
"Maaf ya Ray, saya pakai dapur tanpa izin," kata Reno meletakkan dua buah cangkir berisi kopi di meja makan.Kemudian Reno duduk di sebelah Ray.
"Saya buat kopi. Silakan diminum," tawar Reno pada Ray. Kemudian ia menyesap kopi miliknya sendiri dengan menatap wajah Ray yang kebingungan. Ray kemudian meminum kopi buatan Reno.
"Aku merasa bersalah Ren. Sebenarnya aku tak tega juga memutuskan Aurel. Tapi aku tak mau membohongi kata hatiku. Kalau aku membohongi perasaanku sendiri dan juga Aurel dengan memaksakan hubungan tanpa cinta aku pasti semakin bersalah," ucap Ray kemudian meneguk kembali kopi yang dibuatkan oleh Reno. Reno hanya diam saja tak berkata apa pun.
Tak lama, kepala Ray terasa sangat sakit dan berputar. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu Ray. Nanti kita sambung lagi obrolan kita," ucap Reno tersenyum.
"Baiklah, aku tinggal istirahat dulu ya? kepalaku tiba-tiba sakit," kata Ray. Ia turun dari kursinya dengan memegang kepalanya yang terasa berat dan menuju kamarnya. Reno hanya tersenyum aneh saat melihat Ray terhuyung naik ke atas.
"Hei! Kenapa diam di situ seperti orang bodoh? Ayolah cepat! kita jalankan rencana, perintah Aurel dengan marah-marah.
Reno menghembuskan nafas kasar, sebenarnya ia tak mau mengikuti perintah Aurel. Ia tak setuju untuk menjebak Ray, karena ia tahu Ray adalah orang yang sangat baik. Terbukti Ray memperlakukannya dengan sangat baik selama berada dirumah itu. Ray juga tak pernah mencurigainya padahal sudah merebut kekasihnya. Hanya saja laki-laki itu tak dapat menolak kehendak kekasih hati.
Aurel dan Reno segera masuk ke kamar Ray. Setelah memastikan Ray dalam keadaan tak sadar. Mereka berdua melucuti pakaian Ray yang sudah tak sadarkan diri. Begitu juga dengan Aurel dia sudah melepas pakaiannya sendiri dan ikut masuk ke dalam selimut tidur memeluk Ray. Kini giliran tugas Reno sebagai fotografer memotret mereka berdua.
Aurel tersenyum penuh kemenangan. Ia tak akan semudah itu melepaskan Ray dari pelukannya. Dan tak akan pernah membiarkan Ray mencampakkannya begitu saja. Ia sangat yakin jika rencananya akan membuahkan hasil.
"Rasakan Ray.. Aku tak akan pernah melepaskanmu " batin Aurel bahagia.
***
Keesokan paginya Ray terbangun dengan kepala yang terasa sangat sakit. Ia mendapati dirinya tidur telanjang seorang diri. Ray benar-benar tak ingat apapun apa yang terjadi semalam. Segera ia memakai boxernya dan celananya. Dengan bertelanjang dada ia keluar dari kamarnya mencari-cari telepon genggam miliknya.
Ia teringat semalam meletakkan ponsel miliknya di meja dapur. Ia segera menuju ke dapur untuk mengambilnya. Ketika tangannya terulur meraih ponsel, ia tak sengaja melihat cincin berlian yang sudah ia berikan pada Aurel kemarin tergeletak di samping ponselnya. Ia mengambil cincin itu dan mengamatinya sebentar. Ingatannya kembali pada kejadian semalam. Ketika ia memutuskan pertunangannya dengan Aurel. Ray menggembuskan nafas kasar, perasaan bersalah masih melingkupi hatinya.
Ia melangkah mencari keberadaan Aurel yang ia yakini telah meninggalkan apartemennya. Dan benar saja, barang-barang milik Aurel dan Reno sudah tak ada.
Ray menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memijat keningnya. Antara perasaan lega dan bersalah menjadi satu. Ray lega telah mengakhiri hubungannya dengan Aurel sehingga ia bisa kembali memperjuangkan cinta medina. Namun ia merasa bersalah telah menghianati wanita yang dulu ia cintai selama empat tahun. Ia bersalah telah menyakitinya dengan memutuskan hubungan dengan tiba-tiba. Tapi selama demi kebaikan mereka berdua, belum terlambat untuk memutuskan hubungan mereka.
Kemudian ia menekan sebuah nomor di ponselnya.
__ADS_1
"Halo Oma. Assalamualaikum."
"Iya Ray sayang. Waalaikumsalam."
"Ray mau mengatakan sesuatu Oma," kata Ray ragu, takut oma kaget.
"Katakanlah Nak!"
"Sekarang, hubungan Ray dan Aurel telah berakhir Oma. Ray sudah memutuskan pertunangan kami."
"Kenapa kamu tiba-tiba memutuskannya, Nak? Tak ada masalah apa pun kan?" tanya Oma.
"Tidak Oma, semua baik-baik saja. Hanya saja, Ray tak ingin melanjutkan hubungan kami," jawab Ray gugup.
"Apakah Aurel bisa menerimanya Ray?" tanya oma penasaran.
"Aurel memang sedikit marah kemarin Oma, tapi tadi pagi ia sudah mengembalikan cincin pada Ray.. Berarti dia sudah menerima kalau hubungan kami sudah berakhir. Yah walau dia pergi tanpa kata sih Oma," jelas Ray.
"Ya sudah Nak nggak apa-apa. Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu" Oma memutuskan panggilan dan temenung.
"Si Ray, sudah memutuskan hubungannya dengan Aurel," kata oma masih dengan muka masam.
"Bukannya itu yang Nyonya harapkan? Kenapa sepertinya Nyonya malah tak suka?" tanya Bi Sum semakin penasaran.
"Masalahnya ini terlalu aneh, Sum," jawab Oma dengan pandangan kosong.
"Maaf, aneh bagaimana, Nyonya?"
"Perasaanku tak enak Sum. Kalau aku jadi Aurel, aku akan mengamuk kalau tiba-tiba diputuskan begitu saja. Padahal semula mereka sudah menyusun rencana pernikahan. Tapi ini tenang sekali. Seperti ada yang tak mengena. Aku merasa ada udang di balik batu Sum," kata Oma risau.
"Benar juga ya, Nyonya." Sum membenarkan ucapan Nyonya Lidya tanpa bisa berkata apa-apa. Nyonya Lidya yang sangat peka dan banyak pengalaman saja bingung apalagi dia yang hanya seorang pembantu.
"Aku yakin ada yang salah, tapi aku tak tahu apa dan dimana salahnya." Nyonya Lidya menyangga dagu menggunakan tangan kanan dan berpikir.
__ADS_1
"Sum, dimana Yas?" tanya Nyonya Lidya tiba-tiba menoleh. Gerakan Oma sedikit mengagetkan Bi Sum.
"Mungkin masih ada di kantor, Nyonya," jawab Bi Sum. "Nyonya ada keperluan dengan Yas? Nanti jika dia pulang, biar saya suruh menghadap Nyonya," sambung Bi Sum.
"Iya, Sum. Suruh dia menghadapku secepatnya," perintah nyonya Lidya dengan gelisah.
***
"Iya Nyonya, apa yang harus saya kerjakan?" tanya Yasin satu jam kemudian. Ia baru pulang kerja dan langsung menghadap majikannya.
"Kamu segera panggil orang itu kemari, secepatnya. Kamu harus bawa dia ke hadapanku langsung, aku menunggunya sekarang juga," perintah Oma.
"Baik nyonya." Yasin undur diri menjalankan tugas dari majikannya.
"Aku tak tahu apa yang sedang kamu rencanakan. Tapi aku yakin kamu tak akan tinggal diam. Kamu pasti sekarang sedang melakukan sesuatu entah itu apa. Tapi aku pastikan kamu tidak akan semudah itu mendapatkan apa yang kamu mau. Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa dan bertepuk tangan nanti."
Nyonya Lidya masih asyik termenung memikirkan cucunya. Ia tak ingin cucunya salah memilih istri. Dan nyonya Lidya sangat tidak yakin jika Aurel akan menjadi istri yang baik untuk cucunya.
.
.
.
.
.
Minggu update lagi..
Selamat weekend ya guys..
Jangan lupa klik like, vote n komen.
__ADS_1
terimakasih.