
"Apakah Kamu yang melakukannya Nak? Semoga kamu tidak perlu berpisah dengan Haura. Semoga keadaan ini dapat diperbaiki," batin Ray penuh harap.
Flashback off
Ray sedikit tertinggal di belakang, karena pikirannya yang sedikit berkecamuk. Ia masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa yang telah membayarkan bill rumah sakit. Namun, berkali dipikirkan pun jawaban yang meyakinkan hanya satu yaitu Adam lah yang melakukannya.
"Pa, ayo cepat !" panggil Medina menoleh ke belakang membuyarkan lamunan suaminya.
"Eh, iya Ma." Ray mempercepat langkahnya menyusul istri dan anak-anaknya. Raut wajahnya yang muram ia gantikan dengan senyuman.
***
"Sayang, mulai sekarang ini kamar kamu. Kamu suka nggak?" tanya Medina menunjukkan kamar baru Haura.
"Iya Ma. Rara suka," jawab Haura tersenyum menatap kamar bercat biru langit yang menciptakan suasana fresh itu. Beberapa furniture sederhana melengkapi kamar yang cukup luas itu.
"Kalau kamu nggak suka warnanya bilang ya? Nanti biar Pak Anto mengganti semuanya."
"E-eh nggak perlu Ma. Semua bagus kok. Rara suka. Terima kasih ya Ma."
"Iya sayang, ya sudah kamu istirahat ya? Kalau perlu apa-apa nggak usah keluar. Pencet saja bel ini, nanti Imah langsung datang."
"Baik Ma."
"Mikha, ayo kita keluar dulu. Biar Kak Rara istirahat."
"Yaah ... padahal Mikha masih mau cerita banyak sama Kakak," protes gadis itu kecewa. Gadis itu masih ingin bersama dengan iparnya. Rasanya sama ketika ia merengek tak ingin berpisah dengan Keira.
"Sabar sayang. Besok kan bisa ceritanya. Kasihan Kakak capek." Mikha melirik iparnya yang terlihat lelah dan masih sedikit lemah. Membuat gadis itu sedikit iba dan mau mengalah.
"Ya sudah deh. Mikha mau tidur juga," ucapnya melirik jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 19.00 WIB. Terlalu awal untuk Mikha tidur.
"Eh, ada angin apa anak gadis Mama jam segini mau tidur?" tanya Medina keheranan. Karena Mikha biasanya tidur larut malam.
"Mikha mau tidur cepat biar besok bangun pagi dan bisa belajar merajut dengan Kak Rara," ucap Mikha membayangkan dirinya berhasil membuat sebuah syal dan memberikan syal itu pada kakak kelas yang disukainya.
"Ehem, kayaknya nggak bisa langsung besok deh. Kakak kan baru pulang juga. Nanti kalau kakak sudah pulih baru bisa mengajari kamu merajut. Okay?"
__ADS_1
"Yaahh ... lama dong. Ya sudahlah nggak apa-apa yang penting Kakak cepat pulih."
"Selamat malam Mama." Mikha mendaratkan sebuah kecupan di pipi ibunya.
"Iya sayang, selamat malam."
"Selamat malam Kakak, cepat pulih ya?" Mikha melakukan hal yang sama pada Haura membuat wanita itu merasa berarti. Haura mengangguk dan tersenyum bahagia.
Setelah memberi ucapan selamat malam, gadis itu segera pergi menuju kamarnya.
"Ya sudah, Mama keluar dulu ya Nak? Kamu istirahat." Medina membetulkan selimut menantunya dan segera keluar dari kamar Haura.
Haura yang tinggal sendiri di kamar itu, kini merasakan perasaan yang aneh. Hampa dan kosong. Rasa takut dan gelisah itu sedikit demi sedikit menghilang. Peristiwa malam itu juga sudah samar di ingatannya. Kini hanya wajah pria itu memenuhi kepalanya membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Haura menutup wajahnya yang memerah tiba-tiba. Kenangan manis bersama suaminya terngiang kembali di kepalanya. Ya, Haura merindukan suaminya.
Di kamar Mikha.
Gadis itu sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Ia sudah bersiap untuk tidur. Ponselnya yang tadi habis baterainya kini sudah terisi kembali. Ia menyalakan ponselnya yang masih tersambung dengan kabel charge. Berpuluh pesan whatsapp ia terima, yang kebanyakan dari temannya. Namun, ada sebuah pesan yang membuat Mikha membelalakkan mata tak percaya. Sang Kakak yang sangat jarang mengiriminya pesan whatsapp kini mengiriminya beberapa pesan. Dengan tak sabar, Mikha membuka chat dari kakaknya. Ingin mengetahui apa yang kakak juteknya inginkan.
18.15 Mikha?
19.00 Sudah tidur?
19.11 Boleh Kakak bertanya?
19.27 Mikha, please jawab!
Mikha membaca pesan dari kakaknya dengan seksama. Baru kali ini Kakaknya mengirim pesan tak penting semacam itu. Tak lama Mikha mengetikkan balasan untuk Adam.
19.39 Iya, kenapa? Jangan hub ....
Mikha menghapus kembali pesan yang sempat ia tulis. Ia teringat pada kejadian di mana Haura menolak Kakaknya, sangat menyedihkan. Dan Mikha kasihan kepada kakaknya. Walaupun lelaki tampan itu jutek dan dingin, Mikha sangat menyayangi Adam. Rasanya tak tega jika lelaki tempat ia bermanja puluhan tahun itu diperlakukan sedemikian rupa. Bagaimana pun juga ia dan Adam lahir dari rahim yang sama, ikatan keduanya begitu kuat.
19.40 Belum tidur. Kenapa Kak?
Mikha mengetikkan balasan kepada Adam dan menekan tombol send. Tak butuh waktu lama, Adam sudah membalas pesan yang Mikha kirimkan.
"Amazing," seru gadis itu hampir saja berteriak. Ia segera membekap mulutnya, takut mengganggu istirahat Haura. Karena kamar mereka yang bersebelahan memungkinkan Haura mendengar suaranya. Mikha takjub, biasanya butuh waktu berjam-jam bagi kakaknya walau hanya mengetikkan kata 'iya'. Dan kali ini kakaknya memecahkan rekor baru, hanya dalam hitungan detik ia membalas pesan Mikha.
__ADS_1
19.41 Bagaimana keadaan Kak Rara?
Mikha mengetikkan kalimat yang begitu panjang. Mengetik beberapa kata kemudian menghapusnya kembali dan mengetikkan kata lagi yang ia rasa pas untuk menjawab pertanyaan kakaknya. Mikha tahu, hubungan kakaknya dengan Haura sedang tidak baik. Namun, ia tak rela jika Adam harus berpisah dengan kakak iparnya. Gadis itu benar-benar menyayangi Haura, tak lagi menginginkan perpisahan mereka. Mikha ingin memiliki keponakan lucu dari mereka.
19.48 Kakak ipar baik-baik saja. Kalau Kak Adam khawatir, kenapa tidak menjenguknya kemari?
Lama Adam tak menjawab pesan yang gadis itu kirimkan. Hingga Mikha yang kesal karena menantikan balasan pesan dari kakaknya tertidur.
"Bagaimana bisa aku ke sana Mikha? Jika kehadiranku hanya membuat Haura menderita?" ucap Adam bingung bagaimana membalas pesan yang Mikha kirimkan. Ia memeluk kerudung milik istrinya erat-erat seolah sedang memeluk Haura. Adam merindukan istrinya. Tanpa terasa bulir bening itu menetes lagi. Mengalirkan semua rasa penyesalan yang menyesakkan dadanya. Andai malam itu tak terjadi petaka itu, mungkin saat ini mereka sudah berbahagia. Dan ia tak harus menjalani kehidupan yang menyedihkan dalam kesepian yang mencekam seperti ini. Baru satu minggu wanita itu pergi, dan ia merasakan kehampaan yang luar biasa. Rasanya seperti ditinggalkan bertahun lamanya.
20.30 Mikha, maukah kamu membantu Kakak? Please, kabari Kak Adam jika terjadi sesuatu pada Kak Rara. Dan Kakak harap kamu mau membantu Kak Adam menjaga Kak Rara. Karena mungkin Kak Adam belum bisa ke sana.
Adam menunggu balasan Mikha, namun jangankan membalas. Gadis itu bahkan tak membuka chatnya. Adam yakin Mikha sudah tidur.
21.00 Kamu sudah tidur, Dek? Baiklah tidurlah yang nyenyak.
Adam terhenyak sebentar, entah kapan terakhir kali ia memanggil adiknya semesra itu.
"Dek? Padahal dulu aku sering dan bangga memanggilmu seperti itu. Sebenarnya, seberapa banyak aku berubah? Sampai-sampai aku tak mengenali sosok diriku saat ini?" batin Adam galau.
.
.
.
.
.
.
.
.
makin gaje ya 😂😂😂
__ADS_1