Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Akhir Sebuah Cerita


__ADS_3

Flashback on


Suasana studio masih sepi. Belum ada pelanggan yang datang karena hari masih agak pagi. Reno yang akan memulai usahanya tengah sibuk membersihkan kameranya agar berfungsi dengan baik.


Tiba-tiba Reno mendengar bunyi ketukan di pintu yang terbuka disertai ucapan salam dari seorang lelaki dan perempuan. Reno memalingkan wajah ke arah orang yang bertamu pagi-pagi itu dan segera menghentikan pekerjaannya.


"Assalamualaikum." Dua orang itu mengucapkan salam bersamaan.


"Waalaikumsalam." Reno meletakkan kembali kamera dan alat yang ia gunakan untuk membersihkannya dan menghampiri kedua tamunya.


"Nyonya." Reno menyambut Lidya dan segera mencium punggung tangan wanita tua itu takzim. Lidya berdiri dengan gaya anggun menatap pemuda itu intens. Di belakangnya berdiri Yasin sebagai pengawalnya.


"Maaf Nyonya keadaan studio saya hanya seperti ini dan berantakan," ucap Reno tak enak hati.


"Tak apalah, saya datang kesini karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan," kata Lidya menjeda sebentar perkataannya.


"Saya hanya ingin memberi tahu kamu satu hal, Ray dan Aurel akan segera menikah. Untuk itu mohon kamu jangan pernah salahkan saya jika nanti setelah mereka menikah saya akan memaksa Aurel untuk menggugurkan kandungannya. Saya tak mau jika nanti ada keturunan orang lain di keluarga saya. Saya hanya akan menganggap cicit dari darah daging Ray," lanjut Oma sedikit mengancam.


"Terserah kamu mau bagaimana. Jika kamu mau anak kamu tetap selamat. Perjuangkan Aurel dan Anak kamu. Tapi jika kamu sudah tak menginginkan mereka berdua, malah gampang buat saya untuk menyingkirkan bayi itu. Biar nanti Aurel memiliki bayi sendiri dengan Ray. Bayi yang memiliki darah sama dengan saya," ucap Oma membuat Reno kehilangan arah.


"Begitu saja yang ingin saya sampaikan. Buat keputusan yang terbaik buat kamu dan anak kamu yang belum lahir. Saya yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Saya permisi dulu." Nyonya Lidya dan Yasin meninggalkan tempat itu.


Reno tampak termenung memikirkan kata-kata Oma Lidya. Reno bimbang. Di satu sisi jika ia mengacaukan pernikahan Ray dan Aurel. Aurel pasti akan mengamuk dan berusaha melenyapkan bayi mereka. Namun jika ia membiarkan Aurel menikah dengan Ray. Nyonya Lidya sanggup berbuat apa saja untuk melenyapkan anaknya. Reno menjadi dilema apa yang harus ia lakukan. Lama ia berfikir, jika perihal Aurel, Maka ia akan mencoba untuk mengawasinya agar tak berbuat nekat. Berbeda jika Nyonya Lidya bisa saja orang yang memiliki kuasa itu melakukan hal apa pun. Dan semua akan di luar kendalinya.


Akhirnya Reno memutuskan untuk mempertahankan Aurel dengan menggagalkan pernikahannya dengan Ray. Biarlah wanita itu mengamuk, Reno yakin jika nanti dia dapat menakhlukannya kembali.


Reno dengan jantung berdebar datang ke pesta pernikahan mereka. Semula ada keraguan yang melingkupi hatinya. Namun jika ia memikirkan semua kembali, hati kecilnya mengatakan bahwa ia harus menghentikan pernikahan itu. Lagipula ia tak akan tega menipu orang sebaik Ray. Untung saja ia datang di saat yang tepat, sebelum Aurel resmi menjadi istri Ray. Ia berhasil menggagalkan pernikahan itu.


Flashback Off


Sementara itu di saat yang bersamaan di Masjid Istiqlal Jakarta juga sedang diadakan acara akad nikah. Medina dengan kebaya putih dan jilbab warna senada terlihat anggun dan cantik. Ia duduk di belakang mempelai pria yang sedang menghalalkan dirinya didampingi oleh sahabatnya Zaskia. Bunda duduk disebelah Alif dengan pandangan datar. Bunda sudah ikhlas dengan pilihan anaknya. Bunda berharap Gibran akan menjadi suami yang baik untuk Medina. Gibran dengan baju koko duduk di atas kursi roda, kepala Gibran masih dibalut dengan kain perban. Ia masih nampak lemah dan pucat. Di samping Gibran ada Papa dan Mamanya yang mendampinginya. Rika sangat terharu karena acara akad nikah berlangsung dengan lancar dan khikmad. Akhirnya anaknya yang malang menemukan kebahagiaannya.


Kini Medina dan Gibran sudah resmi secara agama dan negara sebagai pasangan suami istri. Seusai acara ijab kabul, penghulu membacakan doa-doa untuk kedua mempelai. Semua orang yang menghadiri acara itu menadahkan tangan mengamini doa-doa yang penghulu lantunkan. Namun baru setengah bagian doa dibacakan. Gibran tiba-tiba pingsan hingga jatuh tersungkur.


Semua tamu undangan dan keluarga panik. Mereka segera berdiri mengerubuti pengantin pria yang pingsan. Papa Gibran juga segera mendekati anaknya dan menepuk-nepuk kecil pipi anaknya. Namun anaknya diam tak bergeming.

__ADS_1


"Gibran ... Gibran," panggil Ilham.


"Sayang ...."Rika menangis tersedu.


"Mas ... bangun ... bangun ...," panggil Medina dengan linangan air mata.


Rika mulai menangis meraung-raung memanggil nama putra semata wayangnya. Berharap anaknya membuka mata. Medina juga hanya bisa menangis dan memanggil-manggil nama suami yang baru saja menghalalkannya.


Akhirnya karena Gibran tak juga sadarkan diri. Mereka segera memanggil ambulance dan membawa kembali Gibran ke rumah sakit. Berbagai alat kedokteran dipasang kembali di tubuhnya yang ringkih. Dengan penuh kecemasan Medina mendampingi suaminya. Make up wajah Medina semakin berantakan terkena air mata yang sedari tadi tak henti mengalir. Baju kebaya pengantin masih melekat di tubuhnya. Tak ada waktu untuk sekedar mengganti dengan baju harian karena panik.


Setelah sampai di rumah sakit, Gibran segera ditangani dokter. Gibran masuk lagi ke ruang ICU. Medina menantikan dengan harap cemas. Semoga suaminya baik-baik saja. Baru setelah satu jam dokter keluar dari ruangan itu.


"Pasien sudah sadar namun keadaanya sangat lemah. Maaf, apakah ada yang bernama ibu Medina dan ibu Rika? Pasien ingin menemui orang yang saya sebutkan tadi," kata dokter.


"Dua orang saja ya Bu yang masuk," kata dokter lagi.


"Terimakasih dokter," ucap Medina dan Rika bersamaan. Dokter mengangguk dan tersenyum.


Rika dan Medina segera masuk keruangan ICU setelah memakai pakaian khusus. Rika duduk di sebelah kanan Gibran, dan Medina duduk di sebelah kiri.


"Maafkan Gibran Ma. Gibran rasa Gibran tak bisa menjaga Medina lagi. Mama tolong jaga Medina ya," kata Gibran dengan suara lirih dan terbata-bata.


"Jangan berkata seperti itu Nak. Kamu akan sembuh, Mama yakin anak Mama akan pulih seperti sedia kala," Rika menggenggam tangan anaknya dan mengecupinya.


"Ma ... boleh Gibran berbicara dengan Medina berdua?" kata Gibran lagi.


"Tentu sayang, Mama akan keluar tapi Gibran janji harus kuat." Rika beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan.


"Me, terimakasih telah sudi menikah dengan Gibran. Engghh ...." Gibran menarik nafas panjang dengan susah payah. Dadanya terasa sangat sesak.


"Me, mana Ray?"


"Kenapa di saat seperti ini malah mencari Ray? Ray mungkin juga sedang menikah," kata Medina terhenti ketika pintu terbuka dan orang yang dicari Gibran muncul.


Medina keluar setelah Ray masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Apakah kamu mencintai Medina?" Gibran berbicara dengan sangat lirih.


"Iya, saya mencintai Medina," jawab Ray mantap.


"Aku harap kamu mau menerima Medina kembali. Aku rasa aku tak dapat menjaga Me lagi," kata Gibran lagi.


"Aku selalu menerima Me dengan tangan dan hati yang terbuka, tapi semua terpulang kepada Medina sendiri," jawab Ray sedih.


"Tolong jaga Medina dan Adam," ucap Gibran.


"Adam?" tanya Ray takut salah dengar.


"Iya Adam anakku." Jawaban Gibran membuat Ray terkesima tak dapat berkata-kata. Bagaimana bisa Gibran memberi nama yang sama dengan yang ia berikan pada anak Medina.


Tiga hari kemudian.


"Me, Mas mau mendengar cerita," ucap Gibran tersenyum.


"Cerita tentang apa lagi? Me cerita tentang masa depan saja ya?" Gibran mengangguk setuju.


"Besok ... dokter akan datang dan mengatakan kalau Mas sembuh. Lalu setelah Mas Gibran sembuh kita akan bersama-sama kembali ke Amerika. Kita akan menjaga anak kita bersama. Membesarkannya berdua." Medina bercerita dengan menangis.


Gibran tersenyum bahagia mendengarkan khayalan masa depan Medina. Sesekali ia menghela nafas panjang karena kesulitan bernafas meski selang oksigen sudah terpasang menutupi mulut dan hidungnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


klik like, kasih vote dan beri komentar kalian ya?


__ADS_2