
Ray begitu berat hati meninggalkan Medina sendirian di Jakarta, karena ia tahu saat ini wanita itu sangat rapuh. Ia sangat khawatir, Karena kondisi Medina yang masih lemah. Tentu wanita itu sangat membutuhkannya untuk mendampinginya. Namun apa hendak dikata Oma menyuruhnya pulang. Satu-satunya keluarga yang Ray punya. Pengganti ayah ibunya yang mengasuh dan mendidik dirinya sedari kecil. Ia juga merasa bahwa ia sedikit keterlaluan. Sepuluh hari di Indonesia belum juga sempat menemui orang yang yang paling penting dalam hidupnya itu. Maka ia memutuskan untuk pulang sebentar dan akan kembali lagi ke Jakarta, demi Medina.
Ray sudah berpamitan pada bunda yang masih di rumah karena menyiapkan makanan untuk Medina. Karena semenjak sakit Medina tak berselera makan. Untuk sementara Ray menyerahkan semua urusan Medina pada bunda. Ray meminta bunda menjaga Medina selama ia pergi. Sungguh sikapnya seperti suami sungguhan, tapi sayang semua hanyalah kebohongan.
Setelah mengambil barang dari rumah ia kembali ke rumah sakit sebentar, untuk berpamitan pada Me. Sungguh mengharukan adegan perpisahan mereka layaknya seorang istri yang akan ditinggal oleh suaminya untuk bekerja.
Ray menyusuri lorong rumah sakit dengan hati bimbang. Sungguh ia dilema akan meninggalkan wanita itu. Ia menyadari rasa sayangnya semakin besar kepada wanita tersebut. Ada perasaan kosong ketika ia pergi.
Ketika bersama Medina sedetik pun ia tak mengingat Aurel. Kekasih yang dirindukannya selama tiga tahun di Amerika.
Sekarang, entah rasa rindu itu menguap kemana. Ia merasa biasa saja walau akan berjumpa dengan Aurel. Tak ada lagi debaran seperti dulu atau rindu yang menggebu.
Sementara itu, Nyonya Lidya Atmaja ditemani asisten rumah tangga kepercayaannya yaitu Bik Sumi menyusuri rumah sakit di Citra Medika, Jakarta. Dia membawa sekeranjang berisi buah-buahan untuk pasien. Beliau ingin menengok cucu almarhum temannya. Awalnya beliau ingin sekalian menemui Ray. Tapi Ray berkata akan pulang hari ini jadi ia hanya berniat menengok cucu sahabatnya, kemudian langsung pulang ke Bandung. Setelah bertanya pada petugas rumah sakit dimanakah cucu temannya itu dirawat, Oma dan Bik Sumi mempercepat langkah menuju kamar rawat orang tersebut.
Sampai di depan ruangan yang dituju, Oma bertemu dengan Mutia. Anak temannya yang sudah meninggal. Mutia baru saja kembali dengan membawa rantang berisi makanan.
"Ibu," sapa Mutia dan meraih tangan Lidya dan mengecup pelan. Mutia sudah menganggap Nyonya Lidya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Ibu kenapa repot-repot sampai Jakarta? Ingat kesehatan Ibu," kata Mutia khawatir terhadap Lidya.
"Ibu nggak papa. Me kan cucu Ibu juga Tia, Mana mungkin hati Ibu lega mendengar cucu Ibu sakit tidak datang menengok," kata Lydia
"Tia, Me sebenarnya sakit apa?" tanya Lydia lagi.
"Mari masuk dulu Bu. Kita bicara di dalam saja." Mutia mempersilakan Nyonya Lidya masuk.
"Assalamualaikum," ucap Lidya setelah masuk ruangan itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Oma ...." Medina terkejut karena orang yang dianggap neneknya datang menjenguk.
"Sayang sakit apa? Oma khawatir sekali. Maaf Oma baru bisa datang sayang," kata Lydia lembut memeluk Medina dengan erat. Dikecupnya puncak kepala gadis yang dianggap seperti cucunya sendiri itu.
"Itu Bu, Medina mengalami pendarahan." Mutia menjelaskan sebelum Me menjawab.
"APA? Apa maksudnya ini Tia? Maksudnya Medina hamil? Kapan menikahnya? Kok Ibu tidak tahu?" tanya Lidya sangat terkejut.
"Ceritanya panjang Bu. Me menikah di Amerika Bu. Tia juga tidak tahu-menahu. Tia bingung Bu mau bagaimana? Mau marah juga percuma, semua sudah terlanjur terjadi. Medina juga sudah hamil. Untunglah Bu, suami Medina sangat baik. Ya setidaknya di depan Tia dia selalu menunjukkan sikap yang baik dan sopan," kata Mutia menjelaskan.
"Bunda! Dia memang baik lah, bukan cuma pura-pura," kata Medina cemberut kesal karena bunda seakan tak percaya bahwa Ray memang baik.
"Iya ... iya, Bunda percaya. Melihat reaksinya waktu membawa kamu ke rumah sakit, Bunda tahu dia sayang banget sama kamu. Bagus lah kalau dia benar-benar baik bukan cuma di depan Bunda saja," kata Mutia.
"Maaf ya sayang, Oma nggak bisa lama-lama. Karena cucu Oma hari ini mau pulang ke rumah, jadi Oma harus bergegas pulang. Oh ya suami kamu mana? Namanya siapa Me?" tanya Lidya.
"Namanya ...."
"Ya sudahlah Me. Oma pulang ya? Lain kali kalau ke Jakarta lagi Oma mampir ke rumah." Lidya berpamitan. Sebelum keluar ia mencium kening Medina. Medina juga segera meraih tangan omanya dan mengecupnya lembut. Mereka benar-benar saling menyayangi dengan tulus walau tak ada hubungan darah.
Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruangan Medina karena akan dilakukan pemeriksaan rutin. Oma dan asisten rumah tangganya pun pamit pulang karena hari sudah siang. Ia tak ingin sampai di Bandung terlalu malam. Siapa tahu Ray akan mencari-carinya.
***
Ray yang masih berada di taksi, tiba-tiba menyuruh sopir taksi untuk kembali ke rumah sakit. Karena ia melupakan hal yang sangat penting. Yaitu cincin yang akan diberikan pada Aurel yang masih dipakai Medina.
"Sial ... kenapa bisa lupa sih." Ray menggerutu di dalam taksi, ia mengusak wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit lagi, Ia menyuruh sopir taksi menunggu sebentar . Sementara, ia masuk kembali ke rumah sakit. Ia berjalan tergesa-gesa sampai ia menabrak seorang wanita tua.
"Maaf Nyonya saya sedang terburu-buru. Saya tak sengaja menabrak anda," ucap Ray tanpa melihat orang yang ditabraknya.
"Ray." Oma terpekik karena terkejut melihat Ray di rumah sakit itu.
*Deg
"****** aku," batin Ray*
"O-Oma," sapa Ray dengan gugup.
"Sedang apa kamu di sini sayang? Apakah kamu sakit?" tanya Oma khawatir.
"Enggak Oma. Ray baik baik saja kok. Ray cuma mau menjenguk teman Ray saja," bohong Ray.
"Lalu Oma ngapain di sini? Ray kan sudah bilang Oma di rumah saja. Karena setelah dari sini Ray juga akan segera pulang ke Bandung," kata Ray begitu gugup celingak- celinguk melihat ke sekeliling. Ia takut bunda melihatnya bersama oma dan tentu akan menjadi semakin rumit.
"Oma kan sudah bilang, Oma menjenguk anak teman Oma," kata oma. Oma menghela nafas sebentar karena tak menyangka akan bertemu Ray di tempat itu.
"Keterlaluan kamu. Kamu tega sama wanita tua yang merindukanmu ini. Sepuluh hari di Indonesia tak mau pulang ke rumah menengok Oma," kata Oma kesal sambil memukul Ray dengan tas tangannya.
"Aduhh, sudah Oma ... malu dilihat orang," kata Ray mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan benar mereka sekarang menjadi pusat perhatian.
"Sudah Oma. Kita pulang ke Bandung saja yuk? Ray menengok teman lain kali saja," ajak Ray ingin segera pergi dari tempat itu. Oma yang masih kesal hanya menurut ketika Ray menggandeng tangannya mengajak keluar dari area rumah sakit.
"Huh, biarlah masalah cincin kuurus nanti lagi. Yang paling penting Oma tak tahu apa yang aku lakukan disini. Bisa-bisa Oma terkena serangan jantung kalau tahu cucunya menjadi penipu," batin Ray.
__ADS_1
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang ke Bandung. Ray segera menghampiri taksi menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan mengatakan kalau ia membatalkan taksi tersebut.
Ray dan Oma pulang bersama-sama dengan menumpang mobil Oma. Di dalam mobil mereka melepas rindu. Tak henti-hentinya Oma memeluk cucu kesayangannya yang sudah lama tak pulang.