Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Ray Dan Medina


__ADS_3

"Nyonya, hari ini anda sudah diperbolehkan untuk pulang. Kondisi anda sudah pulih.Luka jahitan hampir tertutup sempurna. Dan baby juga sehat dan kuat. Tak ada masalah apa pun. Tak ada yang perlu kita khawatirkan lagi."


"Apakah ada yang anda keluhkan Nyonya? Atau ada hal yang membuat anda tak nyaman?" tanya dokter.


"Nothing, Everything its,ok Dok," jawab Medina tersenyum.


"Tapi mungkin selama masa pemulihan, Nyonya dilarang mengerjakan pekerjaan berat dan juga mungkin dalam waktu dekat belum bisa berhubungan suami istri meskipun darah nifas sudah berhenti. Mungkin lebih baik pastikan luka jahitan mengering dulu." Dokter menjelaskan dengan terperinci. Medina sungguh malu mendengar perkataan dokter.


"Baik Dok. Kami akan melakukan seperti yang anda katakan." Ray mengiyakan dengan senyuman.


"Obatnya silakan diminum sampai habis ya Nyonya. untuk mempercepat pemulihan luka jahitan. Dan silakan datang kembali untuk kontrol sesuai dengan yang sudah dijadwalkan," kata dokter.


"Oh ya. Mungkin Nyonya bisa pasang alat kontrasepsi nanti. Karena saya sangat tidak menyarankan Nyonya mengandung dalam waktu dekat. Karena proses melahirkan secara caesar sehingga anda harus memberi jarak dengan anak kedua nanti. Karena terlalu beresiko," kata dokter.


"Baik Dok, akan kami pertimbangkan saran dokter. Saya akan memperhatikan istri saya. Atas bantuan dokter selama ini kami ucapkan banyak terimakasih." Ray menjabat tangan dokter yang menangani Medina.


Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Medina diizinkan untuk pulang. Medina bernafas lega bisa kembali lagi ke apartemennya yang nyaman. Medina bisa bebas melakukan apa pun di rumah Ray. Tak ada lagi bau obat-obatan yang menyengat hidung. Mereka sekeluarga juga lebih tenang dalam mengerjakan apa pun. Tak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit.


Kini Bunda, Oma dan Ray tengah sibuk mempersiapkan dua acara penting yang akan digelar. Acara syukuran dan pemberian nama Adam serta ijab kabul Medina dan Ray. Oma Lidya sangat bahagia dengan keputusan yang walau dibuat tiba-tiba itu. Beliau mendukung penuh pernikahan mereka berdua. Sangat berbeda ketika dulu Aurel yang mengajukan pernikahan mendadak. Banyak alasan yang Oma kemukakan untuk menolak keinginan Aurel.


Rencananya pemberian nama baby Adam akan digelar esok hari. Satu hari setelah kepulangan Medina dari rumah sakit. Dan acara ijab kabul akan dilaksanakan seminggu kemudian, mengingat mereka harus mempersiapkan segalanya terlebih dahulu.


Oma adalah orang yang paling sibuk merencanakan pesta pemberian nama baby Adam. Pesta hanya akan dihadiri oleh teman Medina dan beberapa relasi kerja Ray. Maklum, tak banyak saudara yang tinggal di Amerika. Hanya ada beberapa anggota keluarga yang akan datang dari Indonesia.


Akhirnya karena tak banyak tamu yang diundang di negara asing itu, Oma berencana mengundang beberapa anak yatim dari panti asuhan di wilayah itu. Oma ingin sedikit berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang beruntung tersebut.


Oma menyiapkan sedikit uang untuk diberikan kepada anak yatim. Selain itu Oma juga mempersiapkan bingkisan berisi peralatan sekolah untuk mereka. Sedangkan Medina dan Ray hanya menyiapkan katering makanan yang dihidangkan dan untuk santunan.


Akhirnya hari yang ditunggu sudah tiba. Upacara dan pesta kecil pemberian nama Adam sudah dilakukan. Adam Haikal Azzami, itulah nama yang diberikan oleh sang ayah. Semua anggota keluarga sangat bahagia dan bersyukur dengan kehadiran bayi laki-laki yang tampan itu. Selain itu, juga di lakukan upacara cukur rambut sang baby. Pipi baby Adam yang sedari awal sudah gembul terlihat semakin bulat setelah rambut di kepalanya tak ada lagi. Oma terkekeh melihat buyutnya yang terlihat begitu menggemaskan dengan penampilan barunya.


Setelah acara mencukur rambut, diadakan acara pembacaan doa untuk baby Adam. Doa dibacakan oleh salah seorang teman Ray yang pandai dalam bidang agama semasa kuliah dulu. Dan dilanjutkan dengan acara pemberian santunan kepada anak yatim. Medina dan Ray sangat bahagia karena banyak anak yatim yang memberikan doa kebaikan untuk Adam. Besar harapan Ray dan Medina kelak Adam akan menjadi anak yang salih dan berbakti.


Setelah upacara pemberian nama dilakukan, Medina yang semakin sehat disibukkan menjaga Adam. Medina menikmati semua momen bersama si kecil. Ia sangat bahagia dengan kehadiran si kecil yang melengkapi hidupnya. Kesedihan yang ia rasakan sembilan bulan terakhir, menghilang entah kemana semenjak kelahiran putranya. Tak ada lagi penyesalan atas takdir yang Tuhan tetapkan untuknya. Malah ia bersyukur atas kehadiran si kecil yang membawa cinta Ray untuknya.


Sedangkan Bunda dan Ray sibuk mempersiapkan segalanya. Dimulai dari mengurus izin untuk menggelar acara pernikahan sederhana di sebuah masjid yang terbesar dan terindah di Boston. Masjid ISBCC adalah lokasi yang di pilih oleh Ray sendiri. Ray sudah merencanakan akan melaksanakan di masjid itu jauh hari, bahkan sebelum Medina melahirkan.


Selain itu Ray juga sudah menyiapkan baju pengantin untuknya dan Medina. Meskipun hanya diadakan secara sederhana, Ray ingin membuat wanita yang akan menemaninya seumur hidup mengingat momen sakral mereka berdua sampai tua nanti. Bunda juga membantu segalanya termasuk membantu Ray memilih cincin pernikahan. Ray yang sudah lama tak merasakan kasih sayang orang tua merasa sangat terharu. Ray sangat bersyukur ada Bunda yang membantunya selayaknya putranya sendiri. Ray begitu merindukan kasih sayang seorang ibu, dan kini ia mendapatkan dari Bunda Mutia mertuanya.


***


Daun-daun mapel masih berguguran. Berwarna merah kecoklatan menambah kehangatan suasana musim gugur yang baru saja dimulai. Angin sejuk berhembus meneduhkan hati. Sesejuk dan seteduh hati Ray dan Medina yang tengah melakukan prosesi ijab kabul di masjid ISBCC (Islamic Society Boston Cultural Center) yang berada di jalan Malcolm, Roxbury.


Suasana yang tenang dan khusyuk sangat terasa di tempat itu. Bagunan yang kokoh dan indah, sekokoh cinta Ray pada Medina. Bersih dan sucinya tempat itu sebersih cinta Ray yang menerima Medina apa adanya. Suara imam masjid yang membaca ayat suci Al -Quran mengalun dengan merdu. Begitu menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya. Apalagi di negara yang mayoritas non muslim. Terasa sangat mengagumkan dan istimewa. Seperti sebuah oasis di padang gurun pasir yang tandus. Begitu menyejukkan hati.


Medina duduk diapit oleh Oma dan Bunda tampil cantik dengan gaun berwarna dusty yang sudah disiapkan oleh Ray. Jilbab berenda berwarna senada melengkapi kecantikan wanita muda itu.Dengan tampilan natural, Medina terlihat lebih ayu dan keibuan. Ia masih saja merasa gugup dan berdebar walau itu adalah pernikahannya yang kedua.


Baby Adam terlelap di pelukan Bik Sum yang baru datang dua hari lalu. Baby Adam begitu tenang dan anteng, seolah tahu kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh kedua orang tuanya.


Ditempat itulah Ray mengucap janji di hadapanAllah Yang Maha Kuasa, bahwa ialah yang akan menjadi imam rumah tangga Medina. Bahwa ia akan menjadi pemimpin yang baik untuk Medina. Tak banyak yang datang. Hanya beberapa keluarga yang datang. Diantaranya Haris, kakak bunda Mutia yang diminta datang secara mendadak sebagai wali nikah Medina. Dan hanya ada Oma, Bunda, Yasin, Bi Sum yang menjadi saksi nikah mereka berdua. Serta penghulu yang didatangkan khusus dari Indonesia tentunya.

__ADS_1


"Saya terima nikahnya Medina Salsabila binti Rudi Hendrawan dengan mas kawin kaligrafi surah Al-Ikhlas dengan tinta emas seberat seratus tujuh puluh tujuh gram dibayar tunai."


Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa "


Allah tempat meminta segala sesuatu.


Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.


Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (Qs. Al Ikhlas Ayat 1-4)


Dengan satu tarikan nafas, Ray akhirnya menjadi suami sah Medina. Semua orang bernafas lega, akhirnya penantian panjang Ray telah berakhir. Bunda Oma dan Medina tak henti meneteskan air mata kebahagiaan. Apalagi Medina sangat terharu dengan apa yang dipersembahkan Ray untuknya. Bukan karena nilai kaligrafi itu. Tapi ayat-ayat itu yang lebih berharga. Surah Al Ikhlas. Layaknya Ray yang menerima Medina dengan tulus ikhlas.


Semua orang yang menjadi saksi janji suci itu tak henti mengucapkan puji syukur atas rahmat yang diberikan Allah. Sehingga mereka bisa bersatu. Cinta yang di tempuh dengan penuh kesulitan, penuh jalan berliku dan kerikil tajam akhirnya telah menemukan keindahannya. Doa restu dari keluarga tercurah untuk mereka berdua. Berharap pasangan itu dilimpahi karunia dan berkah dari Ilahi. Dan cinta mereka akan kekal till jannah.


Ray menyematkan sebuah cincin bermata berlian ke jari Medina. Dan Medina segera mengecup punggung tangan Ray sebagai tanda bakti seorang istri.


Ada sebuah kelegaan dalam hati Ray. Seolah batu besar yang selama ini menghimpit dadanya kini sudah hilang. Akhirnya penantian dan kesabaran Ray berbuah sangat manis.


***


Medina dan Ray baru saja selesai mandi. Rasa penat masih dirasakan keduanya setelah melewati momen penting itu tadi sore. Kedua insan lawan jenis yang baru saja halal di mata Tuhan sebagai suami istri itu kini tengah canggung di dalam satu kamar. Mereka duduk bersebelahan di ranjang dengan gelisah dan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya.


Tak ada yang bisa dibicarakan, karena pikiran mereka kosong. Kalah oleh debaran jantung yang berdetak sangat cepat. Terasa sangat sulit untuk mengucapkan sepatah kata pun. Seolah mereka adalah remaja yang baru pubertas dan merasakan indahnya jatuh cinta. Hanya ada debaran dan kegugupan. Bayi mungil yang biasanya memecah kesunyian juga sudah tertidur dengan lelap. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


Lama mereka terdiam. Antara rasa yang menggebu, malu dan canggung menjadi satu. Sampai akhirnya mereka tak tahan dengan keheningan dan buka suara.


"Mas."


Ucap mereka bersamaan. Keduanya tertawa.


"Kamu duluan."


"Mas Ray duluan."


Mereka bicara berbarengan lagi. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum.


Ray menggeser tubuhnya dan berjongkok di depan wanita yang kini menjadi istrinya. Diambilnya tangan sang istri dan dikecup dengan lembut.


Cup.


Kini giliran bibir yang terasa hangat dan lembut itu mengecup bibir Medina dengan sekilas.


"Terimakasih sayang, sudah menerima aku sebagai suamimu," ucap Ray dengan bahagia.


"Mari kita saling menyayangi. Mari menerima satu sama lain dengan ikhlas. Mari saling menunjukkan jalan yang benar ketika kita berjalan ke arah yang salah. Mari kita saling mengingatkan ketika kita khilaf dan lupa." ucap Ray dengan sedikit bergetar. Tak pernah Ray merasa seharu dan se-melow ini selama bersama dengan Medina. Tentu saja, karena sekarang Medina sudah menjadi hak miliknya sepenuhnya.


"Terimakasih Mas. Sudah mau menunggu aku selama ini. Terima kasih sudah menerima segala kekurangan Medina. Medina minta maaf jika Medina belum bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri untuk Mas Ray," kata Medina terharu.


"Ssttt ... Mas mencintaimu apa adanya."

__ADS_1


"Pasti sakit sekali ya sayang." Ray mengelus bekas jahitan di perut Medina dari luar baju tidur yang dipakai Medina.


"Sedikit Mas, tapi ...." Medina menggigit bibir bawahnya.


"Iya, kenapa?" tanya Ray.


"Mungkin dalam waktu dekat ini Me belum bisa melayani Mas," kata Medina malu-malu.


" Iya Me, Mas tahu. Dokter kan juga sudah bilang." Ray terkekeh dengan tingkah Medina yang malu-malu.


"Kamu tahu Me? Sembilan bulan aku menunggumu. Dan kini hanya tinggal menunggu kamu membaik. Mas tentu saja tidak keberatan. Kesehatan kamu sekarang lebih penting dari apa pun," jawab Ray.


"Terima kasih ya Mas. Me sangat beruntung mendapatkan suami seperti Mas Ray." Medina memeluk Ray erat-erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Ray.


"Tapi Mas, aku kepikiran dengan perkataan dokter," Medina melepaskan pelukan mereka.


"Mungkin kita belum bisa memberikan adik untuk Adam dalam beberapa tahun, sesuai kata dokter. Aku belum bisa memberi keturunan padamu. Yang merupakan darah dagingmu," kata Medina merasa bersalah.


"Me, Mas nggak suka kamu bicara seperti itu. Jangan pernah katakan itu lagi. Adam adalah putraku. Putra Ray, bukan putra orang lain. Jangan katakan hal itu lagi sayang. Apalagi di depan Adam suatu saat nanti," kata Ray.


"Maafkan aku Mas. Aku hanya merasa semua tidak adil untukmu." Medina menangis di pelukan suaminya.


"Tidak Me, yang aku mau hanya kalian. Kebahagiaanku juga kalian," kata Ray.


"Mengenai keturunan kita. Jika nanti Allah sudah mempercayai kita, tanpa kita minta pun Allah akan memberikan untuk kita Me. Jangan khawatirkan yang tidak-tidak. Dokter saja tidak mengatakan apa pun. Hanya harus menunda kan? Demi kesehatan kamu juga. Kita harus banyak bersabar ya sayang." Ray mengeratkan tangannya yang melingkari tubuh kecil Medina. Ia mencium kening istrinya beberapa kali.


"Jangan pernah ungkit lagi asal-usul Adam sampai kapan pun."


.


.


.


.


.


.


.


.


Saya membaca beberapa komen, yang mengatakan kok ceritanya gini kok begitu. Mohon maklum. Saya hanya manusia biasa yang banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Jadi saya minta maaf dengan segala kekurangan tulisan saya.


Jika terdapat hal yang kurang masuk akal atau bagaimana, saya minta maaf. Karena ini kan murni cerita khayalan penulis.


Hari ini aku update sekali saja ya tapi satu episode hampir 2k. Jangan lupa ya kasih like dan vote ya.

__ADS_1


😘😘😘


Terimakasih.


__ADS_2