Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Aku Tak Akan Pernah Meninggalkanmu


__ADS_3

"Hari ini, aku bukan suamimu. Anggap aku sebagai kekasihmu. Kita kembali ke masa kita berusia tujuh belas tahun. Sedang menikmati indahnya jatuh cinta dan berpacaran. Menikmati masa muda yang indah. Lupakan semua masalah hidup kita. Kita kembali ke masa yang penuh kebebasan dan tanpa beban," kata Ray sangat romantis.


"Em ... sekarang jam dua siang. Kontrak sebagai pacar akan berakhir enam jam kemudian. Jadi kamu bebas meminta atau menyuruh Mas apa pun. Mas sebisa mungkin akan menurutinya," kata Ray tersenyum manis.


"Baiklah, aku setuju." jawab Medina bahagia.


"Janji ya nggak boleh menolak apa pun yang aku minta," kata Medina tersenyum penuh arti. Entah apa yang sedang direncanakan wanita itu.


"Iya.. Iya, bawel."


"Jangan menyesal ya, Mas."


***


Dua insan itu kini tengah berkejaran tanpa alas kaki. Panasnya terik matahari seolah tak terasa, karena tertiup oleh angin yang berhembus. Mereka begitu bahagia. Kadang tertawa, kadang memekik karena tertangkap. Seperti anak kecil polos yang tidak memiliki beban hidup apa pun.


Suara deru ombak dan anak-anak yang bermain di pantai menambah keriuhan di pantai itu. Ada yang tengah bermain bola voli, ada juga yang tengah membuat istana pasir. Ada juga beberapa orang yang berenang di tepian laut.


Beberapa burung camar terbang melayang diatas laut lepas. Sesekali terlihat terjun ke air untuk menangkap ikan yang menjadi mangsanya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Rasanya Medina ingin berlama-lama berada di tempat itu.


Tiba-tiba Medina mengingat Adam, putranya. Pasti akan lebih seru jika mereka bermain bertiga. Sayang, Ray ingin menghabiskan waktu hanya berdua.


"Indah kan?" tanya Ray memeluk istrinya dari belakang. Medina mengangguk bahagia.


"Iya Mas. Makasih ya Mas, kamu selalu bisa membuat aku bahagia. Walau tak sepadan, karena Medina tak dapat memberikan apa pun untuk Mas Ray," jawab Medina sedih.


"Apakah kamu tahu Me apa hadiah terbesar untuk Mas?" tanya Ray. Medina menggeleng.


"Kamu. Cintamulah yang sepadan dengan apa yang aku berikan untukmu. Bahkan nilai dari cinta yang kamu berikan untukku lebih besar dari apa yang aku berikan. Jadi jangan katakan bahwa kamu tak sepadan. Aku tak ingin mendengarnya lagi," kata Ray.


"Em ... kontrak pacaran masih kan?" tanya Medina mengalihkan pembicaraan.


"Eh, tentu ... masih tiga jam empat puluh menit lagi," jawab Ray melihat jam tangannya dan menghitung.


"Kalau begitu sesuai janji kamu akan menuruti semua ucapanku," kata Medina.


"Baik ratuku," jawab Ray tertawa.


"Aku mau es kelapa muda itu," tunjuk Medina ke arah penjual es kelapa.


"Ayo, aku belikan." Ray menarik tangan Medina.


"Eits, tapi aku mau yang buat kamu Mas. Bukan abang penjualnya," rengek Medina seperti anak kecil.


"Astaga ...." Ray mengusak wajahnya menyadari dia akan dikerjai habis-habisan oleh istrinya.

__ADS_1


"Bang, saya mau beli es kelapa Abang. Saya bayardoubel deh, asal Abang mengizinkan saya untuk membuatnya sendiri," bujuk Ray pada Abang penjual es tersebut.


Kemudian Ray membisikan entah apa sehingga abang penjual es mengizinkan.


Dengan penuh cinta Ray membuatkan es untuk istrinya. Medina tertawa melihat Ray. Lelaki tampan itu rela membuat es untuknya. Hingga beberapa gadis berbikini seksi datang menghampiri mereka.


"Sis, ada cowok tampan jualan es kelapa. Lihat!" wanita yang berbikini pink berbicara pada temannya.


"Yuk kesana beli es! Siapa tahu dapat penjualnya sekalian." kedua orang itu tertawa.


Mereka segera berjalan menuju ke tempat Ray membuat es.


"Abang, aku mau dong es kelapanya satu," kata cewek yang memakai bikini warna pink dengan manja.


"Aku juga mau Bang," kata cewek satunya lagi. Kedua wanita itu memandang Ray lekat-lekat dengan tatapan nakal. Membuat Medina yang melihatnya terbakar api cemburu.


"Maaf saya bukan penjualnya. Saya hanya membuatkan khusus untuk istri saya. Nanti kalian minta dibuatkan abang penjualnya saja ya," kata Ray tersenyum.


"Ya elah.. Sudah punya istri rupanya. Kirain single. Yuk sis, kita pergi saja," kata wanita itu.


"Nggak jadi Bang," kata dua wanita itu kesal. Mereka berlalu dari tempat itu setelah menatap sinis ke arah Medina. Medina bernafas lega setelah kepergian dua wanita itu.


"Pantas saja semangat menggantikan abang penjual es. Rupanya biar cewek-cewek mendekat ya?" sindir Medina sebal.


"Alasan," kata Medina merajuk.


"Sudah deh, kita kan kesini mau senang-senang. Lupakan saja ya sayang. Lihat ini, tadaa ... es khusus untuk nyonya Ray sudah jadi." Ray menyerahkan hasil kerjanya.


"Nggak jadi haus," jawab Medina ketus. Ray menghela nafas panjang hanya bisa bersabar menghadapi istrinya yang sangat sensitif.


Dengan sabar ia mengikuti Medina yang cemburu. Di satu sisi Ray merasa bahagia ketika istrinya menunjukkan perasaan cemburunya.


"Sudah dong sayang ngambeknya, ini aku bawain es buatan Mas. Spesial buat istri tercinta," kata Ray merayu Medina yang masih uring-uringan.


"Minum saja sendiri."


"Kamu beneran nggak mau? Ya sudah aku berikan saja pada mbak-mbak yang tadi. Daripada mubazir." Ray pura-pura membalikkan badan ingin kembali ke tempat tadi. Langkahnya terhenti ketika tangan kecil itu memeluknya dari belakang. Dalam posisi membelakangi Medina, Ray tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan pergi," pinta Medina terisak.


"Mas Ray, walaupun aku nggak bisa memberikan kamu keturunan. Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah tergoda oleh perempuan-perempuan cantik di luar sana." Medina semakin mempererat pelukannya.


"Sayang, siapa yang bilang kamu nggak bisa memberikan Mas keturunan? Siapa yang bilang kalau Mas akan meninggalkan kamu jika kamu nggak bisa memberi Mas anak? Aku memang mengharapkan adanya bayi kecil di rumah kita. Tapi tidak serta merta membuat Mas akan meninggalkan kamu jika kamu tidak dapat memberikannya. Taukah sayang, seberapa besar aku mencintaimu? Dan ingat Me! Kehadiran Adam di hidup kita sudah merupakan anugerah bagi Mas." Ray yang sudah membalikkan badan memeluk erat dengan satu tangan. Karena satu tangannya lagi masih memegang kelapa muda.


"Sudah jangan cemberut lagi ini esnya." Ray mengurai pelukan mereka.

__ADS_1


"Enak nggak?" tanya Medina malu-malu karena tadi sudah menolak.


"Tentu enak, duduk sebelah sana yuk?" Satu tangan Ray menggandeng tangan istrinya dan membawa Medina duduk di sebuah bangku panjang.


Mereka menikmati pemandangan pantai sembari menikmati es kelapa muda buatan Ray. Satu kelapa berdua, romantis layaknya muda-mudi yang tengah berkencan. Apa-apa satu untuk berdua.


"Mas, kontrak pacarannya masih?"


"Iya, tentu saja. Baru juga pukul berapa," jawab Ray menyesap minumannya kembali.


"Baiklah kalau begitu,aku mau Mas naik banana boat," kata Medina berbinar.


"Ap-apa? Yang lain saja ya? Makan seafood atau yang lainnya?" bujuk Ray.


"No No No. Aku kan nggak makan seafood Mas. Mas mau istri Mas yang cantik ini kulitnya bentol-bentol? Aku mau Mas naik itu, aku mau videoin, " kata Medina tertawa.


"Ya Tuhan, Aku salah sudah mengajukan pacar kontrak ini." Ray mengusak wajahnya kasar. Menyesali perkataannya yang akan membuat Medina mati-matian mengerjainya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kondisi author kurang fit, kecapekan. Jadi nggak bisa janji update rutin. Tapi aku akan selalu berusaha yang terbaik.


Jadi kalian juga dukung author dengan memberi like, komentar dan vote ya.


Pembaca baru mungkin bisa klik like dari awal episode.


Oh ya. Untuk episode-episode awal lagi dalam proses revisi. Agar lebih enak dibaca. Beberapa episode udah diupdate.


Atas dukungan, like vote kalian aku ucapkan terimakasih.


Salam sayang dari author.

__ADS_1


__ADS_2