Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Menangislah, Setelah Itu Kamu Harus Bahagia


__ADS_3

Tririringgg


Ponsel Medina yang terletak di nakas dekat ranjang tempat tidur berbunyi setelah ia mematikan panggilan telepon dengan Ray.


"Halo, kamu mau apa lagi?" tanya Medina dengan nada tinggi setelah melihat identitas pemanggil di layar ponselnya.


"Me, andaikan Tuhan memberi aku kesempatan untuk hidup. Aku ingin menebus semua kesalahan yang kulakukan padamu. Aku menyesal Me sudah mencampakkan kamu," ucap Gibran lirih menahan sakit di dadanya.


"Sudahlah. Kamu tak perlu lagi menyesal. Aku sekarang sudah terbebas darimu. Kamu benar-benar tak perlu lagi bertanggung jawab. Anak kamu sudah tidak ada lagi karena aku mengalami pendarahan," bohong Medina.


"Kamu bohong Me, aku yakin kamu bohong. Dan semua yang dikatakan Ray juga bohong. Aku juga tahu Ray bukan suami kamu," kata Gibran tak mau menyerah.


"Terserah, kamu percaya atau tidak, sekarang aku mengandung anak Mas Ray bukan anak kamu. Jangan hubungi aku lagi! Kita jalani hidup kita masing-masing," jawab Medina langsung mematikan telepon.


Ia menangis sejadi-jadinya, hatinya terluka amat dalam. Baru ia mendapat kabar pernikahan Ray dan kini Gibran kembali menghubunginya. Ia sangat bingung dengan perasaannya.


***


"Gibran, kasih tahu Papa nomor telepon mantan kekasih kamu. Papa ingin berbicara dengan wanita itu," perintah Ilham dingin.


"Untuk apa Pa? Semua tak berguna lagi. Medina mengandung anak orang lain bukan anak Gibran. Jadi hentikan saja usaha Papa untuk menemukan dia. Sia-sia saja Pa," jawab Gibran lirih.


"Apa? "kata Ilham tak percaya dengan ucapan anaknya.


"Tidak, papa tidak percaya. Papa yang akan buktikan sendiri, bayi itu milik kamu atau bukan," kata Ilham kekeh meninggalkan ruang rawat putranya.


***


"Hello my wife.. Iam come back," sapa Ray pada Medina yang sedang berbaring di kamarnya.


Medina sudah pulang dari rumah sakit sedari kemarin. Sesungguhnya ia sangat mengharapkan Ray menjemputnya di rumah sakit. Tetapi apalah daya, ia bukan siapa-siapa untuk lelaki itu. Ia tahu Ray akan menikah. Dia tak punya hak untuk selalu bergantung pada lelaki tampan itu.


"Eh Mas Ray. Kok sudah kembali?" tanya Medina basa-basi. Senyum tersungging dibibir tipisnya, melihat orang yang ia rindukan telah kembali.


"Iya dong, kan Mas rindu Me?" gombal Ray.


"Gombal.. Benarkah?Laki-laki memang selalu manis di mulut ya? Katanya mau melangsungkan pernikahan? Kenapa cepat sekali kembali ke sini? Sebenarnya nggak papa Mas nggak usah kembali kesini. Me bisa handle urusan di sini kok. Semua aman terkendali," kata Medina bertentangan dengan kata hatinya yang ingin Ray tetap tinggal di sisinya. Medina mengucapkan dengan tersenyum. Ada rasa sakit menyergap relung hatinya ketika ia menyebut kata pernikahan.


"Pandai ya kamu mengejek Mas. Sebenarnya ... pernikahan masih ditunda Me. Oma tak setuju kalau melangsungkan pernikahan tanpa rencana dan persiapan yang matang. Jadi akhir bulan ini hanya acara pertunangan saja," jelas Ray terlihat kecewa.


"Emm, iya juga sih Mas. Kalau hanya sebulan, waktunya tak akan cukup, dan bila terburu-buru takutnya hasilnya tak memuaskan," hibur Medina yang melihat raut kecewa di wajah Ray. Medina sedikit merasa bersalah karena menanyakan hal pribadi Ray.

__ADS_1


"Tapi bagus juga kalian akan segera bertunangan? Setidaknya kalian akan terikat setelah ini."


"Kamu benar Me, sekalian Mas mau kumpulkan banyak uang biar Mas bisa membahagiakan istri mas nanti," ucap Ray dengan semangat.


"Sungguh beruntung Mas, istrimu nanti. Kamu tampan baik, penyabar dan belum menikah saja sudah memikirkan masa depan kalian. Andai aku .... " Me tersentak dari lamunannya.


Medina menggelengkan kepala, merutuki otak bodohnya yang sempat mengharapkan kasih sayang Ray dalam artian lebih.


"Me," panggil Ray karena Medina seperti sedang melamun.


"Ah iya, maaf Mas. Me sedikitl mengantuk." Medina pura-pura menguap, takut Ray menyadari perasaanya.


"Ya sudah, cepat tidur ya? Besok Mas ajak kamu jalan-jalan okay?" perintah Ray menyelimuti tubuh Medina yang kini telah berbaring.


Setelah memastikan Medina nyaman, Ray segera menata tempat tidurnya di bawah.


"Mas,"panggil Medina.


"Iya Me, kenapa?" tanya Ray menghentikan kegiatannya.


"Mas, tidur di atas saja. Di bawah kan keras," pinta Medina canggung.


"Mas ... Me," kata-kata Medina menggantung ragu. Me kini sudah terduduk menunduk dalam-dalam meremas selimutnya.


Ray menyadari bahwa Medina ingin dia disampingnya.


"Kenapa Me?" Medina hanya terdiam.


"Kamu mau Mas menemani kamu?" tanya Ray. Medina mengangguk.


"Kamu tidak takut kalau Mas tidur di sebelah kamu?" Medina menggeleng yakin.


"Mas, boleh aku meminjam bahu kamu?" pinta Medina.


"Tentu Me, sini!" Ray yang sudah duduk di pinggir ranjang merentangkan kedua tangannya.


Medina menghambur memeluk Ray. Ia meluapkan semua kesedihannya. Ray membiarkan Medina menangis di pelukannya. Kaos yang dipakainya sampai basah terkena air mata Medina.


Ia sangat paham perasaan wanita malang itu, ia memeluk Medina dengan erat dan mengecup puncak kepala Medina berulang kali.


"Me, keluarkan semua emosi kamu, lepaskan semua yang kamu rasakan Me, jangan ada yang dipendam lagi. Menangis lah Me, menangislah! Tapi setelah ini Mas nggak mau melihat air matamu sayang. Setelah ini kamu harus bahagia Me. Sudah cukup kamu bersedih," nasehat Ray tulus.

__ADS_1


Medina mengeluarkan semua perasaannya. Kini ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Ray.


Lama ia menangis, Ray masih setia untuk menepuk kecil punggung Medina agar lebih tenang.


"Sudah Me?" tanya Ray setelah Medina tenang, Medina mengangguk.


"Ya sudah kita tidur ya?" Ray beringsut ingin turun. Medina segera mencekal tangan Ray dengan sorot mata seperti memohon.


"Mas, malam ini temani Me di sini saja ya?" Me menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.


"Ehmm, oke deh kalau itu mau kamu."


Ray mengambil bantal yang tergeletak di lantai dan menata di samping Medina.


"Ya sudah, ayo tidur!" ajak Ray mematikan lampu.


"Mas, aku boleh kan genggam tangan kamu?"


"Tentu Me, mari kita tidur. Sudah larut malam. Nanti kalau bunda tahu kamu belum tidur, pasti Mas Ray kena omel lagi," ucap Ray dengan nada bercanda. Medina tertawa membayangkan Ray yang kena marah.


Akhirnya Medina terlelap setelah menggenggam erat tangan Ray yang terasa sangat hangat. Ia tidur dengan tersenyum. Sungguh ia merasa beruntung ada Ray disampingnya. Lelaki yang dulu sangat menyebalkan.


Ray sendiri tak henti menatap pipi Me yang makin berisi. Dimatanya wanita itu begitu menggemaskan. Ia merasakan ketenangan dengan melihat wanita itu begitu lelap. Sampai ia sendiri akhirnya ikut memejamkan mata dan akhirnya terbuai dalam mimpi indah


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa beri vote, komentar, dan like.


klik favorite untuk mendapatkan notifikasi update.

__ADS_1


__ADS_2