Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Salah Asuhan


__ADS_3

Hari sudah sore, waktu sudah menunjukkan pukul empat petang. Keadaan sekolah menengah atas itu sudah lengang. Hanya ada beberapa anak yang masih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan juga anak kelas tiga yang mendapatkan pelajaran tambahan. Kira-kira tinggal dua puluh persen dari jumlah siswa yang masih berada di area sekolah.


Namun lain dengan suasana di gudang belakang sekolah itu yang sedikit riuh. Belasan anak laki-laki berkumpul di tempat itu. Entah apa yang mereka lakukan di tempat yang kumuh dan kotor itu. Mereka masuk diam-diam ke ruang yang menyesakkan itu, setelah berhasil menyuap satpam sekolah.


Asap rokok mengepul di udara, memenuhi ruangan yang tak terpakai itu. Menggelapkan pandangan layaknya kabut tebal. Bau rokok dan alkohol menyebar kemana-mana, memenuhi indera penciuman. Di sebuah meja berjajar beberapa botol minuman keras . Semua anak yang berkumpul di tempat itu, sudah berada di ambang kesadarannya. Ada yang sudah mabuk dan ada yang sudah nge-fly. Benar, mereka adalah anak-anak yang salah pergaulan.


Di usia mereka yang masih belia, mereka sudah kecanduan alkohol. Bahkan, narkoba. Sabu, ekstasi, sudah biasa bagi mereka.


Adam Haikal Azzami, termasuk dalam golongan anak-anak tersebut. Entah bagaimana jadinya anak manis itu berubah 180 derajat. Menjadi anak kurang ajar dan pembangkang.


Flashback on


Hari kelulusan SMP adam menjadi hari paling menyedihkan baginya. Semua anak didampingi oleh orang tua mereka. Sedang ia, orang tuanya masih segar bugar. Namun, tak satu pun yang datang. Rasanya Adam ingin menangis, meratapi nasibnya yang malang dan begitu pilu.


Memang kedua orang tuanya tak dapat di salahkan, karena ia sendiri yang menolak mereka. Setiap Ray dan Medina datang ke rumah Ilham. Ia tak pernah mau menemui mereka. Puluhan kali ibunya datang dengan menangis, ia mengacuhkannya. Hanya mampu memandang diam-diam dari lantai atas. Ia terlalu pengecut untuk menemui ayah ibunya dan mengetahui kenyataan bahwa ia tak diinginkan.


Ia datang menghadiri acara kelulusan seorang diri, Opa Ilham juga terlalu disibukkan dengan pekerjaannya walau usianya sudah senja. Adam memahami kalau semua dilakukan untuk dirinya, cucu semata wayangnya.


"Betapa menyedihkannya aku. Lihatlah mereka bersama orang tuanya. Lulus dengan nilai pas-pasan namun mereka terlihat bahagia."


"Dan lihatlah diriku. Aku menjadi lulusan terbaik. Bahkan tertinggi di kota ini. Namun, rasanya semua yang aku lakukan selama ini sia-sia. Juara satu, Medali, piala, untuk siapa? Tak ada yang akan memujiku. Tak ada yang *membanggakanku. Lulus dengan nilai tertinggi, tak sedikit pun membuat hatiku bahagia. Tak ada seorang pun yang datang dan mengucapkan selamat. Tak ada yang memelukku dan bilang Aku bangga padamu **Nak***," gumam Adam dalam hati.


Rasanya kedua matanya memanas melihat kemesraan teman-temannya dan orang tuanya. Ia merasa sangat iri. Rasanya kedua sudut matanya sudah siap menganak sungai.


Hingga ketika ia memasuki SMA, segalanya berubah. Ia sangat frustasi akan kehidupannya yang membosankan dan menyedihkan. Tak pernah lagi bocah itu belajar, karena tak akan ada seorang pun yang akan memujinya ketika nilainya bagus. Ia hanya pergi sekolah sesuai perintah opanya tanpa tujuan yang jelas. Anak itu benar-benar hilang arah.


Adam yang terbiasa dimanjakan Ilham menjadi semakin nakal dan membangkang. Hal yang dulu sangat ditakutkan oleh Medina kini betul-betul terjadi. Adam menjadi anak yang tak bisa di atur.


Bukan hanya itu saja. Adam sering di skors karena terlibat dengan perkelahian dengan temannya. Membuat Ilham semakin pusing setiap kali dipanggil ke sekolah.

__ADS_1


Dan yang terparah, ia mudah terkena rayuan temannya. Dengan iming-iming akan mendapatkan ketenangan, temannya membujuk Adam agar ikut mengkonsumsi barang haram tersebut. Adam yang masih sangat labil tergoyahkan. Hingga ia salah pergaulan.


Sampai saat ini, setengah tahun sudah ia terjerat dengan alkohol dan obat-obatan terlarang. Kurangnya perhatian Ilham membuat Adam merasa bebas. Tak ada yang marah, tak ada yang mengawasi, juga tak ada yang akan menegur. Ia merasa berada di atas awan.


Flashback off


Tiba-tiba pintu gudang terbuka lebar, setelah didobrak secara paksa. Dua orang guru laki-laki masuk ke ruangan pengap tersebut.


Mereka terkejut dan sangat marah melihat anak didiknya tergolek karena mabuk dan sebagian teler.


"Astagfirullahaladziim," guru olahraga itu mengelus dada karena melihat anak didiknya yang salah pergaulan.


"Mari pak, kita bawa ke ruang UKS," ajak guru piket yang berjaga di UKS.


Dengan susah payah mereka membawa para murid ke ruang UKS. Karena jumlah mereka yang terlalu banyak akhirnya mereka dibaringkan dilantai yang sudah diberi matras.


Setengah jam kemudian orang tua mereka sudah menjemput. Pak guru menjelaskan semua dengan detail, semua orang tua sangat shock, tak menyangka anaknya salah pergaulan.


Pak Guru meminta orang tua mereka agar membawa anak- anak mereka ke dokter untuk menjalani pengobatan sebelum semuanya lebih jauh. Pak Guru juga meminta agar mereka mengawasi anak-anak mereka secara intensif.


Para orang tua meminta pihak sekolah untuk memberikan ampunan. Mereka berharap agar anak mereka tak dikeluarkan dari sekolah.


Pak Guru menimbang, ia kasihan jika anak-anak itu harus putus sekolah. Maka Pak Guru memberikan kesempatan lagi dan berjanji tidak akan melapor ke kepala sekolah. Mereka bernafas lega.


Hingga mereka membawa pergi anak-anak mereka. Adam masih tergeletak tak berdaya. Opanya tak juga datang, membuat guru olahraga itu iba pada bocah itu. Ia menghubungi opa Adam lagi. Baru setelah setengah jam opa Adam menjemputnya. Pak guru menjelaskan segalanya.


"Pak, sebaiknya anda lebih memperhatikan cucu anda. Kenakalan Adam sudah di ambang batas wajar. Jika Adam melakukan kesalahan lagi, kami tidak dapat menjamin cucu anda bisa tetap belajar di sekolah ini," kata Pak guru menjelaskan.


"Anda tak tahu siapa saya? Saya donatur terbesar di sekolah ini. Dan anda berani-beraninya mengancam saya?" ucap Ilham tak terima.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya tak bermaksud seperti itu. Tapi saya rasa cucu anda butuh perhatian lebih. Mohon anda lebih memperhatikan dia."


"Aku bosan setiap hari harus ke sini untuk mengurus masalah sepele seperti ini. Mulai sekarang, jika ada apa-apa hubungi saja orang tuanya. Saya akan mengirimkan kontak orang tuanya kepada anda."


"Dasar anak tak berguna, membuat malu saja."


"Guh, gendong bocah ini. Aku tunggu di mobil."


Pak guru menggelengkan kepala melihat keangkuhan Ilham. Dalam hati ia merasa sangat kasihan pada Adam.


"Mungkin aku harus menghubungi orang tuanya demi anak ini," gumam Pak Guru dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sedih.

__ADS_1


__ADS_2