
"Dasar bodoh!" Adam memukul kepala Ardi dengan proposal yang ada di hadapannya dengan geram.
"Aduh, sakit tol*l!" Ardi mengelus keningnya yang sedikit memerah. Untung saja Adam bosnya, kalau bukan ia sudah akan memukul balik pria itu.
"Main pukul saja sih, Dam. Untung kamu bos, kalau nggak sudah aku balas. Aku nasehati baik-baik malah marah," sungut Ardi.
"Karena kamu b*go! Ngapain juga aku memikirkan Isabella. Aku dan dia sudah berakhir. Denger baik-baik Di. Aku dan Isabella sudah END."
"Aku nggak salah dengar Bos?" Ardi mengerjap tak percaya.
"Nggak Di. ARDIKA PRATAMA. Hubungan kami sudah berakhir seminggu yang lalu."
"Lalu? Kamu galau karena siapa dong? Jangan bilang kamu galau karena ...,"
"Iya, aku galau karena Haura, istriku. Puas Di? Puas?" Adam tahu Ardi akan menertawakannya.
"Hahaha. Akhirnya sobatku ini menjilat ludahnya sendiri. Dulu siapa yang bilang kalau nggak mungkin jatuh cinta pada gadis kampung itu? Nggak level lah, norak lah, udik lah, membosankan lah," ejek Ardi. Ardi terpingkal karena sahabatnya kini tengah kacau balau gara-gara wanita yang dulu sangat dibencinya.
"Sudahlah Di. Bukannya membantu malah mengejek. Pergi sana! Hush ... hush ...," usir Adam.
"Ehem, cerita dong! Siapa tahu sahabatmu yang tampan ini bisa bantu."
Tok tok tok
"Masuk!" perintah Adam.
Seorang wanita cantik memasuki ruangan Adam menginterupsi pembicaraan mereka. Seketika sikap Ardi menjadi formal kembali. Mulutnya yang tadi tak henti berceloteh, kini terkunci rapat.
"Ini Pak, saya ingin menyerahkan laporan yang Bapak minta," ucap wanita itu semanis mungkin. Ardi yang melihat ekspresi wanita itu mencoba menahan tawanya. Bukan sekali dua kali para karyawati bersikap genit seperti itu.
"Baik, terima kasih. Silakan kembali ke ruangan kamu." ucap Adam dingin, seperti biasanya.
Wanita itu pergi dengan kesal, dalam hati ia menggerutu. Gagal lagi usahanya untuk mendapatkan perhatian Adam. Semua pekerja wanita yang masih muda, saling berlomba untuk mendapatkan Adam. Karena pesona Adam sungguh luar biasa. Tampan, cerdas dan mapan. Siapa yang bisa menolak laki-laki yang seperti iti. Dan ditambah lagi, di kantor itu tak banyak yang mengetahui fakta kalau Adam sudah menikah.
"Memang ya pesona seorang Adam tak ada duanya," ucap Ardi kagum. Ia menyadari tatapan menggoda wanita tadi.
"Di, daripada kamu bicara omong kosong. Lebih baik kamu kembali ke meja kerja. Kerjakan tugasmu. Cari keuntungan yang banyak buat perusahaanku. Atau kamu mau posisimu digantikan dengan orang lain yang nggak nyebelin kayak kamu," ucap Adam kesal.
"Iya, iya. Aku serius. Coba cerita Dam. Siapa tahu aku bisa kasih solusi."
"Gi-gimana sih Di. Cara bujuk wanita yang sedang merajuk. Kamu tahu sendiri kan aku bukan orang yang romantis? Aku terlalu kaku dan dingin."
"Em, memangnya kamu buat salah apa?" tanya Ardi penasaran.
"Sudah deh, kalau nggak mau bantu ya nggak usah kepo. Salah aku minta pendapatmu."
"Hehehe. Gini deh, kamu bujuk dengan kata manis. Ajak dia jalan, kasih hadiah sederhana tapi berkesan. Em, apalagi ya?"
__ADS_1
"Kalau aku pulang saja dia menghindar. Bagaimana caranya aku mau ngajak jalan?" tanya Adam frustasi.
"Nah ... aku punya ide."
Ardi mengungkapkan rencananya pada Adam. Adam yang semula kusut kembali semringah. Akhirnya temannya yang sering tidak jelas, berguna juga.
***
Seminggu sudah mereka tak berbicara. Haura menjadi resah dan gelisah. Ia merasa salah dan berdosa sudah mengabaikan suaminya. Haura ingin minta maaf, tapi egonya berkata jika ia ingin memberi pelajaran pada pria itu.
Egonya menang, ia tak kan bicara lagi pada Adam sebelum laki-laki itu minta maaf secara tulus padanya.
Namun, perasaan Haura menjadi tak karuan ketika sudah tiga hari suaminya tak pulang. Pikiran-pikiran buruk memenuhi otaknya. Sedikit menyesal karena mengabaikan suaminya.
Siang itu Haura sudah mengerjakan semua pekerjaannya. Hanya tinggal bersantai dan beristirahat. Hati Haura begitu kosong. Ia merindukan suara bariton yang seringkali membentaknya. Ia merindukan suara ketus yang kadang terasa menusuk hati. Ia juga merindukan wangi parfum suaminya yang maskulin menyegarkan penciumannya setiap kali mereka berdekatan. Sungguh, Haura sendiri juga tersiksa.
Ting tong ting tong
Bel pintu depan berbunyi. Haura mengerutkan keningnya karena heran. Entah siapa yang datang di siang bolong, di tengah cuaca yang terik dan menyengat seperti ini.
Dengan malas, Haura memakai kerudungnya dan turun ke bawah membukakan pintu untuk tamunya.
"Maaf, benar dengan Nyonya Haura?" Suara ramah seorang kurir menyapa pendengaran Haura.
"Iya Mas. Saya sendiri," ucap Haura bertanya-tanya dalam hati.
Haura bertanya dalam hati, siapa yang mengirim bunga itu. Hatinya tersentuh oleh keindahan dan keharuman bunga itu. Ia melihat ada sebuah kertas kecil dalam buket bunga. Segera ia mengambil kertas kecil di dalam buket dan membukanya.
Istriku tersayang.
Haura.
Kaulah bidadariku.
Bidadariku yang cantik.
Bidadariku yang salihah.
Lihatlah bunga mawar ini.
Seputih dan sebersih ini pula hatimu.
Adam.
Wajah Haura memerah membaca catatan dari Adam. Hatinya berbunga, hingga ia senyum-senyum sendiri.
Sepuluh menit kemudian, bel pintu berbunyi lagi dan menampilkan seorang kurir lagi yang berbeda. Setelah serah terima, Haura masuk ke rumah dengan memeluk buket bunga mawar pink di dadanya. Sungguh wanita itu bahagia dengan kejutan manis dari Adam. Kekecewaan dan sakit hati entah menghilang kemana.
__ADS_1
Dibukanya lagi catatan kecil dari Adam. Dan dibacanya dengan gembira.
*Mawar ini meyiratkan rasa cintaku padamu.
Begitu indah dan menenangkan.
Hiruplah aromanya sayangku.
Inilah keharuman cintaku padamu.
Haura, aku sungguh mencintaimu.
Suamimu*.
Haura membaca kata per kata dengan bahagia. Ia tersenyum-senyum sendiri membaca surat kecil dari Adam. Terlihat lelaki itu memaksakan diri untuk terlihat romantis. Nampak dari kekakuan tulisan yang dibuat Adam. Tapi, Haura menyukainya. Karena itu buatan suaminya khusus untuk dirinya seorang.
Haura teringat lagi kepada hubungan mereka selama seminggu ini. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Haura ingin meminta maaf dan meminta suaminya pulang.
Tut tut tut
Haura menunggu panggilan diangkat. Tak butuh waktu lama, Adam sudah mengangkat telepon dari Haura.
"Mas, Mas Adam dimana? Haura merindukan Mas Adam," ucap Haura khawatir. Sayang, Adam tak menjawab perkataannya.
"Rara ingin minta maaf Mas. Tak selayaknya Haura berbuat begini pada Mas Adam. Suami Rara. Pulanglah Mas! Rara rindu," ucap gadis itu malu-malu.
"Mas, bicaralah!" gadis itu terisak karena suaminya tak mengatakan apapun.
Tut tut tut
Panggilan terputus, putus pula harapan Haura untuk memperbaiki segalanya. Nyatanya, suaminya hanya mempermainkan dirinya dengan mengirimi kejutan-kejutan manis seperti itu. Kembali ke realita, lelaki itu memperlakukannya seenak hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apakah Adam akan berulah lagi? ðŸ˜ðŸ˜