Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Menemui Elsa


__ADS_3

Tririring


Bunyi dering ponsel memenuhi ruangan itu. Getaran ponsel menggetarkan nakas yang berada di dekat ranjang mereka.


"Kemana kamu Ra? Bahkan kamu tak membawa ponselmu. Kemana lagi Mas harus mencari? Mas sangat gelisah Ra ...."


Tubuh Adam melemas. Istrinya raib entah kemana. Seolah ditelan bumi tanpa jejak atau petunjuk apa pun. Jika wanita itu pergi dari rumah, kenapa barang-barang miliknya masih tersusun rapi di dalam almari. Jika wanita itu pergi untuk membeli sesuatu, kenapa uang bulanan yang ia berikan pada Haura masih utuh belum berkurang sama sekali? Dan ini sudah larut malam kenapa istrinya belum pulang? Ponsel pun tak ia bawa. Adam benar-benar gelisah dan khawatir. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya.


Adam berpikir keras. Kemana kemungkinan istrinya berada. Ada sedikit rasa suudzon pada istrinya. Ia berpikir mungkin saja wanita itu menemui Alvian dan kembali pada lelaki itu. Namun, rasanya tak mungkin. Alvian di daerah D. Jauh dari kediaman mereka. Jika Haura pergi ke sana pasti setidaknya wanita itu akan menggunakan sejumlah uang. Namun istrinya bahkan tak membawa apa pun. Adam yakin Haura pergi hanya dengan selembar kain yang melekat di tubuhnya. Pikiran buruk semakin memenuhi otak Adam. Adam mulai berpikir jika istrinya mungkin menyesal sudah kembali padanya. Dan wanita itu kini sadar dan meninggalkan dirinya.


Adam masih mencoba untuk berpikiran waras. Ia akan menunggu kepulangan wanita itu. Siapa tahu Haura memang sedang ada urusan. Satu jam, dua jam, tiga jam menunggu. Waktu sudah tengah malam. Namun Hauranya tak juga nampak batang hidungnya. Membuat Adam sadar jika wanita itu telah pergi. Adam linglung, berpuluh panggilan tak terjawab dari Papa Ray ia abaikan. Tak sedikit pun niatan untuk mengangkatnya. Ia terlalu hancur dan kecewa.


"Kamu dimana Ra? Mas merindukanmu. Jangan tinggalkan Mas Ra." Adam menangis meraung-raung seperti orang yang kehilangan.


"Ra, kenapa kamu sekejam ini? Meninggalkanku saat aku sedang di puncak kebahagiaan. Di saat aku sudah terlalu dalam mencintaimu. Mana janjimu untuk tidak pernah meninggalkan aku? Mana janjimu untuk selalu mendampingiku? Ra ... kembalilah pada Mas. Mas akan melakukan apa pun asal kamu kembali. Mas rela berlutut memohon ampun padamu."


Lelaki itu menangis dan menangis lagi. Hingga ia tertidur karena lelah.


***


Adam mengerjapkan matanya yang terasa perih dan sembab. Ia menggeliat dan mendapati dirinya tidur di lantai bersandar pada ranjang memeluk foto Haura. Berarti semua bukan hanya mimpi. Semua ini nyata adanya. Haura sudah meninggalkannya.


Air mata Adam sudah kering. Tak dapat mengalir lagi, yang ada hanya rasa sakit di dadanya. Merasa sangat di permainkan. Mungkin ini juga yang Haura rasakan di awal pernikahan mereka. Adam tertawa miris, mengingat dulu ia juga kejam pada istrinya.


Adam bangkit, ia harus mandi. Membersihkan diri, karena sejak kemarin ia belum mandi. Sibuk mencari dan menangisi Haura.


Setelah mandi pikiran Adam lebih jernih. Walau pada kenyataannya, hatinya begitu rapuh. Karena kepergian Haura tanpa pamit.


Tiba-tiba Adam teringat pada Elsa. Mungkin saja gadis model itu mengetahui keberadaan Haura. Ada semangat yang kembali pada diri Adam. Berharap akan mendapatkan titik terang. Adam segera meluncur ke tempat kerja Elsa.


Adam berjalan dengan tergesa memasuki studio Frans. Isabella yang menyapanya pun ia abaikan. Adam tak peduli lagi dengan wanita itu.


"Eh, Adam. Mau cari Isabella ya?" tanya Frans setelah Adam menghampirinya.


"Bukan! Untuk apa aku mencari wanita macam itu?" ucap Adam kesal.


"OMG ... jangan katakan kamu mencari Elsa lagi?" Frans mengernyitkan kening heran dengan Adam.


"Iya. Kamu benar. Aku mencari Elsa."

__ADS_1


"Wow ... selera Adam benar-benar berubah menjadi gadis polos."


"Jaga mulutmu Frans. Jangan sampai aku meninjumu. Aku sedang tidak ingin bercanda."


"Hah ... baiklah. Kamu kalau ke sini mencari Elsa pasti dengan keadaan yang kusut seperti itu.


"Sudahlah Frans. Jangan bertele-tele mana Elsa?"


"Elsa tak ada jadwal hari ini. Dia di rumahnya."


"Beri alamatnya padaku."


"Maaf Dam. Kami melindungi privasi model kami. Tak bisa sembarangan membeberkan hal tentang model kami. Apalagi alamatnya."


"Oh, jadi itu lebih penting? Baiklah, aku akan menarik semua modal yang aku tanamkan. Semua tak kurang satu sen pun."


"Sabar Bro ... ehem. Baiklah Dam. Aku mengenalmu lebih lama daripada mengenal Elsa. Jadi akan aku berikan alamatnya. Tapi aku mohon jangan macam-macam Dam. Dia model unggulan kami tahun ini."


"Tidak akan terjadi apa pun asal kamu memberikan alamatnya. Bahkan bukan hanya dia yang akan 'apa-apa' jika kamu menolak memberi info," ancam Adam secara halus.


Frans mengambil pen dan mencoret selembar kertas dan memberikannya pada Adam." Bercanda Dam. Ini Dam alamatnya, kita tetap bersahabat kan?" tanya Frans penuh arti. Sedikit merayu agar Adam tak menarik investasinya.


Frans bernapas lega, setidaknya Adam masih memberinya ampunan. Frans tahu Adam sedang dalam keadaan tak baik. Mengusiknya sedikit saja adalah kematian untuknya.


***


"Assalamualaikum ...." Adam mengucap salam disertai dengan ketukan di pintu rumah Elsa. Hening, Elsa belum juga membuka pintu untuknya. Adam mengeraskan suara dan ketukannya di pintu. Hingga akhirnya seorang wanita membuka pintu itu.


"Mau apa kamu kemari?" tanya Elsa ketus. Ia masih kesal dengan Adam atas peristiwa yang menimpa sahabatnya. Ia tak menyukai suami sahabatnya itu.


"Bagus, to the point saja. Dimana Haura? Apakah dia ada di sini?"


"Hahaha, kamu suaminya bagaimana bisa mencari Haura di rumahku? Atau kamu menyakiti hati sahabatku lagi? Iya?" tuduh Elsa kesal.


"Katakan El. Kali ini aku mohon. Beritahu aku dimana Haura. Akus sangat khawatir. Sejak kemarin ia menghilang tanpa kabar."


"Apa?" Elsa sangat terkejut dan ikut khawatir.


"Kamu tidak melakukan hal aneh lagi kan?" Adam menggeleng.

__ADS_1


"Atau kamu selingkuh lagi?" tuduh Elsa lagi.


"Tidak! Aku sudah bertaubat. Aku mencintai Rara. Dan tak akan pernah menyakitinya lagi."


"Kalau bergitu bagaimana bisa ... ah, jangan-jangan ...." Elsa tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya tiba-tiba memucat.


"Jangan-jangan apa El? Katakan cepat! Aku harus menemukannya. Aku takut terjadi apa-apa pada Rara," ucap Adam tak sabar.


"Sebenarnya ...," ucap Elsa ragu.


"Sebenarnya kenapa?"


"Hah ... Sebenarnya seminggu yang lalu aku pulang kampung. Aku bertemu Alvian dan ia mendesakku untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Rara. Aku terpaksa mengatakannya dan ternyata ... Pa-Paman Ibrahim mendengar segalanya. Tapi ini hanya dugaanku."


Adam lemas seketika, ia kini yakin jika Ibrahim membawa pulang istrinya ke kampung. Adam sedikit lega karena jika benar Haura ke rumah ayah mertuanya, istrinya pasti baik-baik saja. Namun, ia sedih dan bingung. Bagaimana caranya menjemput dan membawa pulang Haura. Bukan mustahil jika Ibrahim tidak akan mengizinkannya bertemu dengan Haura lagi.


.


.


.


.


.


.


.


Dear Readers


Maaf ya jika author membuat konflik lagi. Sekali lagi cerita saya hanya berisi imajinasi liar semata. Tidak berkaitan dengan dunia real. Jadi jika tidak masuk akal di mata agama atau bagaimana, author bodoh minta maaf. Sudah saya bilang juga di season 2 banyak berisi sad story. Bagi yang masih setia silakan dilanjut membaca, bagi yang tidak suka karena seperti sinetron bisa berhenti membaca. Banyak karya kk author terkenal lainnya yang bagus² kok.


Hari ini InsyaAllah mau up 2 eps, mau nggak?


Tapi jangan lupa kasih like ya... 😘


Love you all

__ADS_1


__ADS_2