
"Mas, bicaralah!" gadis itu terisak karena suaminya tak mengatakan apa pun.
Tut tut tut
Panggilan terputus, putus pula harapan Haura untuk memperbaiki segalanya. Nyatanya, suaminya hanya mempermainkan dirinya dengan mengirimi kejutan-kejutan manis seperti itu. Haura serasa diangkat tinggi-tinggi dan dihempaskan ke palung terdalam. Kembali ke realita lelaki itu memperlakukannya seenak hatinya.
Haura menangis pilu, semua hanyalah angan-angannya belaka. Hatinya sungguh sakit dan kecewa. Ketika lelaki yang mulai dicintainya mempermainkan hatinya lagi dan lagi. Dan bodohnya ia semudah itu percaya. Tubuhnya akan luruh ke bawah ketika sebuah tangan besar merengkuh perutnya menahan tubuhnya yang lemas tak berdaya.
"Maafkan Mas Haura. Maafkan kesalahan Mas. Maafkan kebodohanku selama ini," ucap Adam seraya menangis.
"M-Mas Adam?" Dengan lemah gadis itu membalikkan badan dan menatap wajah yang ia rindukan dengan tatapan sendu.
Adam meraih jemari Haura dan mengecupinya. Adam memandang wajah Haura dengan penuh rasa bersalah. Tak lama Adam berlutut dan menyerahkan sebuah buket besar mawar merah.
"Aku tahu. Aku sangat terlambat untuk mengatakannya. Haura, istriku. Maafkan kesalahan suamimu ini. Maafkan aku yang sudah mencipta berjuta luka dalam hatimu. Maafkan aku yang menganggap pernikahan kita sebagai permainan belaka." Adam terdiam sebentar masih mendongak menatap manik bening istrinya yang berkaca-kaca.
"Rara, aku mencintaimu sayang. Walau terlambat untuk menyadari perasaan ini, Mas harus mengungkapkannya. Mas terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kamu terlalu berharga. Mas akan berusaha ikhlas menerima semua keputusanmu. Maukah kamu memulai segalanya dari awal? Maukah kamu menjadikan aku sebagai imammu? Pemimpin rumah tangga kita? Maukah kamu menjalani kehidupan suka duka denganku hingga kita menua nanti? Jika kamu menerima cintaku terima bunga ini. Jika tidak, buang dan injaklah hingga hancur berkeping."
Haura terdiam, dengan tangan gemetar ia mengambil bunga mawar dari tangan Adam dan menganggukan kepala.
"Benarkah kamu menerimaku Ra? Apakah kamu mau memaafkanku? "tanya Adam bahagia. Lagi-lagi gadis itu mengangguk dan tersenyum. Terlihat air mata sudah menganak sungai di sudut matanya. Namun kali ini berbeda, karena kali ini hanya ada air mata bahagia dan haru. Tak ada lagi air mata kepedihan dan kesedihan.
Adam menarik Haura ke pelukannya dan mengecupi kepala Haura yang tertutup hijab dengan bahagia. Ia bersyukur Haura masih memaafkannya. Dalam hati Adam berjanji untuk selanjutnya akan bersikap baik pada Haura.
"Ra, Akhir minggu ini Mas libur. Rara mau nggak pulang ke kampung. Kamu pasti rindu dengan ayah dan adik-adik kan? Mas baru sadar, jika kita sudah lama tak menengok Ayah," ucap Adam setelah pelukan mereka terlepas.
"Be-benarkah Mas? Tentu saja Rara mau," ucap Haura bahagia.
"Benar sayang," jawab Adam tersenyum tulus. Ia begitu bahagia melihat senyum di wajah istrinya.
"Terima kasih Mas." Haura menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidang Adam. Mendengarkan detak jantung suaminya yang membuat hatinya tenang.
"Ra? Mulai malam ini kamu pindahkan barang-barang kamu ke bawah ya? Kita akan tidur bersama layaknya pasangan suami istri." Adam mengelus kepala Haura dengan sayang.
"I-iya Mas. Tapi ...," ekpresi wajah Haura berubah menjadi muram dan ketakutan.
"Tapi kenapa Ra?" tanya Adam khawatir jika istrinya trauma terhadapnya.
__ADS_1
"Anu ... anu ... Rara be-belum bisa menjalankan kewajiban Rara. Rara tengah ... datang bulan," ucap Rara perlahan. Terlalu malu untuk memberitahukan hal itu pada Adam.
"Hahaha. Astaga ... aku kira apa?" Adam tertawa. Haura menjadi tersinggung karena suaminya menertawakannya.
"Eh, ehem." Adam berdehem, menyadari Haura tak suka melihatnya tertawa tadi.
"Maaf Ra. Bukan maksud Mas untuk menertawakan kamu. Tak usah malu untuk mengatakannya. Karena sekarang kita suami istri. Bagi Mas nggak masalah kamu menjalankan kewajiban kamu kapan. Mas akan menunggumu sayang."
"Bo-bolehkah Rara bertanya satu hal pada Mas Adam?" tanya Haura ragu.
"Iya Ra. Katakan saja."
"Ta-tapi Mas Adam jangan marah ya?" pinta Haura.
"Iya sayang. Mas nggak akan marah."
"Janji?" Haura mengulurkan jari kelingkingnya pada Adam dan meminta suaminya berjanji. Kini ekspresi wajah Haura seperti anak kecil yang menggemaskan.
"Iya janji." Adam menyambut kelingking Haura dan menautkannya dengan kelingkingnya seperti kanak-kanak.
"Jadi, katakan!" perintah Adam.
"Mas bersumpah, Mas tidak ada lagi hubungan apapun dengan wanita mana pun. Karena Mas hanya mencintai Rara. Mas tak akan pernah mengkhianati Rara lagi. Mas akan menjadi suami yang baik untuk Rara," ucap Adam tanpa rasa ragu sedikit pun.
"Terima kasih Mas." Haura berkaca-kaca, merasa semuanya seperti mimpi. Semua terlalu indah untuknya. Ia berharap semua tak akan segera berlalu.
"Mari kita mulai dari awal. Bantulah Mas, untuk membina rumah tangga kita yang sakinah. Dan ingatkan Mas bila suatu saat Mas khilaf. Ra, kamu akan menjadi istriku satu-satunya dan selamanya."
"Ya Allah, terima kasih. Akhirnya Mas Adam mau menerima diriku seutuhnya. Menerima aku sebagai istrinya."
***
"Mas, Rara rasa sudah cukup Mas," ucap Haura karena saat ini mereka berdua sudah menenteng banyak barang belanjaan dan suaminya masih mengajaknya mengitari pasaraya.
"Sebentar lagi Ra. Oleh-oleh untuk Hana dan Fauzan belum dapat," ucap Adam seraya memilih sepatu untuk kedua iparnya.
"Mas, lain kali saja. Bukankah hari itu Mas sudah membelikan mereka begitu banyak barang?" tanya Haura menggelengkan kepala melihat Adam yang masih bersemangat berbelanja. Sedangkan dirinya, sudah terlalu kecapekan.
__ADS_1
"Ra, kita kan sudah lama tak menjenguk mereka. Masa Mas nggak bawain apa-apa?" protes Adam.
"Lalu ini apa Mas?" Haura menunjuk pada paper bag yang memenuhi tangan kanan dan kirinya.
"Nggak papa kan Ra? Hanya sekali-kali. Tak banyak yang dapat Mas lakukan. Jadi kalau kita berkunjung setidaknya bawa buah tangan berlebih."
"Jangan memanjakan mereka Mas! Kalau jadi kebiasaan nanti mereka jadi bergantung pada Mas terus," ucap Haura tak suka.
"Apa salahnya? Mas memberikan semua ini untuk adik Mas sendiri. Adik kamu adalah adikku juga. Dan mereka pantas untuk bergantung pada Mas. Mulai saat ini semua kebutuhan mereka akan Mas tanggung."
"Tapi Mas ...,"
"Sudah jangan protes! Satu lagi ini sayang. Kita bayar terus kita pulang," ucap Adam membawa dua pasang sepatu ke kasir.
"Mas tahu kamu capek kan? Mau Mas gendong?" tawar Adam.
"Apaan sih Mas. Malu sama orang banyak."
"Nggak usah pikirkan perkataan orang. Ayo naik ke punggung Mas!" Adam menepuk punggungnya berharap Haura mau naik.
"Nggak usah. Jangan! Rara masih kuat jalan sendiri." Haura mendahului langkah Adam dan keluar dari mall. Ia takut suaminya akan menggendongnya tanpa rasa malu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Semoga suka ya...
❤❤❤