Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Tergantikan


__ADS_3

Delapan bulan kemudian


"Allahu akbar Allahu akbar, La illahailallah." Pria itu menyelesaikan lafaz azan dengan penuh haru. Dengan lirih, ia melantunkannya dengan nada indah dan penuh cinta di telinga sang buah hati. Ada setitik air mata yang menetes, ketika Ray mengadzani sang putri tercinta. Ada rasa de javu, seperti sembilan tahun yang lalu. Saat ia mengazani putra pertama mereka di Amerika. Menambah kerinduan pada bocah itu yang sekarang entah sudah sebesar apa ia tumbuh.


Terharu, bahagia, penuh rasa syukur. Mereka begitu bahagia dengan kehadiran buah hati mereka yang kedua. Penantian selama sembilan tahun seakan bukan apa-apa bagi Ray dan Medina. Bagai kemarau panjang tersiram hujan, hati mereka sejuk karena kehadiran Mikha.


Mikhaila Azzahra, nama yang dipilih Medina untuk sang putri tercinta. Bayi cantik berbobot 3,2 kg itu lahir secara normal, tanpa operasi. Proses pembukaan juga cepat. Jam dua belas malam Medina mulai merasakan kontraksi, dan jam dua pagi baby Mikha sudah melihat indahnya dunia.


Ray sangat bersyukur, anak dan istrinya selamat tanpa suatu apa. Buah hatinya lahir sehat dan sempurna. Setelah kepanikan di tengah malam, Medina merasakan kesakitan karena akan melahirkan. Beruntung, bayi cantik itu lahir dengan mudah, seolah tak ingin menyakiti ibunya.


Baby Mikha berkulit putih, mata bulat dan hidung yang tak terlalu mancung seperti ibunya. Hanya bibirnya yang seperti Ray, sang ayah. Bayi yang merupakan anugerah Tuhan, seperti pohon kaktus yang berada di tengah gurun pasir yang terik. Mampu menyelamatkan musafir yang kehausan ditengah-tengah padang yang tandus. Karena bayi itu mampu menolong Ray dan Medina dari keterpurukan dan kesedihannya.


Semua orang bahagia dengan kehadiran baby Mikha yang cantik. Keira juga menjadi semakin sering datang ke rumah Medina untuk bermain dengan baby lucu tersebut.


Bunda terkadang datang menjenguk ke Bandung, untuk menemui cucu perempuannya. Tapi tak pernah menginap, karena menantunya Larissa juga tengah hamil tua. Larissa adalah istri Alif, sudah setahun Alif menikah dan kini tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka.


***


Sore itu cuaca begitu teduh. Tidak terlalu panas, tapi tidak juga hujan. Semilir angin bertiup menambah nyaman untuk sekedar berjalan-jalan. Banyak yang memanfaatkan momen di akhir pekan itu untuk berjalan santai atau bermain di taman.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ray dan Medina juga baby Mikha. Kini mereka bertiga sedang berjalan-jalan di sebuah taman dekat komplek. Baby Mikha kini sudah berusia tiga bulan lebih. Baby itu tidur di baby stroller dengan nyenyak. Mikha sepertinya begitu nyaman dan menikmati jalan-jalan sore itu.


Medina dan Ray sengaja berjalan-jalan di sana sambil menunggu waktu berbuka puasa. Rencananya mereka akan berbuka puasa di luar, dengan keluarga Arif dan Kia.


"Lihatlah Me! Putri kita nyenyak sekali tidurnya." Ray memandangi gadis kecilnya dengan penuh cinta. Ia duduk berjongkok di depan stroller Mikha.


"Iya Mas. Udara sore ini nyaman sekali. Di sini ramai orang tapi tak terlalu bising. Jadi Mikha kelihatannya nyaman sekali boboknya," kata Medina yang duduk di sebuah bangku taman ikut tersenyum bahagia.


"Uh, anak papa gendut banget ya. Nenennya kuat banget ya, Nak? Sampai Papa nggak dikasih lagi sama Mama," gurau Ray. Ray melayangkan lirikan menggoda kepada istrinya.


"Apaan sih Mas. Hayoo, puasa ingat puasa," kata Medina mencubit perut Ray seraya menahan malu. Takut terdengar oleh orang lain yang berada di taman itu.


"Hehehe, bercanda Me," ucap Ray.


"Sudah Mas, jangan merusak momen bahagia ini. Semakin kita mengingat Adam. Semakin rasa sakit ini sulit untuk menghilang. Mungkin sudah waktunya untuk melupakan Adam. Kita doakan saja kak Adam baik-baik saja dan segera berkumpul bersama kita."


"Iya Amiinn. Tapi Adam tak akan pernah bisa menghilang dari hati Mas, Me."


"Iya Mas. Me tahu, Me juga merasakan hal yang sama dengan yang Mas Ray rasakan."

__ADS_1


Mereka sepakat untuk tidak mengorek luka mereka kembali. Cukup berdoa dan mengharapkan seperlunya. Ray dan Medina tak ingin baby Mikha menjadi korban keegoisan mereka. Sekarang yang terpenting cukup menjaga dan membesarkan baby Mikha yang ada di depan mata.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang menatap tajam ke arah mereka bertiga sedari tadi. Sudah sekitar lima belas menit dua orang itu berdiri tak jauh dari tempat Medina dan Ray berada. Satu dengan pandangan mengejek dan yang satunya anak berusia sembilan tahun memandang dengan mata berkaca-kaca. Rindu, sedih, kecewa, iri menjadi satu. Adam tak dapat mendengar dengan jelas percakapan orang tuanya. Namun melihat kasih sayang yang mereka berikan untuk adiknya, membuat hati bocah itu sakit.


Ya, mereka adalah Ilham dan Adam. Ilham terpaksa menuruti permintaan Adam untuk pulang ke Indonesia, sesuai janjinya. Karena cucunya itu tak henti merengek minta pulang. Adam sempat kabur dari rumah. Untung saja, Pak Teguh bisa menemukan bocah itu. Jika bocah itu tersesat di negara itu, entah apa yang akan terjadi padanya. Sehingga Ilham memilih mengalah dan menuruti keinginan cucunya.


Adam memandang ketiga orang itu tanpa berkedip. Terlihat kedua orang tuanya begitu bahagia walau tanpa dirinya. Apalagi sekarang ia sudah digantikan dengan baby kecil yang lucu dan manis. Adam berpikir pantas saja mama dan papanya tidak mencarinya. Ataukah mama papanya sengaja membuangnya? Kepala Adam memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan negatif.


Adam sedih dan kecewa. Rupanya kepergiannya tak berpengaruh apa-apa pada papa dan mamanya. Rupanya kasih sayang mama dan papanya sudah tak ada lagi. Kini hanya rasa sakit hati yang dirasakan bocah tampan itu. Ia sudah digantikan, tak ada lagi dirinya di hati mereka. Ia terbuang, dan tak dibutuhkan lagi.


Dengan segera bocah itu menyeka air matanya.


"Opa, kita pulang saja," ucap bocah itu dengan nada penuh kegetiran. Adam kecewa, sungguh kecewa, menenggelamkan rasa rindunya.


"Pulang? Ke rumah Oma buyut kamu?" tanya Ilham tersenyum dalam hati.


"Tidak! Ke rumah Opa saja." Anak lelaki itu membalikkan badan dan lebih dulu masuk ke mobil.


"Sekarang kamu puas? Kamu sudah melihatnya sendiri. Apakah mama dan papamu sedih karena kepergianmu? Apakah kamu pikir mama dan papamu mencarimu? Bahkan, sekarang kamu sudah digantikan oleh bayi kecil itu. Kasih sayang mama dan papamu tak ada lagi untukmu. Jika mereka berniat mencarimu, sudah dari dua tahun yang lalu kamu bersama mereka," ucap Ilham mencoba memengaruhi cucunya.

__ADS_1


Ilham tersenyum melihat Adam mengepalkan tangannya. Yang berarti Adam sudah memakan umpan yang dia tebarkan. Ilham yakin Adam sekarang membenci Ray dan Medina.


"Mama, Papa kalian jahat. Adam benci kalian." batin bocah itu menangis.


__ADS_2