
"Saya terima nikahnya Haura binti Ibrahim dengan mas kawin dua puluh gram emas dibayar tunai," ucap Adam dengan tatapan datar. Semuanya hampa, tak ada rasa berdebar ataupun bahagia di dalam hatinya.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah." Para tamu yang menjadi saksi pernikahan sederhana itu menjawab serentak.
Doa-doa dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Semua berharap pernikahan kedua insan itu akan kekal hingga akhir hayat. Menjadi keluarga yang sakinah.
Hanya sebuah akad nikah sederhana, sesuai permintaan Haura. Gadis itu tak mau merayakan pernikahannya dengan bermegah-megah. Kerabat, keluarga dan sahabat yang datang. Sudah cukup.
Setelahnya Adam menyelipkan sebuah cincin di jari manis istrinya, simbol hak milik. Medina menatap putranya yang kini menjadi seorang suami, menangis haru. Begitu juga Ray, berusaha untuk tidak menangis. Mereka begitu lega, pernikahan berjalan dengan lancar.
Keira juga datang dengan terpaksa. Duduk disamping Mikha. Mikha menguatkan hati Keira yang begitu sedih, setelah dicampakkan kakaknya. Keira menangis, sudah kalah dari gadis desa itu. Yang secara penampilan, kalah jauh darinya. Apalagi soal pendidikan dan harta, Haura bukan lawan sebanding. Tapi nyatanya, gadis desa itu yang berhasil mendapatkan gunung es dingin, Adam.
Arif dan Kia juga datang, mereka ikut berbahagia. Kekecewaan dan rasa sakit sudah dilupakan, bagaimana pun mereka tak dapat memaksakan perasaan Adam. Andai saja Arif dan Kia tahu, jika pernikahan Adam dan Haura pun dipaksakan. Entah bagaimana reaksi mereka.
Setelah akad nikah selesai, keduanya meminta restu kepada kedua orang tua. Haura menangis, karena harus meninggalkan ayahnya dan ikut suaminya ke kota. Namun, Ibrahim meyakinkan Haura bahwa ia baik-baik saja. Ibrahim berkata jika ia bahagia, akhirnya Haura menjadi seorang istri. Tak mempermasalahkan jika putrinya harus tinggal bersama suaminya.
Sementara itu di pinggir pantai, seorang pemuda tampan itu tengah menangis pilu. Meratapi nasibnya yang begitu malang. Menangisi ketidakberdayaannya sebagai seorang lelaki. Ia harus kehilangan cintanya, wanita pujaan hatinya kini menjadi istri orang lain. Tak ada lagi celah untuknya masuk. Hilang sudah semangat hidupnya. Semua usahanya untuk menjadi orang yang sukses sia-sia. Tujuan hidupnya sudah menghilang.
Berbeda dengan Alvian, seorang wanita yang cantik itu kini tengah mengamuk. Ia membanting semua barang-barang yang ada di meja riasnya. Berbagai alat kecantikan dan parfum mahal berserakan di lantai dalam kondisi setengah hancur. Kamar yang semula rapi kini menjadi kacau dan berantakan. Wanita itu adalah Isabella, ia baru mendengar kabar dari salah seorang teman Adam, jika lelaki itu kini sudah menikah dengan orang lain. Isabella murka, harusnya ia yang mendampingi Adam di pelaminan, karena ia adalah wanita yang dicintai Adam. Ia sangat yakin, hanya ia yang ada di hati lelaki itu. Namun nyatanya kini ada wanita lain yang lebih beruntung dibanding dirinya.
***
Tiga hari setelah pernikahan, Adam membawa Haura ke rumah baru mereka, hadiah dari Ray. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah yang akan Haura tinggali. Rumah yang begitu megah bak istana. Dengan halaman luas, seluas tanah lapang dikampungnya.
Haura berdecak kagum, melihat rumah suaminya yang sangat indah dan megah. Haura tak menyangka jika suaminya sekaya itu.
Adam segera mengambil koper miliknya dari bagasi mobil. Haura ikut mengambil dua tas tenteng miliknya dan mengangkatnya sendiri. Karena Adam tak sedikit pun berniat untuk membawakannya.
__ADS_1
Ia masuk ke rumah yang besar dan indah itu dengan terkagum-kagum. Bahkan ruang tamunya saja lebih besar dari rumahnya. Dengan perabotan yang canggih pula.
Adam berjalan terlebih dahulu. Ia menarik kopernya untuk dibawa masuk dengan kesal. Haura mengikut suaminya dari belakang, masih terpana dengan rumah yang akan ditinggalinya. Tak memperhatikan raut wajah Adam yang tak suka.
Adam melepaskan sepatunya ke sembarang tempat. Wajahnya cemberut, tak sedikit pun bersikap ramah pada Haura.
"Assalamualaikum," ucap Haura ketika memasuki rumah itu. Ia segera mengambil sepatu Adam dan meletakkan di tempatnya.
Dengan langkah cepat Haura membuntuti Adam yang membawa kopernya kelantai atas. Adam meletakkan koper begitu saja dan duduk di sofa ruang keluarga. Segera ia mengambil remote AC, dan menyalakannya. Adam merasa kepanasan setelah mengangkat koper yang cukup berat.
"Mas, apakah hanya kita yang akan tinggal di rumah sebesar ini?" tanya Haura memandang ke sekeliling.
"Iya. Kenapa? Jangan harap aku akan membayar pembantu untuk mengurus rumah. Untuk apa aku menjadikanmu istri kalau harus menyewa pembantu lagi?" kata Adam ketus, ia salah paham dengan pertanyaan Haura. Padahal Haura hanya takjub karena harus tinggal di rumah sebesar itu berdua dengan suaminya saja.
"Bukan begitu maksud Rara, Mas." Haura ingin menjelaskan namun perkataannya langsung dipotong oleh Adam.
"Buka sajalah kerudung kamu itu," perintah Adam.
"Isshhh.. Buka sajalah. Nggak nyaman melihat penampilan kamu yang begitu. Membosankan. Bukannya mau aku apa-apakan. Lagipula kita sudah sah jadi suami istri. Halal, buka saja," omel Adam. Haura tersenyum. "Ih, malah senyum-senyum," gumam Adam setengah berbisik.
Haura segera membuka kaitan jarum di kerudungnya dan menarik lepas kerudung yang menutupi rambutnya. Tak lupa ia menarik rambutnya yang semula digelung. Hingga rambutnya yang panjang tergerai terlihat cantik dan menawan. Sepersekian detik Adam terpukau oleh kecantikan Haura, hingga ia mengingkari kecantikan Haura. Adam menganggap Haura kampungan dan udik.
Adam bangkit dan menoleh ke arah Haura. "Ini kamarku, dan kamar kamu ada di atas. Jangan harap kita tidur satu kamar." Adam menunjukkan jika kamar yang berada di lantai dua miliknya dan kamar Haura di lantai tiga. Haura terkejut, ia mengira jika mereka akan satu kamar. Karena ia dan Adam suami istri. Ternyata ia salah. Sama saja dengan masa gadisnya, ia tidur sendirian.
Haura semakin yakin, jika suaminya tak menginginkan kehadirannya. Terbukti sampai hari ketiga pernikahan mereka Adam tak berniat untuk menyentuhnya.
"Mas, Mas Adam sudah menghubungi Mama dan Papa?" tanya Haura lagi.
"Kamu ini maunya apa sih? Sudahlah, itu akan jadi urusanku. Mau hubungi Mama atau tidak."
__ADS_1
"Tapi setidaknya kita kasih kabar. Kalau kita sekarang sudah di rumah baru. Agar Mama dan Papa tidak khawatir," kata Haura.
"Kamu ini berisik sekali ya? Sudah ... jangan cerewet. Mama dan Papa menjadi urusanku. Ihh aku capek, kamu tahu tidak?" ucap Adam kasar. Haura menjadi sedikit tersinggung oleh sikap Adam yang terlihat tak menyukainya.
"Iya Rara tahu Mas capek. Maaf ya Mas. Bolehkah Haura bertanya? Mas Adam nggak suka sama Haura ya?" tanya Haura lemah lembut, masih berusaha sabar menghadapi suaminya.
"Hahahaha. Menurut kamu? Apa yang harus aku sukai? Apa yang harus tidak aku sukai? Pusing aku lama-lama bicara sama kamu. Sudah jangan banyak tanya!" Adam membuka pintu kamarnya dan masuk meninggalkan Haura yang terluka. Baru tiga hari mereka menikah, Adam sudah menunjukkan sikap tak suka padanya. Namun, ia harus bertahan demi ayahnya. Haura tak ingin ayahnya sedih.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huft.. pas eps 100 pas pernikahan Adam.
.
Readers, kalian bosan nggak sama ceritaku?
__ADS_1
Rasanya kadang aku pengen berhenti menulis deh.
apa aku tamatin gini aja ya?😥😥😥