Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Pertama Kali


__ADS_3

Baru saja Ray masuk ke dalam kamar mandi, ia membuka pintu kembali dan melongokkan kepalanya keluar. "Lima menit, tunggu Mas ya?"


Perkataan Ray menyadarkan Medina bahwa hari ini akan terjadi sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang sudah ia dan Ray tunggu sejak lama. Karena semenjak mereka menikah, Mereka hanya sebatas berciuman dan berpelukan. Karena kondisi Medina yang belum memungkinkan untuk melayani Ray. Jantung Medina mendadak ingin meloncat keluar. Ditutupi wajahnya yang memerah dan bergumam seorang diri. Merutuki pikiran macam-macam yang kini memenuhi kepalanya.


Suara gemericik air shower terdengar dari dalam kamar mandi membuat Medina semakin tak sabar. Medina menunggu dengan Ray keluar dengan gelisah. Ia juga takut jika baby Adam terbangun. Sedangkan ia berada di kamar ini.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Benar-benar hanya lima menit waktu yang dibutuhkan Ray untuk membersihkan diri. Laki-laki itu keluar dengan bertelanjang dada. Hanya sebuah handuk berwarna putih yang menutupi tubuh bawahnya.


Ray terlihat lebih segar. Bulir-bulir air dari rambutnya sedikit menetes di dahi dan wajahnya. Menambah kesan maskulin dan seksi lelaki itu.


Ray mendudukkan diri di samping Medina. Diraihnya tangan sang istri, dikecupnya beberapa kali. "Aku ingin meminta hakku sayang, apa kamu sudah siap?"


Medina mengangguk kecil. Sungguh ia sangat malu. Suaminya nyaris tidak berpakaian dan dirinya juga hanya mengenakan bathrobe. Membuat detak jantungnya semakin menggila.


"Tapi kalau Adam bangun, bagaimana Mas?" tanya Medina menggigit bibir bawahnya karena gugup.


"Tidak akan, anak kita tahu Papanya sedang ingin bersama dengan Mamanya," kata Ray tersenyum.


Ray segera mematikan lampu kamar itu, menggantikannya dengan lampu meja yang tidak terlalu terang. Terlihat wajah mereka di bawah cahaya temaram itu. Dengan perlahan direbahkannya tubuh medina. Pelan-pelan Ray membuka bathrobe milik istrinya. Medina sungguh malu karena Ray sekarang sudah melihat seluruh bagian tubuhnya. Refleks Medina meletakkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Jangan ditutupi. Semua bagian dari dirimu adalah milikku," ucap Ray yang sudah sepenuhnya diselimuti kabut gairah.


Ray menyentuh bekas luka jahitan itu. "Apakah ini masih sakit?" Medina menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Maka izinkan aku untuk menyentuhmu sayang." Ray memulai dengan mengecup kening Medina.


"Pelan-pelan ya Mas. Me takut," kata Medina sedikit bergetar.


"Tentu sayang, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku tahu ini pertama kalinya kamu melakukannya dengan kesadaranmu. Dan ini ... juga pertama kalinya untukku Me. Tapi aku akan berusaha untuk tidak membuat kamu kesakitan," kata Ray jujur. Ray ingin menenangkan Medina. Dan ingin membuat wanita itu percaya sepenuhnya padanya.


Medina membelalakkan mata tak percaya karena ucapan Ray. Suaminya bilang baru pertama kali melakukannya. Di zaman yang seperti ini, masih ada lelaki yang seperti Ray. Padahal Ray sudah sedari kecil hidup di negara bebas ini. Tapi ia mengatakan ini pertama kalinya, membuat Medina semakin menghormati dan mencintai laki-laki itu.


Ray menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Ray mulai memberikan kecupan, sedikit pemanasan agar wanita itu tidak canggung dan kaku. Agar ketika ia melakukannya nanti Medina tidak akan kesakitan. Medina yang juga sudah diselimuti kabut membalas perbuatan suaminya. Sesekali tangan besar itu menangkup bagian indah itu dan memulai permainan tangannya dengan lihai. Menambah rasa yang membuat mereka berdua melambung tinggi.


"Lakukanlah," ucap Medina berkaca-kaca. Medina sedikit menitikkan air mata. Entah karena rasa sakit itu atau karena ia begitu terharu telah berhasil menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ray menuruti perkataan istrinya. Ia bergerak perlahan, agar istrinya tidak kesakitan. Lama-kelamaan rasa sakit yang dirasakan Medina menghilang digantikan rasa asing yang baru pertama kali ini ia rasakan. Benar, karena ia tak mengingat apapun ketika Gibran melakukannya dulu.


Beberapa lama kemudian, hanya terdengar suara alunan cinta dari mulut keduanya. Sore yang begitu indah, sebanding dengan penantian yang Ray lakukan selama ini. Ray masih melaju, karena tempat tujuannya masih jauh. Sampai kesekian kalinya tubuh Medina bergetar, Ray juga merasakan ia sudah akan sampai di tujuannya. Dan akhirnya Ray meluapkan segalanya yang sudah ia tahan sekian lama.


Keduanya terengah-engah masih dalam posisi yang sama. Ketika menyadari bahwa ada tubuh kecil yang menggeliat di bawahnya, Ray segera menarik diri dan berbaring di samping sang istri. Ray menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua. Ia tersenyum kemudian memeluk dan mengecup kening sang istri beberapa kali.


"Terimakasih sayang," ucap Ray mendekap erat tubuh istrinya. Medina menganggukkan kepala malu. Begitu malu ketika ia mengingat dirinya yang begitu menikmati apa yang Ray berikan sampai tak henti mengalunkan nada cinta.

__ADS_1


"Kenapa Mas Ray melakukan ini?" tanya Medina membenamkan wajah di dada bidang suaminya. Sebenarnya ia sangat malu menanyakannya. Namun, rasa penasaran lebih menguasai pikirannya.


"Hei, kamu nggak tahu sebabnya?" tanya Ray menggoda Medina yang sangat polos.


"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya," jawab Medina sebal. Ray tertawa.


"Karena aku menjaga kamu sayang. Karena aku tahu kamu belum menggunakan alat kontrasepsi apa pun. Kamu ingat apa yang dokter katakan? Kamu tidak boleh hamil dalam waktu dekat ini," kata Ray mencubit hidung Medina dengan gemas. Wanita yang sangat polos itu selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.


"Tapi seandainya Me hamil pun, Me nggak papa kok Mas," kata Medina.


"Hushh ... aku nggak akan membuat kamu menanggung resiko besar. Lebih baik kita fokus saja menjaga dan membesarkan Adam kita," kata Ray memeluk Medina posesif.


"Adam?"


Keduanya saling pandang dan menyadari satu hal. Mereka terlalu asyik berada di kamar itu dan melupakan putra mereka yang sendirian di kamar sebelah.


Ray dan Medina mengurai pelukan. Dengan segera mereka memakai bathrobe dan berlari ke kamar sebelah. Medina tak peduli dengan badannya yang lengket karena keringat. Medina begitu khawatir dengan keadaan putra mereka yang sempat terabaikan.


Ketika sampai di kamar, mereka bernafas lega melihat baby Adam masih terlelap dalam mimpinya. Ray dan Medina saling pandang lagi dan tertawa dengan apa yang sudah terjadi.


"Sebaiknya kamu mandi dulu Me. Biar Mas jaga Adam. Setelah itu baru Mas yang mandi," ucap Ray sedikit berbisik takut mengusik tidur Adam. Medina menuruti perkataan Ray dan segera masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Ray menunggu Medina keluar dari kamar mandi sembari memandangi wajah putranya. Sesekali ia mengecup pipi gembul itu hingga Adam menggeliat geli terkena kumis tipis Ray. Kini kebahagiaan yang Ray dapatkan lengkap sudah.


__ADS_2