
Medina mendekat dan memanggil nama putranya dengan lirih," Adam ...."
"Ma-Mama," jawab Adam terkejut namun masih menangis. Mengabaikan puluhan mata yang menatapnya keheranan dengan intens.
Medina menangkup wajah putranya. Dipandanginya wajah tampan lelaki yang sudah ia besarkan dengan seluruh cinta dan jiwa raganya. Kini wajah itu terlihat lebih kurus dan tak terawat. Mata pria itu terlihat cekung dan menghitam. Jambang yang tak beraturan menghiasi pipi putranya. Membuat putranya kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya. Melihatnya membuat Medina iba, ternyata putranya juga tak baik-baik saja. Dengan menggunakan ibu jari, wanita itu menghapus air mata yang masih setia menuruni wajah tampan itu.
"Ayo Nak, kita duduk dulu." Medina memutuskan untuk memberi kekuatan untuk Adam. Tak bisa lagi berpura-pura tak peduli. Naluri keibuannya tak dapat lagi membiarkan putranya semenderita itu. Setidaknya, perannya sebagai tempat bersandar dan menghibur putranya harus ia lakukan. Meleburkan rasa kecewa dan marah atas perbuatan buruk putranya. Bagaimanapun ia hanya seorang ibu, ia dengan mudah kalah dari perasaannya. Dalam lubuk hatinya, kasih sayang terhadap Adam tak kan pernah bisa padam dan tidak pernah berkurang sedikit pun.
Adam yang masih menangis menuruti ibunya duduk di kursi tunggu, seperti anak kecil yang manis. Ia duduk di kursi tunggu itu di samping ibunya. Medina memeluk tubuh kekar itu dengan penuh kasih sayang. Bayi mungilnya tak terasa menjadi pria dewasa yang masih cengeng. Dan Medina tahu penderitaan terbesar putranya karena sebuah penyesalan. Bagaikan sebuah gelas kristal yang hancur berkeping, akan sangat susah untuk diperbaiki lagi.
"Sudah Nak. Jangan menangis lagi. Anak laki-laki Mama harus kuat. Kemana Adam Mama yang selalu arogan selama ini?" hibur Medina dengan lemah lembut.
"Ma, Adam ingin bertanya. Benarkah Haura sempat ingin bunuh diri karena perbuatan yang Adam lakukan?" tanya pria itu sedih. Medina hanya menganggukkan kepala, tak mampu sekedar mengucapkan kata 'iya'. Ada perasaan menyesakkan, namun sedikit lega. Melihat dengan mata kepala sendiri, anaknya benar-benar menyesali perbuatannya.
"Ya Allah ... suami macam apa aku? Pantas saja Papa ingin kami berpisah. Aku memang pantas untuk dihukum." Adam memukul-mukul kepalanya yang terasa berat.
"Dam, dengarkan Mama. Bersabarlah Nak! Kuatkan hati kamu! Ini ujian dan cobaan. Perbaiki diri dan renungkan apa yang kamu sudah lakukan. Dan ...." Medina tak mampu melanjutkan kata-katanya. Entah bagaimana ia bisa mengatakan hal sekejam itu.
"Dan apa Ma?" tanya Adam mengernyitkan kening. Penasaran apa yang akan Mamanya katakan.
"Mungkin lebih baik jika kamu lepaskan Haura Nak! Kasihan menantu Mama sudah terlalu banyak menderita. Lebih baik kamu menceraikan Haura daripada kamu terus menyakitinya." Sebisa mungkin Medina tak ingin lebih menyakiti perasaan putranya.
"Tidak Ma! Adam mencintainya. Sampai kapan pun Adam tak akan pernah menceraikan istri Adam. Kecuali ... kecuali Ha-Haura sendiri yang menceraikan Adam. Adam akan menerima semua keputusannya. Apakah akan berpisah atau bertahan," ucap lelaki itu dengan berat hati. Walaupun sesungguhnya, ia belum tentu sanggup untuk diceraikan Haura.
"Hhhhh ... maafkan kami Nak. Kali ini Papa dan Mama tak bisa membelamu lagi. Mama tak dapat berbuat apa pun. Kali ini kamu harus menanggungnya sendirian, karena kesalahan yang sudah kamu buat sangat fatal akibatnya. Jadikan ini pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Agar kamu memahami makna kehidupan," nasehat Medina dengan bijak. Berharap putranya akan dapat mengambil hikmah dari semua kesalahan yang sudah ia perbuat.
__ADS_1
"Iya Ma, Adam tahu. Adam tak layak untuk dimaafkan. Kesalahan Adam terlalu besar," ucap Adam putus asa.
"Jangan seperti itu. Yang perlu kamu lakukan adalah memperbaiki diri. Dan menyadari kesalahan kamu. Untuk sementara jangan dulu temui istrimu. Demi kebaikannya, demi kesembuhan jiwanya. Ia masih sangat rapuh saat ini. Jika sampai shock lagi, entah apa yang akan terjadi. Tenang saja, Mama dan Papa akan menjaganya sebaik mungkin. Ketika ia sudah sembuh dan membaik, Mama akan hubungi kamu. Minta maaflah, dan mengenai hubungan kalian ... Mama serahkan sepenuhnya pada istrimu untuk membuat keputusan. Jadi banyak-banyaklah berdoa. Semoga masih ada jodoh di antara kalian." Adam terdiam merenungkan semua kata-kata Mamanya.
"Ya sudah Mama mau mencari Papa. Kamu jaga diri ya Nak," ucap Medina sedih. Ia berlalu meninggalkan putranya seorang diri.
Sementara itu di kamar rawat Haura
"Ya Allah ... Papa lupa!" Ray menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa Pa?" tanya Mikha pelan. Mikha kini duduk di sebelah kakak iparnya yang belum sadarkan diri.
"Papa melupakan Mama. Kasihan Mama di parkiran seorang diri menunggu Papa," sesal Ray.
"Papa pulang saja. Nggak apa-apa. Mikha tahu Papa dan Mama pasti capek semalaman menjaga Kakak. Kalau ada apa-apa nanti akan segera Mikha kabari," ucap gadis itu membetulkan selimut kakak iparnya.
"Baik Pa."
"Baik Tuan." Mereka berdua menjawab bersamaan.
"Papa pergi ya, Nak?"
"Iya Pa, hati-hati."
Ray segera keluar dan akan kembali menuju parkiran. Sudah pasti Medina akan mengomel karena menunggu terlalu lama.
__ADS_1
Langkah Ray terhenti ketika akan melewati depan meja resepsionis. Ketika dua orang yang tak asing sedang duduk berpelukan dalam tangis.
***
Sedari awal percakapan mereka, ada sepasang mata dan telinga yang memperhatikan dan mendengarkan interaksi keduanya. Seorang pria itu menitikkan air matanya mendengar perbincangan istri dan putranya. Bukan maunya ia berlaku kejam kepada putranya sedemikian rupa. Ia pun terpaksa harus berbuat tegas dan adil. Tak ingin membela anaknya yang sudah bersalah. Walaupun begitu apa pun perbuatan yang putranya lakukan, ia tetaplah anak yang di banggakannya. Yang menjadi sumber kebahagiaannya. Yang selalu terbaik di matanya.
Namun di sisi lain, ia harus berlaku tegas. Agar putranya yang selama ini selalu meremehkannya dan orang lain mendapatkan pelajaran berharga. Agar putra kesayangannya tahu titik kesalahan yang sudah ia perbuat dan mau berubah menjadi lebih baik. Satu-satunya hal yang diperlukan saat ini hanyalah kesabaran.
Kata per kata yang Medina ucapkan pada Adam membuat Ray merasa sangat bersalah. Apalagi tadi ia telah bersikap sangat kasar pada putranya. Ingin Ray memeluk putranya dan mengatakan hal yang sama dengan Medina. 'Kamu harus kuat Nak!' kata itulah yang ingin sekali meluncur dari mulut Ray. Ia tahu ini bukan hanya berat untuk Haura tapi untuk Adam juga. Ini adalah ujian yang harus dilalui oleh putra dan menantunya, untuk meningkatkan kualitas diri.
.
.
.
.
.
.
.
Alur lambat, maaf ya 😊
__ADS_1
Ayo dong kasih likenya. Dua episode sebelumnya likenya dikit banget. Author jadi sedih. Ayo yang lupa klik jempol klik dulu ya. biar Author rajin up. Terima kasih Readers.