Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Dasi


__ADS_3

Pagi itu mereka lalui seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa. Walaupun suasana masih sedikit terasa canggung. Setelah semalaman penuh Adam mendekap erat Haura dalam peluknya. Berusaha menenangkan wanita itu. Dan tak hentinya membisikkan kata penyemangat untuk istrinya. Hingga akhirnya Haura terlelap dalam peluknya yang nyaman.


Kini laki-laki tampan itu sudah siap untuk bekerja. Ia terlihat tampan dengan kemeja berwarna biru langitnya. Begitu sempurna, sangat tampan. Hanya saja ia belum memakai dasinya.


"Ra, ada tidak dasi yang sesuai dengan kemeja Mas yang ini?" tanya Adam sembari mengancingkan lengan bajunya.


"Eh, dasi yang pernah Rara belikan waktu itu ra-rasanya cocok. Tapi Rara tahu Mas Adam tak menyukai barang murahan yang Rara belikan." Ucapan Haura terdengar sangat lirih, seperti seekor nyamuk yang berdenging. Namun Adam dapat mendengarnya dengan jelas. Hal itu begitu melukainya, ia sendiri yang pernah menolak pemberian Haura. Dulu, dia begitu kejamnya mencampakkan dasi hadiah dari istrinya.


"Maafkan Mas Ra. Mas tahu Mas banyak salah. Mas dulu bersikap kejam kepadamu. Saat itu Mas sedang buta arah. Tapi tak bisakah sekarang kamu memberikan dasinya untukku?" ucap Adam menggenggam erat jemari Haura.


"Apa Mas Adam tidak malu memakai dasi murahan dariku?" tanya wanita itu.


"Tidak Ra! Sama sekali tidak! Mas suka dengan apa yang Rara belikan. Saat itu Mas hanya terlalu buta untuk mengenal kasih sayangmu."


"Baiklah, tunggu ya Mas. Rara ambilkan di lemari atas." Haura tersenyum dan berjalan menaiki tangga menuju kamar lamanya. Adam menunggu Haura dengan senyum bahagianya. Rasanya begitu bahagia, melakukan rutinitas-rutinitas sepele bersama seperti ini.


Tak berapa lama Haura. sudah turun dan membawa dasi yang dulu sempat ditolak oleh Adam.


"Nah, ini Mas. Ta-tapi kalau jelek jangan dipakai."


"Ini bagus Ra. Lihatlah cocok dengan warna kemeja yang Mas pakai," ucap Adam dengan mata yang berbinar.


"Ya sudah, silakan Mas pakai. Semoga Mas suka."


"Mas suka. Sangat suka." Bukannya menerima kotak dasi, Adam malah mendekat dan berdiri di hadapan istrinya.


"Ini Mas dasinya."


"Pakaikan dong sayang."


"Ta-tapi Rara tak tahu cara memakai dasi."


"Sini Mas ajarkan! Karena mulai saat ini kamu yang akan memakaikan dasi Mas setiap pagi hari." Adam membalikkan badan Haura dan meletakkan dasi di leher istrinya. Dalam posisi Adam di belakang Haura dan memeluknya.


"Letakkan dasi seperti ini. Ujung yang lebar sebelah kanan dan bagian yang kecil sebelah kiri. Silangkan dan masukkan ke sini. Buat sekali lagi dan bentuk seperti ini masukkan. Nah, tinggal rapikan. Sudah siap. Mudah kan?" tanya Adam tersenyum puas dengan hasil kerjanya.


"I-iya," jawab Haura dengan jantung berdegup kencang. Entah wanita itu ingat atau tidak step by step yang Adam ajarkan.

__ADS_1


Haura segera melepaskan dasi yang sudah rapi itu dari atas melewati kepalanya. Agar bentuk dasi itu tak berubah dan tetap rapi wanita itu melakukan dengan pelan-pelan. Setelah dasi terlepas, tanpa aba-aba Adam menunduk agar tangan Haura dapat menjangkau kepalanya dan memasukkan dasi itu melewati kepalanya. Maklum, lelaki itu terlalu tinggi.


Adam menatap wanita yang tengah sibuk merapikan dasinya dengan intens. Bersyukur hubungan mereka berangsur membaik. Berharap kedepannya kehidupan rumah tangganya lebih tenang tanpa badai yang menerjang lagi.


"Nah sudah siap Mas." Haura masih mengelus dada suaminya, merapikan sebarang bagian yang sekiranya kusut.


"Ya sudah, Mas berangkat kerja dulu ya?"


"Iya Mas, hati-hati ya? Nanti mau makan siang di rumah atau di kantor?" tanya Haura seraya menyerahkan tas kantor Adam.


"He em. Lihat nanti ya sayang? Kalau sempat Mas pulang. Nanti Mas hubungi, okay?"


"Iya Mas, Mas Adam mau makan apa? Nanti Haura masakkan." Adam tak menjawab dan malah merentangkan kedua tangannya.


"Kenapa diam sayang? Peluk!" rengek pria itu begitu manja seperti bayi. Haura mendekat dan memeluk suaminya.


"Mau makan kamu," jawab Adam di telinga Haura dengan jahil. Sontak saja wajah Haura memerah menahan malu.


Cup


Adam melayangkan satu kecupan di kening istrinya.


"Hati-hati ya Mas."


"Iya sayang. Kamu juga. Baik-baik di rumah dan jangan lupa mengunci pintunya."


"Baik Mas."


"Aku rasa jantungku akan meledak jika setiap hari kamu memperlakukan aku semanis ini," batin Haura melepas kepergian suaminya.


***


"Meeting pagi ini diadakan untuk membahas urusan kantor cabang baru di daerah D. Seperti yang kita ketahui, bahwa produk kita diterima dengan baik di pasaran. Jadi untuk memenuhi permintaan konsumen yang meningkat, juga untuk memperlancar laju distribusi barang maka kami putuskan untuk membuka kantor cabang baru tersebut. Dan saya, selaku pimpinan telah menunjuk seseorang untuk menjadi kepala cabang di sana. Kepada Tuan Alviandra, saya rasa jabatan ini paling cocok diisi oleh anda. Jadi saya memutuskan untuk memindah kerjakan anda ke kota D dan dengan hormat mengangkat anda sebagai kepala cabang di sana."


"Ta-tapi Tuan. Saya hanya pegawai baru. Saya rasa saya belum layak mengisi jabatan itu," tolak Alvian merasa belum pantas.


"Tidak Tuan Alvian. Jabatan penting ini sangat layak untuk anda pegang. Apalagi mengingat prestasi demi prestasi yang sudah anda torehkan. Saya mohon jangan tolak niat baik saya ini," ucap Adam.

__ADS_1


"Baiklah kalau anda pikir begitu, saya menerima tugas ini. Semoga saya bisa menjadikan perusahaan kita menjadi lebih baik lagi."


"Selamat ya Tuan Alvian. Terima kasih untuk kinerja anda selama setahun lebih ini." Adam menjabat tangan Alvian diikuti oleh peserta meeting lainnya. Semua orang memberi selamat. Merasa ikut bahagia dan merasa layak jika lelaki itu mendapatkan itu semua.


***


Tok tok tok


"Iya silakan masuk!"


"Permisi Tuan Adam. Saya ingin berbicara sebentar."


"Baik. Silakan duduk Tuan Alvian."


"Apa tujuan anda memindah tugaskan saya jauh dari kota ini Tuan? Padahal banyak karyawan lainnya yang lebih layak untuk memegang jabatan ini. Apakah anda bermaksud untuk menjauhkan saya dari Haura?" tanya Alvian mencoba menahan amarahnya.


"Tidak Tuan. Perlu saya jelaskan lagi. Saya bersikap profesional. Tidak ingin mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Jika anda terpilih, itu tentunya karena kinerja anda yang sangat bagus dan memuaskan. Dan itu juga tak lepas dari keputusan Papa saya selaku direktur utama. Beliau yang memilih dan memutuskan mengangkat anda sebagai kepala cabang. Bukan saya."


"Baiklah kalau benar begitu. Jika anda yang melakukan ini. Dan berpikir bahwa dengan menjauhkan saya dengan Haura bisa memutuskan persahabatan kami, anda salah Tuan. Kami akan menjadi sahabat selamanya. Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Ingin mengemas barang-barang saya."


Alvian segera pamit dan keluar dari ruangan Adam membereskan barang-barangnya. Bersiap untuk pindah. Adam melepas kepergian Alvian dengan sedikit perasan bersalah. Memang benar ia kagum terhadap kinerja Alvian. Namun, di balik itu ada tujuan lain yang membuat ia memilih lelaki itu sebagai kepala cabang. Ia tak ingin Alvian mengganggu rumah tangganya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading guys, update lebih awal jam 4 sore ya. Lebaran InsyaAllah tetap update.


Beri Like ya 😘😘


__ADS_2