
Kring kring kring
Ponsel milik Ray berdering. Ray yang tengah mengemudi segera memasangkan earphone di kedua lubang telinganya dan menjawab panggilan.
"Assalamualaikum Me. Ada apa? Belum juga satu kilometer Mas pergi dari rumah Kia, Me sudah rindu Mas ya?" tanya Ray dengan nada bercanda.
"Isshh ... jangan bergurau, Mas! Mas Ray, Me mau bicara serius," jawab Medina bersungut-sungut.
"Iya Me, maaf. Mas kan cuma bercanda agar kamu selalu tersenyum. Ada apa my cute wife?What can I do for you, Darl ?" tanya Ray masih dengan candaannya yang garing.
"Mas, Me lupa mau mengembalikan cincin milik Aurel yang masih Me pakai," jawab Medina.
"Oh iya, ya ... Mas juga lupa Me. Ya sudahlah kamu simpankan saja dulu," ucap Ray masih sibuk mengemudi.
"Tapi ...."
"Sudahlah, Me bawa dulu ya? Nanti Mas ambil kembali. Jadi Mas punya alasan deh buat mengunjungi Me," jawab Ray asal.
"Mas, mana ...." Medina tak sempat melanjutkan kata-katanya Ray sudah memotong pembicaraan.
"Okay, Mas lagi menyetir. Kita akhiri dulu sayang. Kalau tak sibuk nanti Mas telepon lagi. Okay? Bye my wife." Ray mengakhiri panggilan sepihak.
"Bye my husband ," gumam Medina menjawab ucapan Ray yang telah terputus.
Medina menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi upayanya untuk menjauh dari Ray gagal. Karena pasti lelaki itu akan segera menemuinya untuk mengambil cincin miliknya. Dan semakin sulit pula hatinya untuk melupakan Ray.
"Ingat Me, jangan berbuat salah. Jangan menjadi perusak hubungan orang. Aurel kekasih Mas Ray adalah pemilik sebenarnya bukan kamu. Kamu hanyalah wanita yang beruntung sempat mendapatkan kasih sayang dan bantuan dari laki-laki yang baik seperti Ray. Kalaupun Ray tidak bersama Aurel, kamu tidak akan pernah pantas bersamanya. Karena kamu wanita yang kotor. Ray berhak mendapatkan wanita yang sempurna sepertinya juga," batin Medina mengingatkan diri.
Sebaliknya dengan Ray, dia bernafas lega karena ia berhasil lari dari pembicaraan dengan Medina. Sungguh Ray yakin jika bukan karena cincin yang masih terbawa Medina, mwanita itu tak akan pernah lagi mau menemuinya. Ray memang sengaja belum mengambil cincin itu kembali, Ray masih ragu akan membuat keputusan seperti apa. Karena semakin lama ia meragukan keputusan yang dulu ia buat untuk menikah dengan Aurel. Ray masih ingin menyerahkan semua pada waktu, agar ia tahu apa dan siapa yang sebenarnya ia inginkan.
"Maaf Me, hanya dengan cara ini lah kamu tidak akan lari dariku Me. Entah kenapa hatiku masih ada bersamamu," batin Ray.
***
"Me, sebenarnya kamu ada hati kan dengan tuan sempurna itu?" tanya Zaskia seraya menyesap kopinya.
"Ki, berapa kali harus aku bilang? *En*g-gak," elak Medina.
"Me, kamu pikir aku ini kenal kamu berapa lama? Sehari? Me, aku kenal kamu luar dan dalam. Nggak bisa kamu bohongi," kata Zaskia kekeuh.
"Beneran nggak Kia, aku dengan dia jarang bicara juga. Dia sekedar bersimpati padaku. Jadi aku menghormatinya, sudah itu aja."
"Jarang bicara bukan berarti tak suka." Zaskia semakin keras kepala.
__ADS_1
"Kia, jangan bicara yang tidak-tidak! Dia adalah tunangan orang lain," jawab Medina mulai sebal.
"Tunangan belum tentu menikah," jawab Zaskia asal.
"Terserah lah Ki. Capek aku." Medina melempar bantal sofa ke arah Zaskia karena sebal. Zaskia yang berhasil menggoda sahabatnya itu tertawa terbahak-bahak.
Kemudian ia beranjak hendak masuk ke kamarnya meninggalkan Zaskia. Tapi langkah Medina terhenti, ketika Zaskia memanggilnya kembali.
"Eh Me, kamu masih ingat nggak tentang cowok yang menjadi cinta monyet kamu?"
"Yang mana?" tanya Medina.
"Yaelah, memangnya kamu yang sedari SMP hanya mementingkan belajar, ada cinta monyet yang lain gitu?" Zaskia memutar bola mata karena kesal.
"Iya, aku tahu maksudmu," jawab Medina singkat.
"Terus, terus?" tanya Zaskia penasaran.
"Terus apanya sih Ki. Kan cuma cinta monyet juga. Dan ... selama aku bolak-balik Bandung Jakarta belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Mungkin dia sudah lupa padaku Ki." Medina menjelaskan dengan sedih. Tak dapat dipungkirinya, bahwa ia masih ingin bertemu dengan kekasih kecilnya.
"Yah ... kirain setelah kalian dewasa sempat bertemu gitu. Kan lucu cinta sedari bayi gitu. Hehe, katamu neneknya kan sering berkunjung?" tanya Kia lagi.
"Iya memang hubungan aku dengan omanya sangat baik malah. Kata oma dia pergi ke Amerika Ki dan kami belum pernah sekalipun bertemu. Seandainya kami berjumpa mungkin aku sudah tak mengenalinya. Aku sudah lupa bagaimana wajahnya. Terus kalau kami bertemu apa juga yang mau dibicarakan? Ya kalau dia mengenalku? Kalau dia sama sekali tak ingat padaku kan aku yang malu Ki." Medina bercerita panjang lebar.
Medina melanjutkan langkah kaki menuju kamarnya, meninggalkan Zaskia yang terlihat sedang berfikir sendirian di ruang tamu.
***
Ray tengah berbincang dengan sahabatnya, Arif di sebuah kafe ketika ponsel miliknya berbunyi. Dengan enggan, ia mengangkat panggilan karena sedang asyik berbincang dengan sahabatnya yang sudah lama tak ia jumpai.
"Assalamualaikum, iya Oma," sapa Ray.
"Waalaikumsalam sayang," jawab Oma.
"Ray kamu dimana Nak sekarang?" tanya Oma.
"Di Bandung Oma, tapi Ray sedang ada urusan bisnis dengan teman. Jadi maaf ya Oma, Ray belum sempat pulang."
"Ray, Ray ... Oma ini kan sudah tak punya siapa pun di dunia ini," kata Oma sedih.
"Itu Bik Sum ada, Yasin juga ada," gurau Ray.
"Dasar anak nakal! Kamu memang tak sayang oma ya Ray? Pulanglah sesekali, Nak. Sudah ada di Bandung, tapi tak mau pulang ke rumah. Jangankan pulang, menelepon Oma pun tak ingat," kata oma lagi.
__ADS_1
"Emm ... maaf ya Oma, Ray busy banget. Tapi kalau ada waktu Ray akan pulang," ucap Ray.
"Ya sudah, Nak. Oma tunggu kepulangan kamu, jaga diri baik-baik ya sayang," kata Oma.
"Okay Oma ... Oma juga jaga kesehatan ya?"
"I love you sayangku. Emmuach." Ray menutup telepon.
"Kamu ini sama omamu kayak suami istri saja Ray," ucap Arif menggoda Ray.
"Mau bagaimana lagi Rif? Oma kan satu-satunya keluarga yang aku punya," kata Ray.
"Itulah Ray. Kamu sebaiknya segera menikah dan punya anak. Kasih Omamu cicit yang banyak. Beliau pasti sangat bahagia Ray. Rumah Omamu yang layak disebut istana itu tak akan sunyi lagi," nasehat Arif.
"Iya Rif, ini juga lagi dipikirin," jawab Ray.
"Kalau kamu memikirkannya kenapa kamu mengabaikan Aurel? Kamu aneh Ray. Empat tahun kamu mengejar dia. Setelah dia bersedia menikah, malah kamu yang enggan," kata Arif.
Ray hanya bisa diam tak dapat membantah kata-kata sahabatnya karena semua benar adanya. Dia sangat bingung dengan perasaan dan pikirannya saat ini yang selalu condong mengarah kepada ibu hamil itu. Bukan lagi pada Aurel kekasihnya yang cantik jelita seperti dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa ya klik like, kasih vote n Komentar. Biar saya semakin semangat. Pastikan dari awal episode tekan like ya buat dukung karyaku .
Sembari menunggu update, silakan mampir ke karya aku yang lain, bisa klik di profil.
Terima kasih buat pembaca setia, salam sayang dariku selalu. 😍😍
__ADS_1