
"Sayang? Kamu nggak papa?" tanya Ray setelah Medina membuka mata. Rasanya lega, melihat istrinya yang sudah siuman.
"Aku ada di mana, Mas?" tanya Medina mengedarkan pandangan. Hingga ia dapat menangkap bayang tangannya yang sudah dipasangi selang infus.
"Kamu di rumah sakit sayang. Kamu pingsan di butik Kia," jawab Ray.
Medina mencoba duduk walaupun masih sedikit berkunang-kunang. Ray membantu Medina bangun dan meletakkan bantal untuk mengganjal punggung Medina agar istrinya merasa nyaman.
"Kalau masih pusing jangan dipaksakan."
"Ahh ...." Medina memegang kepalanya yang masih sakit. Ia mengingat kembali kejadian di butik. Ketika ia merasakan sakit kepala yang teramat dan pandangannya yang tiba-tiba menggelap. Dan setelah itu ia tak mengetahui apa yang terjadi.
"Maaf." Satu kata terucap dari bibir Medina.
"Lho kok minta maaf?" tanya Ray keheranan.
"Me selalu membebani Mas Ray," sesal Medina.
"Me selalu membuat Mas Ray khawatir," sambungnya.
"Sudahlah sayang, Mas nggak merasa kamu menjadi beban. Mas malah kecewa kalau kamu menyembunyikan kesakitanmu sendiri seperti ini. Mas takut kamu kenapa-kenapa," kata Ray risau.
"Mulai sekarang, cobalah untuk selalu terbuka Me. Mulai sekarang, kamu nggak boleh banyak pikiran dan kecapekan. Karena kamu sekarang nggak sendiri sayang. Ada yang harus lebih kita perhatikan," kata Ray tersenyum.
"M--maksud Mas Ray?" tanya Medina kebingungan.
"Ada satu nyawa lagi yang kini tinggal dan tumbuh besar di sini." Ray menggenggam tangan Medina dan meletakkannya di perut sang istri.
"Mm-Maksudnya? Me hamil Mas?" tanya Medina tak mampu membendung lagi air matanya.
"Iya Me. Akhirnya Allah memberikan rezeki untuk kita. Akhirnya doa-doa kita terjawab. Ada adik Adam yang sedang tumbuh di sini. Adam akan menjadi seorang kakak. Dan Mas juga akan menjadi ayah dari dua orang anak kita. Mas selalu berdoa agar kamu dan bayi kita selalu sehat. Dan besar harapan mas agar Allah membukakan hati Om Ilham agar mau mengembalikan Adam kita. Agar kebahagiaan kita menjadi lengkap." Ray memeluk erat Medina dan ikut menangis.
__ADS_1
"Iya Mas, Amiinn ...."
Mereka menangis bahagia karena akan ada anggota keluarga yang baru. Buah hati yang sudah dinantikan bertahun lamanya. Juga tangis karena sakit menanggung rindu yang tiada kesudahan. Buah hati yang sudah dilahirkan dan dirawat sepenuh hati, telah di renggut oleh kakeknya begitu saja.
Kuala Lumpur, Malaysia
Hiruk pikuk kota besar itu hanya menambah pusing kepala dan kesedihan bocah itu. Cantiknya Twin Tower menjulang tinggi di tengah kota kini menjadi pemandangan yang membosankan untuk bocah itu. Kota besar yang dapat menyediakan apa pun yang ia mau, terasa tak berarti lagi.
Berbagai toko mainan sudah dikunjungi dengan opanya. Berbagai wahana permainan sudah ia jelajahi. Dari Lego Land sampai Genting Highland sudah ia coba. Tak satu pun yang dapat menghibur dirinya. Tak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Segala yang ia minta selalu Ilham turuti. Namun hatinya hampa, sedikit pun tak merasa bahagia.
Adam POV
Aku tak menyangka hari itu menjadi awal kehidupanku yang kelam. Hari itu mama telat datang menjemputku. Aku mulai bosan menunggu mama. Aku sedikit marah karena tak biasanya mama selambat ini. Perutku sudah terasa lapar, dan tenggorokanku terasa sangat kering karena kehausan. Tiba-tiba opa datang dan mengatakan bahwa ia menjemputku atas persetujuan mama. Awalnya aku ragu, namun akhirnya karena bujuk rayu opa aku menuruti ajakan opa untuk pulang bersamanya.
Namun, aku menyadari ada yang janggal. Opa tak membawaku pulang ke rumah. Opa malah membawaku ke bandara. Aku cemas, sebenarnya opa mau membawaku kemana? Aku memprotes pada opa, namun dengan segala daya upaya opa berhasil memperdayaku.
Opa bilang, aku harus menemaninya jalan-jalan agar aku bisa kembali ke rumah. Aku mengira, jalan-jalan itu hanya dalam waktu beberapa jam. Namun ternyata semua hanya tipuan. Sudah setahun lebih opa menahanku di negara orang ini, tanpa ada niat mengembalikanku pada mama papa. Ingin kabur dan pulang, tapi bagaimana caranya? Aku hanya anak kecil yang tak tahu jalan dan tak tahu bagaimana caranya aku bisa pulang. Hatiku sedih, merindukan mama dan papa. Tapi, karena ancaman opa yang bilang tak akan memulangkan aku jika aku nakal. Akhirnya aku hanya bisa menjadi anak baik dan penurut.
Segala tempat rekreasi sudah aku kunjungi bersama opa. Dengan tujuan, agar aku tak merengek minta pulang. Opa mengajakku ke Lego Land, tempat yang di idam-idamkan oleh para kanak-kanak. Tetapi sedikit pun aku tak berminat. Pun dengan Genting Highland yang indah layaknya negeri di atas awan. Dengan pemandangan yang indah dan udara sangat sejuk, aku tak merasakan keindahan tempat itu sedikitpun. Aku lebih merindukan dan mendambakan suasana rumah besar oma buyut yang luas dan penuh canda tawa dengan mama papa.
Berbagai mainan mahal, opa belikan khusus untukku. Bermacam-macam, dari mobil-mobilan yang harganya sangat mahal sampai robot-robotan yang bahkan tak ada seorang temanku yang punya. Namun, sebentar saja aku memainkannya sudah bosan. Aku lebih menikmati bermain bola dengan papa atau om Alif.
Apartemen opa sangat mewah dengan segala kecanggihannya. Semua serba ada. Seakan aku seorang pangeran, hanya tinggal menjentikkan jari semua siap sedia. Namun, aku tak sedikit pun merasa senang tinggal bersama opa. Aku merindukan kesederhanaan kehidupanku dengan papa. Yang jika aku menginginkan sesuatu maka harus berusaha dulu.
Perhatian opa kepadaku tak ada kurangnya. Beliau sangat baik dan memanjakan aku. Selalu menuruti permintaanku bagaimanapun caranya. Ya, kecuali permintaanku untuk pulang.
Aku bicara pada opa, kuungkapkan semua kerinduanku pada mama dan papa. Ku katakan betapa aku ingin pulang ke rumah. Tak kusangka opa bilang mama dan papa sudah melupakanku. Aku sedikit berpikir dan kecewa. Aku jadi terus berpikir. Jika benar mereka mencariku, tentu mereka pasti sudah menemukanku.
Tapi rasa rindu ini lebih mendominasi daripada rasa kecewa. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk memberontak. Aku tak mau mandi, tak mau makan juga tak mau sekolah. Aku merengek minta pulang, mmbuat opa kewalahan menghadapi sikapku. Hingga opa berjanji untuk memulangkan aku. Opa bilang lebaran ini kami akan pulang ke Indonesia. Itu artinya, sebelas bulan lagi aku akan bertemu dengan orang tuaku. Aku bahagia. Aku berjanji akan jadi anak baik dan penurut agar opa menepati janjinya. Semoga kali ini opa akan menepati janjinya, atau aku akan memberontak dan nekat kabur. Aku ingin pulang bagaimanapun caranya.
Adam POV End
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Hahh.. Akhirnya aku muncul kembali. Semoga readers nggak bosan 😊😊😊
Ada yang nunggu nggak kelanjutan kisah ini?
Kisah yang mungkin membosankan?
Kemarin author tidak up karena tak dapat feel, lagi bad mood.
Untuk yang menantikan maaf ya.
Jangan lupa, klik like and favorit
Berikan komentar dan vote agar aku bersemangat melanjutkan tulisanku
Atas dukungannya terimakasih.
__ADS_1