Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Penolakan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Lelaki itu masih sibuk mengintip dan menguping pembicaraan keluarganya. Rasanya seperti disayat dengan sembilu melihat kehangatan keluarga itu. Ketika terasa semua orang sedang menyisihkan dirinya saat ini. Harusnya ia menjadi bagian dari kehangatan dan keharmonisan keluarganya. Adam tahu semua kesalahannya. Namun ia tetap saja iri dengan kemesraan mereka, ia ingin menjadi bagian dari kebahagiaan mereka. Andai ia tak berbuat bodoh, mungkin saat ini ia berada di tengah-tengah mereka mengecap indahnya kebahagiaan. Sayang sekali, malam itu ia gelap mata dan buta hati hanya karena perasaan cemburu. Sehingga ia tega menyakiti Haura, bidadarinya. Hingga akhirnya semua menjadi hancur berantakan. Dan lebih menyesakkan ketika ia tahu bahwa semua hanya sebuah kesalah pahaman saja.


"Ya sudah. Papa dan Mama pulang dulu. Nanti sore, Papa kembali ke sini lagi." Haura menganggukkan kepala.


"Mikha! Jaga Kakak baik-baik. Awas saja kalau kamu nakal! Papa potong uang jajan kamu sebulan, eh tiga bulan," ancam Ray.


"Iya Papa. Akan Mikha pastikan Papa tidak akan pernah memotong uang jajan Mikha. Bahkan, Papa akan menambah nominalnya," gurau gadis itu.


"Dasar anak nakal!" Ray mengacak rambut putrinya dengan gemas.


"Papa ... lihat! Rambut Mikha jadi berantakan nih!" protes gadis itu dengan bersungut-sungut. Ia memonyongkan mulutnya pertanda ia kesal akibat ulah papa tersayangnya.


"Iya maafkan Papa my princess. Sudah ah, kalau berdebat sama kamu, emang nggak akan ada habisnya. Kalau begitu Mama dan Papa dulu."


"Yuk pulang Ma. Mumpung Mikha nggak ada di rumah kita bisa ... aw ...," erang Ray yang menerima hadiah cubitan dari Medina.


"Papa, malu Pa. Ingat umur."


Semua yang ada di ruangan itu tertawa bahagia.


Ray dan Medina akhirnya keluar dari kamar rawat menantunya. Akan pulang untuk beristirahat. Sebelum nanti malam mereka akan kembali untuk menjaga menantu mereka. Medina dan Ray juga ingin memastikan bagaimana pekerjaan Pak Anto yang sedang menyiapkan kamar untuk menantunya. Juga ingin memastikan jika hal yang berhubungan dengan Adam di rumahnya sudah beres. Medina dan Ray tak ingin hal sekecil apa pun akan membuat kejiwaan menantunya terguncang kembali. Karena besok, Ray akan membawa pulang Haura.


Adam segera pergi dari tempat itu dan bersembunyi untuk sementara waktu, sampai orang tuanya benar-benar pergi dari rumah sakit. Karena ia tahu jika sampai ia ketahuan oleh Ray dan Medina, Adam yakin papanya tak segan-segan untuk mengusirnya. Dan usahanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Haura akan gagal seratus persen. Adam tak rela jika Hauranya akan meninggalkannya dan menikah dengan pria lain. Sampai kapan pun Adam tak ingin ada kata perpisahan dalam pernikahan mereka.


Setelah sekilas mendengar perbincangan mereka, Adam mengetahui jika mama dan papanya akan pulang ke rumah. Itu artinya ada kesempatan untuknya bertemu dengan Haura. Ada setitik rasa lega di hatinya. Ada kesempatan untuknya bertemu dengan istrinya.


Setelah dirasa aman, Adam keluar dari persembunyiannya dan mencoba mengintip kembali dari jendela.

__ADS_1


"Kak, Mikha ke kamar mandi sebentar ya. Ingat! Jangan melakukan hal buruk apa pun! Atau Mikha akan marah dengan Kakak selamanya," ancam Mikha yang sebenarnya ragu untuk meninggalkan Haura seorang diri. Karena Bi Imah yang ia suruh untuk membelikan minuman hangat belum juga kembali. Namun, rasa mulas di perutnya membuat ia harus segera memenuhi panggilan alam. Tak sabar walau hanya menantikan kedatangan Bi Imah sedetik pun.


Mikha yang sudah tak tahan segera pergi ke toilet meninggalkan Haura seorang diri. Adam yang mengintip tersenyum bahagia. Merasa ini adalah kesempatan emas untuknya. Adam merasa Tuhan sedang berpihak padanya dengan memuluskan segalanya. Ia ingin memperbaiki segalanya. Ia akan meminta maaf dan minta ampunan dari wanita yang kini singgah di hatinya. Semoga masih ada maaf dan kesempatan untuknya.


Adam masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan. Membuat Haura yang tengah asyik membaca buku novel kesayangannya tak sedikit pun menyadari kehadiran pria itu. Karena pergerakan yang dilakukan pria itu begitu halus, tak ingin mengejutkan wanita itu.


Adam menatap wajah wanita yang ia kasihi, penuh dengan rasa penyesalan. Wanita itu begitu pucat dan lebih kurus dari tempo hari. Dalam hati ia merutuki segala kebejatannya. Rasanya hatinya tercabik melihat luka di pergelangan tangan istrinya.


"Apakah yang telah terjadi?" batin Adam sedih.


"Rara ...," panggil Adam setelah hanya berjarak sekitar satu meter dari ranjang Haura, dengan suara yang lirih. Seakan ada sesuatu yang tercekat di kerongkongannya. Begitu berat untuk memanggil nama wanita kesayangannya. Karena Adam sungguh merasa sangat berdosa pada istrinya.


Mendengar suara yang sangat ia benci dan enggan ia dengarkan, membuat tubuh wanita itu bergetar hebat. Seluruh tubuhnya menjadi lemas seakan tak bertulang. Bayangan kejadian malam itu berputar kembali di otaknya selayaknya kaset film. Begitu jelas dan gamblang mengingatkan Haura pada peristiwa naas itu. Mengingatkan rasa sakit saat pusat tubuhya tercabik-cabik tanpa ampun. Melebihi rasa sakit saat ikat pinggang itu terlempar dan membuat seluruh tubuhnya memerah dan terluka.


Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. Menganak sungai membanjiri pipi mulus yang kini tampak lebih tirus.


"Ma-mau apa kamu kemari?" tanya Haura dengan bibir bergetar. Rasanya dunianya seakan berputar-putar membuat ia pusing dan kebingungan. Bagaimana ia harus bereaksi menatap wajah yang ia benci dan takuti. Wajah yang telah biasa membuat banyak wanita tergila-gila. Kini menjadi wajah yang terlihat menyeramkan dan memuakkan di mata seorang Haura.


"Tidak! Aku tidak ingin melihatmu. Aku tak ingin kembali ke rumah itu. Aku tak ingin bersamamu lagi. Kamu iblis, kamu kejam. Kamu tak berhati. Aku benci kamu." Ucapan Haura yang keluar dari hatinya memotong perkataan Adam yang belum sempat terselesaikan. Begitu pedih dan perih menyiram sebuah luka di hati Adam. Adam tak menyangka jika perbuatannya hari itu menyisakan luka yang mendalam bagi istrinya. Dan lebih luka itu semakin berdarah ketika wanita itu mengatakan bahwa ia membencinya.


"Ra, kumohon ...." Pria itu semakin mendekat, membuat Haura menarik kakinya ketakutan. Ia meringkuk menyembunyikan wajahnya di lututnya dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Enggan menatap dan mendengar suara makhluk yang ada di hadapannya itu.


"Pergi! Jangan mendekat!" teriak Haura ketika tangan kanann Adam mengelus puncak kepalanya.


"Jangan sentuh aku! Pergi!!" teriak wanita itu histeris. Seolah ada kotoran yang menempel di tangan Adam hingga ia enggan di sentuh oleh suaminya.


"Maafkan ...." Adam menarik kembali tangannya dengan kecewa.

__ADS_1


"Pergi! Pergi!!" usir wanita itu masih dengan kepala yang menunduk. Ia sangat ketakutan. Seolah ada iblis yang menyeramkan di hadapannya.


Tanpa terasa air mata mengalir dari mata Adam. Hatinya remuk melihat reaksi dari Haura. Penolakan yang diberikan Haura begitu menyakitkan.


Tiba-tiba Haura ambruk dengan nafas tersengal. Untung Adam dengan sigap menangkap tubuh istrinya, sebelum wanita itu jatuh ke lantai. Wanita itu jatuh pingsan karena shock.


Adam panik, tak menyangka jika Haura benar-benar shock hanya karena kehadirannya. Padahal, ia sedikit pun belum menyentuh wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Suara yang selama puluhan tahun selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang, kini menggelegar memenuhi pendengaran Adam yang masih setia memeluk tubuh lemas istrinya dalam kepanikan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Update kedua, Alhamdulillah sudah bisa tepat janji.

__ADS_1


Ayo ramaikan dengan memberi like, komentar dan vote.


Thanks.


__ADS_2