan lega.
"Ray bawa Me jalan-jalan ya Bun," pamit Ray mencium tangan bunda.
"Iya, jaga Me ya Ray. Ingat jangan sampai Me kelelahan, satu lagi jangan pulang malam-malam," pesan bunda pada anak dan menantunya.
"Baik Bunda," jawab Ray sambil tersenyum.
"Oh ya satu lagi, kalian jangan membeli perlengkapan bayi apa pun ketika di Mall nanti," nasehat Bunda lagi.
"Kenapa memangnya Bun?" tanya Ray penasaran.
"Hmmm Ray ... Ray ... orang tua bilang kalau membeli perlengkapan calon bayi terlalu awal itu pamali. Sudah menurut saja kata Bunda. Nanti kalau usia kandungan Me masuk sembilan bulan biar Bunda yang belikan semua."
"Yah ... padahal sebelum berpisah Ray mau membelikan semua perlengkapan bayi untuk Me sebagai hadiah perpisahan," batin Ray kecewa.
"Iya deh Bun," kata Ray mengalah.
Awalnya mereka ingin pergi dengan naik taksi, tapi bunda tak mengijinkan dan menyuruh Ray menggunakan mobil. Akhirnya mereka terpaksa setuju dan pergi dengan menggunakan mobil. Karena bunda Mutia sangat cerewet dan pantang untuk dibantah.
Setelah sampai mereka berjalan menyusuri mall. Suasana sedikit ramai karena di akhir pekan banyak muda mudi yang sekedar berjalan bersama teman atau berkencan. Namun di luar perkiraan suasana di lantai bawah sangat ramai.
"Emang Me anak kecil," kata Medina mengerucutkan bibir pura-pura sebal.
"Bukan begitu Me, lihat ramai sekali disini. Genggam tangan Mas Me, sini-sini mendekat," perintah Ray seraya menarik wanita itu ke pelukannya. Hingga kepalanya membentur dada bidang itu.
Wajah Medina memerah seketika, memang ini bukan pertama kalinya ia merasakan pelukan Ray. Namun kali ini berbeda, jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memerah. Ia merasakan kenyamanan dan kehangatan yang merasuk kedalam relung hatinya. Untung Ray sedang fokus melindungi Medina agar tidak didesak-desak oleh pengunjung lain. Sehingga dengan cepat ia menetralkan degup jantungnya yang menggila sebelum Ray melihatnya salah tingkah.
"Oh Mas Ray, bagaimana aku tak jatuh cinta padamu jika perlakuanmu padaku sangat lembut seperti ini," batin Medina seraya tak hentinya mendongakkan kepala menatap wajah tampan pria yang sekarang tengah memeluknya.
"Aduh, Mas hati-hati dong! Jangan mendorong istri saya," ucap Ray possesif sedikit marah. Ia makin mengetatkan pelukannya. Medina yang disebut sebagai istri tersipu malu.
"Maaf Mas, mau bagaimana lagi? Memang ramai begini, kita mau cepetan sampai di sana tuh. Ada band terkenal yang manggung di situ tuh," jawab lelaki itu.
"Pantesan, sudah sayang kita naik saja ke atas," ajak Ray berbalik menuju eskalator. Mereka melihat eskalator dari arah berlawanan sangat penuh dan berdesakan.
Segerombolan gadis muda memandang mereka sambil berbisik-bisik. Samar Medina mendengar para gadis itu memuji ketampanan Ray.
"Lihat tuh, tampan banget ya? Kyaaa ... kayak artis," puji gadis berambut pirang.
"Iya ... sayang ya sudah punya istri, kalau belum aku mau jadi pacarnya," kata gadis yang berponi.
__ADS_1
"Yee ... emang dia mau gitu sama kamu?" ejek gadis satunya lagi yang memiliki rambut bergelombang. Akhirnya kerumunan gadis remaja itu tertawa terbahak-bahak sambil masih mencuri pandang ke arah Ray.
"Kita salah pilih Mall Me." Ray menggaruk kepala yang tak gatal.
"Nggak apa Mas, diatas kayaknya nggak terlalu ramai deh," jawab Medina menenangkan Ray.
"Kita nonton saja ya?" ajak Ray. Medina mengangguk setuju.
Akhirnya mereka menonton film kemudian makan bersama. Mereka begitu bahagia. Mereka merasa seperti ABG yang sedang berkencan.
Hari itu mereka jalani dengan penuh suka cita dan akan mereka kenang seumur hidup. Medina mencoba untuk menikmati hari-hari terakhir bersama malaikat penolongnya sekali itu saja ia mengabaikan fakta bahwa Ray akan segera bertunangan. Ia tak kan pernah melupakan jasa Ray. Ia sangat terharu dengan semua yang dilakukan Ray untuknya. Jika bukan karena keadaannya yang seperti ini, mungkin ia akan nekat mengungkapkan perasaannya dan mengharapkan cinta dari Ray. Tapi sayangnya jika bukan karena bayinya ia tak kan pernah mengenal apalagi bisa dekat dengan tuan sempurna itu.
"Makasih Mas, semoga Allah selalu memberimu kebahagiaan." Medina berdoa dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Happy new year 2020 ya untuk pembaca semua...
Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.
Semoga ditahun ini segala cita-cita akan tercapai.
Saya selaku author mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan kalian, terimakasih untuk like yang kalian berikan.
Semoga kedepannya saya bisa lebih baik dalam menulis.
jangan lupa tekan jempol ya..
salam sayang dariku author kadang gaje 😂😂😂
__ADS_1