
"Benarkah? Sayangnya aku tak sebodoh itu." Adam masih belum melepaskan Haura.
"Iya Mas. Alvian menemuiku untuk mengajak Rara memulai hidup bersamanya. Vian meminta Rara untuk meninggalkan Mas Adam. Tapi percayalah! Rara tak akan pernah melakukan hal itu."
"Benarkan apa yang aku bilang? Ada maksud dari pertemuan kalian. Kamu akan menerima hukumannya Ra. Atas pengkhianatanmu padaku."
"Berani-beraninya kamu membohongi aku Ra. Ternyata semua wanita sama saja. Dengan mudahnya melakukan hal menjijikkan dengan pria lainnya. Kepolosanmu, penampilanmu itu hanya kedok semata." Ucapan Adam begitu merendahkan Haura menusuk tajam di pendengaran wanita itu.
Srekkkk
Dengan tak sabar Adam menarik paksa gaun malam Haura hingga sobek. Adam yang sudah gelap mata membuangnya ke sembarang arah. Kini wanita itu hanya memakai pakaian dalamnya. Haura yang ketakutan beringsut mundur, berusaha menghindar dari suaminya. Pandangan Adam semakin berkabut melihat tubuh istrinya yang indah dan mempesona. Semakin menghilangkan kewarasan lelaki itu.
"Jangan Mas ... jangan lakukan ini. Ampuni Rara, Rara tak pernah mengkhianati Mas Adam. Rara janji tidak akan pernah menemui Vian lagi tanpa izin Mas Adam." Gadis itu mengiba dengan linangan air mata. Haura begitu ketakutan melihat sosok Adam saat itu.
Bukannya iba, laki-laki itu malah semakin muak mendengar tangisan Haura. Adam mengambil ikat pinggangnya dan dengan kejam melayangkan cambukan pada istrinya. Haura hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan.
Ctarrr
"Aa ... ampun Mas! Ampuunn ...." Jeritan gadis itu begitu menyayat hati. Punggungnya yang semula putih bersih berubah menjadi merah lebam karena cambukan yang Adam layangkan. Gadis itu berusaha membekap mulutnya menahan rasa sakit di punggungnya. Panas, sakit dan pedih. Apa salah dan dosanya hingga lelaki yang mulai ia cintai itu tega menyiksanya seperti itu.
Adam tak sabar lagi. Ia membalikkan badan Haura tanpa belas kasih. Tak menghiraukan punggung istrinya yang terluka. Ia akan meluapkan semua emosi dan keinginan yang selama ini ia pendam, malam itu juga. Ia ingin memberikan pelajaran bagi wanita yang sudah berani menemui lelaki lain di belakangnya. Ia menindih tubuh Haura yang sudah lemah dengan secepat kilat. Dan melepaskan semua kain penutup tubuh istrinya dengan kasar. Haura yang masih merasakan sisa sakit dan nyeri di punggungnya hanya bisa menangis pilu. Tak dapat lagi sekedar menolak atau melawan.
Adam mencoba memposisikan diri mencari pintu sempit itu. Susah dan sangat sempit. Apalagi sang empunya tubuh tak mengeluarkan cairan yang mempermudah jalannya itu sedikit pun. Namun Adam tak gentar, ia tetap berusaha untuk mendorong, menghentak dan menembus pintu itu.
"Aaa ... sudah Mas. Saa ... kittt ...." Haura kembali menjerit ketika benda tumpul itu berusaha mengoyaknya. Kedua jemarinya meremas sprei putih itu. Menyalurkan rasa sakit yang teramat di pusat intinya.
__ADS_1
"Diam!" bentak Adam membungkam mulut Haura dengan tangan kirinya. Air mata semakin membasahi wajah gadis itu. Lelaki itu tak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya. Bukannya pelan, ia semakin kasar karena tak sabar.
Baru setengah jalan, dan Haura semakin merasakan sakit yang teramat dalam di pusat tubuhnya. Gadis itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya, karena mulutnya kini masih tersumpal oleh telapak tangan suaminya. Begitu pilu, sakit dan pedih. Haura merasakan kehancuran yang sehancur-hancurnya.
Lain dengan Haura, Adam masih berusaha menerobos masuk. Susah dan sulit. Ia sedikit meringis merasakan cengkeraman kuat di bagian tubuh bawahnya. Namun, sekaligus nikmat. Ini pengalaman pertamanya bercinta dengan seorang perawan. Adam puas mendapati dirinya menjadi yang pertama.
Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya lelaki itu berhasil menembus benteng pertahanan Haura. Apa yang selama ini wanita itu jaga kini hilang sudah. Memang sah-sah saja, toh yang mengambilnya adalah suaminya sendiri. Hanya saja, cara yang digunakan Adam terlalu menyakitkan. Tanpa cinta dan kelembutan, hanya ada nafsu birahi semata. Hal itu secara tidak sadar akan mungkin akan menjadi bekas luka yang entah kapan akan menghilang.
Adam diam sebentar menikmati bibir rahim Haura mencengkeramnya kuat. Lelaki itu merasakan kenikmatan yang luar biasa, hingga erangan kenikmatan meluncur dari bibirnya.
Ia menghempaskan wajahnya ke kedua bagian yang indah itu. Menambah kenikmatan yang tengah ia rasakan. Menikmati kehangatan dan keharuman seorang Haura. Namun, wanita itu hanya merasakan sebuah kekosongan. Tak sedikit pun merasakan keindahan bercinta.
Setelah beberapa saat, ia mulai bergerak. Bergerak menari-nari mencari kepuasannya sendiri. Lelaki itu begitu menikmati kegiatannya. Sudah lama ia tak menikmati surga dunia itu. Haura memalingkan wajahnya tak sudi memandang wajah iblis di hadapannya. Pandangannya terhadap Adam kini berubah lagi. Ia menganggap Adam suami yang kejam.
"Ah ... Haura ...," racau Adam di sela-sela kegiatannya.
Lelaki itu begitu menikmati tubuh istrinya. Berbagai pujian ia racaukan karena rasa nikmat yang sudah dibagi oleh istrinya. Hingga setengah jam ia berada di ambang batasnya. Gerakannya semakin cepat dan ia mendorong dalam-dalam menumpahkan segalanya di dalam rahim istrinya yang sudah tak berdaya.
Kemudian ia mengecup mata istrinya, hidung dan berakhir di bibirnya yang ranum. Tak tahan lagi ia menghisapnya kembali. Dan itu berakibat fatal, adik kecilnya bangun lagi dan minta untuk dipuaskan.
Adam membalikkan badan istrinya yang lemas seperti tak bertulang dan mengisinya dalam-dalam dari belakang. Malakukan dengan sesuka hati melupakan istrinya yang sudah di ambang kesadaran. Yang Adam tahu, ia harus menuntaskan hasratnya.
Wanita itu menangis tanpa suara merasakan kehancuran. Ia merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri. Ia merasakan sakit, benci dan sakit hati yang teramat. Lama Adam berpacu hingga akhirnya ia merasakan kepuasannya lagi. Mengisinya dalam-dalam di ladang istrinya. Bersamaan, Haura kehilangan kesadarannya. Dan ambruk tak berdaya.
"Kejam kamu Mas. Kejam ... aku benci kamu, Mas." batin Haura sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.
__ADS_1
Adam tak mempedulikan istrinya yang pingsan. Setelah adik kecilnya terpuaskan, ia memakai celananya dan menuju balkon meninggalkan istrinya yang tak berdaya. Tanpa menyelimuti atau membersihkan istrinya.
"Arrgggghhh ... Apa yang aku lakukan? Pasti setelah ini Rara akan membenciku." Adam menggeram frustasi, menyesali semua perbuatan kasarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf semuanya ....
Part ini ada beberapa bagian yang sudah saya hapus dan saya revisi untuk diperhalus. Dan kalau pihak NT tidak meloloskan bab ini lagi mungkin akan saya potong lagi adegan vulgarnya.
Tapi tenang! Akan saya update versi aslinya di *******. Bagi readers yang belum sempat membaca nanti bisa baca di *******.
__ADS_1