Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kecewa


__ADS_3

Semenjak kejadian Adam yang diantar pulang mama dan papa Gibran, Rika dan Ilham menjadi sering berkunjung. Awalnya Medina sangat tidak suka dan enggan menyambut kedatangan mantan mertuanya itu. Namun karena bujukan Ray, akhirnya Medina bersedia mengizinkan mereka untuk bertemu dengan Adam. Ray selalu menasehati Medina bahwa Adam tetaplah cucu mereka. Membuat Medina sedikit mengalah menerima kehadiran kedua orang itu ke rumah. Ia tahu ia salah jika melarang mereka menemui cucunya.


Mereka selalu datang setiap sebulan sekali dengan membawakan banyak buah tangan. Sangat berlebihan, membuat Medina risau jika Adam terlalu dimanjakan.


Seperti sore itu, Rika dan Ilham datang dengan membawa sekantung penuh berisi mainan baru untuk Adam. Hingga membuat Medina emosi dan terpaksa untuk menegur mantan mertuanya.


"Maaf Tan, Om ... sebaiknya kalian jangan terlalu sering memanjakan Adam. Adam masih kecil, Me takut Adam jadi anak yang manja dan terlalu bergantung pada orang lain," ucap Medina yang merasa tak nyaman dengan sikap mantan mertuanya yang terlalu memanjakan Adam.


"Tapi Adam cucu kami juga Me. Jadi kami ada hak untuk memberikan kebahagiaan untuk Adam," jawab Ilham dengan santai.


"Maaf Om jika saya harus ikut campur. Bagaimanapun juga Adam adalah anak saya. Saya mempunyai hak atas Adam. Saya sependapat dengan istri saya. Saya tak suka jika Adam terlalu dimanjakan." Ray membenarkan perkataan istrinya.


"Cih, tahu apa kamu? Kamu saja bukan ayah kandungnya," kata Ilham meremehkan.


"Maaf Om Ilham, kami sudah bersepakat untuk tidak membahas ini. Saya Ray, adalah ayah Adam. Mohon jangan bicara yang tidak-tidak. Kami tidak ingin hal kecil ini mengganggu tumbuh kembang anak kami. Kami tak ingin anak kami menjadi minder," jawab Ray mulai tersulut emosi.


"Bilang saja pelit. Rumah sebesar ini. Perusahaan ada dimana-mana tapi tak mampu membelikan cucu saya mainan yang banyak," tuduh Ilham kasar.


"Saya bukan bermaksud pelit. Tapi kami tidak ingin membiasakan diri untuk memanjakan Adam. Kami akan mencukupi semua kebutuhan yang penting. Tapi tidak untuk mainan atau hal yang kurang penting," jawab Ray sedikit tersinggung. Jangankan untuk membeli mainan, membeli satu toko pun ia sanggup. Tapi Ray dan Medina ingin anaknya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.


Kedua keluarga itu sedikit bersitegang. Ilham kekeh dengan pendapatnya. Sedangkan Ray benar-benar tak ingin kakek dan nenek Adam memberi pengaruh buruk karena seringnya memanjakan putranya.


"Pa, ayo kita pulang dulu saja. Benar Pa, apa yang mereka katakan. Kita yang salah Pa," bujuk Rika yang malu dengan kelakuan suaminya.


"Nak Ray, Medina. Tante minta maaf ya jika kata-kata suami Tante ada yang tidak berkenan di hati kalian," kata Rika tak enak hati.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pulang. Ilham pergi dengan emosi, sepertinya ia masih sangat kesal dengan perkataan Ray. Ray dan Medina hanya bisa mengelus dada, mereka tak enak hati karena sudah menegur orang yang lebih tua. Tapi semua mereka lakukan untuk kebaikan Adam.


Setelah kejadian itu, Ilham dan Rika tak pernah datang lagi. Membuat Medina merasa lega namun sedikit merasa bersalah. Padahal ia tak bermaksud untuk menjauhkan Adam dari kakek neneknya.


Dua tahun kemudian


Ray dengan gelisah menunggu istrinya yang sedari bangun tidur belum juga keluar dari kamar mandi. Padahal tadi ia mendengar istrinya muntah-muntah. Medina sudah ada di kamar mandi selama sepuluh menit dalam keheningan. Berkali-kali Ray memanggil nama istrinya, namun Medina tak menyahut. Hanya suara air mengalir yang terdengar dari dalam sana.


Hingga akhirnya Medina keluar dari kamar mandi ketika Ray berniat mendobraknya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ray cemas melihat wajah pucat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bukannya menjawab pertanyaan Ray, Medina malah menangis.


"Hei, kenapa Me? Jangan buat mas risau Me." Ray mengguncang lengan Medina dengan tak sabar.


"Mas dengar kamu muntah-muntah, kamu sakit?" Medina menggeleng lemah.


"Cuma masuk angin Mas. Aku kira ... aku hamil, sudah dua minggu aku telat. Tapi waktu aku cek hasilnya ...." Medina menyerahkan tespek dengan satu garis merah. Ray menerima dengan sedikit iba melihat kekecewaan di wajah istrinya.


"Sabar ya sayang? Tapi sudah biasa kan siklus haid kamu tidak teratur? Kata dokter kita kan baik-baik saja. Jadi kita tinggal berusaha lagi. Jangan kecewa okay?" hibur Ray. Ray mendekap erat istrinya ke dalam pelukannya yang hangat.


Ada rasa lega ketika mendengar istrinya baik-baik saja. Ray tak mempermasalahkan, jika Medina belum bisa memberinya keturunan. Karena bagi Ray yang terpenting dalam hidupnya adalah Medina. Ia tak akan bisa hidup tanpa istrinya.


"Maaf ya Mas, aku belum bisa memberikan keturunan untuk kamu. Kamu pasti kecewa kan Mas?" ucap Medina sedih.


"Shhh ... jangan katakan itu lagi. Rezeki, jodoh, maut. Semuanya Allah yang mengatur. Kita sebagai hamba hanya bisa berserah dan berdoa. Mungkin bukan sekarang tapi bisa jadi besok Allah akan memberi kita bayi," kata Ray kembali menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Tapi Mas, sudah dua tahun kita ikut program kehamilan. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya juga," ucapnya kecewa.


"Nggak apa-apa sayang. Kita coba lagi. Mungkin Allah menginginkan kita fokus mengurus Adam dulu. Nggak papa kita masih muda. Kita tinggal usaha lagi yang dengan tekun," jawab Ray.


"Mau kan kita usaha siang dan malam?" goda Ray.


"Apaan sih ... nggak lucu. Istri lagi sedih malah berpikiran mesum," kata Medina yang kini mulai tersenyum.


"Tapi benar kan? Harus mesum biar cepat dapat adek bayi," kata Ray tertawa. Ray memeluk Medina dengan erat dan menciumi pipi istrinya dengan gemas.


"Mas Ray ... malu Mas kalau sampai didengar Adam. Adam sekarang semakin pandai. Kalau Adam sampai mendengar percakapan kita ini dia pasti akan meledek kita habis-habisan. Dan pasti dia akan bilang ke oma dan semuanya," kata Medina.


"He he, ya sudah biarkan saja. Memang kenyataannya kita harus lembur buatkan dia adek bayi," kata Ray tertawa. Medina menghadiahi cubitan di perut Ray karena kata-kata Ray yang terlalu vulgar.


"Mama, Papa ...," panggil bocah lelaki yang berpakaian putih merah, melongokkan kepala di pintu. Adam melihat kedua orang tuanya yang tengah berpelukan dengan malas. Ia memutar bola matanya setelah melihat drama yang biasa ia saksikan diam-diam.


"Oma buyut bilang, Papa dan Mama disuruh turun sarapan."


"Okay, okay ... Mama sama Papa akan segera turun," jawab Ray masih mendekap erat Medina.


"Ck ck ck ... kapan turunnya kalau mesra-mesraan terus," Adam menggelengkan kepala karena heran.


"Adam juga harus pergi ke sekolah, Mama ... Papa ... jadi pacarannya nanti saja. Setelah Adam berangkat," kata Adam sebal. Ray dan Medina berpandangan karena ucapan Adam.


"Anak kita ternyata sudah besar Ma."

__ADS_1


"Iya Pa."


__ADS_2