Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Ingin Memastikan


__ADS_3

Kini wanita itu tengah duduk di sebuah sofa di ruangan yang cukup sejuk karena pendingin udara. Suaminya masih sibuk sendiri mengambil air minum untuk istri tercintanya. Dan tak lama kemudian, Adam sudah datang dengan air mineral di tangan.


"Sayang, minum dulu." Adam membukakan dan menyerahkan air mineral botol tersebut. Haura menerimanya dan meneguknya beberapa kali.


"Dek, kenapa kamu ke sini tidak bilang? Mas kan bisa jemput kalau kamu ingin ke kantor?" ucap Adam khawatir mengingat kalau-kalau dugaan Medina benar. Ia tak mau terjadi hal buruk pada istrinya dan calon bayi mereka yang mungkin ada.


"Kenapa Rara tidak boleh ke sini? Agar aku tidak tahu kalau Mas tidak ke kantor? Mas dari mana saja? Mas bohong!" Wanita itu berkata dengan bibir bergetar menahan tangisnya.


"Ra, maafkan Mas. Mas bukan bermaksud bohong. Tadi Mas pulang ke rumah tapi kamu tidak ada."


"Lalu kemana saja Mas dari pagi? Ap-apa Mas menemui Isabella lagi? Apa Mas menyesal mempunyai istri jelek sepertiku? Bahkan karyawanmu saja tidak percaya kalau aku istrimu."


"Tidak Ra! Aku bersumpah jika Mas sudah tidak ada hubungan apa pun dengan Isabella. Mas tidak pernah menghubunginya lagi. Dan aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Ra, Mas akan mengumumkan pernikahan kita. Agar semua orang mengetahuinya." Haura menatap mata suaminya dengan intens, mencari-cari adakah kebohongan di sana.


"Em, tidak perlu Mas. Untuk apa mengumumkan pernikahan kita? Yang terpenting keluarga dan teman dekat kita tahu. Lalu Mas kemana tadi?" tanya Haura sedikit melunak.


"Maaf Ra, pikiran Mas tadi pagi kalut. Mas mengunjungi Mama untuk mendapatkan nasehat."


"Ma-ma?"


"Iya, kalau tidak percaya aku akan menelepon Mama. Tanyakan saja!"


"Jadi Mas ke rumah Mama?"


"Iya sayang, jadi jangan sedih lagi ya?"


"Aku juga ingin ke rumah Mama. Aku kangen Mama sama Mikha. Tapi Mas Adam malah tidak mengajakku."


"Maaf Ra, nanti kita pergi bersama ya?"


"Janji."


"Iya, janji."


"Jadi gimana? Jadi telepon mama?"


"Nggak usah, buat apa?"


"Nanti cemburu tak jelas lagi ...."


"Siapa yang cemburu," elak wanita itu tak mau mengaku.


"Ya sudah kalau begitu, aku mau ke rumah Isabella sebentar," goda Adam.


"Mas ...," rengek wanita itu kesal.


"Bercanda sayang. Katanya tidak cemburu."


***


"Ra, Mas ke apotek sebentar ya? Kamu di sini saja."

__ADS_1


"Mas mau beli apa? Mas sakit?" tanya Haura khawatir.


"Eh ini ... mau beli balsam."


"Bukannya masih ada ya di rumah?"


"Belakangan ini punggung Mas sering sakit. Nggak papa kan untuk persediaan."


"Oh, ya sudah."


"Ingat! Jangan ke mana-mana. Mas hanya sebentar saja."


"Iya Mas Adam, suamiku tersayang."


Adam tersenyum mendengar ucapan Haura. Ia segera meninggalkan Haura di dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam apotek.


"Mbak, saya mau beli alat tes kehamilan." Wanita itu senyum-senyum sendiri melihat Adam yang tampan membeli tespect.


"Mau yang mana Tuan. Ada beberapa macam."


"Aduh, saya tidak tahu. Mana yang paling akurat? Paling mahal mungkin."


"Ini Tuan yang paling mahal. Untuk tingkat keakuratannya sebaiknya urine yang di test adalah urine pertama setelah bangun tidur."


"Oke, saya ambil ini sama dua ini. Oh ya tambah balsam satu Mbak." Apoteker itu menatap tak percaya. Seorang lelaki tampan membeli tespect tiga sekaligus.


"Totalnya sekian Tuan." Adam menyerahkan satu lembar seratus ribuan.


Adam berlari keluar dari apotek dan segera masuk ke dalam mobil.


"Sudah?"


"Sudah Dek. Kita pulang ya? Atau mau makan di luar?"


"Nggak, Rara pengen masak."


"Ya sudah kita pulang ya sayang."


***


Adam gelisah karena belum ada kesempatan untuk mengeluarkan bungkusan berisi tespect dari saku celananya. Ia tak ingin Haura tahu. Ini akan menjadi kejutan untuk istrinya. Adam akan menyuruh Haura untuk mengetesnya besok pagi-pagi buta.


"Mas Rara haus. Rara mau ke bawah ambil minum. Mas Adam mau Rara buatkan kopi?" tanya Haura seraya meletakkan tas tangannya.


"Eh, iya iya."


"Kenapa tidak ganti baju?"


"Iya ini kan mau ganti baju, sayang."


Setelah memastikan istrinya sudah turun ke bawah, Adam segera mengeluarkan bungkusan berisi tespect dan memasukkan ke laci nakas paling bawah, laci yang jarang digunakan. Setelah itu ia menguncinya agar tidak dibuka oleh Haura. Lalu ia segera mengganti bajunya, agar Haura tidak curiga.

__ADS_1


Malam harinya Adam begitu gelisah, ingin ia menyentuh istrinya. Tapi ia takut kalau-kalau Haura benar-benar hamil muda. Ia takut akan menyakiti Haura dan calon bayi mereka. Berkali-kali laki-laki itu membolak-balikan badannya. Mencari posisi ternyaman agar terlelap. Akan tetapi hasilnya nihil. Ia tetap tak bisa tidur dengan tenang. Ingin rasanya agar malam cepat berlalu dan pagi segera menjelang.


"Mas, kenapa tidak tidur?" Haura bertanya dengan mata yang setengah terbuka karena kantuk.


"Mas belum ngantuk sayang." Sungguh laki-laki itu harus menahan rasa yang begitu menyiksa.


"Oh ...."


Cup.


Tak tertahankan lagi, Adam mengecup bibir manis istrinya. Haura tersenyum, seolah hilang kesadaran wanita itu membalas. Memberikan kecupan, bahkan dengan berani ia meluumat bibir suaminya. Mencoba memancing hasrat Adam padanya. Adam terhanyut dalam permainan cinta Haura. Mereka saling memaguut dan membelai satu sama lain. Merasakan bagaimana setiap inci tubuh mereka bergetar karena cinta. Bercampur dengan deru dan hangatnya napas mereka yang semakin memburu.


Hingga kancing piyama Haura yang paling atas terbuka dan menampilkan dua buah gundukan yang masih pada tempatnya. Seperti terhipnotis Adam langsung menyerbu tempat yang indah itu. Memberikan kecupan, kuluuman, dan menggigitnya gemas. Tangan Adam mulai menjelajah kemana-mana. Turun ke arah perut hingga akhirnya menyentuh bagian tersensitif wanita itu yang sudah basah. Dengan sekali sentak menghilanglah kain yang menjadi penghalang itu, tercerai entah kemana.


Baru setelah Adam melorotkan celananya sendiri, ia ingat pada kata-kata Medina. Yang mengatakan kemungkinan bahwa istrinya tengah mengandung, ia jadi takut. Ia tak mau menyakiti Haura dan juga kemungkinan bahwa makhluk kecil itu benar ada. Adam langsung sadar, ia langsung merapikan kembali celananya. Mengabaikan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun.


"Ra, Mas capek besok saja ya?"


Haura kecewa, hatinya merasa sakit hati mendapat penolakan dari Adam. Padahal sedikit lagi saja mereka sudah menyatu.


Haura membenahi bajunya dan memakai kembali celananya. Tanpa menjawab, wanita itu kembali memejamkan mata. Namun tanpa bisa ditahan, air mata mengalir membasahi wajahnya dalam kegelapan.


"Kenapa kamu menolakku, Mas? Benarkah kamu tidak mencintaiku lagi?"


"Maafkan aku Ra. Aku harus memastikan dulu besok pagi. Dan kalau benar kamu mengandung anak Mas kita harus berkonsultasi pada dokter dulu sayang. Mas takut menyakitimu."


.


.


.


.


.


.


.


.


Sayang-sayangku,


Author agak kecewa nih, like kemarin dikit amat. Yang dapat like banyak cuma episode yang paling akhir. Yang lupa tekan jempol karena keasyikan baca, tolong di tekan dong. Komennya juga dikit amat. Biasanya sepuluh komen lebih per chapter. Ini dikit amat yak. Author jadi sedih. Malas mau crazy up lagi jadinya.


Oh ya, mampir dong ke karyaku yang satunya lagi yang berjudul Minah I Love You, ramein dengan jempol dan komentar dong. Kalau banyak yg suka aku mau lanjut. Di jamin sama serunya kok. Ada adegan anuanu juga nanti 😂😂. Mesum lu thor! Wkwk


Mampir ya? Aku udah revisi, jadi lebih enak dibaca.


Please, please 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2