Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Anak Mas Adam


__ADS_3

"Dam, sebaiknya kamu segera cari jalan keluarnya sebelum merebak kemana-mana."


"Argh, aku juga bingung Di. Tapi aku yakin itu bukan anakku Di."


"Tapi kalau benar bagaimana? Dam, sementara waktu jauhkan istrimu dari sebarang alat komunikasi. Tapi hal yang susah adalah bagaimana dengan orang tua dan mertuamu?"


Kepala Adam rasanya mau pecah menghadapi semua permasalahan yang tak kunjung habis. Baru saja ia bahagia, kini masalah datang lagi dan lagi.


***


"Ra, sayang ...." panggil Adam menuruni tangga seraya mengancingkan lengan kemejanya. Pagi itu Adam sudah terlihat rapi. Ia ingin ke kantor pagi-pagi untuk membuat penyangkalan atas berita yang beredar. Untuk itu dia sudah mengenyahkan semua alat komunikasi dan barang elektronik di rumah itu. Antena televisi sengaja ia rusak agar istrinya tidak dapat melihat berita. Agar istrinya tidak mendengar gosip yang beredar. Adam tak ingin Haura shock dan bisa mempengaruhi janinnya.


"Iya Mas," sahut Haura dari dapur. Wanita itu tengah menggoreng nasi untuk menu sarapan mereka.


"Ra, mana ponsel kamu?"


"Ini di meja makan," jawab Haura.


"Mas pinjam dulu ya Ra? Ponsel Mas rusak. Ada pertemuan dengan klien hari ini," bohong Adam.


"Iya Mas pakai saja. Itu di meja Mas."


"Maaf ya Ra," ucap Adam merasa bersalah karena telah menipu istrinya. Ia mengecupi kepala istrinya beberapa kali. Ada rasa sesak ketika ia berbohong pada istri yang sangat ia cintai.


"Kenapa Mas?"


"Tidak, Mas harus membawa ponselmu. Dan televisi kita rusak. Kamu pasti akan bosan seharian." Adam memeluk erat tubuh istrinya seolah takut ditinggalkan.


"Tidak apa-apa Mas. Santai saja. Rara kan bisa baca novel Rara. Jadi tidak bosan."


"Ra, bolehkah Mas minta sesuatu?"


"Apa itu Mas?"

__ADS_1


"Apa pun yang terjadi jangan terima panggilan telepon dari siapa pun. Gunakan telepon hanya untuk keadaan darurat jika menghubungi Mas."


"Tapi kenapa Mas?" protes Haura merasa ada yang aneh dengan suaminya.


"Ada sedikit masalah di kantor. Bisakah kamu melakukannya untukku sayang?" Kini pria itu mengecupi pipi istrinya. Mengganggu konsentrasi Haura yang sedang memasak.


"Baiklah ... mari makan," ajak Haura. Wanita itu segera mematikan kompor dan menyendokkan nasi ke dalam piring.


"Maaf sayang, pagi ini ada meeting penting. Mas tidak bisa makan di rumah," ucap Adam dengan nada menyesal. Lelaki itu benar-benar diburu waktu untuk segera menyelesaikan masalah itu. Haura mengerucutkan bibirnya kecewa.


"Masukkan dalam kotak bekal saja ya Dek? Nanti biar Mas makan. Karena pagi ini benar-benar harus mempersiapkan banyak hal."


"Iya, iya tunggu ya Mas." Senyum Haura terbit. Haura menata bekal makanan ke dalam kotak makan dan menyerahkan pada suaminya.


"Nah Mas hati-hati ya. Semangat kerjanya."


"Iya sayangku." Adam mengecup kening istrinya.


"Ra, ingatlah! Mas mencintaimu."


Hampir saja air mata lolos dari mata Adam. Rasanya ia ingin menjerit sekuat tenaga, menyalurkan rasa sakit di hatinya. Juga rasa takut akan kehilangan istrinya. Ia memeluk Haura sekali lagi dan menghapus titik air yang memaksa keluar.


"Sudah ya Mas berangkat. Jika ada apa-apa hubungi Mas ya sayang."


"Iya Mas. Sudah berangkat sana." Haura mengecup punggung tangan suaminya. Dan Adam meninggalkan rumah dengan berat hati.


***


Haura sudah menyelesaikan pekerjaan rumah yang ringan. Karena semenjak kehamilannya, Adam melarangnya melakukan banyak hal. Dan kini ia tengah duduk membaca novel kesayangannya. Tapi lama kelamaan wanita itu mulai bosan. Novel itu tak lebih menarik daripada wajah suaminya yang terngiang di kepalanya. Entah mengapa, wanita itu merindukan suaminya. Seolah seminggu tidak berjumpa, padahal baru tadi pagi mereka berjumpa.


Haura bangkit dan tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing. Rasa mual mulai menghampirinya, wanita itu muntah-muntah lagi. Menumpahkan semua makanan dan susu yang ia lahap tadi pagi. Haura begitu lemas, rasa mual tak kunjung hilang. Berkali-kali wanita itu muntah, hingga tak ada lagi yang keluar dari perutnya. Hanya cairan bening yang terasa pahit yang keluar.


Haura meraih gagang telepon rumah dan menelepon nomor ponselnya. Lama ia menunggu, namun Adam tak mengangkatnya. Ingin mengirim pesan tidak bisa. Ingin menelepon mertuanya, ia ingat pada pesan suaminya. Yang tak mengizinkannya menghubungi siapa pun. Akhirnya wanita itu terpaksa menelepon taksi. Ia harus pergi ke dokter untuk memeriksakan dirinya juga untuk mendapatkan obat pereda mualnya.

__ADS_1


Haura segera mengganti bajunya dan bersiap seadanya. Setelah taksi sudah terlihat di depan rumahnya, ia turun dengan hati-hati. Dan taksi itu mengantarnya ke rumah sakit.


Dengan wajah pucat dan penuh peluh Haura mendaftarkan diri di bagian obgyn tempat ia dan Adam memeriksakan kandungannya sebelumnya. Setelah mendapatkan nomor antrean, Haura duduk di ruang tunggu. Menunggu gilirannya dipanggil. Masih dua orang lagi, sebelum dirinya.


Haura bernapas lega, ketika satu orang sebelum ia sudah keluar dari ruang dokter. Wanita itu sudah hamil besar. Kira-kira delapan bulan. Dengan menggunakan dress warna merah selutut wanita itu mengambil vitamin di konter obat. Setelah selesai dengan urusannya, wanita itu membalikkan badan. Dan betapa terkejutnya ia, karena wanita itu tidak lain adalah Isabella. Mantan kekasih suaminya. Haura tersenyum kecut, sebenarnya enggan menyapa. Namun Isabella mendekatinya. Dan mengulurkan tangan padanya.


"Hai kenalkan aku Isabella."


"Saya Haura. Iya saya tahu kamu," jawab Haura tak nyaman.


"Kamu istri Mas Adam kan?" tanya Isabella yang kini duduk di sebelah Haura. Wanita itu sok akrab.


"I-iya."


"Kamu hamil?" tanya Isabella. Haura mengangguk enggan.


"Sudah berapa bulan?" Kelihatannya wanita itu sedang berbasa-basi dengan Haura.


"Em, hampir delapan minggu."


"Kamu wanita yang beruntung ya?" ucap Isabella dengan nada penuh kesedihan. Wanita itu menunduk, dan bulir bening mengalir dari pelupuk matanya.


"Mak-sud kamu apa?" tanya Haura dengan nada bergetar. Jantungnya berdebar kencang, ketika melihat air mata wanita itu.


"Iya, kamu beruntung. Kamu hamil dan anakmu akan mendapatkan ayah. Dan aku ... aku hamil tapi dicampakkan begitu saja." Isabella mengusap perutnya yang buncit dengan menangis. Perasaan Haura jadi tidak karuan karena mendengar cerita Isabella. Sungguh Haura takut mendengar kelanjutan cerita Isabella.


"Anak ini ... anak Mas Adam. Malang sekali nasib anakku. Harus terlahir tanpa ayah. Semua dosaku dan dosa Mas Adam. Anak ini tidak bersalah, tapi harus menanggung kesalahan kedua orang tuanya."


"Mas Adam tak mau bertanggung jawab. Bahkan ia tidak mengakui bayinya."


Deg


Haura meremas gamis yang ia pakai. Rasanya hatinya luluh lantak mendengar cerita Isabella. Rasanya ia ingin menjerit sekuat tenaga. Betapa pahit hidupnya kenapa setelah bayi itu ada ia baru tahu jika Isabella hamil.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak tahu? Hubungan kami sudah tercium media. Dan sekarang kami jadi trending topik di berbagai media online."


__ADS_2