
Mereka berdua saling memagut, mencicip satu sama lain. Seolah ada sebuah rasa haus yang tak pernah terpuaskan. Kedua lidah itu saling membelit nakal, menyalurkan getaran-getaran hebat ke relung hati mereka. Begitu indah cinta dan begitu menakjubkan rasanya jatuh cinta. Deru nafas keduanya memburu dan terasa sangat panas. Rasanya Medina tak dapat lagi lari dari pesona lelaki itu. Medina pasrah jika kali ini tubuhnya akan remuk redam di gempur oleh suaminya.
Ray melepaskan bathrobe yang menutup tubuhnya. Tak lupa handuk yang dipakai istrinya dilempar ke segala arah. Pandangannya dipenuhi oleh kabut gairah, ia mulai bersiap untuk melesakkan miliknya kembali ke dalam tubuh istrinya. Sesekali ia mengecup mesra bibir sang istri, menghilangkan rasa gugupnya.
Ting tong ting tong
Suara bel yang berbunyi mengagetkan mereka berdua. Membuat kegiatan intim harus berhenti. Ray segera memakai boxer miliknya. Dan secepat kilat memakai celana rumah dan t-shirt hariannya.
"Sayang, cepat pakai bajumu!" perintah Ray yang kecewa seraya memakai pakaiannya. Ia sedikit kesal karena ia harus menunda kegiatan mereka untuk menuntaskan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.
"Mas turun bukakan pintu." Segera Ray turun ke lantai bawah dengan sedikit menggerutu. Ray penasaran siapa gerangan tamu yang datang sore-sore begini. Dan berani-beraninya mengganggu aktivitas berharganya.
Sedangkan Medina segera memakai bajunya kembali. Ketika memakai baju, baby Adam terbangun. Namun bayi itu sudah tenang, tak menangis lagi. Hanya senyum menggemaskan yang menghiasi bibir mungilnya.
"Sayang, anak Mama ...," kata Medina mengangkat tubuh kecil itu dari box bayi.
"Kamu lapar ya? Anak Mama nyenyak banget sih boboknya." Medina menciumi pipi Adam, hingga bocah itu tersenyum karena geli.
Medina memangku Adam dan menyusuinya hingga kenyang sebelum ia turun melihat siapakah gerangan tamu yang datang.
Sedangkan di lantai bawah, Ray segera membuka pintu dengan wajah yang
masih masam. Namun ketika pintu terbuka wajahnya yang semula masam berubah sumringah.
"Arif ... Kia ...."
Teriak Ray bahagia dan memeluk tubuh Arif yang sudah ia rindukan.
"Kapan datang?" tanya Ray dengan wajah berbinar. Kia memandang kebahagiaan dua sahabat itu ikut tersenyum.
"Kemarin. Kebetulan aku ada urusan bisnis di dekat sini," jawab Arif tersenyum.
"Eh, mari silakan masuk." Ray mengajak Arif dan Zaskia ke ruang tamu mereka.
"Wow ... pantas Medina melupakan aku? Dia tinggal di apartemen senyaman ini rupanya," kata Zaskia mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Zaskia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berdecak kagum. Apartemen yang tak terlalu besar itu terlihat elegan dan nyaman. Ada kesan mewah dengan gaya klasik eropa.
"Kamu bisa saja. Mungkin karena sekarang Me sibuk mengurus baby Adam. Jadi belum sempat menghubungi kamu," bela Ray.
"Eh, ngomong-ngomong mana Me?" Kia celingak celinguk mencari keberadaan sahabatnya.
"Mungkin sedang menyusui baby Adam. Tunggu sebentar, pasti dia akan segera turun. Me pasti bahagia mengetahui kalian berkunjung."
"Kalian menginap dimana? "
"Hotel Queen lima belas menit dari sini." Ray menganggukkan kepala dan ber-oh ria.
Tak lama Medina turun dengan menggendong baby Adam.
"Kia," teriak Medina terkejut dan bahagia dengan kedatangan sahabatnya. Baby Adam sedikit berjingkat kaget dengan suara Medina yang keras.
"Sayang, jangan teriak. Kasihan Adam." Ray mengingatkan. Medina mengatupkan mulut malu sampai di tegur oleh suaminya.
__ADS_1
"Kapan datang?" Medina dan Zaskia berpelukan. Baby Adam terjepit di tengah mereka.
"Kemarin, aku mau langsung ke sini tapi masih capek. Jadi hari ini baru bisa datang," kata Zaskia dengan berbinar.
"Eh, sudah berapa bulan Ki?" tanya Medina mengelus perut Kia yang gendut
"Lima bulan Me. Tapi kulit perutku tebal. Jadi kelihatan kayak tujuh bulan hehe," kata Zaskia terkekeh geli.
"Cowok apa cewek?"
"Hasil USG-nya sih cewek. Tapi cewek atau cowok aku sama Arif nggak mempermasalahkannya," jawab Zaskia tersenyum.
"Iya cewek atau cowok adalah karunia Tuhan. Kalau anakmu cewek, bisa kita jodohkan anak kita nanti Ki," kata Medina tersenyum penuh arti. Begitu juga Zaskia berpikiran sama seperti Medina. Tentu saja Zaskia sangat setuju.
"Ehem, lanjut nanti sayang ngobrolnya. Masa tamunya dibiarkan begitu saja," kata Ray menyadarkan Medina.
"Ah iya, ikut Papa dulu ya sayang. Mama ambilkan Tante Kia minum dulu ya?" kata Medina menyerahkan Adam pada Ray. Medina segera menuju ke dapur menyiapkan air minum untuk tamu istimewanya.
Kini baby Adam dipangku oleh papanya. Ray mengajak baby Adam bicara. Baby Adam tersenyum ketika diajak bicara papanya. Arif keheranan melihat Ray yang berubah menjadi lebih dewasa.
"Wahhh ... kamu benar-benar sudah jadi papa sekarang Ray. Nggak nyangka Ray yang dua tahun dulu masih manja kini sudah memiliki putra," kata Arif tertawa mengingat kelakuan Ray yang dulu kekanakan.
"Keren nggak?" tanya Ray sambil bergaya dan menaik turunkan kedua alisnya.
"Iya Ray. Dari dulu kamu memang keren. Pesonaku saja sampai tenggelam kalah oleh pesonamu," canda Arif. Mereka tertawa.
"Maaf ya ... hanya ada ini," kata Medina meletakkan empat cangkir cokelat panas dan biskuit.
"Iya Me, kamu ini kayak sama siapa saja," kata Zaskia.
"Mas Arif, silakan diminum!" Medina menawarkan minuman pada Arif.
"Ngomong-ngomong, gimana dengan kuliah kamu Me?" tanya Zaskia penasaran.
"Untuk sementara, aku ingin berhenti dulu Ki. Aku ingin fokus mengurus Adam," jawab Medina mengambil kembali Adam dari pelukan Ray. Zaskia sedikit terkejut karena biasanya Medina akan keras kepala.
"Me, boleh aku gendong Adam?" tanya Zaskia berbinar.
"Tentu Ki." Medina tersenyum dan menyerahkannya pada Kia.
"Uhhh ... *b*aby gantengnya tante. Kenalin, ini tante Kia. Tantenya Adam." Zaskia mengajak bicara Adam. Zaskia begitu bahagia ketika memegang baby Adam.
"Pantas mamamu melupakan Tante, Nak. Mama kamu rupanya sudah memiliki kamu yang begitu menggemaskan." Zaskia menciumi pipi gembul Adam dengan gemas.
Perbincangan mereka berlanjut cukup lama. Hingga azan magrib menjelang. Medina yang tak sempat memasak, memesan fast food untuk mereka. Akhirnya mereka makan malam bersama sebelum Zaskia dan Arif pulang.
Medina meminta Arif dan Zaskia menginap, namun mereka menolak. Katanya sayang dengan hotel yang sudah terlanjur dibooking.
"Baby ganteng, Tante pulang dulu ya? Tante pasti akan merindukan kamu." Zaskia tak ikhlas berpisah dengan bayi lucu itu.
"Iya tante, hati-hati ya di jalan. Adam sebentar lagi juga pulang kok ke Indonesia," jawab Medina dengan menggunakan suara anak kecil.
__ADS_1
"Benarkah Me?" tanya Zaskia berbinar.
"Iya Kia sayang."
Zaskia memeluk Medina dengan kegirangan.
"Tante tunggu ya sayang." Zaskia mencium baby Adam tanda perpisahan. Dan akhirnya Zaskia dan Arif pulang.
"Yuk Mas, kita sholat maghrib," ajak Medina setelah kedua sahabatnya pergi.
"Astagfirullah ... Mas belum mandi Me." Ray menepuk jidatnya. Medina tertawa mengingat apa yang terjadi sore tadi. Yang sempat membuat Ray uring-uringan.
Ray segera mandi dan mereka salat berjamaah dengan khusyuk. Ray dan Medina megucapkan banyak rasa syukur atas kebahagiaan yang mereka dapat setelah badai yang mereka hadapi berlalu.
"Me, Mas mau bicara," kata Ray serius setelah mereka menjalankan ibadah.
"Mas mau katakan tadi sepulang kerja. Eh malah lupa," kata Ray tertawa.
"Seminggu lagi kita pulang ke Indonesia. Mas sudah membeli tiketnya," kata Ray menunjukkan tiket untuk mereka bertiga dengan bahagia.
"Benarkah? Akhirnya kita bisa pulang ya Mas," kata Medina bahagia refleks memeluk Ray.
"Makasih Mas." Medina menenggelamkan kepalanya di dada Ray.
"Iya sayang sama-sama." Ray balas memeluk istrinya.
***
Seminggu kemudian.
Ketiga orang itu dengan riang menyusuri area bandara. Sang ibu menggendong bayinya yang dibalut dengan selimut tebal agar terhindar dari hawa dingin. Sang ayah mendorong troli besar yang dipenuhi tiga koper besar milik mereka. Sesekali terdengar canda tawa di antara keduanya. Sang bayi yang kini berusia tiga bulan itu ikut tersenyum melihat kebahagiaan kedua orang tuanya.
Penat yang dirasakan setelah menempuh perjalanan selama 18 jam lebih seakan menghilang ketika mereka menghirup udara di tanah kelahirannya, Indonesia. Akhirnya setelah mempertimbangkan dengan masak dan menyelesaikan segala urusan di negeri Paman Sam. Mereka memutuskan akan menetap di Indonesia, selamanya.
Terlihat dari kejauhan keluarga mereka yang menjemput melambaikan tangan ke arah mereka. Ada Oma, Yasin, Bunda dan Alif. Mereka sangat bahagia menanti kedatangan anggota keluarga mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa klik like, favorite
__ADS_1
berikan komentar kalian dan kasih vote banyak-banyak ya buat yang poinnya banyak.
Terima kasih.