Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kamu Harus Sembuh


__ADS_3

Tempat kumuh itu sedikit menyeramkan. Sebuah bangunan tak terawat yang sudah usang di pemukiman padat penduduk. Sampah berserakan di sana-sini. Ditemboknya banyak terdapat gravity hasil kerja anak muda yang iseng. Rumput liar yang menutupi pintu rumah itu sudah tumbuh setinggi dada orang dewasa.


Terlihat sebuah pohon beringin tumbuh menaungi rumah itu. Menambah kesan seram dan mistis. Tak ada yang berani ke tempat itu. Karena banyak kabar burung mengatakan bahwa tempat itu angker.


Namun lain halnya dengan bocah berhodie hitam itu. Sudah setengah jam ia berdiri menyandar dinding di tempat itu tanpa rasa takut, entah menunggu siapa.


Dia sangat gelisah, bibirnya membiru. Sesekali ia membasahi bibirnya yang terasa kering. Peluh dingin menetes di setiap inci tubuhnya. Tak hentinya menoleh kanan kiri berharap orang yang dinantikannya segera datang. Ia tak sabar, berkali-kali ia menghentakkan kakinya. Berkali-kali pula ia menengok ponsel miliknya.


Hujan rintik-rintik mulai membasahi tanah dan dedaunan. Langit semakin menggelap, menambah rasa gelisah. Ia bersidekap menahan rasa sakit dan ngilu ditubuhnya. Wajahnya semakin pucat. Lama-kelamaan ia duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Lima belas menit, dua orang dewasa yang berboncengan dengan motor matic sudah datang. Kedua orang itu sama, menggunakan hodie dan masker untuk menutup wajahnya.


Mereka berdua menembus hujan menghampiri anak lelaki itu. Anak lelaki itu segera berdiri menyambut kedatangan dua orang itu.


Setelah melihat ke kanan kiri, dua orang itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil berwarna putih. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka bertiga. Mereka hanya bermain kode. Setelah menerima benda itu, anak lelaki itu menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.


Transaksi selesai. Mereka segera meninggalkan tempat itu seakan tak terjadi apa-apa.


Dibalik pohon yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat transaksi, keluar seorang laki-laki yang ternyata mengintai mereka sedari tadi. Rasa marah, kecewa, sakit, memenuhi hati lelaki usia matang itu. Ia bergegas menyusul putranya yang ia yakini akan pulang ke rumah.


Kediaman Rayga


Jaket hodie hitamnya basah terkena hujan. Sepatu yang ia kenakan berlumpur mengotori setiap lantai yang ia pijak. Dengan langkah tergesa ia menuju lantai atas, bisa dipastikan bocah itu menuju kamarnya sendiri.


Selang lima menit, Ray sang ayah juga baru pulang. Setengah berlari ia menuju ke kamar putranya. Dengan segera ia memutar kenop pintu. Sial, dikunci. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang sudah dipersiapkan sejak bocah itu tinggal lagi di rumah itu.


Pintu terbuka, putra kesayangannya tengah membuka benda haram yang ia dapatkan tadi. Ray marah, emosinya meluap. Ia mengambil paksa bungkusan tersebut, sebelum Adam menikmatinya.


"Apa sih Pa, kembalikan. Itu punya Adam," teriak bocah itu histeris.


"Tidak, Papa tak akan memberikan benda terkutuk ini," Ray keluar dari kamar itu dan diikuti Adam.


"Please Pa, kasihani Adam. Adam butuh benda itu saat ini," pintanya dengan gemetar. Ray tetap membisu menuruni tangga dan menuju ke belakang rumah.

__ADS_1


"Bi Sum, siapkan api!" perintah Ray dengan mata memerah karena amarah.


"Apa yang akan Papa lakukan?" Ray tak menjawab sepatah kata pun.


"Jangan bilang Papa mau membakarnya. Tahukah Papa seberapa sulit Adam mendapatkannya?"


"Please Pa, kembalikan pada Adam. Adam membutuhkannya Pa ...." bocah itu memeluk kaki ayahnya yang berdiri tegap menunggu api siap. Bocah itu berharap ayahnya akan sedikit iba.


"Mas Ray, sudah siap apinya," kata Bi Sum.


"Jangan Pa ... jangan!" teriak Adam histeris. Ia memohon-mohon pada ayahnya.


Tanpa menjawab perkataan Bi Sum, Ray mendekat ke api dan memasukkan benda yang dirampasnya tadi ke dalam api yang berkobar. Sekejap saja, benda haram itu musnah ditelan bara api. Membuat Adam murka.


"Jangan Pa ... Papa jahat, Papa jahat ...." Adam menangis dan memukul-mukul dada Ray, ia sangat marah.


Merasa tak ada gunanya lagi dia memohon, ia membalikkan badan ingin mendapatkan lagi barang haram tersebut.


"Mau kemana kamu?Berhenti!"


"Minggir Ma! lebih baik Adam pergi dari rumah ini." Adam berusaha mendorong Medina yang menghalangi.


Ray segera menyusul Adam. Dengan satu gerakan ia mengangkat tubuh putranya yang sudah hampir sebesar dirinya. Ia membawa Adam yang meronta ke sebuah kamar di lantai satu. Ternyata bukan kamarnya. Kamar itu berukuran sedang. Dengan tralis yang menutupi jendela. Hanya ada sebuah ranjang dan kasur. Tak ada apapun di sana. Segala benda yang berbahaya sudah disingkirkan.


"Mulai sekarang kamu tinggal di sini. Kamu tak perlu lagi ke sekolah."


"Papa kejam, hu hu hu ... sakit Pa ... sakit." Adam meringkuk kesakitan di ranjangnya. Ia sakau. Saat ini ia sangat membutuhkan barang yang membuat ia kecanduan.


"Bertahanlah Nak, Papa yakin kamu bisa." Setelah berkata demikian Ray segera keluar dan menguncinya dari luar.


Medina yang mendengarkan dari luar kamar menangis tersedu. Tak tahan rasanya mendengar penderitaan Adam.


"Kasihan Adam Mas." Medina memeluk Ray.

__ADS_1


"Kita harus tega sayang, ini semua demi kesembuhan Adam. Kamu sudah menelepon Dokter David?" tanya Ray.


"Sudah Mas. Beliau dalam perjalanan kemari," kata Medina.


"Bagus, siapkan baju Adam. Mas akan memandikannya."


Ray meninggalkan Medina dan mengganti bajunya dengan baju rumah. Tak lama kemudian ia kembali ke kamar Adam.


Bocah itu masih kesakitan. Ray segera menyiapkan air hangat di bathup kamar mandi. Ia menggendong Adam yang tak mampu lagi untuk meronta. Dengan gerakan cepat, dilepaskannya baju putranya tanpa rasa risih.


Ia membimbing putranya masuk ke bathup. Dimandikannya dengan kasih sayang putra yang sudah sembilan tahun tak ia rawat. Disabuninya dengan sesekali memijat punggung Adam. Adam sedikit rileks walau masih sedikit kesakitan. Dengan telaten Ray memandikan putranya. Terkadang bulir-bulir kristal jatuh dari matanya. Rasanya sesak melihat putranya yang kini hancur.


Tak ingin berlama-lama, Ray menggendong kembali Adam kembali ke kamar. Digantinya pakaian Adam. Bocah itu menurut tak berkata apa pun. Hanya air mata yang kini memenuhi matanya.


"Nah, sekarang sudah ganteng, anak lelaki nggak boleh nangis," Ray menghapus air mata Adam dengan jemarinya.


Ia merengkuh putranya ke dalam pelukannya. Membiarkan Adam menangis di pelukannya. Meluapkan air mata yang sudah ditahannya selama sembilan tahun ini. Adam merasakan nyaman dipelukan Ray. Sesekali Ray mengecup puncak kepala Adam dengan sayang.


"Kamu harus sembuh Nak. Kamu harus bisa keluar dari lubang hitam ini," gumam Ray pelan, namun masih dapat didengar Adam. Membuat Adam bertambah menyesal.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sakit.


__ADS_2