Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Bertemu Alvian


__ADS_3

Keadaan taman kota cukup teduh dan adem di sore itu. Tidak sepi juga tidak terlalu ramai. Terlihat beberapa anak bermain bersama keluarganya. Ada juga beberapa muda mudi berkencan, sekedar menikmati udara segar di tengah kota. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Beberapa kupu-kupu terbang ke sana kemari menghisap sari bunga.


Kedua anak manusia yang berbeda jenis itu kini tengah duduk di sebuah taman kota. Alvian dan Haura akhirnya memutuskan untuk bertemu sore itu. Keduanya duduk berjauhan, berjarak sekitar satu meter. Namun masih memungkinkan untuk mendengar suara satu sama lain.


"Apa kabar Vian?" tanya Haura membuka percakapan tanpa memandang wajah mantan kekasihnya. Haura dengan tenang menatap air mancur yang berada di hadapannya.


"Baik, Ra. Kamu sendiri?"


"Rara sangat baik. Apa yang ingin Vian katakan sehingga harus mengajak Rara bertemu?" tanya Haura.


"Ra, mungkin ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir. Karena Tuan Adam sudah merencanakan semua ini untuk memisahkan kita." Ucapan Alvian terdengar begitu getir. Haura memandang Alvian sekilas dengan tatapan tak suka atas apa yang Alvian ucapkan.


"Kamu salah Vian. Bukan Mas Adam yang memisahkan kita. Tapi takdir. Takdir memang tak pernah berpihak pada kita. Dan Mas Adam hanya berusaha melindungi istrinya. Dan mengenai kepindahanmu, Mas Adam bilang kamu memang pantas untuk mendapatkannya. Dengan kemampuan dan prestasimu, kamu pantas menjadi kepala cabang." Alvian tertawa hambar.


"Ah, ya ... anggap saja begitu. Lalu apakah kamu benar-benar bahagia?"


"Iya, aku bahagia. Sangat bahagia," jawab Haura tanpa ragu.


"Ck ... syukurlah kalau begitu." Alvian tertawa lagi. Namun hatinya terasa sangat sakit.


"Ra, apakah itu artinya kita benar-benar tidak bisa bersama lagi? Aku ingin memastikannya sekali lagi. Jujurlah Ra. Kalau kamu tak bahagia, bercerailah dan aku akan menerimamu kembali. Kalaupun kamu janda, aku akan menerimamu dengan ikhlas hati. Dan tak akan pernah mempermasalahkannya. Karena aku memang masih mencintaimu. Dan aku yakin kamu juga masih menyimpan rasa kan untukku? Sedikitt ... saja."


"Alvian, semenjak Mas Adam mengucapkan ijab kabul di hadapan ayah dan semua orang, hubungan kita yang selama ini kita bangun secara otomatis terputus dan memang sudah hancur berkeping. Dan selamanya tak akan pernah bisa kembali seperti semula."


"Vian, kamu berhak bahagia. Mungkin benar, perasaanku pada Mas Adam belum begitu dalam. Tapi aku terus mencoba untuk mencintainya dan aku berusaha untuk melupakanmu. Kamu juga harus melupakan aku. Banyak wanita lain yang lebih baik dariku."


"Hahaha ... jadi tetap saja begini ya hasilnya? Kamu menolakku lagi. Sampai akhir pun aku tak akan pernah bisa mendapatkan dirimu dan hatimu. Baiklah Ra, aku akan pergi semoga kamu bahagia. Aku lega mendengar keputusanmu. Semoga kamu selalu bahagia Ra. Tapi ... kita tetap sahabat kan?" ucap Alvian dalam tangis. Lelaki itu benar-benar sudah kalah.


"Iya Vian. Kita tetap sahabat selamanya. Semoga kamu bahagia Vian. Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Haura ikut meneteskan air mata.


"Tuan Alvian, selamat atas kenaikan jabatan anda. Semoga sukses selalu." Haura mengulurkan tangannya menjabat tangan Alvian. Kini semuanya terasa sangat jelas dan melegakan.


"Terima kasih Nyonya Bos." Keduanya tertawa kaku berusaha melepaskan kecanggungan.


"Vian, aku harus pergi. Mas Adam sudah menungguku." Haura melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Pergilah Ra. Dan ingat! Kamu harus bahagia."


"Iya Vian terima kasih. Assalamualaikum." Haura berpamitan pada Alvian.


"Waalaikumsalam Ra. Hati-hati ya Ra." Haura hanya menganggukkan kepala dan pergi dari tempat itu.


"Ra, betapa aku menyesal. Dulu tak segera meminangmu. Andai aku tidak mementingkan karirku, mungkin kamu sudah menjadi milikku. Dan kini semuanya sudah terlambat."


***

__ADS_1


Di dalam taksi Haura memikirkan semuanya yang telah terjadi di dalam hidupnya. Perpisahannya dengan Alvian karena terpaksa. Pernikahan yang juga dipaksakan. Dan liku-liku pernikahan selama setahun lebih ini. Namun ia yakin ini adalah jalan hidup terbaik yang Allah pilihkan. Haura bersyukur, kini semua mulai membaik. Tinggal satu masalah dirinya yang harus segera diselesaikan. Walau dirinya masih ragu terhadap dirinya.


Setengah jam kemudian Haura sudah sampai di rumah. Rumah dalam keadaan hening ketika wanita itu menginjakkan kakinya di ruang tamu. Haura menyangka jika Adam tak ada di rumah.


"Mas ...," panggil Haura. Ia menoleh ke sana kemari mencari keberadaan suaminya.


"Mas Adam."


"Apa Mas Adam pergi ya? Katanya mau makan malam bersama."


"Ra, baru pulang? Bagaimana bahagia bertemu Vian?" tanya Adam dengan nada tak suka. Sangat terlihat jika lelaki itu tengah cemburu.


"Mas." Haura menjawab dengan nada tak suka akan kata yang Adam ucapkan. Seolah ia telah ketahuan berselingkuh dari suaminya. Padahal ia sudah meminta izin dari Adam.


"Bukankah Rara sudah minta izin? Kenapa Mas Adam begini?" Haura memegang lengan Adam. Berusaha menenangkan hati suaminya yang tengah gundah.


"Hashhh, iya Mas memang mengizinkan kamu. Tapi Mas tetap saja resah seperti ini." Adam mengusap wajahnya kasar.


"Mas, maafkan Rara. Bukan maksud Rara ingin membuat Mas Adam cemburu dan berpikiran buruk. Rara harus menemui Vian untuk menyelesaikan segalanya. Dan kini semua benar-benar berakhir. Alvian sudah menyerah akan Rara. Mulai sekarang Rara tak akan pernah menemui Alvian lagi."


"Baguslah." Adam tersenyum kecut. Hatinya masih dipenuhi dengan rasa cemburu dan kesal. Haura tahu jika Adam masih kesal padanya.


"Mas, apakah kita jadi makan malam?" Haura mengalihkan pembicaraan, ingin mengembalikan mood suaminya.


"Ah, tentu saja. Mas sudah siapkan. Kamu mandi sana. Mas sudah siapkan baju untuk kamu di kamar. Harus dipakai. Mas tidak menerima penolakan apa pun."


Haura segera mandi, membersihkan dirinya. Adam mengganti bajunya selama Haura mandi. Setelah selesai, ia turun begitu saja. Menyiapkan meja makan untuk mereka berdua. Ruang makan di susun sedemikian rupa agar memberikan kesan romantis. Tak lupa Adam menyalakan lilin dan menata sejambang bunga mawar di meja makan.


Setelah ia mendengar pintu kamar Haura terbuka, ia segera bersiap. Adam duduk memainkan piano untuk Haura sebuah lagu mengalun indah dan merdu. Menyita perhatian Haura yang mendengarnya. Adam memainkan jemarinya penuh dengan perasaan.


*Ombak Rindu


Tuhan tolong lembutkan hati dia


Untuk terimaku seadanya


Karna ku tak sanggup karna ku tak mampu


Hidup tanpa dia di sisiku


Tuhan aku tahu banyak dosaku


Hanya ingat Kamu


Kala dukaku

__ADS_1


Namun hanya Kamu


Yang mampu membuka


Pintu hatinya 'tuk cintaku


Malam kau bawalah rinduku untuk dirinya


Yang jauh dariku


Agar dia tidak kesepian


S'lalu rasa ada cinta aku


Hujan bawa air mataku yang mengalir Membasuh lukaku


Agar dia tahu ku tersiksa


Tanpa cinta dia di hatiku*


Hanya mampu berserah


Moga cahaya tiba nanti


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum Readers


Author ingin mengucapkan selamat hari raya idhul fitri.


Minal Aidzin Walfaidzin mohon maaf lahir dan batin.


Jika banyak silap kata dan sikap saya kurang berkenan. Mohon dimaafkan. Apalagi kadang author suka nge-gas. Maafkan ya 😂😂😂

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Terima kasih sekali. 😘😘😘


Udah gitu aja, semoga readers suka.


__ADS_2