
Adam akhirnya terpaksa ikut mengantre untuk istrinya. Namun karena terlalu lama menunggu Adam jadi sedikit kesal. Bukan apa, matahari bersinar sangat terik membuat ia kepanasan dan berkeringat.
"Cik, bolehkah saya mendapatkan ice cream lebih dahulu? Kasihan istri saya tengah mengandung. Dia teringin sangat nak makan ice cream ini. Tolong saya Cik!" bohong Adam dengan menggunakan bahasa melayu mencoba merayu orang-orang yang mengantre di depannya. Ia ingin mendapatkan es krim dengan cara pintas.
Semua pandangan orang yang mengantre mengarah pada sosok Haura yang mengipas-ngipas pipinya yang memerah karena panas. Juga pada perut Haura yang masih rata.
"Baiklah Cik, silakan." Semua orang memberi akses jalan bagi Adam untuk mendapatkan es krim terlebih dahulu. Adam menuju ke depan dengan hati yang senang. Dalam hati tersenyum penuh kemenangan.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, adam tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para pembeli yang mendahulukan dirinya dan segera menghampiri Haura.
"Nah!" Adam menyerahkan es krim campur dengan tiga varian rasa pada Haura.
"Mas, orang-orang itu masih mengantre. Bagaimana caranya kamu bisa mendapatkannya secepat ini?" tanya Haura penasaran.
"Mas bilang kalau kamu hamil. Dan mereka mengizinkan Mas mendapatkan es krim lebih dulu," jawab Adam seraya menikmati es krimnya sendiri.
"Apa? Dasar! Tak baik Mas membohongi orang. Kasihan mereka juga sudah lama mengantre." Dengan gemas Haura mencubit perut Adam.
"Aw sakit Dek ...."
"Ap-apa? Mas tadi panggil Rara apa?" Haura membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Dek?"
"Kyaaa ... Rara suka panggilan dari Mas Adam." Haura tanpa rasa malu atau canggung memeluk suaminya di tempat umum. Rasa marah yang sempat Haura rasakan terlupakan karena sebuah panggilan sederhana itu.
"Hah?" Adam masih belum paham dengan maksud Haura.
"Rara suka Mas panggil Rara, adek." Wanita itu tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Manisnya ... hanya dengan panggilan 'Dek' saja dia bisa sebahagia ini? Istriku memang istimewa. Mungkin jika dia wanita lain, akan bahagia dengan hadiah tas mahal, black card dan lain-lain. Tapi dia sungguh berbeda. Ra, betapa beruntungnya aku memilikimu," batin Adam seraya mengelus jilbab yang menutupi rambut istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, mulai sekarang Mas akan panggil Rara dengan panggilan Dek. Bagaimana? Kamu suka?" tanya Adam yang dijawab Haura dengan anggukan beberapa kali.
"Dek, kita kembali ke hotel yuk! Jalan-jalannya besok lagi saja ya? Mas capek."
"Yuk ...."
"Sebentar, kita naik taksi saja. Mas capek."
"He em ...." jawab Haura seadanya. Haura kurang mendengarkan perkataan Adam karena sibuk melahap es krimnya.
Akhirnya mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Dan ternyata kata istirahat tidak mewakili kata sebenarnya, karena tentu saja mereka menghabiskan waktu berdua dalam hotel dengan kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan yang tak boleh terlewatkan agar Adam kecil segera tercipta.
***
"Kamu mau kemana? Pangkor? Langkawi? Melaka? Atau Genting? Kalau langkawi jauh. Kita harus naik pesawat lagi dari sini. Melaka dan Pangkor lumayan jauh juga."
"Yang udaranya sejuk di mana Mas?"
"Iya, iya Rara mau."
"Mau yang mana?"
"Mau keduanya."
"Ha? Mau keduanya? Waktu kita terbatas sayang. Nanti kita tak puas lagi jalan-jalannya."
"Tak bisa ya? Padahal Rara ingin pergi ke dua tempat itu." Haura memasang wajah sedih. Lagi-lagi Adam kalah oleh mimik wajah yang Haura buat.
"Ya udah, iya sayang. Kita pergi ke tempat itu."
"Kemana?" Haura memastikan.
__ADS_1
"Ke Cameron dan Genting."
"Benar?"
"Iya Dek."
"Yeahhh ... terima kasih Mas." Haura memeluk tubuh kekar itu dengan bahagia.
"Tapi mungkin di Cameron kita tak akan lama. Karena kita harus segera kembali ke Bandung."
"Iya Mas, tak masalah. Kita bermain sebentar pun juga tak apa." Adam senang melihat senyum yang tak henti terpancar di wajah istrinya. Akhirnya kesedihan mereka dapat terhapus. Dan luka Haura karenanya memudar oleh waktu. Adam berjanji akan selalu membuat wanita itu bahagia.
"Apa sih Ra, yang enggak buat kamu? Mas bahkan rela memberikan segalanya untukmu," batin pria itu.
***
Keesokan paginya mereka check out dari Viva Hotel, tempat mereka menginap. Karena untuk selanjutnya mereka akan menginap di First World Hotel. Genting Highland, Pahang. Mereka ingin menikmati waktu lebih lama di sana. Tanpa harus kembali ke Kuala Lumpur. Juga karena ingin menikmati suasana udara yang sejuk dan romantis.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam menggunakan Express Bus akhirnya mereka berdua sampai di Awana. Dan untuk naik ke puncak Genting Highland, mereka naik kereta gantung standar. Adam menawarkan untuk menaiki gondola berlantai kaca agar dapat merasakan sensasi uji adrenalin melihat pemandangan dari ketinggian. Sayang sekali Haura takut ketinggian. Jadi Adam memilih untuk menggunakan gondola standar saja. Itu pun Haura berpegangan terus pada Adam, terlalu ngeri untuk melihat ke bawah.
Udara sejuk menyapa keduanya. Dari kereta gantung, pemandangan hijau berkabut memanjakan mata mereka berdua. Dari atas Adam dan Haura dapat menyaksikan jalan menuju ke hotel tempat mereka menginap berkelok dan menanjak seperti ular.
Sepuluh menit kemudian setelah kereta gantung meluncur sepanjang 2,8 km, mereka sudah sampai di puncak Genting. Kini pasangan itu berada di ketinggian 2000 M di atas permukaan laut. Dan dengan udara segar dan sejuk bersuhu 15-22° celcius. Hamparan kabut ada dimana-mana menutup puncak itu. Seolah mereka tengah berada di negeri awan. Satu kata untuk dijabarkan Mempesona. Haura terpana melihat keindahan resort itu. Belum melakukan apa pun ia sudah merasa sangat senang.
Mereka segera check in mandiri di First World Hotel, menikmati fasilitas mewah hotel terbesar di dunia itu. Hotel yang memiliki tujuh ribu lebih kamar itu pasti memiliki tarif yang lumayan menguras kantong. Tapi Adam tak peduli, yang terpenting Hauranya bahagia dan menikmati perjalanan kali ini.
Setelah beristirahat sebentar mereka menikmati keindahan tempat itu. Adam mengajak Haura ke 20th Century Fox World Theme Park of Genting. Menikmati bermacam-macam wahana, dari wahana basah-basahan, gelap-gelapan atau uji adrenalin. Semua wahana memanjakan pengunjung yang ingin melepaskan rasa penat.
Layaknya anak kecil yang melihat mainan baru, Haura menarik Adam ke sana kemari mencoba segala permainan di Skytropolis Funland itu. Adam hanya mengiyakan semua perkataan istrinya dari naik rooler coaster, copper express hingga Spin Crazy mereka coba. Entah kemana hilangnya ketakutan Haura ketika menaiki gondola tadi, Adam pun heran. Wanita itu seakan tak ada puasnya mencoba wahana yang ada.
Haura begitu bahagia, menikmati kencan pertamanya bersama Adam. Menghapus semua ingatan buruk mereka berdua. Berharap setelah honeymoon kali ini mereka akan selalu bahagia. Saling memaafkan, saling membuka hati dan saling mencintai.
__ADS_1