Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Perceraian?


__ADS_3

"Siapa suruh kamu berlama-lama di sana? Sebenarnya kamu menelepon siapa sih? Bukannya di rumah juga ada sinyal, kenapa harus ke sana?" Pertanyaan Haura membuat Mikha mati kutu.


"Anu Kak. Itu ...."


"Rahasia hehehe." Mikha berusaha untuk mengelak.


"Iya, iya. Kakak tahu di umur kamu memang lagi bahagia-bahagianya menikmati rasanya jatuh cinta. Lagi berbunga-bunga."


"Apaan sih Kak. Eh, Kak Haura pernah jatuh cinta? Apa yang kakak rasakan saat berjumpa dengan orang yang kakak cintai? Atau sekedar memikirkannya saja."


"Eh, apaan sih Dek. Sudah Kakak mau masak." Haura menghindari pertanyaan Mikha.


"Jawab dulu dong Kak," desak Mikha.


"No comment Dek."


Karena pertanyaan Mikha, Haura jadi mengingat wajah Adam yang belakangan ini mengusik ketenangannya. Entah mengapa tiap ia mengingatnya, dadanya berdebar-debar. Padahal debarannya dulu hanya milik Alvian seorang. Kenapa wajah orang yang berminggu lalu ia takuti ingin sekali ia lihat? Haura merasa dirinya benar-benar sudah gila.


"Yaah ... Kak Rara nggak asyik."


"Assalamualaikum," ucap Medina yang baru pulang berbelanja. Wanita cantik berusia matang itu menenteng dua kantong besar barang belanjaan dan disusul Bi Imah di belakangnya.


"Waalaikumsalam," jawab Mikha dan Haura serentak.


"Tumben anak gadis Mama ada di dapur," puji Medina seraya meletakkan barang belanjaan di meja dapur.


"Hehe, tadi Mikha dan Kak Rara berkebun. Mikha ke sini cuma mau minum karena kehausan kok."


"Tumben mau kotor-kotor di kebun?"


"Karena Mikha mengikuti Kak Rara. Lihat Ma, jadi kotor dan berkeringat."


"Uuhh, pantesan bau asem ya," gurau Medina.


"Ih Mama ...," sungut Mikha.


"Sudah, sana mandi. Lihat Mama belikan es krim buat kamu dan Kakak."


"Kyaaa ... Mama terbaik deh, muuchh." Mikha melayangkan sebuah kecupan di pipi ibunya dan pergi menuju kamarnya ingin mandi.


"Terima kasih Ma, Mama sudah menyelamatkan Rara dari pertanyaan konyol Mikha," batin Haura senang.


"Kamu mau masak apa sayang?" tanya Medina yang melihat Haura mengupas bawang merah dan bawang putih.

__ADS_1


"Rara ingin makan udang balado, Ma. Kebetulan Rara lihat ada banyak stok udang di freezer."


"Em, Adam juga suka udang balado. Apalagi jika ditambahkan dengan petai." Ucapan Medina membuat Haura menghentikan kegiatannya. Wajah gadis itu bersemu merah. Medina sengaja ingin mengetes bagaimana reaksi menantunya. Dan melihat reaksi menantunya, Medina yakin Haura mungkin sudah tak lagi marah dan takut pada Adam. Medina yakin juga jika menantunya ada perasaan pada putranya walau sedikit saja.


"Ehm, i-iya Ma."


"Nak, bolehkah Mama bertanya?"


"Iya Ma, silakan."


"Apakah kamu masih marah dengan Adam?" Haura menggeleng lemah.


"Apakah jika kamu bertemu dengannya kamu akan takut?" Haura menggeleng untuk kedua kalinya. Tangan kanannya yang memegang pisau berkeringat karena pertanyaan mama mertuanya. Haura sedikit banyak dapat menyimpulkan jika Medina mempunyai maksud tertentu entah itu apa.


"Mama harap kamu segera menyelesaikan masalah ini. Jika kamu sudah tak ingin bersama Adam. Mama dan Papa akan membantu kamu menyelesaikan semuanya." Haura yang semula menunduk karena memotong buah tomat kini menatap mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Rara tak tahu bagaimana keinginan Rara saat ini Ma. Rara masih bingung," ucap gadis itu bimbang. Ia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Sebenarnya Rara menantikan Mas Adam datang dan meminta maaf pada Rara. Rara menantikan Mas Adam menjemput Rara dan mengajak Rara pulang ke rumah. Namun semua hanya harapan semu Rara. Mas Adam bahkan tak pernah datang sekedar menengok Rara," batin gadis itu sedih.


"Bagaimana jika Mama dan Papa uruskan perceraian kalian? Kamu tinggal terima beres. Agar kamu bisa terlepas dari belenggu yang selama ini mengekangmu. Kamu tak perlu lagi berurusan dengan Adam," pancing Medina ingin mengetahui reaksi Haura selanjutnya.


Wanita itu bersedih mendengar mertuanya yang akan mengurus perceraiannya. Seolah ada ribuan jarum menusuk jantungnya. Tubuhnya gemetar. Bukankah ia membenci Adam? Kenapa ketika ia mendengar perkataan Medina bukannya senang, tapi malah sedih? Seolah separuh hatinya direnggut paksa? Rasanya tak rela jika ia harus berpisah dengan Adam. Sakit sekali hatinya.


"Eh, Mama. Rara istirahat dulu ya Ma. Masaknya nanti saja Rara lanjutkan. Sepertinya Rara kecapekan berkebun." Haura berdiri dan tak jadi melanjutkan kegiatan memasaknya. Air matanya yang menganak sungai hampir saja membanjir. Namun, Haura berusaha menahannya. Tak ingin mertuanya melihat air matanya.


"Maaf ya Ma, Rara ke kamar dulu. Maaf merepotkan Mama jadinya."


"Nggak papa, sayang. Sudah sana istirahat."


"Baik Ma." Wanita itu membalikkan badan dan segera menuju kamarnya dengan pikiran yang bingung, bimbang bercampur aduk.


"Maaf sayang, Mama harus melakukan hal ini. Demi kebaikan kalian. Agar kamu mengetahui apa yang kamu mau. Agar hatimu jujur tentang perasaanmu."


***


Wanita itu menangis seorang diri di dalam kamar. Entah apa yang harus ia lakukan? Sebenarnya bagaimana perasaannya? Apa yang ia inginkan? Kenapa rasanya sesedih ini? Hanya mendengar mama mertuanya mengatakan kata perceraian saja membuatnya sangat terusik. Bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi? Haura benar-benar bingung.


Haura bangkit mengambil ponsel miliknya. Membuka galeri foto yang hanya berisi beberapa fotonya. Ia membuka satu-satunya fotonya bersama Adam ketika mengunjungi ayahnya. Haura menjadi ingat bagaimana penakutnya lelaki itu. Bagaimana lelaki itu menderita karena digigit nyamuk. Hingga seluruh tubuhnya bentol-bentol. Haura tersenyum seorang diri mengenang betapa romantisnya ketika mereka ke pantai malam-malam. Ah, andai saja semua dapat terulang kembali. Ia tak akan pernah berbicara dengan Alvian. Penyebab semua kesalah pahaman ini. Maka semua masalah ini tak akan pernah terjadi. Dan mungkin kini ia menjadi wanita yang sangat berbahagia.


***


Seminggu kemudian.

__ADS_1


"Ayo Kak! Kita jalan-jalan."


"Lain kali saja ya Dek. Cuaca panas, kakak malas."


"Nanti kita naik mobil juga dingin. Di mall juga adem," bujuk Mikha tak gentar.


"Tapi Kakak lagi malas sayang."


"Ayolah ... besok lusa Kak Kei ulang tahun. Mikha minta Kak Haura menemani Mikha mencari kado."


"Memangnya mama mengizinkan?" Haura masih berupaya untuk menolak ajakan adik iparnya. Sungguh saat ini mood wanita itu tengah buruk. Ia hanya ingin sendirian saja. Tetapi adik iparnya yang bawel malah mengganggunya dengan segala daya upaya mengajaknya jalan-jalan.


"Sudah dong. Ayo kakak mandi cepat. Mikha tunggu."


"Iya, iya ... aduuh, susah punya adik bawel ya."


"Apa Kakak bilang?"


"Bercanda adikku yang manis." Haura mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.


"Cepetan! Keburu sore Kak," paksa Mikha merebahkan tubuhnya di kasur kakaknya dan bermain ponsel.


"Iya bawel ...," ucap Haura setengah berbisik takut di dengar oleh Mikha.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah bisa up lagi. Doakan lancar idenya ya readers. Belakangan kurang fit jadi mau ngetik ngga dapat feel.


Happy reading, semoga suka.

__ADS_1


Tinggalkan jejak jempol ya, kalau ada yang komen Author lebih seneng lagi


😂😂😂


__ADS_2