Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Terlepas


__ADS_3

Ruang gelap itu seakan semakin sempit dan gelap. Terasa berputar dan pengap. Seolah membuat penghuninya kesulitan bernafas. Seakan ada ribuan hantu yang mengepungnya. Kesepian, gelap terasa mencekik. Takut, depresi, gemetar menjadi satu.


Ingin ia teriak sekuat tenaga, ingin ia minta tolong agar ia dibebaskan dari tempat mengerikan itu. Tapi suaranya tak dapat keluar, seakan tercekat di tenggorokannya.


Ia tersiksa. Bagai ribuan tali mengikat seluruh tubuh. Sakitnya hingga ke ubun-ubun. Namun suara dan air mata tak dapat keluar dari bibirnya.


***


Ray tidur di sofa depan televisi yang terletak di depan kamar Adam. Ia sengaja tidur di sana, takut-takut putranya membutuhkan sesuatu.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Ray mulai terlelap dalam mimpi setelah seharian kelelahan bekerja dan mengurusi putranya.


Baru saja ia menikmati mimpi indahnya, telinganya menangkap suara lirih seperti orang yang menangis.


Ray bangkit menuju kamar Adam. Pintu terbuka, bocah itu tak telihat di ranjangnya. Pun dengan pintu kamar mandi terbuka menandakan Adam tak berada di dalam sana. Ray segera membuka lampu agar ia dapat mengetahui keberadaan Adam.


Lega, Ray melihat Adam meringkuk memeluk lutut di pojokan kamarnya dekat almari.


"Adam, kenapa Nak?" tanya Ray menghampiri dengan khawatir.


"Jangan sentuh aku!" Adam masih setia memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya di pangkuan.


Pelan-pelan Ray menggenggam tangan Adam yang terasa sangat dingin.


"Apakah sakit sekali?" Adam diam tak merespon.


"Sini Nak." Ray merentangkan tangan berharap anaknya menghambur memeluknya. Namun lagi-lagi Adam diam saja. Tubuhnya bergetar hebat.


Dengan satu gerakan, ia mengangkat Adam ke ranjang. Tubuhnya yang dingin dan bergetar di selimuti menggunakan selimut tebal. Ray meraih obat dari dokter yang berada di laci. Ia juga menuang air putih ke dalam gelas plastik yang disediakan khusus untuk Adam. Untuk menghindari Adam berbuat nekat dengan benda tajam.


Dengan sabar, diminumkannya obat itu pada Adam. Setelah minum obat, pemuda itu meringkuk lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Ray yang ingin keluar dari kamar itu menjadi tak tega, ia memutuskan tinggal dan tidur bersama Adam malam ini.


"Apa yang kamu rasakan Nak?"


"Sakit Pa ... ngilu ... dingin Pa," ratap Adam menyayat hati. Terdengar bunyi gemeletuk giginya menahan rasa yang teramat menyiksa. Hati Ray seakan ditusuk benda tajam melihat penderitaan Adam.


"Pa, Adam nggak kuat Pa. Berikan saja benda itu. Biar Adam sembuh," kata Adam frustasi.


"Shhh ... Papa tahu ini sulit dan menyakitkan tapi kamu harus bertahan Nak. Papa di sini mendukungmu. Kamu harus sembuh."


"Pa ... Adam ingin mati saja daripada sesakit ini," racau Adam semakin menjadi.


"Jangan bilang begitu Nak." Ray memeluk tubuh Adam yang bergetar hebat. Perkataan Adam membuat Ray menangis. Hilang kesabarannya, rasanya ingin ia menggantikan posisi Adam.


"Engghh ... sakit Pa ... dingin," racau Adam lagi.

__ADS_1


"Adam takut Pa. Apakah Adam akan mati? Kenapa sesakit ini?"


Dengan masih meneteskan air mata, Ray membuka bajunya, dan segera memeluk Adam. Berharap Adam tak kedinginan lagi.


"Adam, sabar ya Nak. Istigfar ...."


"Peluk Papa Nak, luapkan apa yang kamu rasa. Ingat kamu nggak sendiri. Ada Papa, ada Mama."


Ray memeluk Adam erat-erat, begitu juga Adam melingkarkan tangannya diperut papanya. Disembunyikan wajahnya di dada Ray. Dengan pelan Ray melafadzkan ayat-ayat Al-Quran, berharap putranya sedikit tenang. Adam masih berusaha menahan kesakitannya.Walaupun rasanya ia ingin putus asa. Rasa sakit itu begitu menyiksa.


Setelah lama bergetar, akhirnya tubuh yang sempat kejang-kejang itu melemas kembali. Terdengar suara nafas teratur menandakan empunya yang sudah lelap dalam tidurnya. Ray bernafas lega, ia tahu ini tak akan mudah untuk Adam juga untuk dirinya. Tapi Ray yakin, Adam akan kembali menjadi Adamnya yang dulu.


***


Enam bulan berlalu penuh kesedihan dan penderitaan. Namun usaha tak mengkhianati hasil. Perjuangan panjang dan penuh duka lara kini membuahkan hasil.


Enam bulan, Adam rutin periksa ke dokter. Ray juga khusus mendatangkan ustaz untuk mengajar Adam tentang ilmu agama. Dan kini Adam sudah dinyatakan sembuh. Sekarang ia sudah kembali lagi ke kamarnya. Tetapi tetap saja, Ray masih memantau putranya 24 jam. Adam juga belum memulai pendidikannya lagi. Rencananya Adam akan mulai dari awal nanti di tahun ajaran baru.


Sejak Adam sakit, mereka berbagi tugas. Siang hari Medina yang akan mengawasi. Dan malamnya, tugas Ray menguatkan malam-malam yang menyakitkan untuk putranya.


Hubungan mereka sudah membaik. Tak ada lagi dendam, iri atau sakit hati. Terbukti bahwa mama dan papanya masih sama seperti dulu, selalu menyayanginya.


Mikha juga semakin dekat dengan Adam. Gadis kecil itu semakin manja pada kakaknya. Adam kini sangat menyayangi Mikha. Tak ada rasa risih seperti ketika Keira menempel padanya dulu.


Ting tong ting tong


"Kak, ada tamu. Mikha buka pintu dulu ya?" Adam menganggukkan kepala.


"Siapa ya Dek, yang datang sore-sore begini?" tanya Adam.


"Entahlah. Sudah, Mikha buka pintu. Pause dulu kak. Awas kalau curang!" ancam Mikha.


"Iya Iya ... bawel," kata Adam tertawa. Ia sangat menyayangi adiknya yang manja.


Lima menit Mikha membuka pintu, tapi belum kembali juga. Ia menjadi khawatir. Segera Adam menyusul adiknya ke depan.


"Ayo Kak! *N*ggak papa. Kak Adam baik kok." gadis itu menarik-narik tangan Keira yang kini tumbuh menjadi remaja cantik.


"Nggak deh Kha. Kakak pulang saja ya? Lain kali saja kakak datang lagi," tolak Keira dengan gugup.


"Ayo kak!" pinta gadis kecil itu manja.


"Kenapa berdiri di depan pintu saja? Masuk!" kata Adam ketus. Ia memandang gadis kecil yang dulu selalu menempel padanya.


"Eh, Ka-Kak Adam, apa kabar?" tanya Keira canggung. Rasanya jantung Keira akan melompat keluar.

__ADS_1


"Baik."


"Mikha, ajak teman kamu masuk. Kunci lagi pintunya." dengan ketus Adam meninggalkan mereka dan kembali ruang keluarga tempat ia bermain dengan Mikha. Rasanya Keira ingin menangis.


"Tuh kan ... Kak Adam nggak suka sama kakak. Kakak pulang aja ya Dek," kata Keira kecewa dengan sikap Adam yang masih dingin seperti sembilan tahun yang lalu.


"Sudah, ayo ikut Mikha. Kakak kan tamu Mikha, jadi kakak abaikan saja kak Adam." Mikha menarik paksa tangan Keira.


Kini mereka duduk di ruang keluarga itu dengan canggung. Hanya kebawelan Mikha yang memecahkan keheningan di antara mereka.


"Kamu sekarang kelas berapa?" tanya Adam basa-basi. Ia merasa tak enak sudah ketus pada Keira.


"Kelas sembilan kak, tahun ini lulus," jawab Keira dengan hati yang berdebar. Rasanya ia ingin melompat kegirangan karena orang yang dicintainya kini mau berbicara padanya.


"Oh," jawab Adam singkat.


"Kak Adam kapan sekolah lagi?" tanya Keira sedikit takut jika Adam marah.


"Nanti."


"Ya ampunn ... cowok yang aku suka ini irit kata banget sih. Aku jadi bingung mau tanya apa lagi."


Akhirnya Keira memilih diam dan bermain dengan Mikha. Sesekali gadis itu mencuri pandang ke arah Adam yang asyik main PS. Gadis itu semakin jatuh cinta pada Adam yang kini menjadi semakin tampan. Cukup lama Keira di rumah Ray. Baru setelah Medina pulang, gadis itu berpamitan karena hari sudah senja.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ini baru awal kisah cinta Adam. Penasaran nggak sih?


Stay ya.. Jangan lupa kasih like, komentar dan vote ya..


Singgah dong ke novel aku yang satunya lagi "Dua Polisi Tampan". Coba baca, kalau suka lanjut, kalau tak suka kasih krisannya ya..

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2