Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Aku Hanya Ingin Jadi Suamimu


__ADS_3

"Mas, jelaskan apa-apaan ini?" tanya Medina setelah duduk di kursi ruang tunggu.


"Maksud kamu apa, Me? "


"Kenapa Mas tahu kalau aku ada di rumah sakit ini? Dan untuk apa Mas Ray kesini?" tanya Medina lagi sedikit emosi.


"Mas ke sini untuk mencarimu, kalau tidak untuk apa lagi?" jawab Ray acuh.


"Tapi Me tak mau lagi bertemu dengan Mas." Raut wajah Ray berubah sedih mendengar perkataan Medina yang terasa menyakitkan untuknya.


"Mas, bukankah segala permainan rumah-rumahan kita sudah berakhir? Aku punya privasi sendiri. Tolong jangan ikuti aku lagi. Aku nggak nyaman karenamu," kata Medina blak-blakan membuat hati Ray makin sakit.


"Tapi Me, Mas sangat mengkhawatirkanmu. Mas telepon tidak bisa, Mas kirim pesan pun sama. Me nggak kasihan dengan Bunda? Bunda sampai sakit karena memikirkan kamu Me," bohong Ray.


"Bagaimana Mas tahu kalau Bunda sakit?"


"Bunda telepon Mas," jawab lelaki itu dengan ragu.


"Oh, jadi Bunda menghubungi nomor Mas Ray? Bukankah Mas sudah berjanji pada Me untuk tidak mengangkat telepon dari Bunda?" ucap Medina marah.


"Me sendiri juga ingkar janji," kata Ray tanpa rasa bersalah.


"Janji apa?" tanya Medina semakin marah melihat Ray menjawab pertanyaannya dengan santai.


"Me lupa? Mas kan udah bilang kamu harus tetap bersamaku. Janji untuk tetap saling terhubung. Tapi kamu sendiri yang menjauh dan mengganti nomor tanpa memberitahuku. Me mau melarikan diri dari Mas? Me benar-benar tak suka jika Mas di dekat Me?"


"Untuk apa aku memberitahumu Mas? Aku kan sudah bilang berkali-kali kalau semua lakonan kita telah berakhir. Tak ada lagi apa pun di antara kita. Me mohon Mas pergi jauh dari hidup Me, seakan kita tak pernah saling mengenal." pinta Medina mengatupkan kedua tangan.


kring kring kring.


Suara dering ponsel menghentikan perdebatan mereka berdua. Medina segera menjawab sambil mendinginkan amarah yang kini memenuhi kepalanya.


"Assalamualaikum, dengan siapa ini?"


"Waalaikumsalam, sudah lupa dengan suara Bunda?" Suara nyaring dari seberang, menegaskan siapa pemilik nomor tersebut.


"Oh Bubda," jawab Medina lemas.


"Kamu ini kemana saja Me? Bunda telepon tak bisa. Bunda kirim pesan whatsapp juga tak terkirim," omel Bunda.

__ADS_1


"Iya Bunda maaf, Me lupa isi pulsa jadi Simcard Me tak dapat digunakan lagi. Me lupa mau hubungi pakai nomor baru Me." Medina berusaha beralasan agar Bunda tak marah.


"Keterlaluan kamu, bunda cemas menghubungi kamu nggak bisa. Apa saja yang kamu lakukan, sehingga seminggu di Bandung tak mengabari Bunda?" Bunda mulai menceramahi Medina.


"Iya bunda. Kan Me sudah minta maaf. Me benar-benar lupa. Bunda apa kabar? Bunda sehat?" tanya Medina sambil melirik Ray yang kini membuang muka.


"Tentu saja sehat. Oh ya Bunda menghubungi kamu karena ingin menyuruh kalian pulang minggu depan." Jawaban bunda membuat Medina geram pada Ray yang telah membohonginya.


"Kenapa?"


"Bunda dan Oma akan siapkan kenduri doa selamat untuk kalian. Oma sudah mendesak ingin mengenal Ray sebagai cucu menantu," jawab bunda.


"Bunda sudah bilang sama Mas Ray?" tanya Medina memelototkan mata ke Ray yang kini tengah memandanginya.


"Sudah ... Ray setuju dan akan meluangkan waktu minggu depan," jelas Bunda.


"Oh, kalau Mas Ray sudah setuju ya sudah Bun. Bunda siapkan saja semuanya. Sudah dulu ya Bun, Assalamualaikum ...." Medina marah dan langsung mematikan panggilan tanpa mendengar respon Bunda. Medina menatap Ray dengan pandangan penuh tanya dan sangat kesal.


"Mas Ray kenapa begini?"


"Kenapa apanya Me?" tanya Ray bingung.


Dengan wajah sendu Ray menggenggam jemari Medina. "Mas cuma mau menikah denganmu Me? Mas cuma mau jadi suamimu."


Medina membelalakan mata terkejut karena ucapan mendadak dari laki-laki tersebut. Ia kehilangan kata-kata untuk menimpali ucapan Ray barusan yang terdengar tidak masuk akal.


"Mas benar-benar ingin menikah dengan Me, sah secara agama dan negara. Mas benar-benar mencintaimu. Mas mau jadi ayah dari anak yang Me kandung, Mas akan menganggap anak ini sebagai anak Mas sendiri. Mas juga ingin menjaga dan mencintai Me dan anak kita seumur hidup Mas. Hanya itu Me? Apakah permintaan Mas terlalu berlebihan?" Ray meluahkan segalanya yang selama ini ia pendam dengan tetesan air mata yang tak dapat lagi dibendungnya. Kini laki-laki itu sudah mendapatkan jawaban dari hatinya. Ia hanya menginginkan Medina. Tiada lagi ruang sedikitpun untuk kekasihnya Aurel. Kini hatinya milik Medina sepenuhnya. Dan ia memutuskan untuk hidup bersama Medina bukan Aurel.


"M-Mas? Mas sudah gila? Apa yang Mas katakan? Mau dikemanakan Aurel Mas?" Medina berusaha menyadarkan Ray.


"Iya Me, kamu yang sudah membuat Mas gila, Mas tersiksa Me jika harus berjauhan dari kalian. Kamu dan baby. Please Me, terima Mas sebagai suami kamu. Mas benar-benar mencintaimu Me. Sangat-sangat. Dan Mas tahu kamu juga mencintai Mas kan? Jangan bohongi hati kamu Me! Kenapa susah untuk mengakuinya?" ucap Ray semakin mengeratkan genggaman di tangan Medina, membuat Medina linglung.


"Maaf Mas, Mas Ray bukan suami Me dan tak akan pernah menjadi suami Me," ucap Medina tak ingin memberi kesempatan pada Ray dan ingin membuat Ray sadar bahwa semua ini tidak benar.


"Kenapa?" tanya Ray dengan sedih.


"Mas, sudah jangan bahas lagi. Mendingan Mas kembali ke calon tunangan Mas, Aurel. Dialah yang seharusnya bersanding denganmu bukan aku."


"Nyonya Medina Salsabila," panggil suster membuat pembicaraan mereka terhenti.

__ADS_1


"Iya Sus, saya."


"Silakan masuk Nyonya."


Medina beranjak dari duduknya ingin masuk ke ruang periksa.


"Anda suaminya?" tanya suster .


"Iya," jawab Ray ingin ikut masuk ke dalam ruang periksa mendampingi Medina.


"Bukan," jawab Medina menatap Ray sekilas dan langsung menutup pintu tak memberi izin Ray untuk ikut masuk. Seakan-akan Medina juga menutup hatinya untuk lelaki itu rapat-rapat.


Ray menatap pintu yang telah tertutup dengan mata yang berkaca-kaca. Perkataan Medina sebelum masuk sangat melukai hatinya. Medina kini sudah tak membutuhkan dirinya lagi. Medina bahkan dengan jelas mengatakan tak ingin berjumpa dengannya lagi. Membuat luka di hati Ray menganga lebar yang bahkan lebih sakit daripada ketika Aurel Menolak menikah dengannya dulu.


Sementara di dekat mereka ada seseorang yang tersenyum mendapatkan fakta yang mengejutkan dari pengintaiannya. Dengan senyum lebar pria itu yakin akan mendapatkan bonus tambahan dari bosnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dukung dengan klik like kasih komentar dan vote ya! Ayo dong yg punya poin banyak kasih vote yang banyak juga.


Klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap aku update.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah setia membaca karya saya 😍😍


__ADS_2