
Genap sebulan usia pernikahan Adam dan Haura. Haura selalu menjalankan perannya sebagai istri dengan baik. Dengan rajin ia membersihkan rumah yang besar itu seorang diri setiap harinya. Tak pernah sekali pun ia mengeluh. Ia selalu menyiapkan kebutuhan Adam, menyiapkan pakaiannya dan tentunya juga memasakkan untuk suaminya. Ia melakukan kewajiban sebagai istri selayaknya orang yang berumah tangga. Terkecuali, melayani Adam dalam urusan ranjang.
Seringkali Adam pulang larut malam. Namun, Haura tak dapat berkata apa-apa, rasanya tak punya hak mengatur kehidupan suaminya. Karena Adam memang tak pernah menghargainya, bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Haura selalu memasak, walau tak jarang Adam bahkan tak menyentuh makanan yang ia buat. Haura masih mencoba bersabar, berharap suatu hari suaminya akan menerimanya. Seperti dirinya yang berusaha untuk mencintai Adam. Walau dia sendiri masih ragu, sudahkah tumbuh rasa cinta untuk suaminya di dalam hatinya. Rasanya begitu berat, mengingat sikap Adam yang begitu dingin.
Seperti sore itu, Haura sudah menyiapkan makanan untuk suaminya. Sambil menunggu Adam pulang, ia membersihkan barang-barang di ruang tamu. Dengan telaten ia mengelap vas, lemari dan lain-lain.
Pandangan Haura tertuju pada sebuah piano yang terletak di sudut ruang tamu tersebut. Seolah ada magnet yang menariknya. Ia mendekat dan mengelap piano yang sedikit berdebu. Sungguh, jemari gadis itu sudah gatal untuk menekan tiap tuts. Sayang, ia tak pandai memainkan alat musik itu. Tetapi, rasa penasaran yang besar akan rasanya menekan tiap tuts dan bagaimana bunyinya lebih mendominasi.
Dengan menggunakan jari telunjuk ia menekan ke sembarang tempat. Menciptakan nada-nada sumbang, karena ia benar-benar tak tahu nada. Haura tertawa seorang diri. Mirip seorang anak yang baru saja mendapatkan mainan baru.
Tak lama terdengar pintu depan terbuka. Nampak Adam terlihat letih, baru pulang bekerja. Haura meninggalkan pekerjaannya dan menyambut Adam dengan senyuman. Dia mengambil tangan Adam dan menciumnya. Tak lupa tas kerja yang berada di tangan suaminya ia bawakan ke kamar.
"Keluar sana! Aku mau ganti baju," perintah Adam yang duduk di ranjangnya dengan dingin.
"Mas mau Rara siapkan air hangat? "
"Nggak usah.. Aku capek. Nanti saja aku mandinya."
"Ya sudah, Rara siapkan makanan ya Mas. Rara tunggu di meja makan," kata gadis itu tersenyum. Bahagia, suaminya tak pulang larut malam.
"Sudahlah. Aku kan sudah bilang kalau aku capek. Aku nggak lapar. Makan sendiri sana." Raut wajah Haura yang semula semringah berubah menjadi mendung mendengar kata-kata Adam yang terdengar kasar dan dingin.
"Oh ya, kamu tak perlu bersusah payah untuk berupaya mengambil hatiku. Menarik perhatianku. Aku tak akan pernah tertarik denganmu."
Dengan menahan air matanya, Haura keluar dari kamar Adam. Ia begitu kecewa. Padahal, ia berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya. Tapi, seakan semua yang ia lakukan sia-sia saja. Tak pernah benar di mata Adam.
Begitulah berhari-hari Adam tak memakan masakan Haura. Gadis itu kecewa, akhirnya di hari ke empat ia memasak untuk dirinya saja. Merasa sayang, karena sering kali terbuang.
Siang itu hari minggu, Haura tengah merajut sebuah syal untuk Adam ketika Medina datang.
__ADS_1
"Eh, Mama." Haura mencium tangan mertuanya dengan takzim.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Medina bahagia.
"Alhamdulillah, Rara dan mas Adam baik-baik saja Ma. Kenapa tak memberi kabar kalau mau kemari Ma? Haura belum masak," ucap Haura tak enak hati. Karena ia sengaja memasak hanya untuknya sendiri.
"Mama sengaja ingin memberi surprise. Ingin menengok menantu kesayangan Mama," jawab Medina.
"Mana Adam, Sayang?" tanya Medina mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Mas Adam ada pekerjaan Ma. Pagi-pagi tadi sudah pergi ke kantor."
"Eh, hari minggu juga kerja kah? Mama kira hari ini Adam cuti. Papa hari ini cuti juga soalnya."
"Rara tidak tahu Ma. Mas Adam bilang kalau kerja."
"Ya sudah, lupakan masalah suamimu. Oh ya sayang, kenapa pintu depan tak dikunci? Kamu harus berhati-hati. Kamu kan di rumah sendiri, pastikan pintu selalu terkunci dengan baik," nasehat Medina.
"Lain kali periksa betul-betul ya Nak." Medina mengelus kepala menantunya dengan sayang.
"Iya Ma, terima kasih. Tunggu sebentar, mama duduk dulu. Haura buatkan minuman," kata Haura lemah lembut.
"Nggak perlu sayang. Mama kemari karena ingin mengajak kamu jalan-jalan."
"Eh kemana Ma?"
"Sudah ikut saja. Temani Mama belanja."
"Tapi Haura belum bilang pada Mas Adam Ma. Nanti dia mencari-cari Haura," jawab Haura risau. Takut Adam marah ia pergi tanpa izin.
"Coba kamu telepon suami kamu." Haura mengambil ponselnya yang buruk dan menelepon suaminya. Namun, beberapa kali panggilannya tak di jawab oleh suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana sayang?"
"Mungkin Mas Adam sibuk Ma. Sampai tak mengangkat telepon Haura." Gadis itu memaksakan senyumnya. Haura yakin, Adam sengaja tak mengangkat telepon darinya.
"Ya sudah kamu ganti baju dulu sana. Biar Mama kirimkan pesan ke dia." Haura menurut dan mengganti bajunya dengan yang lebih pantas. Sementara Medina mengirimkan sebuah pesan pada putranya, bahwa ia mengajak Haura jalan-jalan.
"Sudah?" tanya Medina ketika melihat Haura sudah memakai gamis yang lumayan bagus.
"Sudah Ma. Bagaimana Ma? Mas Adam mengizinkan?" tanya Haura.
"Kelihatannya apa yang kamu bilang benar. Adam sibuk. Mama udah kirim Sms dan pesan WA tapi belum dibacanya. Tapi jangan khawatir, mama yakin dia tak marah kalau kamu perginya sama mama. Yuk sayang, keburu sore," ajak Medina menggandeng lengan menantunya.
Akhirnya kedua wanita itu pergi ke sebuah Mall di kota itu. Haura begitu bahagia, ini pertama kalinya ia mengunjungi pusat perbelanjaan sebesar itu. Di kampungnya tak ada, hanya ada pasar tradisional.
Mereka berdua berkeliling mall dengan bahagia. Haura senang menemani mertuanya berbelanja. Ia tak membeli apa-apa karena hanya sedikit uang yang ia punyai. Di luar dugaan, Medina membelikan begitu banyak pakaian dan barang lain untuk menantunya. Bahkan Medina juga yang memilihkan semuanya untuk Haura.
Ketika mengingat ponsel Haura yang ketinggalan jaman, Medina juga membelikan sebuah ponsel baru untuk menantunya. Awalnya Haura menolak, merasa masih bisa menggunakan ponsel lamanya. Tapi karena Medina memaksa, akhirnya Haura menerima ponsel pemberian mertuanya.
"Ma.. Sebenarnya mama tak perlu membelikan Haura barang segini banyaknya. Baju Haura masih bagus- bagus kok. Dan ponsel Haura masih bisa dipakai."
"Nggak papa sayang. Ini sebagai ucapan terima kasih Mama karena kamu sudah mengurus anak Mama. Kalau ada kata-kata Adam yang kurang berkenan, mama minta maaf ya sayang."
"Mama tak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajiban Haura." Haura berkaca-kaca, bersyukur memiliki mertua sebaik Medina. Walaupun Adam tak menyayanginya, setidaknya mertuanya sangat baik padanya.
"Mama tak perlu khawatir. Mas Adam sangat menyayangi Haura," bohong gadis itu dengan terpaksa. Ia tak ingin menyakiti hati wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Baguslah Nak. Mama harap kalian selalu dilimpahi kebahagiaan," doa Medina dengan tulus.
"Oh ya kita makan dulu yuk sebelum pulang. Mama lapar," ajak Medina tersenyum.
"Baik Ma." Mereka bergandeng tangan layaknya ibu dan anak menuju ke sebuah restoran.
__ADS_1