Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Menyadari Kesalahan


__ADS_3

"Ah, maaf saya harus pergi sekarang. Saya masih ada janji yang lain. Lain kali kita minum kopi bersama, ya?" kata wanita itu. Medina hanya mengiyakannya.


"Ray ... aku pergi dulu, ya? Nanti hubungi aku kalau ada waktu luang. Aku traktir minum di kafe," kata wanita itu sebelum berlalu dari tempat itu.


"Baiklah. Hati-hati ya Di."


"Sayang, ayo kita masuk," ajak Ray. Ray merangkul pundak istrinya dan membawa masuk Medina ke dalam ruang kerjanya.


Dalam pikiran Medina berkecamuk. Antara ingin curiga atau ingin percaya. Hatinya begitu terbakar cemburu, ia bertanya-tanya siapa gerangan wanita itu. Namun, Medina tak ingin memperburuk keadaan dengan prasangka-prasangkanya yang tak jelas. Ia harus menanyakan semua pada suaminya.


" Sayang ... tunggu sebentar ya? Aku selesaikan pekerjaanku. Kita jalan-jalan keluar," kata Ray.


"Iya Mas." Medina mendudukkan diri di sofa.


"Kamu duduk dulu di situ. Emm ... kamu mau minum apa?" tanya Ray seraya duduk kembali ke kursi kebesarannya.


"Nggak usah Mas, nanti saja," jawab Medina tersenyum.


"Mas, wanita tadi siapa?" Perkataan Medina membuat Ray menghentikan aktivitasnya yang tengah memeriksa laporan penjualan.


"Nanti saja ya, Mas cerita. Yang pasti dia teman Mas," jawab Ray tanpa menoleh. Ray kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Medina yang mengerti Ray belum mau di ganggu, akhirnya menyandarkan kepala di sofa. Ia mengambil ponselnya dan memainkannya. Lama-lama ia bosan, namun pekerjaan Ray belum juga selesai. Satu jam telah berlalu, berkali-kali Medina menguap. Akhirnya Medina tertidur. Suasana tenang dan kenyamanan dari dinginnya pendingin ruangan membuat ia terlelap. Sudah lama Medina tak tidur sepulas itu.


Dua jam kemudian, pekerjaan Ray telah selesai. Ia meregangkan badannya sebentar. Ketika ia menoleh ke arah wanita yang tidur meringkuk itu ia tersenyum. Didekatinya istrinya, Ray mengelus kepala Medina yang tertutup hijab itu dengan sayang. Ray menjadi sedih, mengingat senyum wanitanya yang sudah menghilang selama dua bulan ini. Ray merasa dadanya seperti di tusuk, saat dirinya tak sanggup berbuat apa-apa. Karena ia tak mampu untuk menemukan Adamnya. Pencarian sudah dilakukan, namun tidak ada hasilnya.


Ray menyesal telah berbuat baik pada Ilham. Ia sungguh tak menyangka pria tua itu tega mengambil buah hati mereka.


Ray berjalan ke lemari dekat meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah selimut yang biasanya ia gunakan ketika ia lembur kerja atau bahkan tak pulang. Di tutupinya tubuh Medina dengan sayang. Hati Ray teriris, istrinya lebih kurus dari dua bulan lalu. Rasanya ingin ia merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Ray kembali ke meja kerjanya. Ia menelepon bawahannya.


"Fin, orderkan dua porsi Bakso ya? Pakai pangsit," perintah Ray.


"Baik Pak, mau sekarang?"


"Iya. Carikan yang enak."


"Baik. Minumnya apa Pak?"


"Minumnya lemon tea saja dua."


"Oke, itu saja?"


"Kamu bisa pesan juga untukmu, kalau mau. Biar aku yang bayar."


"Baik Pak, terimakasih. "


"Ya sudah aku tunggu, cepat pesankan!"


Ray mematikan sambungan telepon. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar. Lebih baik ia menikmati waktunya berdua dengan Medina di kantor.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian Fina mengantarkan makanan yang Ray pesan ke ruangannya.


"Ah, Ibu tidur ya, Pak?" tanya Fina. Pantas saja bosnya memilih delivery makanan. Ray hanya tersenyum.


"Maaf ya Pak, tadi saya tidak memberitahukan kedatangan Ibu. Karena ibu bilang tak perlu," kata Fina tak enak hati.


"Iya Fin. Nggak papa kok. Kamu bisa bekerja kembali. Oh ya ini uangnya." Ray menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Ini terlalu banyak Pak."


"Nggak papa, kalau ada lebihnya kamu ambil saja," kata Ray.


"Ya sudah terima kasih. Saya permisi ya, Pak."


"Eh, Fin.. Dalam dua jam ini aku nggak mau ada tamu. Dan jangan biarkan satu orang pun masuk ke ruanganku," perintah Ray.


Setelah mengiyakan perintah bosnya, Fina segera keluar dari ruangan itu .


Ray segera menyiapkan mangkok tempat bakso. Dan meletakannya di atas meja. Kemudian ia membangunkan istrinya.


"Me ... sayang," panggil Ray membangunkan Medina.


"Enghh, sudah selesai pekerjaannya?" tanya Medina memgerjapkan mata menyesuaikan dengan cahaya ruangan itu.


"Sudah, makan yuk!" ajak Ray.


"Dimana?"


"Eh, di sini? Nggak jadi keluar?"


"Iya di sini. Nggak usah keluar ya? Malas terjebak macet. Ini Mas sudah belikan bakso kesukaan kamu."


"Ya sudah. Me tak masalah makan di mana pun."


"Sebentar ya Mas siapkan," kata Ray menyajikan bakso untuk istrinya. Medina menatap Ray dengan rasa bersalah. Sekalipun sikapnya akhir-akhir ini kurang baik, Ray tetap saja perhatian padanya.


"Kapan Mas belinya?" tanya Medina. Medina heran bagaimana. bisa Ray sempat membeli makanan keluar.


"Tadi Mas suruh Fina belikan. Nah, siap. Ayo kita makan!" Ray memberikan mangkok berisi bakso itu pada istrinya.


"Sayang, ini coba ... aa ...." Ray menyodorkan sendok berisi bakso ke arah Medina.


"Kan sama saja sama punya Me, Mas," protes Medina.


"Sudah, cepat! keburu jatuh nih." Medina menerima suapan dari Ray. Akhirnya mereka segera menghabiskan bakso itu. Ray tersenyum melihat Medina memakan bakso dengan lahap. Selama kepergian Adam, jarang sekali melihat istrinya makan.


"Mas, makasih ya? "


"Untuk?"


"Makan siangnya," kata Medina canggung. Entah bagaimana ia harus memulai percakapan.

__ADS_1


"Iya sayang, sama suami sendiri tidak perlu ucapkan terimakasih." Ray mengelus kepala istrinya lembut.


"Mas, boleh Me bertanya?"


"Iya. Tanyakan saja Me, sini mendekat!" Ray menepuk sofa di sampingnya. Medina meurut dan mendekat ke arah suaminya. Ray mendekap erat istrinya.


"Mas, siapa wanita tadi?" Medina bersandar di dada Ray dan memainkan dasi milik suaminya.


"Kamu cemburu?" tanya Ray terkekeh.


"Ih Mas Ray, Me kan hanya bertanya? Jawab saja!"


"Kan tadi sudah kenalan sayang? Dia Diana. Teman Mas waktu kuliah dulu," jawab Ray menatap Medina intens.


"Terus ada urusan apa ke sini?" tanya Medina penasaran. Biarlah Ray berkata apa, ia tak mau gelisah karena curiga.


"Em ... dia ... Psikiater."


"Ke-kenapa?" tanya Medina tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. Ray berdiam diri sebentar.


"Karena akhir-akhir ini Mas sangat tertekan sayang. Sudahlah, nggak usah dibahas. Kita sudah banyak melewati banyak kesedihan," ucap Ray sendu.


"Apa karena Me? Me minta maaf Mas. Jika selama ini sikap Me tak layak. Ampuni Me Mas. Me salah," wanita itu kini tak dapat menahan tangisnya.


"Sudahlah sayang, Mas tahu bagaimama perasaan kamu. Tapi ketahuilah Me, aku juga sama hancurnya karena kepergian Adam. Adam juga anakku. Jadi kamu nggak sendiri sayang. Jangan kamu menyiksa dirimu lagi. Kita berdoa saja semoga dimanapun anak kita berada, dia senantiasa dilindungi Allah."


Kini mereka berpelukan. Keduanya menangis, tak mampu menahan kesedihan yang mendalam. Akibat kepergian putra mereka yang begitu tiba-tiba. Entah di sana Adam terurus atau tidak. Entah kini anaknya sedang menangis atau tertawa.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yahhh.. Ternyata bukan pelakor ya..


😂😂😂


Jangan lupa dukung dengan memberikan like dan vote yah.. Yang punya banyak koin ayuk dong bagi votenya banyak-banyak.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2