
Haura berjalan menyusuri mall dengan enggan. Di sebelahnya ada adik iparnya yang menggelayut manja menariknya ke sana kemari. Wanita itu tak dapat berkutik, hanya bisa mengikuti semua kemauan Mikha. Termasuk fashion style yang sekarang ia pakai. Adik iparnya juga yang memilihkan. Walau tak nyaman Haura tak dapat berbuat apa-apa, karena semua sudah direncanakan dengan rapi oleh iparnya.
Flashback on
Mikha yang menunggu kakak iparnya yang sedang mandi mulai bosan. Sifat jahilnya muncul kembali. Ia mengobrak abrik isi lemari kakaknya. Hanya ada baju gamis dan dress biasa saja. Mikha berdecak kesal, bagaimana bisa gaya berpakaian kakak iparnya seperti ibu-ibu. Tak ada satu baju pun yang menarik. Sangat tak sesuai untuk kakak iparnya yang baru berusia dua puluh tahun lebih. Mungkin lebih pantas jika baju-baju Haura dipakai mamanya.
Mikha yang jahil segera mengunci semua almari Haura setelah mengambil pakaian dalam untuk kakaknya pakai. Ia menyembunyikan kunci itu dibawah kasur Haura. Ia mengendap keluar kamar dan mengambil celana jeans dan t-shirt rajut miliknya.
Ia meletakkan di atas ranjang Haura dan akan menyuruh kakak iparnya untuk memakainya. Mikha yakin bajunya muat dipakai Haura, karena tubuh mereka tak berbeda jauh. Sore itu ia akan me-make over kakak iparnya. Spesial untuk seseorang yang akan mereka temui.
Beberapa menit kemudian, Haura keluar dari kamar mandi dan ingin segera memakai pakaiannya.
"Kak, ini Mikha sudah pilihkan baju untuk Kak Haura," tunjuknya pada baju yang sudah ia siapkan.
"Ini baju siapa?"
"Baju Mikha."
"Ta-tapi kak Rara tak memakai baju yang seperti itu," protes Haura.
"Ayolah Kak! Penuhi permintaan Mikha sekaliii ini saja," ucap gadis itu penuh permohonan.
"Kakak nggak nyaman dan nggak pede sayang."
"Mikha nggak mau tahu. Pokoknya Kak Rara harus pakai. Cepat pakai! Mikha tunggu di depan." Gadis itu berlari begitu saja meninggalkan kakak iparnya yang bahkan tak mempunyai kesempatan untuk berpendapat.
Beberapa menit kemudian, Haura sudah berpakaian lengkap. Dengan jeans berwarna blue light dan baju rajut berwarna peach dan dipadu padankan dengan hijab warna senada membuat Haura tampak cantik dan menawan.
"Waahhh ... benarkan apa kata Mikha? Kak Rara sangat cantik. Em, sini ikut Mikha sebentar." Gadis itu menarik kakak iparnya ke kamarnya. Buru-buru ia memakaikan bedak miliknya dan liptint miliknya.
"Mikha! Kakak nggak mau." Haura kesal karena Mikha memperlakukannya seperti boneka.
__ADS_1
"Kakak diam saja. Mikha pastikan Kak Rara akan terlihat cantik."
"...." Sungguh kesal wanita itu dipaksa-paksa. Apalah dayanya, ia tak ingin melihat adik iparnya yang keras kepala bersedih.
Flashback off
Hingga akhirnya mereka kini tengah berjalan menyusuri mall yang sejuk dan nyaman.
"Kita nonton yuk, Kak!" ajak Mikha.
"Katanya mau beli kado? Kok jadi nonton?" protes wanita itu karena adik iparnya itu terlihat aneh sedari dari rumah tadi.
"Sudah, cuma beli kado mah kecil. Kita nonton dulu. Kakak tunggu di sini. Mikha beli tiket. Kak Rara mau nonton yang mana?" tawar Mikha.
"Yang ini saja ya?"
"Iya bawel, terserah kamu deh."
"Ayo Kak! Lima menit lagi film akan di mulai," ucap Mikha terlihat kesusahan membawa satu kotak besar popcorn dan dua gelas minuman.
"Sini, Kakak bantu bawakan." Haura mengambil alih dua minuman yang Mikha bawa.
Setelah sampai di dalam gedung bioskop, Haura dibuat kesal lagi oleh Mikha. Pasalnya tempat duduk mereka terpisah dan berjauhan.
"Gimana sih, Dek! Kenapa tidak minta yang berdekatan?" tanya Haura.
"Sudahlah nggak masalah. Kak Rara nikmati saja filmnya, okay. Kakak duduk sini, Mikha tak jauh kok. Di situ tempat duduk Mikha." Tunjuk Mikha pada kursi yang berjarak beberapa baris di belakang Haura.
"Apa Kakak minta tukar ya sama yang dekat kursi kamu?" ucap Haura.
"Eh-eh nggak usah. Film sudah mau mulai, kita jangan buat keributan. Nah ini popcorn- nya dan minumannya." Mikha buru-buru kembali ke kursinya. Benar saja tak lama film di mulai.
__ADS_1
Beberapa menit setelah film diputar, Haura melupakan kekesalannya pada Mikha. Karena ia mulai terhanyut dalam kisah romantis yang disajikan. Pandangan wanita itu terpusat pada adegan manis yang terlihat di layar.
Hingga akhirnya ia terkejut karena merasakan sebuah tangan besar dan hangat menggenggam jemarinya. Refleks saja Haura menarik kasar tangannya. Haura baru saja akan marah dengan lelaki bertopi yang duduk di sebelahnya yang telah berani menyentuhnya. Seketika niatnya hilang ketika ia melihat sang empunya tangan tersenyum manis padanya. Dengan pandangan teduh, lelaki itu menatap matanya. Tersirat sebuah kesedihan, kerinduan dan penyesalan yang dalam.
Haura jadi salah tingkah, otaknya blank seketika. Film yang sedari tadi menarik minatnya tak lagi semenarik lelaki yang masih menatapnya intens. Sepertinya lelaki itu ingin mengucapkan sesuatu, namun entah mengapa tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Keduanya membeku saling mengunci pandang dalam cahaya temaram ruangan gelap bersuhu dingin itu. Adam dapat melihat kecantikan dari wanita yang terlihat lebih kurus dari sebulan yang lalu. Dan Haura pun sama, ia menatap intens wajah lelaki yang ia rindukan di setiap malam-malamnya. Lelaki yang ia selalu sangkal sebagai pemilik hatinya saat ini. Padahal kenyataannya lelaki itulah yang kini bertahta dalam hatinya. Keduanya terhanyut, tak lagi menghiraukan keadaan sekitar. Seolah hanya ada dunia untuk mereka berdua.
Masih saling beradu pandang, dengan detak jantung yang berlarian. Dengan berani lelaki itu mengambil jemari yang sempat ia genggam tadi. Jemari yang sempat ia bagi kehangatannya. Tak ada penolakan, tak ada penampikan. Wanita itu diam tak berkata. Dengan suara sangat lirih lelaki itu memaksakan bibirnya untuk berucap, "Maafkan Aku, Haura."
Sebuah kata sederhana. Namun sarat dengan makna. Ada nada ketulusan dan penyesalan dari apa yang terucap. Wanita itu tak dapat menjawab, lidahnya serasa kelu. Semua ini terlalu tiba-tiba. Ia tak tahu harus bereaksi apa. Karena tak mendapatkan respon, lelaki itu tanpa sungkan mengecup punggung tangan sang kekasih.
"Maaf, maaf dan maaf." Kedua insan itu kini berlinangan air mata. Melepas semua rasa perih dan pedih. Melepas rasa yang menyiksa dan menyesakkan sebulan belakangan ini. Keduanya saling merindu, namun entah ego ataukah cinta yang menang kali ini.
Tiba-tiba tanpa kata wanita itu berdiri dari duduknya meninggalkan lelaki yang mengharapkan ampunan darinya. Ia keluar dari bioskop meski film yang ditonton belum terputar separuh jalan.
Mikha yang merasa misi kali ini gagal, segera menyusul kakak iparnya dan memberi kode pada Adam. Mikha berkata jika misi hari ini cukup, tak perlu dilanjutkan lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Nah, ketemu juga akhirnya?😊😊😊
__ADS_1
Seperti biasa minta dukungannya ya 😘😘😘