
"Wahh ... kamu masak banyak banget sayang," puji Medina.
"Enak-enak kan Me? Menantu kita pandai masak. Beruntung Adam. Bisa gemuk anak kita." Ray ikut memuji.
"Iya Mas. Tak salah kita pilih menantu. The best pokoknya," ucap Medina begitu bahagia. Keempatnya tertawa bahagia.
Seminggu setelah pernikahan, Medina dan Ray sengaja mengunjungi Adam dan Haura. Ingin mengetahui keadaan anak dan menantunya. Dan kini mereka tengah menikmati makan siang yang disajikan menantunya. Medina dan Ray semakin yakin Haura adalah istri terbaik untuk putranya. Mereka bernafas lega melihat kehidupan anak dan menantunya yang terlihat baik-baik saja.
"Ngomong-ngomong kamu mau mengajak Haura honeymoon kemana Dam?" tanya Ray sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Yang kemarin itu kan sudah. Di kampung Haura, itulah honeymoon kami Pa." Adam mengambil segelas orange jus dan meneguknya.
"Mana boleh begitu Nak. Ajaklah Haura ke luar negeri, kemana gitu," nasehat Medina.
"Ehmm, nanti lah Ma. Kita rencanakan dulu. Kalau Adam ada waktu luang, kami akan pergi. Ya kan sayang?"
"Kamu mau kemana sayang? New Zealand? Capetown? Atau New York?" tanya Adam tiba-tiba merangkul pundak Haura dengan mesra. Hati Haura berdesir mendengar panggilan mesra dari Adam, juga dengan rangkulan lelaki itu. Haura bingung harus menjawab apa, ia tak tahu ingin kemana, bahkan ke ibukota pun ia belum pernah.
"Rara ikut kata Mas Adam saja," jawab Haura dengan tersipu.
"Mas rasa New York adalah pilihan yang paling tepat. Benarkan sayang?" Haura hanya bisa mengangguk. Medina dan Ray tertawa, bahagia putranya kini mulai menerima Haura. Haura tersenyum dan tersipu malu. Membayangkan sebuah perjalanan honeymoon yang begitu indah dan romantis.
***
"Kamu tahu siapa yang membuat aku jadi begini? Membuat aku terpaksa memutuskan untuk setuju menikah?" tanya Adam pada seseorang di telepon.
"Kamu ... kalau kamu tak membuangku, tak mungkin aku menikah dengan gadis kampung yang bukan tipeku itu," kata Adam dengan suara yang meninggi.
"Tapi aku hanya emosi sesaat Mas. Karena kamu seorang pengangguran, bagaimana aku bisa menikah dengan seorang yang tak memiliki apa pun untuk menjamin kehidupanku. Maafkan aku Mas."
"Sudahlah Issy. Semua telah berakhir. Aku sekarang sudah menikah."
"No! Kamu hanya cinta aku kan Mas? Katakan! Kamu tak mencintai wanita itu kan? Katakan Mas!"
__ADS_1
"Benar Issy, aku tak mencintainya. Hati ini sudah terlanjur kamu miliki. Tapi ingat Issy, kamu sendiri yang sudah membuangku."
"Aku khilaf Mas. Aku mohon maafkan aku. Aku ingin kembali padamu."
"Tidak bisa Issy. Aku sudah punya istri, tak mungkin kita bersama. "
"Jujurlah dalam hatimu. Aku tunggu di cafe biasa jam delapan malam. Aku akan menunggumu."
Tut tut tut
Panggilan dimatikan oleh Isabella. Adam menghela nafas panjang, ia begitu dilema. Ia masih marah mengingat sikap Isabella. Namun, disisi lain ia merindukan Isabella, merindu untuk mengecup bibir merah milik kekasihnya. Juga rindu merasakan indahnya malam-malam bersama Isabella.
"Mas," panggil Haura dengan lembut. Adam yang sedang melamunkan Isabella menjadi terkejut.
"Apa lagi? Kalau mau masuk ketuk pintu dulu. Jangan asal masuk kamar orang sesuka hati," omel Adam.
"Maaf Mas. Ha-Haura sudah mengetuk pintu. Tapi Mas tak dengar."
"Huh.. Menyebalkan," gumam Adam begitu pelan. Seekor nyamuk pun tak dapat mendengar perkataannya.
"Apa? Luar negeri?" Adam tertawa.
"Kamu kira kamu pantas pergi ke luar negeri? Lihatlah dirimu itu dulu di cermin. Bercerminlah! Perhatikan baik-baik. Pantaskah kamu ke luar negeri? Bahkan jika cermin dapat berbicara, ia akan mengatakan TIDAK. Dengan penampilanmu yang seperti ini? Kamu tak akan pernah pantas ke luar negeri bersamaku. Serius." Wajah Haura yang semula berbinar menjadi pucat pasi. Perkataan Adam benar-benar menyakitinya. Lelaki itu tak hentinya merendahkan Haura.
"Tapi Mas ... bukankah tadi Mas bilang pada Papa dan Mama kalau kita akan pergi honeymoon?" kata Haura dengan suara yang tercekat. Rasanya air matanya akan tumpah mendengar ia dipermainkan oleh suaminya.
"Kenapa tadi Mas sangat baik, sekarang jadi lain begini?" Haura memaksakan kata-katanya yang sulit diucapkan.
"Ck ck ck.. Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh sebenarnya."
"Tadi ada orang tuaku. Jadi aku harus berakting kalau hubungan kita baik- baik saja. Aku harus memperlakukanmu sebaik mungkin. Gila apa aku menunjukkan sikap tak sukaku di depan mereka."
"Huh.. Be smart. Jangan bodoh-bodoh amat dong," lanjutnya.
__ADS_1
"Ja-jadi semua hanya bohong? Hanya akting?" tanya wanita itu begitu terluka.
"Iya.. Kau pikir? Aku menyukaimu? Begitu? Kau pikir kita benar-benar akan pergi honeymoon, begitu? Jangan mimpi," ucap Adam kasar. Ucapan Adam begitu menyakiti hati Haura.
Haura hanya bisa terdiam, Adam melepaskan jam tangannya dan meletakkannya di laci. Setelah itu ia meninggalkan Haura menuju kamar mandi tanpa perasaan.
Haura yang masih berada di kamar Adam lemas seketika. Tak Menyangka jika semua kata-kata suaminya begitu tajam menusuk hati. Sanggupkah ia hidup dalam rumah tangga yang seperti itu. Padahal, ini baru awal pernikahan mereka. Dan semua sudah terasa sesak dan menyakitkan.
***
"Jadi, apa mau kamu?" tanya Adam sedikit ketus, tak mau direndahkan lagi. Saat ini dia dan Isabella tengah bertemu di sebuah kafe.
"Aku mau kamu ceraikan wanita itu Mas. Dan kita menikah," ucap Isabella sangat enteng. Tak mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Adam.
"Nggak bisa Issy. Aku akan kehilangan segalanya jika aku melepaskan istriku. Kamu tahu sendiri, semua akan hilang, jabatanku, hartaku, jika mama dan papa sampai tak puas hati," kekeh Adam.
"Apakah kamu tega meninggalkan aku sendiri? Apakah kamu rela aku jatuh ke pelukan lelaki lain? Kalau benar begitu, biarlah aku pergi mencari lelaki yang sanggup mengobati luka hatiku." Isabella mengusap air mata di pipinya kemudian bangkit. Ia ingin pergi dari tempat itu.
Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah telapak tangan besar menahan lengannya yang kecil. Tak lama ia ditarik ke dalam pelukan hangat pria yang ia rindukan. Gadis itu tersenyum miring. Misinya berhasil. Cara halus lebih efektif untuk menakhlukan hati Adam.
"Jangan pergi lagi Issy. Aku begitu merindukanmu hingga dada ini terasa sangat sesak. Tapi kamu begitu kejam Issy. Kamu mencampakkanku waktu itu."
"Maaf Mas, saat itu aku hanya emosi. Dan setelah kamu pergi aku menyesal. Sungguh sangat menyesal." Isabella berusaha memberi alasan yang tepat.
"Maukah kamu menungguku?"
"Tapi sampai kapan Mas? Sampai kapan kita harus menjalani hubungan diam-diam seperti ini."
"Sabarlah Issy.. Kalau bisa secepat mungkin aku akan berpisah dengan wanita itu."
"Maukah kau berjanji padaku?" tanya Isabella.
"Iya sayang, katakan!"
__ADS_1
"Jangan pernah menyentuh wanita itu."
"Tenanglah Issy, kami bahkan tidak satu kamar. Tak ada yang mampu membangkitkan gairahku kecuali kamu, Issy-ku seorang."