Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Nasehat Orang Tua


__ADS_3

Dengan pikiran berkecamuk, Adam menuju ke rumah orang tuanya. Saat ini mungkin nasehat orang tua adalah yang ia butuhkan. Ia juga harus menjelaskan pada Ray dan Medina.


Walau belum memastikan keberadaan Haura di kampungnya, tapi Adam semakin yakin jika Haura memang dibawa Ibrahim. Pasalnya satpam komplek mereka menyebutkan adanya tamu yang sesuai dengan ciri-ciri fisik ayah Haura. Jadi Adam perlu nasehat atau mungkin petuah dari Ray. Bagaimana caranya ia menjemput Haura nanti. Bagaimana ia harus bersikap pada mertuanya nanti. Karena pada kenyataannya ia memang bersalah. Ia harus mempertanggungjawabkan semuanya. Bahkan ia pantas jika Ibrahim memukulnya.


Setelah memencet bel beberapa kali Bi Imah membukakan pintu untuknya. Begitu masuk ia langsung menuju kamar orang tuanya. Yang ia yakini bahwa mereka kini tengah di sana.


Perlahan Adam mengetuk pintu kamar Ray dan Medina. Tak lama ibunya membukakan pintu dengan sedikit terkejut." Lho sayang? Tumben datang kemari?"


Ray yang tengah berbaring di ranjang sembari bersantai menonton televisi menoleh karena ucapan Medina. Ia segera bangkit dan duduk." Ada apa Dam?" Kini giliran Ray yang bertanya sebelum Adam menjawab pertanyaan mamanya.


"Maaf Ma, Pa. Adam ingin berbicara sebentar." Lelaki tampan itu mengusap tengkuknya, merasa segan harus mengganggu quality time orang tuanya.


"Masuklah Nak!" Ray berdiri dan menuju sofa yang berada di ruangan itu. Ia segera mempersilakan Adam duduk.


"Me, minta Bi Imah bawakan minuman."


"Tak apa Pa. Biar Mama yang buatkan." Medina keluar dari kamar menuju dapur. Dan segera membuatkan minuman dingin untuk anak dan suaminya.


"Kenapa Dam? Kamu terlihat kusut. Oh iya, jadi bagaimana dengan Haura? Tadi malam kamu juga tidak mengangkat telepon Papa?" Adam semakin murung karena pertanyaan Ray. Belum menjawab sepatah kata pun.


"Ada apa Nak? Apa kamu membuat kesalahan lagi? Jawab Papa Nak? Bagaimana dengan istrimu?" Adam menggeleng lemah.


"Pa, Adam sudah mencari Haura kemana-mana. Namun, tidak ketemu juga. Tapi sumpah Pa. Adam tidak melakukan apa pun. Adam tidak menyakiti Haura. Hubungan kami baik-baik saja. Sangat baik malah, sampai kemarin. Tiba-tiba ia menghilang."

__ADS_1


"Menghilang bagaimana maksudmu? Jangan bercanda Dam!"


"Haura menghilang begitu saja Pa. Bak ditelan bumi. Tanpa jejak atau petunjuk. Semua pakaiannya utuh. Kopernya juga ada di rumah. Uang nafkah yang Adam berikan juga tak ia sentuh. Bahkan ... bahkan ia juga tak membawa ponselnya."


"Apakah kamu sudah mencarinya ke tempat Elsa? Siapa tahu ada di sana. Kamu yakin tidak berbuat salah lagi kan?"


"Aku sudah menemui Elsa Pa. Bahkan reaksi Elsa hampir sama seperti Papa. Mencurigai aku sebagai biang keladi yang membuat Haura pergi lagi."


"Astagfirullah ... kemana lagi istrimu Dam? Kenapa bisa begini?" Medina masuk membawakan dua jus jeruk untuk mereka. Menginterupsi perbincangan Adam dan Ray. Tak lama Medina ikut duduk bersama mereka.


"Pa, ketika Adam menemui Elsa. Adam mendapatkan petunjuk. Ya walaupun ini hanya dugaan Adam. Adam rasa Haura dibawa pergi oleh Ayah. Elsa juga bilang bahwa Ayah mertua sudah mengetahui perbuatan buruk Adam pada putrinya." Ray dan Medina sangat terkejut. Tak menyangka jika akan begini jadinya.


"Bagaimana Adam harus bersikap, Pa? Bagaimana caranya Adam meminta maaf pada ayah? Apa yang harus Adam lakukan? Adam merindukan Haura Pa. Adam ingin membawanya pulang." Ada rasa simpati dan kasihan untuk Adam dari kedua orang tuanya. Pasti putra mereka merasa sangat gelisah dan merindukan istrinya.


"Tidak Pa. Semua kesalahan Adam. Adam juga yang harus menyelesaikannya. Kali ini Adam tak ingin menggunakan nama Papa. Adam ingin bertanggung jawab."


"Bagus Nak! Ini yang Papa inginkan darimu. Bersikap tanggung jawab dan gentleman." Ray menepuk punggung Adam, memberi semangat pada putranya.


"Dam, mungkin tidak mudah untuk Bang Baim memaafkanmu. Karena sesungguhnya perbuatan kamu itu sangat keterlaluan. Tapi coba selesaikan baik-baik. Minta maaflah Nak. Semoga hati Bang Baim terbuka untuk memaafkanmu."


"Jadi apa yang harus Adam lakukan Pa?"


"Cari istrimu. Pergilah ke kampung halamannya. Semoga Haura benar ada di sana. Jemput dia, minta maaflah pada ayahnya. Dan apa pun reaksi Bang Baim nanti, kamu harus bersabar. Karena sesungguhnya tidak ada ayah yang rela anaknya diperlakukan begitu. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan maaf dari Bang Baim dan membawa Haura pulang."

__ADS_1


"Baik Pa. Adam akan ingat nasehat Papa."


"Nak, ingat kendalikan emosi kamu. Bersabarlah ... jika masih ada jodoh di antara kalian Mama yakin semua akan bisa terselesaikan."


"Baik Ma. Adam akan berusaha yang terbaik."


"Ya sudah hati-hati di jalan. Jangan pikirkan perusahaan. Biar Mirza yang mengambil alih pekerjaan kamu untuk sementara waktu."


Akhirnya Adam meninggalkan rumah orang tuanya dengan perasaan sedikit lega. Memang benar, nasehat orang tua adalah yang terbaik.


***


Malam sudah bertambah larut, namun mata wanita itu sepertinya enggan terpejam. Bahkan semakin terbuka lebar, tanpa rasa kantuk. Ia berdiri di tepi jendela memandang ke langit menatap bintang-bintang yang bertaburan di sana. Mengingatkan Haura pada malam romantis yang terjalin satu minggu. Saat ia merasa bahagia karena sembuh dari traumanya. Saat ia bisa merasakan bagaimana manis rasanya bercinta. Hingga wajahnya yang murung menarik senyum singkat mengingat malam yang indah itu.


Haura begitu tersiksa hidup terpisah dari suaminya. Ia merindukan bagaimana kehangatan pelukan lelaki itu. Ia merindukan aroma khas suaminya, yang menjadi candunya. Ia merindukan rayuan dan bagaimana suaminya selalu menggoda dirinya. Hingga tanpa terasa air mata mengalir deras dari sudut matanya.


Belum genap sehari ia tinggal bersama ayah dan adik-adiknya. Namun rasanya waktu enggan berputar. Terasa sangat lama bagi Haura. Entah ia menantikan apa. Karena mungkin suaminya tak tahu jika ia berada di kampung. Tak sepatah kata, tak sebaris tulisan maupun pesan yang ia tinggalkan untuk memberitahukan keberadaannya. Atau mungkin suaminya akan sangat marah padanya. Mungkin Adam akan mengira dirinya meninggalkannya lagi.


Haura gelisah dan tak tenang. Ia benar-benar merindukan Adam. Ia ingin tahu keadaan pria itu. Ia yakin suaminya tak baik-baik saja. Ketika mengetahui dirinya telah pergi.


"Mas, kamu lagi apa? Apakah kamu makan dengan baik? Apakah kamu tidur dengan nyenyak? Rara merindukanmu Mas. Jemput Rara, bawa Rara pulang," ucap wanita itu pilu. Ia berbicara seolah-olah Adam berada di hadapannya.


Dan tanpa Haura sadari ada sepasang telinga tua namun masih sangat tajam mendengarkan ucapan Haura dari balik dinding papan.

__ADS_1


__ADS_2