Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Enggan Pergi


__ADS_3

Keesokan harinya Medina sudah mulai pulih. Ia mulai bisa turun dari ranjang tempat tidurnya. Namun Medina masih harus berhati-hati dengan luka jahitan di perutnya. Infus yang semula masih menempel di pergelangan tangannya juga sudah dilepas. Wanita itu sembuh dan pulih dengan cepat. Entah karena dukungan yang diberikan Ray ataukah karena Medina tak sabar ingin menggendong baby Adam sehingga Medina terlihat lebih segar dan sehat.


Oma dan Bunda juga sudah sampai subuh tadi. Mereka datang bersama-sama. Bisa ditebak, jika mereka memilih penerbangan yang sama. Tentu saja anak dan ibu itu memang saling janjian untuk pergi bersama sejak jauh-jauh hari sebelum Medina melahirkan. Meskipun kecapekan setelah perjalanan panjang, mereka tetap segera ke rumah sakit tempat Medina dan bayinya dirawat. Mereka tak sabar ingin bertemu dengan anggota keluarga baru itu.


Semenjak kedatangan mereka, Oma dan bunda begitu heboh saling berebut menggendong baby Adam. Oma dan Oma buyut Adam itu juga sangat gemas dengan bayi mungil itu. Membuat mereka berdua betah berlama-lama di Amerika. Oma buyut juga sangat menyayangi Adam layaknya darah dagingnya sendiri. Begitu juga Oma Mutia, ia begitu menyayangi cucunya. Apalagi ini cucu pertamanya. Mereka begitu bahagia dengan kehadiran baby Adam.


Sejak kedatangan mereka, Ray tak memiliki kesempatan sedikit pun untuk menyentuh baby Adam. Ray sampai iri dibuat oleh Oma dan calon mertuanya. Pun Medina hanya diizinkan memegang Adam ketika bayi itu kehausan. Medina hanya terkekeh geli dengan dua wanita tua yang terlampau bahagia itu.


"Bu, sini Mutia ganti gendong Adam. Ibu istirahat saja, Ibu pasti capek kan?" Mutia mengulurkan tangan ingin meminta baby Adam.


"Nggak, ibu nggak capek. Siapa yang bilang capek? Kamu saja sana istirahat," tolak Oma Lidya. Bunda sedikit bersungut-sungut karena gagal mengambil baby Adam dari pelukan Oma.


"Sudah ... sudah ... lebih baik baby Adam ditidurkan. Biar nyaman tidurnya, lagian kalian kan pasti capek. Istirahat saja dulu di apartemen kami," kata Ray berusaha melerai karena mulai merasakan hawa dingin dari kedua wanita itu karena memperebutkan baby Adam.


"Sini Nak, dedek bobok yang nyaman ya?" Ray mengambil Adam dari tangan Oma dan meletakkannya di box bayi.


"Mut, lihat ... mirip Ray kan?" Bunda dan Oma yang seakan belum puas mendekap dan memandang Adam kini menghampiri box bayi dan memerhatikan Adam yang tidur dengan pulas. Perdebatan akhirnya kembali berlanjut.


"Mirip Me, Bu," protes Bunda.


"Mirip Ray, coba lihat hidung dan mulutnya," kekeuh Oma. Bunda memperhatikan wajah imut itu dengan seksama. Benar kata oma Lidya, mirip Ray.


" Aduh, mirip Me juga lah Ibu," bunda tak mau mengalah begitu saja.


"Tapi dominan Ray," kekeh Oma. Bunda Mutia menjadi sedikit sebal.


"Iya, iya ... kan mereka anak kami Bunda, Oma. Jadi wajah Adam perpaduan antara Ray dan Medina. Jangan berebut lagi," pinta Ray yang merasa terganggu dengan keributan yang mereka ciptakan. Kedua wanita itu diam mendengar perkataan Ray.


"Lebih baik kalian pulang ke apartemen kami. Bunda dan Oma istirahat saja dulu. Ray tahu kalian pasti capek. Nanti sore Bunda dan Oma datang saja lagi kemari menemani Medina. Ray sore ini ada pekerjaan penting soalnya," pinta Ray. Oma dan Bunda saling pandang tak rela jika harus berpisah dengan bayi mungil itu.


"Nanti sore Bunda dan Oma bisa gantian gendong Adam. Apalagi jika Adam sudah tak tidur kan bisa Bunda dan Oma ajak main," bujuk Ray.


"Ya sudah Oma pulang sebentar, tapi nanti sore Oma kesini lagi." Oma segera mengambil tas tangan miliknya bersiap pulang.


"Bunda juga ikut Oma pulang. Biar capeknya hilang. Soalnya sore nanti Bunda mau main sepuasnya dengan cucu tersayang Bunda." Bunda segera mengikut Oma keluar dari kamar Medina.


Seperti magic kata-kata yang Ray ucapkan bisa menghipnotis kedua wanita itu. Mereka menurut dan mau istirahat di apartemen Ray. Padahal sebelumnya keduanya kekeh ingin menunggu baby Adam.


"Huffttt." Ray mengelus dada setelah dua wanita itu pergi.

__ADS_1


"Kirainbdengan menelepon mereka, akan sedikit terbantu buat menjaga kalian. Eh, datang-datang malah bikin keributan," kata Ray.


"Mas, jangan begitu dong," protes Medina.


"Bunda sangat menyayangi Adam karena Adam cucu pertamanya. Sedangkan Oma sangat bahagia dan menyayangi Adam karena Oma tak memiliki siapa pun selain kamu Mas. Sehingga Oma merasa Adam sangat berharga. Harap maklum," kata Medina bijak.


"Dan pasti mselama ini Oma sangat kesepian. Orang yang dipunyai mcuma kamu, tapi kamu sibuk kerja di Amerika. Sampai lupa pulang," tambah Medina.


"Iya sihh ...." Ray menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tapi enak kalau mereka sudah pulang, tenang."


"Apalagi Mas bisa berduaan sama Me."


"Ishhh ... nakal!" Medina mencubit perut Ray sampai laki-laki itu meringis kesakitan kemudian tertawa bahagia.


***


"Me, maaf ya Mas harus pergi mengurus pekerjaan di New York, jadi mungkin Mas baru bisa kembali esok." Ray berpamitan pada Medina. Ray seakan enggan dan tak rela harus meninggalkan mereka berdua.


"Iya Mas, tenang saja ... kan Bunda sama Oma ada," jawab Medina ersenyum.


"Sana berangkat, kalau Mas menatap Me dan Adam terus bagaimana mau kerja."


"Argghhh ... kalau bukan klien penting sebenarnya Mas malas ke sana," ucap Ray enggan pergi.


"Papa, kalau Papa nggak cari uang bagaimana nanti masa depan Adam? Papa kerja yang semangat ya? Jangan khawatir, ada Oma dan Oma buyut disini jagain Mama dan Adam. Mama dan Adam menunggu kepulangan Papa." Medina berbicara menggunakan suara anak kecil seraya menggerak-gerakkan tangan Adam yang tertidur lelap.


"Baiklah Adam sayang. Papa kerja ya?" Ray mencium pipi gembul itu dengan gemas.


"Mas, pergi ya sayang. Jaga anak kita ya?" Ray mengecup kening Medina dengan lembut. Medina segera mencium punggung tangan Ray dan tersenyum.


"Iya Mas, hati-hati ...." Ray pergi dengan terpaksa. Beberapa kali ia menoleh kebelakang menatap Medina dan Adam dengan sedih sebelum mencapai pintu keluar. Seolah mereka akan lama tak berjumpa.


"Nanti Mas telepon ya?" Ray melambaikan tangan sedih dan pergi dengan tergesa-gesa . Ray takut pendiriannya akan runtuh dan membatalkan pekerjaan pentingnya.


Setengah jam Oma dan Bunda datang dengan wajah berseri-seri. Oma membawakan Medina buah-buahan. Sedangkan Bunda membawakan makanan sehat untuk anaknya.


"Sayang, mana Ray?" tanya Oma.

__ADS_1


"Mas Ray sudah pergi kerja Oma."


"Dasar ... kenapa tak menghubungi kami? Kalau kami tahu Ray pergi cepat Oma dan Bunda segera kemari dan takkan membiarkan kamu sendirian," omel Oma.


"Nggak papa Oma. Lagian Mas Ray belum lama kok perginya. Medina juga nggak kerepotan. Baby Adam juga anteng nggak rewel," kata Medina berusaha menenangkan oma.


"Iya, tapi Ray kelewatan ...." Oma masih merengut marah.


"Sudah lah Bu, nggak papa mungkin Ray terburu-buru. Yang penting kan cucu dan cicit Ibu baik-baik saja." Bunda ikut bicara.


.


.


.


.


.


.


.


.


Up yang kedua ya


Oh ya mampir dong ke novel ku yang lainnya



Satu hati sampai mati


Bunga-bunga cinta



Jangan lupa ya tekan like favorite dan kasih koment serta vote kalian.

__ADS_1


Gomawo.


__ADS_2