
"Pa, bawakan bolanya!"perintah wanita itu pada suaminya. Suaminya segera membawakan bola Adam dan mengikuti istrinya yang menggendong Adam pulang.
Tuk tuk tuk.
Lelaki itu mengetuk jendela mobil tempat supirnya mengemudi sebelum menyusul istrinya. Sopir lelaki itu segera membuka kaca mobil majikannya.
"Guh, kamu cari tempat parkir dekat sini, nanti kamu jemput lagi di sini saja. Kami mau mengantar anak ini dulu," kata Lelaki itu pada sopirnya.
"Apa tidak sebaiknya saya antar pak?" tanya Teguh, sang sopir.
"Nggak perlu, dekat saja kok. Kamu cari aja tempat parkir dulu. Takut kena tilang," kata lelaki tua itu.
"Baiklah kalau begitu." Teguh segera pergi meninggalkan majikannya mencari tempat parkir terdekat.
Setelah bicara dengan sopirnya, lelaki itu menyusul istrinya yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
"Nama kamu siapa, Nak?" tanya wanita itu lagi.
"A-Adam." Adam kecil tak hentinya memandangi orang yang mengantarkan ia pulang.
"Kamu nggak luka kan, Nak?" Adam menggelengkan kepala.
"Kenapa kamu main sendirian?" tanya wanita itu ramah.
"Mama masak," jawab Adam singkat mulai nyaman.
"Lain kali jangan main di jalan ya?" nasehat wanita itu lagi. Adam menganggukkan kepala. Adam mengingat nasehat yang juga diucapkan mamanya, nasehat yang ia abaikan.
Lelaki yang kelihatannya suami dari wanita yang menggendong Adam, memperhatikan wajah istrinya dengan seksama. Wajah istrinya terlihat bahagia. Selama lima tahun lebih, baru kali ini istrinya tersenyum. Lelaki itu ikut bahagia, melihat senyuman di wajah istrinya.
Sementara itu di kediaman Ray. Medina menangis tersedu-sedu mencari keberadaan Adam. Medina begitu kebingungan mencari Adam.
"Kamu dimana, Nak?" panggil Medina tak henti seraya mondar mandir ke sana kemari mencari ke setiap sudut rumah.
Medina yang putus asa segera menelepon Ray.
"Mas, Adam Mas ... Adam ... huhuhu." Medina langsung menangis ketika telepon diangkat.
"Ada apa sayang? Kenapa menangis?" tanya Ray panik.
"Adam nggak ada Mas, Me tadi masak sebentar. Waktu Me keluar lagi Adam menghilang, hiks."
"Me sudah cari ke seluruh rumah?" tanya Ray yang tak kalah khawatirnya.
"Sudah Mas, aku cari dimana-mana nggak ada. Bagaimana ini, Mas?" Medina semakin tersedu-sedu. Pikiran buruk memenuhi kepalanya.
"Oke, Mas pulang sekarang. Me tenang ya? Kita cari sama-sama. Mas yakin Adam baik-baik saja," bujuk Ray menenangkan Medina, walaupun sebenarnya ia lebih khawatir daripada Medina.
" Roni," panggil Ray seraya membereskan dokumen dan laptopnya.
"Iya Pak, ada yang harus saya kerjakan?" tanya Roni, sekretaris Ray.
__ADS_1
"Kamu cancel semua meeting dan janji temu hari ini. Saya ada urusan penting," jawab Ray tanpa memandang sekretarisnya.
"Tapi hari ini ada pertemuan penting dengan tuan Hiragara dari Jepang Pak," jawab Roni yang heran dengan sikap tak profesional atasannya yang tak seperti biasanya.
"Aku tak peduli, kalau beliau mau kita ganti jadwal. Kalau tidak, ya sudah biarkan saja terlepas," jawab Ray melangkah keluar ruangannya meninggalkan Roni yang terbengong-bengong. Roni terkejut dengan keputusan atasannya melepaskan klien penting, entah karena alasan apa.
Sementara itu di kediaman Ray.
"Assalamualaikum," teriak wanita itu dari luar pagar.
"Kok nggak ada yang jawab ya, Pa? Rumah sebesar ini kok nggak ada security nya ya?" Wanita itu celingak celinguk mencari penghuni rumah.
"Coba saja panggil lagi, Ma," perintah lelaki itu masih memegangkan bola milik Adam.
Wanita itu mengucap salam beberapa kali karena tak ada seorang pun yang keluar membuka pintu. Hingga mereka melihat ada bel di dekat pagar. Suaminya segera memencet bel berkali-kali.
Tak lama kemudian muncul wanita berhijab dari dalam rumah dengan wajah sembab. Medina membuka pintu dengan gemetaran.
"Waalaikumsalam," jawab Medina dengan suara sengau habis menangis.
"Adam ...." Medina menghambur memeluk putranya, tak menghiraukan orang yang sudah mengantar anaknya pulang. Hati Medina yang dipenuhi kekhawatiran lega seketika.
"Mama ...."Adam mengulurkan tangan ke arah ibunya. Segera Adam berpindah ke gendongan ibunya.
"Kamu kemana saja, Nak? Mama khawatir sayang," kata Medina menangis.
"Medina," sapa wanita yang tadi menggendong Adam ikut menangis. Mengagetkan Medina yang sedang terhanyut memeluk Adam.
"Tante, Om," jawab Medina menyadari kedatangan dua orang yang dikenalnya.
"Adam anak saya Tan," jawab Medina menghindarkan Adam dari sentuhan Rika.
"Namanya Adam? Huhuhu ... Pa, lihat ...." Rika memandang wajah suaminya yang kaget seperti dirinya.
"Cucu kita sudah besar Pa," kata Rika menangis tersedu.
"Maaf Tan, Adam anak saya," kekeh Medina.
"Tante, Om.. Terimakasih sudah mengantarkan anak saya pulang ke rumah." Medina memeluk Adam erat-erat seolah takut kehilangan.
Tin tin tin.
Suara Klakson itu mengagetkan permbicaraan mereka. Mereka menepi memberi jalan masuk mobil itu.
Ray keluar dari mobil dengan raut wajah gelisah. Namun ketika melihat Adam yang digendong Medina dalam keadaan yang baik-baik saja ia bernafas lega. Ray menghampiri orang-orang yang tengah berbicara dengan istrinya.
"Om Ilham, Tante Rika," sapa Ray menjabat dan mencium punggung tangan kedua orang itu takzim.
"Ada apa ya ini?" tanya Ray bingung apa yang sedang terjadi.
"Tante dan Om tak sengaja menemukan Adam di jalanan. Adam hampir saja tertabrak mobil kami," kata Ilham menjelaskan.
__ADS_1
"Mari kita masuk dulu Tan, Om, kita berbincang di dalam," ajak Ray.
"Kenapa tak mempersilakan tamu kita masuk sayang?" tanya Ray menatap wajah Medina yang tampak tak suka dengan kedatangan dua orang itu.
"Ma-mari masuk Tante, Om ..."Ajak Medina sedikit bergetar. Entah Kenapa ketakutan meliputi hatinya.
"Tidak perlu, kami sedang ada urusan. Lain kali saja kami datang. Kamu jaga anak kamu baik-baik ya Me. Jangan biarkan main di jalanan seperti tadi. Bahaya," nasehat Rika dengan lemah lembut. Tak henti mata Rika menatap Adam yang berada di pelukan ibunya.
"Me, boleh Tante peluk Adam. Sebentar saja." Rika meminta dengan tatapan memohon.
Medina menatap wajah Ray, seolah meminta persetujuan. Ray menganggukan kepala. Medina menyerahkan Adam ke pelukan Rika Dengan ragu.
"Cucu Oma." Rika memeluk dan menciumi pipi Adam. Rika menangis terharu, tak menyangka pertemuannya dengan cucunya akan seperti ini.
"Tapi Oma Adam kan Oma Mutik?" tanya Adam polos yang kebingungan.
"Iya, Nak ... Oma Mutia Oma kamu. Dan ini Oma Rika juga omanya Adam. Lihat itu Opa Ilham, opanya Adam." Adam mengerjap bingung dengan apa yang dikatakan Rika.
"Adam, mari masuk yuk, Nak," ajak Medina yang entah mengapa begitu gelisah. Medina mengambil Adam dari pelukan Rika dan membawa masuk rumah tanpa berkata apa-apa.
"Maafkan sikap istri saya ya Om, tante ...," kata Ray merasa tak enak hati.
"Iya, Nak..Nggak papa. Tante paham perasaan Medina," jawab Rika menyeka air matanya menggunakan tissue.
"Saya dan Medina mengucapkan banyak terimakasih sudah mengantarkan Adam pulang," kata Ray tulus.
"Ya sudah kami permisi ya Nak Ray," kata Ilham berpamitan.
"Apakah Om dan Tante ingin singgah ke gubuk kami dahulu?" tawar Ray sebagai rasa sopan santun.
"Tidak Nak, kami permisi dulu ya?"
"Baiklah kalau begitu, Om dan Tante hati-hati ya di jalan?" mereka berdua mengangguk dan meninggalkan rumah itu. Ilham merangkul pundak istrinya. Ray memandang kepergian dua orang itu dengan perasaan bersalah karena sikap istrinya yang tak bersahabat.
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah walaupun di waktu mepet aku bisa menyelesaikan ketikanku.
Dukung dengan cara kasih like, vote dan komentar. Add favorite juga untuk mendapatkan pemberitahuan update .
__ADS_1
Jangan lupa ya.
Terima kasih