Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Ulang Tahun Mikha


__ADS_3

"Haura."


"Elsa."


"Ya ampun, rindunya. Bagaimana kabar kamu El?" tanya Haura.


"Beginilah Ra, aku baik. Sangat baik." jawab Elsa tersenyum riang. Ia begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya.


"Mari kita duduk," ajak Elsa.


Mereka berdua kini tengah duduk di sebuah kafe di kota itu. Setelah saling menghubungi mereka berjanji untuk bertemu. Keduanya saling merindukan, karena sudah sekitar setengah tahun tak berjumpa. Tak terasa Pernikahan Adam dan Haura sudah menginjak bulan yang ke-enam.


"Kamu sendiri bagaimana Ra? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Elsa seolah tahu segalanya. Haura terpaksa mengangguk, tak ingin menunjukan aib rumah tangganya.


"Ra ... benarkah kamu bahagia?" tanya Elsa hati-hati.


"Iya El. Tentu."


"Jangan bohong Ra. Aku tak semudah itu kamu bohongi. Ra, sebenarnya ...."


"Sebenarnya aku melihat suamimu sering menemui rekanku sesama model. Karena kami satu agency," kata Elsa terpaksa mengatakan segalanya.


"Isabella." Satu nama terucap dari bibir Haura.


"Jadi kamu sudah tahu?" tanya Elsa.


"Iya El, aku tahu."


"Astagfirullah. Maafkan aku Haura. Aku tak bermaksud untuk ikut campur dalam rumah tanggamu dan membuat kamu sedih. Kamu tahu sendiri, kita tumbuh bersama dari kecil. Aku hanya tak ingin kamu menderita. Maaf ya Ra."


"Sudahlah El. Nggak papa. Nyatanya memang begitu. Aku bukan wanita yang Mas Adam inginkan."


"Sabar ya Ra. Andai saja kamu jadi dengan Alvian, pasti tak akan jadi begini Ra," ucap Elsa sedih.


"Kamu tahu Ra? Sebenarnya dulu Alvian hanya menunggu waktu yang tepat untuk melamarmu. Sayang, hubungan kalian harus kandas. Dan kamu harus menikah dengan orang seperti Adam."


"Sudahlah El, masalalu biarkan berlalu. Dan sejahat-jahatnya Mas Adam, dia tetap suamiku El. Aku harus menghormatinya."


"Tapi aku yakin, kamu masih mencintai Vian kan Ra?" tanya Elsa.


"..........."


Haura bungkam, tak sanggup menjawab pertanyaan Elsa. Karena pada kenyataannya ia belum bisa melupakan Alvian sepenuhnya. Bagaimana ia bisa belajar mencintai Adam, jika sikap lelaki itu begitu buruk padanya.


***


Haura sudah memakai baju yang layak dan memoles wajahnya. Malam itu, mereka berencana menghadiri pesta ulang tahun Mikha.


Mereka segera menuju rumah Ray dan Medina. Tak lupa Haura sudah menyiapkan hadiah untuk adiknya yang kini berusia 16 tahun. Haura ingin dekat dengan Mikha. Walau ia menyadari, adik suaminya sama tak sukanya padanya.


"Eh.. Sayang kamu sudah datang, Haura sehat?" sapa Medina ketika Haura dan Adam sudah datang. Ia memeluk Haura selayaknya putrinya sendiri.


"Sehat Ma, Mama sendiri sehat?" tanya Haura menepiskan senyumnya.


"Iya sayang. Mama dan Papa baik-baik saja. "


"Mikha mana Ma?" Haura menengok kesana-kemari mencari keberadaan Mikha.

__ADS_1


"Mungkin lagi bersama teman-temannya. "


"Ya sudah, Haura pergi cari Mikha ya Ma. Mau ngasih ini," kata Haura berniat meninggalkan suaminya dan mertuanya.


"Berikan ini sekalian ya sayang?" Adam memulai lakonan sebagai suami yang baik.


"Iya Mas." Haura menerima kotak kado dari Adam dan berlalu dari tempat itu.


"Bagaimana hubungan kalian sayang?" tanya Medina setelah Haura pergi.


"Baik-baik saja Ma. Kami berdua sangat bahagia."


"Mama ingin menimang cucu. Apakah Haura belum ada tanda-tanda kehamilan?"


"Eh itu ... itu ... kami masih berusaha Ma. Doakan saja ya Ma," ucap Adam gugup.


"Bagaimana wanita kampung itu bisa hamil. Sekalipun aku tak pernah menyentuhnya."


"Tampaknya anak Mama harus berusaha lebih keras."


"He he he, iya Ma. Kalau Allah sudah mempercayakan pasti nanti kami akan berikan cucu yang banyak buat Mama dan Papa."


"Iya Dam. Biar rumah mama nggak sepi lagi. Sudah lama rasanya tidak terdengar suara tangisan bayi di rumah Mama."


"Iya Ma. Mama doakan saja."


"Maafkan Adam Ma. Adam terpaksa memberikan harapan semu pada Mama".


***


"Selamat ulang tahun Mikha sayang." Haura memeluk erat adik iparnya. Setelah mencari kesana kemari akhirnya Haura menemukan Mikha sedang berbincang dengan Keira.


"Oh ya sayang. Ini hadiah dari Kakak dan ini dari Kak Adam." Haura menyerahkan dua kotak hadiah pada Mikha.


"Terima kasih Kak. Oh ya kenalkan ini Kak Keira. Dulu Kak Kei adalah calon tunangan Kak Adam. Sayang mereka tak berjodoh," ucap Mikha murung. Entah mengapa gadis itu ingin Haura tahu bahwa seakan ia bersalah sudah merebut Adam dari Keira. Walaupun nyatanya, Haura tak seberuntung itu di dalam rumah tangganya.


"Haura."


"Keira."


Mereka berjabat tangan dan tersenyum kaku.


"Mungkin kamu lupa padaku. Tapi dulu waktu kalian menikah, aku sempat datang." Keira memaksakan senyumnya. Sampai detik ini ia masih mencintai Adam.


"Iya. Maafkan aku, aku tak mengingat kamu."


"Iya nggak papa."


"Ya sudah, aku kembali ke Mas Adam dulu ya?" kata Haura merasa terlalu canggung, dan menyadari jika Mikha tak suka dengan kehadirannya. Hari itu hari bahagia untuk Mikha, tak semestinya Haura mengacaukan kebahagiaan adik iparnya.


"Kakak."


"Iya sayang, kenapa?" tanya Haura membalikkan badan lagi.


"Boleh bicara sebentar?" tanya Mikha.


"Iya.. Boleh."

__ADS_1


"Ya sudah, ikut Mikha."


Gadis itu berlalu menuju ke kamarnya dengan Haura yang mengikut dari belakang.


"Silakan duduk Kak," ucap Mikha setelah berada di kamarnya.


"Iya sayang, kamu mau membicarakan apa?" tanya Haura dengan lemah lembut.


"Bolehkah Mikha bertanya?"


"Tentu saja boleh, Mikha. Tanyakan saja, kalau Kakak tahu Kakak akan jawab." Haura menepiskan senyumnya.


"Apakah Kakak mencintai Kak Adam? Apakah kalian bahagia?" tanya Mikha penuh rasa ingin tahu.


"Tentu Mikha. Kami bahagia," bohong Haura.


"Kak, bisakah Kakak melepaskan kak Adam untuk Kak Kei?" tanya Mikha to the point, tak menghiraukan perasaan Haura.


"Me-melepaskan?" tanya Haura tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut adik iparnya.


"Iya. Kakak tahu? Kak Kei sangat terluka karena pernikahan kalian."


"Mikha juga tahu, Kak Adam tak mencintai kak Rara. Jadi bisakah kalian berpisah saja? Kak Rara berhak untuk bahagia bersama lelaki yang mencintai kakak."


Haura mengambil jemari Mikha dan meletakkan di atas pangkuannya.


"Mikha sayang, maafkan Kakak. Kakak tak bisa mengabulkan permintaan kamu. Kakak tak bisa egois. Karena apa? Karena Kakak tak ingin melukai orang-orang yang Kakak cintai. Ada ayah Kakak, papa Ray dan mama Medina. Apakah kamu dapat membayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya hati mereka jika kami berpisah?" tutur Haura dengan lemah lembut.


"Kakak tahu, kamu belum bisa menerima Kakak sebagai Kakak ipar kamu. Kakak nggak akan memaksa kamu menerima Kakak, tapi Kakak akan berusaha mendapatkan kasih sayang kamu. Maafkan Kakak jika Kakak belum bisa menjadi ipar yang baik."


"Ehm, ya sudah kita kembali ke bawah yuk. Ini kan acara kamu Mikha. Mama, papa dan yang lainnya pasti kini sedang mencarimu."


Akhirnya mereka kembali ke bawah dan acara pesta pun dimulai.


.


.


.


.


.


.


.


.


Belakangan aku lagi malas banget menulis. Author lagi galau 😂😂😂. Maaf ya Author gaje, dan nggak konsisten.


Kalau batiba aku nggak up maaf ya pemirsahhh..


Love you all, yang sudah menemani aku sampai saat ini 😍😍😍.


Semoga kita semua selalu dilindungi Allah, ditengah wabah yang melanda ini.

__ADS_1


saranghaeyo


__ADS_2