Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Tangis Haru


__ADS_3

"Bagaimana Mas Adam bisa selamat? Sudah seminggu ini kami kebingungan mencari Mas Adam."


"Apa Bang? Jadi semua orang kebingungan mencari saya?"


"Iya Mas. Kasihan istri kamu sangat terpukul. Ia menangis terus."


Deg


Hati Adam seperti disayat mendengar cerita tetangga Haura. Tak rela air mata mengalir di wajah istrinya. Ia dapat membayangkan bagaimana wanita yang sangat halus perasaannya itu menangis dan bersedih karenanya.


"Ya sudah ya Bang. Adam harus cepat pulang."


"Iya Mas Adam. Segeralah pulang kasihan istrimu." Adam berlari menuju rumah Haura yang sudah semakin dekat.


Dan ketika ia sudah tak seberapa jauh dari rumah mertuanya, ia dapat melihat mobil orang tuanya. Ia yakin Medina juga sudah tahu apa yang terjadi padanya. Pasti Mamanya itu sama terpukulnya dengan Haura. Ia jadi semakin tak tega melihat air mata di wajah kedua wanita yang paling ia sayangi.


"Assalamualaikum ...." Adam mengucap salam dengan suara pelan. Belum berani masuk ke rumah Ibrahim, karena sebelum ia pergi mertuanya bahkan tak mengizinkan selangkah pun masuk ke rumah itu. Haura yang seperti mendengar suara Adam bergegas bangun, seolah mendapatkan energi seratus kali lipat ia begitu semangat. Seperti orang yang tidak sadar, ia berlari keluar rumah. Memastikan suara yang ia dengar bukan ilusinya semata.


"Waalaikumsalam ... Mas Adamm ...." Tanpa pikir panjang wanita itu menghambur memeluk suaminya.


"Mas Adam ... huhuhu ... Mas Adam kemana saja?" Wanita itu menangis dalam pelukan suaminya.


Semua orang yang berada dalam rumah ikut keluar mendengar keributan yang terjadi. Tak terkecuali Ray dan Medina. Medina berkaca-kaca melihat putranya tak kurang suatu apa tengah berdiri memeluk istrinya. Ia berjalan mendekat dan ikut memeluk Adam. Kini Adam mendekap dua wanita kesayangannya dalam peluknya. Ketiganya menangis haru, karena bahagia dan lega.


Ray sesekali mengusap air mata yang menitik di sudut matanya. Ia bahagia akhirnya jagoannya kembali dengan selamat. Dalam hati ia mengucap syukur tanpa henti.


Ibrahim merasa lega dan juga semakin bersalah. Ia juga sadar telah salah sangka. Rupanya benar saja sumber kebahagiaan putrinya adalah Adam. Rupanya Hauranya benar-benar mencintai suaminya. Dan rasa bersalah itu semakin menguar ketika melihat senyum di wajah pucat putrinya mengembang hanya karena sebuah pelukan dari Adam.


Adam yang melihat wajah sedih mertuanya segera melepas pelukan mama dan istrinya. Ia mendekat ke arah mertuanya.


"Ayah, Adam minta maaf. Adam gagal menjalankan misi dari Ayah. Namun ini bukan berarti jika Adam menyerah atas istri Adam. Adam akan melakukan tugas dari ayah lagi jika perlu."


"Tidak! Aku tidak setuju. Aku tidak mengizinkan Mas ke laut lagi." Haura tak mengindahkan orang yang ada di tempat itu menghampiri suaminya dan memeluknya tanpa malu. Cukup sekali saja ia merasakan separuh jiwanya menghilang. Ia tak ingin lagi merasakan kesakitan itu lagi.

__ADS_1


"Nak ...." Suara serak itu memanggil dalam tangis.


"Maafkan Ayah. Maafkan Ayah yang telah membuat kamu dalam bahaya. Maafkan Ayah Nak! Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Sesungguhnya Ayah hanya ingin membuktikan cintamu pada putri Ayah. Ayah hanya terlalu takut ... takut jika kamu sampai menyakitinya lagi." Ibrahim menangis di hadapan semua orang. Ia tertunduk pilu di hadapan Haura dan Adam.


"Ayah ... Ayah tak perlu meminta maaf. Karena Adam pantas mendapatkannya. Kesulitan yang Adam rasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Haura selama menjadi istri Adam. Adam tahu, Adam mungkin selamanya tak akan bisa mendapatkan maaf dari Ayah. Tapi Adam benar-benar tak bisa menyerah atas Haura. Karena Haura hidup Adam."


"Ayah sudah memaafkanmu Nak. Maafkan Ayah Nak. Ayah sadar bahwa dunia Haura adalah kamu. Kamulah cahaya hidupnya. Ayah tak akan memisahkan kalian lagi. Tanpa syarat apa pun. Hanya satu pinta ayah, agar kamu menjaga dan membahagiakan putri ayah. Jangan pernah menyakitinya lagi."


"Baik Ayah. Adam akan membahagiakan Haura. Adam berjanji tak akan pernah menyakiti hati Rara lagi. Karena Adam sangat mencintainya. Izinkan Adam membawa pulang Haura Yah."


"Iya Nak. Ayah izinkan. Karena memang tempat Haura bukan di sini. Tapi di sisimu, suaminya."


"Berbahagialah Nak. Maafkan Ayah yang sempat memisahkan kalian. Karena Ayah takut jika kamu tak bahagia. Tapi setelah semua ini, Ayah yakin kebahagiaanmu memang suamimu." Ucapan Ibrahim kini ditujukan pada Haura. Haura menangis mendengar ucapan ayahnya.


Haura kini memeluk ayahnya kembali. Ia tahu bagaimana ayahnya menyayanginya hingga tak rela jika ia terluka. Hingga beberapa lama keduanya berpelukan dalam tangis. Semua orang meneteskan air mata.


"Sudah karena Adam baik-baik saja, kita tak perlu bersedih lagi. Yang penting Adam sudah kembali." Ray berusaha mencairkan suasana.


"Baik Yah." Hana segera menuju ke dapur.


"Uzan, bantu kakakmu."


"Iya Yah." Fauzan menyusul Hana ke dapur untuk membantu.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Dam?" tanya Ray ketika mereka sudah berkumpul di ruang tamu sederhana itu. Kelima orang itu kini tengah duduk di atas tikar pandan.


"Ketika Adam melaut tiba-tiba ada badai besar Pa. Adam tak menyadarinya dan mengiranya hanya hujan biasa. Setelah itu Adam tak tahu lagi apa yang terjadi. Ketika Adam sadar, Adam sudah ada di rumah seorang kepala kampung di pulau Pinang. Beliau yang sudah menyelamatkan Adam."


"Kenapa kamu tidak segera kembali Nak? Lihatlah! Istrimu sedih karenamu."


"Bagaimana bisa kembali Pa. Adam baru sadar setelah dua hari. Kata kepala kampung yang merawat Adam, luka Adam cukup parah. Untuk duduk saja Adam kesusahan."


"Astagfirullah ... maafkan Ayah Nak. Semua gara-gara Ayah."

__ADS_1


"Tidak Yah. Ayah tak perlu merasa bersalah. Semua ini menjadi pelajaran berharga untuk Adam. Agar Adam menjadi manusia yang lebih baik lagi. Agar Adam bisa lebih menghargai orang lain. Adam jadi menyadari jika selama ini Adam hidup dalam keegoisan. Adam ingin berubah."


"Alhamdulillah ... lihatlah Me. Di balik musibah yang terjadi ada banyak hikmahnya. Anak kita menjadi lebih dewasa." Medina tersenyum haru.


"Bagus Nak. Jadilah pria yang bertanggung jawab, jadilah pria yang baik dan suka menolong. Buang semua hal buruk tentangmu di masa lalu."


"Baik Pa."


"Ayah, atas apa yang Adam lakukan pada Haura selama ini. Adam minta maaf. Adam berjanji tidak akan menyakiti putri ayah lagi. Adam akan berusaha untuk membahagiakannya."


"Iya Nak. Ayah percaya kamu. Maafkan semua kesalahan Ayah juga."


"Iya Yah." Keduanya berpelukan haru. Saling memaafkan dan mengikhlaskan segalanya yang telah terjadi.


"Alhamdulillah ... masalah sudah selesai. Semoga Adam benar-benar berubah menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab," batin Ray.


.


.


.


.


.


.


.


Minta likenya ya sayang²ku...


Selamat bermalam minggu 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2