Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kamu Kemana Mas?


__ADS_3

Setelah mengganti pakaian dan berbincang dengan Mirza sebentar, Adam segera pergi ke Restoran Sakura. Tak lupa ia membawa laptop dan dokumen yang sudah Mirza persiapkan. Memang asisten papanya itu benar-benar bisa diandalkan. Dan Adam yakin Mirza akan jadi orang yang sukses di masa depan.


Adam sangat mengenali Mirza, sedari kecil mereka bersahabat baik. Walaupun Mirza lebih tua lima tahun darinya, Adam tak pernah mau memanggilnya kakak atau abang. Alasannya ia ingin lebih dekat dengan lelaki cerdas itu. Dan hingga kini, selain dengan Ardi ia masih dekat dengan Mirza. Jika Ardi adalah orang kepercayaannya, maka Mirza adalah orang kepercayaan Ray. Dan Adam sangat kagum pada Mirza. Akan kesetiaannya, kecerdasannya dan juga kemampuannya untuk memecahkan segala permasalahan di perusahaan yang tak perlu diragukan lagi.


Sepuluh menit kemudian, ia sudah sampai di restoran yang sudah dipesankan Mirza. Beruntung, ia datang lebih awal. Jadi ia tidak terkesan buruk di mata kliennya.


Tak lama kemudian Tuan Suzuki datang dengan juru bicaranya. Keduanya saling bersalaman dan menyapa sebagai wujud ramah tamah.


"Apa kabar Tuan Suzuki?" sapa Adam. Asisten Tuan Suzuki segera menerjemahkan apa yang Adam katakan.


"Baik Tuan Adam. Tuan Adam sendiri apa kabar?"


"Saya baik Tuan." Adam tersenyum seramah mungkin pada orang yang sudah membuat acara honeymoonnya gagal. Padahal dalam hati ia kesal.


Adam memanggil waitress dan memesan makanan dan minuman untuk kliennya. Tak lama kemudian pelayan mengantarkan pesanannya. Dan perbincangan dimulai sembari menyantap makanan.


"Saya dengar Anda di Malaysia. Kapan anda kembali?" Tuan Suzuki berbasa-basi.


"Karena ada masalah ini. Saya jadi harus kembali secepatnya. Karena perusahaan adalah hal yang menjadi prioritas saya Tuan." Adam berusaha mengendalikan emosinya yang sebenarnya akan meluap. Hanya karena perubahan model iklan saja klien dari negara sakura itu mempermasalahkannya terlalu rumit. Parahnya, Tuan Suzuki hanya mau dirinya yang berdiskusi dengannya. Tapi Adam harus bersikap sebaik mungkin karena Tuan Suzuki adalah salah satu klien terpenting untuk perusahaannya.


"Bagus Tuan, itu yang menjadikan saya selalu menghormati anda. Begini Tuan Adam, menurut perjanjian kita produk menggunakan model Isabella. Dan tiba-tiba anda memberitahukan jika model diganti."


"Maaf Tuan, ada hal yang menjadi sebab kami mengganti Isabella dengan model lain. Ada masalah intern yang tidak dapat kami beritahukan. Yang jelas Isabella sudah melanggar kontrak, jadi kami terpaksa menggantinya dengan model lain."

__ADS_1


"Bukankah semula anda merekomendasikan dia? Anda dulu membanggakannya ketika kita menandatangani perjanjian." Tuan Suzuki terus memojokkan Adam.


"Ah, iya benar Tuan Suzuki. Tapi seiring waktu manusia juga bisa berubah. Dan saya sudah tidak bisa memberi toleransi pada Nona Isabella."


"Oke baiklah. Sekarang mau bagaimana Tuan Adam? Saya tidak setuju jika model diganti. Atau lebih tepatnya tidak suka dengan model sekarang. Bisakah anda memberi solusi?" Tuan Suzuki bersikukuh menginginkan Isabella yang menjadi modelnya.


"Em, bagaimana kalau kita tentukan lagi modelnya? Kita pilih model lain yang sesuai dengan selera Anda. Sebentar ... ada model baru. Cukup cantik dan menawan. Walaupun terbilang masih mentah di dunia permodelan, tapi saya rasa dia cocok untuk memasarkan produk kita. Dia masih kalem dan polos. Jadi sesuai mau dibentuk apa saja."


"Maksud Anda siapa Tuan?" Tuan Suzuki penasaran dengan model yang Adam katakan.


"Sebentar Tuan Suzuki, saya sudah mengirim pesan pada Frans. Saya meminta dia mengirimkan foto ke email saya." Tuan Suzuki hanya mangut-mangut saja.


"Nah, Frans sudah mengirim semua foto ke email saya. Silakan anda lihat. Kalau Anda tidak berkenan dengan model yang saya tawarkan tempo hari, bagaimana dengan ini. Saya mengenalnya, dia memang masih baru. Tapi cukup mumpuni. Anda juga bisa melihat semua hasil fotonya bagus."


"Aku juga begitu botak. Gara-gara masalah sepele seperti ini, acara honeymoonku jadi berantakan," batin adam kesal.


"Baiklah Tuan, saya tengah mengirim email pada Frans lagi untuk memastikan tidak ada masalah. Dan kita bisa memakai Elsa untuk model kita. Saya rasa gadis ini cukup menjanjikan." Tuan Suzuki mengangguk-angguk, sepertinya puas hati jika Isabella digantikan oleh Elsa.


"Ini yang saya suka dari anda Tuan Adam. Selalu dapat mengerti kemauan saya. Jadi maaf jika kemarin saya menolak untuk bertemu dengan orang yang mewakili anda."


"Iya Tuan, terima kasih atas kepercayaan anda." Adam kembali memasang senyum palsunya.


"Frans bilang tidak ada masalah. Besok Elsa bisa menandatangani kontrak kerja. Kalau anda ingin memastikan, kita bisa mengatur pertemuan kembali besok."

__ADS_1


"Tidak perlu Tuan. Saya percaya pada Anda. Lagipula saya harus segera kembali ke Jepang. Tak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan saya di sana. Anda bisa mengirimkan bukti perjanjiannya saja."


"Baiklah kalau Anda sudah bilang begitu. Saya rasa sudah tidak ada masalah lagi ya Tuan Suzuki?" tanya Adam memastikan.


"Tidak ada Tuan Adam. Maaf harus mengganggu waktu anda yang berharga." Tuan Suzuki menunduk hormat.


"Tidak apa-apa Tuan. Kepentingan Anda kepentingan saya juga." Adam balas menunduk hormat.


"Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi, saya permisi Tuan." Adam sudah tidak sabar lagi untuk menemui Haura. Ia juga mengkhawatirkan istrinya yang masih marah ketika ia pergi tadi.


Setelah berjabat tangan Adam meninggalkan restoran itu dengan tergesa. Tak sabar ingin segera sampai di rumah.


***


Sementara itu di rumah Adam.


Wanita itu terbangun karena merasa sangat lapar. Perutnya sudah berbunyi tanda minta di isi. Ia melihat jam di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit. Pantas saja ia lapar. Sudah cukup lama ia tertidur. Dan ia hanya makan tadi pagi di Bandara KLIA bersama Adam.


Haura bangkit, dan baru mengingat jika ia mengunci diri di kamar dan tak membiarkan suaminya masuk. Haura jadi merasa bersalah, dirinya pun tak tahu kenapa akhir-akhir ini ia begitu sensitif.


Ia mencuci mukanya sebentar di kamar mandi. Menghilangkan wajah bantalnya. Kemudian ia keluar untuk melihat kondisi suaminya. Kasihan lelaki itu tak dapat masuk ke dalam kamar mereka.


Namun Haura sedih lagi ketika membuka pintu. Suaminya tidak ada dimana pun. Pasti lelaki itu marah dan kecewa karena ia tak mengizinkannya masuk kamar. Jangan-jangan lelaki itu pergi dan tak kembali lagi . Jangan-jangan suaminya benar-benar meninggalkannya karena muak akan sikapnya. Seketika air mata membanjir lagi di wajah cantik itu. Ia menyesal sudah mendiamkan Adam.

__ADS_1


"Mas, kamu kemana? Jangan tinggalkan Rara!"


__ADS_2