
Begitu riuh suara anak-anak tengah bermain sepak bola di sore itu. Begitu ramai suasana tanah lapang dipenuhi anak-anak yang menikmati waktu bermain mereka. Ada yang tengah bermain bola, ada yang berkejaran, ada juga yang bermain layang-layang.
Angin bertiup sedikit kencang di sore hari yang cukup teduh itu. Mampu menerbangkan layang-layang semakin terbang tinggi, seolah harapan dan asa mereka ikut terbang melayang di udara. Menari-nari bahagia tertiup oleh hembusan sang bayu.
Matahari pun sudah tak terlalu menyengat, mungkin sebentar lagi akan tenggelam di ufuk sana digantikan oleh malam. Membuat nyaman anak-anak bermain bersama teman sebayanya. Sungguh masa kecil adalah masa terindah, dimana kita tak perlu memikirkan urusan orang dewasa yang kadang begitu rumit dan pelik. Hanya ada permainan dan gelak tawa bahagia.
Dunia kanak-kanak begitu menyenangkan. Semua hubungan pertemanan dengan ketulusan. Tanpa pamrih seperti orang dewasa. Kadang bertengkar namun sekejab saja sudah berbaikan. Sungguh, dunia kanak-kanak adalah bagian terbaik dalam hidup. Walau hanya sebentar, tapi mampu menyisakan kenangan-kenangan manis bersama teman dan sahabat yang akan terukir jelas di dalam ingatan.
Sore itu Haura tengah berada di tanah lapang itu bersama Elsa, sahabatnya. Mereka berdua duduk di atas motor Elsa menemani adik Elsa yang masih asyik bermain layang-layang. Elsa duduk di depan, dan Haura di belakang Elsa. Mereka begitu menikmati nyamannya udara yang berhembus menyejukkan pori-pori kulit mereka.
Elsa melirik ke arah spion yang menampilkan bayangan sahabatnya, Haura. Senyum manis terpancar di wajah sahabatnya itu yang terlalu asyik melihat anak-anak yang bermain.
"Wah ... apa yang terjadi dengan Nona Haura Nadzifa yang terhormat. Sedari tadi senyum-senyum dengan wajah memerah. Seperti bunga yang baru mekar," kata Elsa.
"Apaan sih, *n*gawur," kata Haura masih asyik memandang segerombolan anak yang bermain dengan bahagia.
"Lihatlah El, dulu kita bahagia kan bisa bermain dengan bebas seperti itu," tunjuk Haura pada anak-anak yang bermain.
"Iya, kamu benar. Tapi jangan mengalihkan pembicaraan deh."
"Wajah yang berseri-seri itu tandanya ada yang masuk meminang ya?" goda Elsa.
"Apa sih? Enggak El. Siapa juga yang sudi meminang wanita sepertiku," kata Haura tertawa.
"Benarkah?Aku mengira ada *Pr*ince Charming yang sudah datang melamar untuk mengikat janji," gurau Elsa.
"Hahaha, benar. Aku tak akan menolak kalau ada Prince Charming yang melamarku." Haura membalas gurauan Elsa.
"Terus kamu dan Vian kapan?" tanya Elsa lagi.
" Kapan apanya?" tanya Haura yang sudah hafal makna pertanyaan sahabatnya.
"Kapan 'pak pak pung pung, pak pak pung pung' lah ...," kata Elsa mempraktekan ala-ala orang bermain rebana.
"Ihhh ... kamu ya? Belum tahu lagi lah El. Dia masih sibuk dengan kuliahnya. Mungkin jalan kami masih sangat panjang," kata Haura menjadi murung mengingat perkataan Alvian.
__ADS_1
"Eh, aku ada berita bagus," kata Elsa berbinar. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, tak ingin Haura bersedih.
"Apa itu?" tanya Haura sedikit mendongak karena sahabatnya yang cukup tinggi.
"Aku akan pergi ke Bandung," jawab Elsa bahagia.
"Wahhhh, tapi mau apa ke Bandung El?" tanya Haura bingung.
"Beberapa bulan yang lalu, aku mengikuti audisi permodelan. Iseng-iseng. Eh, rupanya aku diterima Ra," jawab Elsa bahagia.
"Wahhh ... selamat ya El. Aku ikut bahagia," kata Haura benar-benar ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya. Kini keduanya berpegangan tangan erat.
"Eh, tapi apa kamu bisa berjalan melenggak lenggok layaknya seorang model?" tanya Haura khawatir. Karena selama ini Elsa sedikit tomboi.
"Belum pandai sih Ra. Tapi nanti di sana kan bisa belajar Ra. Tenang saja. "
"Yang aku tahu persaingannya ketat lho El, belajarlah dari sekarang. Jangan meremehkannya," nasehat Haura.
"Iya juga ya? Ihh..Kamu menakutiku Ra."
"Iya, iya. Eh, kamu coba pegangkan makananku sebentar. Awas jangan dimakan!" Elsa segera berlari sekitar lima meter dari tempat Haura berdiri. Elsa dengan kaku melenggak-lenggokan tubuhnya bak model profesional.
"Kyaaa.. Aku malu Ra," kata Elsa berlari memeluk Haura karena malu.
"Kenapa harus malu? Kamu harus percaya diri. Karena kamu akan menjadi seorang model."
"I-iya sihh." Kedua sahabat itu berpelukan.
"Semoga kamu sukses ya El. Jangan pernah lupakan aku sahabatmu ini," kata Haura mengeratkan pelukan mereka.
"Amiiin makasih ya Ra. Mana mungkin aku akan melupakan sahabat terbaikku ini. Nanti kalau aku sudah sukses, aku ajak kamu jalan-jalan ke Bandung. Okay," kata Elsa bahagia.
"Iya El, InsyaAllah," kata Haura tersenyum. Pelukan mereka kini telah terurai.
"Eh, sudah sore Ra. Sebentar ya aku panggil Ed."
__ADS_1
"Ed ... Adekkk...," teriak Elsa memanggil adik laki-lakinya. Bocah itu menoleh.
"Sudah yuk mainnya. Sudah sore, turunkan layang-layang kamu. Besok lagi mainnya, "kata Elsa.
" Iya kakak. Tunggu Ed menggulung benangnya." Tak menjawab, Elsa hanya mengacungkan jempol ke arah Edward.
Lima menit kemudian mereka pulang ke rumah karena hari sudah senja. Tak lupa, Elsa mengantarkan Haura sampai rumah.
***
Adzan isya belum lama berkumandang. Ibrahim baru saja menyelesaikan sholat sunahnya. Sedangkan anak-anaknya yang sudah melaksanakan sholat isya sudah menunggunya di lantai kayu beralaskan tikar.
Haura sudah menyiapkan makanan sederhana yang menjadi menu makan malam. Hana dan Fauzan yang sudah lapar, sudah tak sabar menunggu ayahnya yang masih berdzikir. Sesekali mereka melirik kamar ayahnya, berharap pria tua itu segera keluar.
"Mana ayah, Kak? Uzan sudah lapar," keluh Si Bungsu.
"Bentar Zan, tunggu. Ayah mungkin masih berdoa." Wajah bocah berusia dua belas tahun itu begitu masam karena lapar.
Tak lama Ibrahim keluar dari kamarnya.
"Ayah, mari makan," ajak Haura.
"Iya mari." Ibrahim duduk bersila di dekat Hana dan Fauzan.
"Zan, pimpin doa," perintah Ibrahim.
"Baik Ayah," kata Fauzan mulai melafadzkan doa sebelum makan. Selesai berdoa, mereka segera mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar.
"Sedapnya kamu masak Ra. Mengingatkan ayah pada masakan ibu kamu." Haura tersenyum karena dipuji Ayahnya.
"Ayah, sepatu Hana sudah rusak. Sobek, mau dikasih lem juga sudah tak bisa," kata Hana di sela-sela menikmati makanan.
"Sekolah Uzan juga sudah menanyakan iuran yang belum dibayar Yah. Ayah ada uang?" tanya Fauzan semakin menambah beban pikiran Ibrahim.
"Sudah, nanti ayah pikirkan. Kalian habiskan dulu makanan kalian," ucap Ibrahim sedikit sedih. Beban yang harus ditanggungnya begitu besar. Sungguh berat membesarkan ketiga anaknya seorang diri.
__ADS_1
Haura menatap ayahnya dengan kasihan. Ayahnya di usia yang sudah tua harusnya tinggal menikmati masa tua yang nyaman, namun kenyataannya lain. Ayahnya harus bersusah payah menghidupi ia dan kedua adiknya. Haura menahan air matanya untuk tidak jatuh. Andai saja ia dapat berbuat sesuatu untuk keluarganya.